Fahri menepati janjinya, ia tidak lagi bersama Jennifer selama sebulan ini. Fahri bahkan berhenti bekerja di perusahaan wanita itu, ia juga menyerahkan mobil mewah pemberian Jennifer yang selalu dikendarainya sehari-hari.
Fahri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah membantu Khodijah berjualan, walaupun adakalanya ia pergi untuk mencari pekerjaan baru. Sebagai kepala keluarga, ia tidak mungkin hanya mengandalkan jualan sang istri.
Kehidupan rumah tangga mereka belum sepenuhnya pulih. Khodijah tidak mau terkecoh untuk kesekian kalinya. Dibohongi berkali-kali membuatnya sulit untuk percaya lagi pada Fahri, namun ia tetap memberi pria itu kesempatan.
Khodijah tetap melaksanakan kewajibannya sebagai istri Fahri, termasuk urusan ranjang. Namun ia berhati- hati supaya tidak hamil di tengah kondisi rumah tangga yang baru saja dihantam badai besar.
Diam-diam Khodijah meminum pil KB secara rutin. Bukannya ia menolak mempunyai anak lagi, hanya saja ia harus memastikan bahwa suaminya tidak akan melakukan kesalahan seperti yang sudah-sudah.
Hari ini giliran Maryam, kakak kandung Khodijah nomor satu berkunjung. Kedua kakak Khodijah dimarahi habis-habisan oleh Abi karena lalai menjaga adik mereka. Sebagai kakak, keduanya dinilai tidak perhatian, bahkan saat Fahri menikah lagi keduanya tidak mengetahui perihal itu.
"Hana, kamu yakin Fahri sedang mencari kerja? kok mbak gak yakin ya," ucap Maryam. Keduanya tengah bersantai menikmati suasana semilir angin di halaman belakang rumah Khodijah.
"Yah, kita doakan saja semoga Mas Fahri kembali ke jalan yang benar, Mbak. Dia kan sudah berjanji secara lisan dan tertulis, bahwa ia tidak akan mengulanginya lagi, semoga saja itu benar."
"Hana. Bukannya mbak meragukan, hanya saja banyak kejadian. Seorang suami yang pernah berselingkuh, pasti akan mengulanginya lagi. Mereka tidak akan puas hanya dengan satu wanita."
"Aku tidak tahu lah Mbak, Hana sendiri bingung. Hana hanya menjalani saja takdir Allah."
"Hana, mbak hanya mengingatkan jangan sampai kecolongan lagi. Sekali lagi dia selingkuh, langsung hubungi mbak atau Nisa."
"Iya, Mbak."
Khodijah menyeruput teh yang tersaji di atas meja. Pandangannya tertuju ke awan putih di atas sana. Maryam duduk sembari menimbang Yusuf, mengajak keponakannya itu bersenda gurau.
Suara mesin motor yang terdengar, membuat Maryam menoleh ke arah depan. Fahri baru saja tiba di rumah setelah seharian keluar mencari pekerjaan.
"Hana, sepertinya si Fahri pulang. Mbak pulang dulu ya, mbak malas melihat wajahnya. Tampang pas pasan aja belagu!" pekik Maryam.
"Mbak, jangan begitulah. Walau bagaimanapun Mas Fahri adik ipar, Mbak."
"Dih. Mbak hilang respect sama dia. Yang ada hanya benci, benci dan benci. Untung saja Yusuf mirip kamu, Han. Coba kalau mirip dia, dih amit amit!"
"Mbak. Istighfar," ucap Khodijah.
"Astaghfirullah hal azim ...."
Khodijah beranjak dari duduknya, ia berjalan kearah pintu rumah untuk membukakan pintu.
"Assalamualaikum, Bun," ucap Fahri ketika pintu dibuka.
"Waalaikum salam. Mas wajahmu ceria sekali?" tanya Khodijah.
"Sayang, mulai besok Mas kerja kantoran lagi. Alhamdulillah, mas diterima kerja."
"Alhamdulillah, dimana Mas?"
"Di perusahaan ekspedisi. Mas bahkan mendapat inventaris mobil. Kamu senang tidak?" Fahri merangkul istrinya, lalu masuk bersama. Ia menjatuhkan diri begitu saja di sofa ruang tamu, duduk bersandar sedangkan Khodijah berdiri menatap Fahri.
"Sayang, kenapa diam saja?"
"Alhamdulillah aku senang, Mas. semoga amanah ya," sahut Khodijah. Entahlah ia harus senang atau sebaliknya. Beberapa kali dikecewakan Fahri, membuatnya sulit untuk percaya lagi.
"Yusuf mana? Aku lihat ada mobil Mbak Maryam di depan."
"Ada di halaman belakang. Mas mau kopi atau teh?"
"Ahh, nanti saja. Mas mau rebahan sebentar di kamar. Capek naik motor seharian ke sana kemari, panas."
"Ya sudah, kalau begitu aku ke belakang ya Mas."
"Dijah sebentar." Fahri beranjak dari duduknya, ia berdiri berhadapan dengan istrinya. Kedua tangannya melingkar di pinggang ramping Khodijah. Ia mengecup bibirnya dengan penuh kelembutan.
"Mas, tumben?" tanya Khodijah.
"Sayang, sepertinya sudah saatnya kita nambah momongan. Yusuf kan sudah 2 tahun, sudah pas kalau kamu hamil lagi."
"I-iya Mas. Nanti kita bicarakan lagi ya, katanya Mas mau rebahan?"
"Nanti malam kita buatkan adik untuk Yusuf ya. Semoga saja kali ini langsung jadi."
"Hem ...."
Fahri mengecup kening istrinya sebelum pergi ke kamarnya. Usai Fahri pergi, Khodijah bernapas lega. Permintaan Fahri yang ingin menambah anak membuatnya serba salah. Bagaimana bila Fahri tahu ternyata diam-diam ia mengkonsumsi pil KB, sudah pasti suaminya akan marah besar padanya.
Namun, dalam situasi seperti ini menambah momongan dirasa Khodijah hanya akan menambah masalah baru. Ia bersedia hamil lagi setahun kemudian, disaat Fahri terbukti tidak bermain api dengan wanita lain.
Khodijah masih berdiri mematung di tempatnya. Pikirannya entah kemana, ia bahkan tidak menyadari kedatangan Maryam dan Yusuf.
"Hana. Kenapa melamun?" tanya Maryam. Ia menjentikkan jari tepat di depan manik indah Khodijah, membuatnya berkedip dan tersadar.
"Mbak Maryam. Bikin Hana kaget saja," ujarnya.
"Kamu ngapain sih? Mana suamimu?"
"Ada di kamar sedang rebahan. Mbak, Mas Fahri keterima kerja."
"Kamu yakin?"
"Katanya sih begitu. Alhamdulillah kalau itu benar," sahut Khodijah.
"Entahlah. Kalau dulu mungkin mbak senang mendengarnya. Tapi sekarang, semua yang terucap dari mulutnya sulit untuk dipercaya."
Khodijah terdiam. Apa yang diucapkan Maryam memang benar. Sekarang semua terasa berbeda, ia sulit untuk percaya sama seperti Maryam.
"Han, mbak pulang dulu ya. Pokoknya apa pun yang terjadi dalam rumah tangga kalian jangan disimpan sendiri. Beritahu mbak sekecil apa pun itu."
"Iya, Mbak." Khodijah mengambil Yusuf dari gendongan Maryam. Ia mengantar kakak pertamanya sampai di depan pintu rumahnya, menunggu hingga mobil Maryam meninggalkan kediamannya.
***
Sejak semalam, hujan lebat mengguyur kota ini. Hari jumat merupakan hari libur Khodijah berjualan. Ia duduk santai menemani buah hatinya menonton kartun Spongebob kesukaan Yusuf.
Fahri sejak pukul tujuh pagi sudah berangkat kerja. Ia berangkat mengendarai mobil Innova berwarna silver. Khodijah tidak menaruh curiga apa pun, ia percaya bahwa mobil itu milik kantor.
Saat sedang menonton televisi, suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Ia melihat layar ponselnya, tertera nama 'My bestie' memanggil. Sabrina menelepon, mengajak ia dan Yusuf datang ke acara ulang tahun anak dari relasi butiknya.
Sabrina masih lajang, sehingga ia berinisiatif mengajak Yusuf. Awalnya Khodijah menolak karena merasa tidak kenal, namun karena Sabrina terus memohon akhirnya Khodijah pun luluh.
Pukul 13.00 WIB, Sabrina tiba di rumah sahabatnya. Ia mengenakan dress pendek selutut berwarna putih tulang. Yusuf terlihat tampan dengan stelan jas lengkap dengan dasi kupu-kupu sedangkan Khodijah memakai long tunik berwarna peach dipadu padan celana hitam dan hijab segi empat berwarna senada dengan baju.
"Halo ganteng, sudah siap ya?" sapa Sabrina saat bertemu dengan Yusuf.
"Sab, aku malu. Kalian pergi berdua saja ya, aku di rumah."
"Malu kenapa, siapa tahu di sana dapat jodoh baru."
"Hust, kalau ngomong suka ngawur deh. Yang ada juga kamu tuh yang dapat jodoh."
"Muales. Aku masih betah sendiri, enjoy my life," ujar Sabrina.
"Ante, ayo pelgi. Yusuf ingin main. bosen di lumah telus," ucap Yusuf. Anak itu sudah tidak sabar ingin segera pergi ke acara ulang tahun.
"Siap Pak Bos. Come on, kita let's go."
Mereka bertiga pergi ke acara ulang tahun yang diadakan di area kolam renang sebuah hotel mewah. Setibanya di sana, perasaan Khodijah tidak enak. Entah apa yang membuat hatinya gundah gulana, meski ia mencoba menepisnya dengan tersenyum, namun tetap saja ada rasa gundah.
Tamu-tamu mulai berdatangan satu persatu. Acara itu berjalan meriah, dipenuhi dengan canda gurau anak-anak seusia Yusuf. Khodijah tidak membawa baju renang, sehingga Yusuf harus puas melihat teman-temannya berenang dari bibir kolam.
Selama dua jam berada di sana, tiba tiba dari jarak jauh netra indah Khodijah menangkap dua sosok manusia yang tak asing. Fahri dan wanita itu berjalan berangkulan menuju lift.
Khodijah pamit kepada Sabrina sekaligus menitipkan Yusuf. Ia berlari mengejar Fahri dan Jennifer yang lebih dulu masuk ke dalam lift. Di atas lift tertera angka sepuluh, itu artinya mereka berada di lantai sepuluh.
Ia menaiki lift di sisi berbeda, naik ke atas lantai sepuluh sesuai dengan tujuan Fahri. Suara detak jantungnya terdengar seperti gendang yang ditabuh, tubuhnya pun gemetaran.
Khodijah tidak menyangka, lagi dan lagi Fahri membohonginya. Ketika pintu lift terbuka, ia buru-buru keluar, mencari keberadaan Fahri yang lebih dulu tiba. Khodijah berjalan cepat, mencari keberadaan Fahri. Langkahnya terhenti ketika ia melihat suaminya masuk ke sebuah kamar hotel.
Awalnya ia masih berharap Fahri hanya mengantar saja, namun saat melihatnya masuk bersama wanita itu tubuhnya mendadak lemas. Ia terjatuh, bersimpuh di lantai. Cairan bening meleleh begitu saja, membanjiri pipinya bercampur dengan blash on yang ia kenakan.
Khodijah berusaha bangkit, tangannya bahkan harus bertumpu pada dinding karena tak kuat. Ia berusaha mengatur napasnya, mengatur ritme jantungnya yang sejak tadi berdegup sangat kencang.
Selama lima belas menit menunggu, dengan langkah tertatih ia mendekati kamar 2208 itu. Cairan bening itu terus menerus menetes hingga jatuh ke lantai.
Astaghfirullah hal azim, ya Allah kuatkan aku. Astaghfirullah hal azim, Mas Fahri. Keterlaluan kamu, Mas.
Khodijah menyeka cairan bening di wajahnya, dengan mantap ia mengetuk pintu kamar itu sebanyak tiga kali. Seseorang dari dalam membukakan pintunya namun bukan Fahri, melainkan Jennifer yang memakai bathrobe hotel berwarna putih.
Tanpa basa-basi, Khodijah langsung mendorong pintu kamar itu hingga terbuka lebar. Ia masuk tanpa permisi terlebih dulu, berjalan menuju ranjang tanpa dicegah oleh Jennifer.
Setibanya di depan ranjang hotel, ia melihat suaminya sudah tidak berpakaian. Fahri hanya menggunakan celana dalamnya berwarna hitam yang belum ditanggalkan, mungkin terjeda karena suara ketukan pintu.
"Astaghfirullah hal azim. Begini kelakuan kamu!" teriak Khodijah.
Fahri terkejut, ia segera menyambar celana kerjanya dan memakainya. Begitu pula dengan kemeja yang tergeletak di lantai.
"Dasar penipu. Laki-laki berengsek. Menyesal aku percaya padamu, Fahri!"
Secepat kilat Fahri memakai pakaiannya, sementara Jennifer hanya menonton saja. Ia berdiri dengan tangan dilipat di dadanya, menyaksikan amarah Khodijah yang berada di level tertinggi.
Khodijah menoleh kearah Jennifer. Ia meninggalkan Fahri dan berjalan menuju wanita itu, kejadiannya begitu cepat saat tangan Khodijah mendarat tepat di pipi mulus Jennifer.
Plak! Plak!
Suara tamparan yang begitu keras baru saja ia layangkan kepada wanita itu, membuat wajahnya memerah.
"Dasar jalang. Apa kamu tidak bisa mencari laki-laki lain? Kenapa harus Fahri!" bentak Khodijah.
Jennifer hanya menyunggingkan bibirnya, ia seperti menikmati momen ini. Berbeda dengan Khodijah yang merasa hancur sehancur-hancurnya.
Fahri berdiri di belakang istrinya, ia meraih tangan Khodijah namun segera ditepis. Khodijah mendaratkan tamparan serupa di wajah Fahri. Ia juga memukuli dadanya hingga Fahri harus mundur ke belakang.
"Khodijah tenang dulu. Biarkan aku jelaskan!" teriak Fahri. Ia memegang kedua tangan Khodijah yang memukulinya.
"Kamu laki-laki murahan, Fahri!" Khodijah melepaskan kedua tangannya yang di pegang erat Fahri. Ia memutar tubuhnya menghadap Jennifer.
Sorot matanya penuh kebencian saat menatap wanita itu. "Kurang ajar kamu!" Khodijah menjambak rambut Jennifer, dan mencakar dagu wanita itu.
Jennifer tidak terima saat wajahnya terluka. Dia memegang tangan Khodijah dan memutarnya ke belakang.
Khodijah terhempas ke lantai dengan posisi tertelungkup. Jennifer membalik posisinya menjadi terlentang. Secepat kilat ia menerkam, duduk di atas perutnya lalu menampar kedua pipi Khodijah berulang kali.
Fahri berusaha merelai keduanya, namun terlalu sulit. Ia menelepon pegawai hotel, memintanya datang ke kamar. Fahri meminta bantuan untuk memisahkan kedua wanita yang sedang baku hantam saat ini.
Selama lima menit menunggu, pegawai hotel pun tiba. Fahri memegangi Jennifer dari belakang, menariknya kuat supaya ia beranjak dari perut Khodijah. Hijab yang dikenakannya sudah tak karuan namun tetap terpasang, sedangkan rambut Jennifer berantakan seperti habis disasak.
Khodijah bangkit, ia menepis tangan pegawai hotel tersebut. napasnya berapi-api begitu pula Jennifer. Keduanya saling berhadapan, sorot mata keduanya mengindikasikan siap menerjang.
"Lepasin tangan gue, Fahri!" teriak Jennifer yang berusaha melepaskan lilitan tangan Fahri yang memeluknya dari belakang.
"Sabar Sayang. Aku mohon jangan tersulut emosi."
"Iblis kau, Fahri. Istrimu lebih dulu menyerangku!"
"Dasar pelakor. Ambil sana laki-laki murahan itu. Dengar ya kalian berdua, demi Allah, mulai detik ini aku bersumpah, tidak akan pernah kembali lagi padamu, Fahri!"
"Aku bisa jelasin semuanya, Khodijah. Pulanglah dulu, tunggu aku di rumah."
"Najis! Aku akan menggugat cerai kamu. Tunggu saja dalam seminggu ini, surat panggilan akan datang ke kantormu. Ingat ya, jangan pernah pulang ke rumah!"
Khodijah meninggalkan kamar. Namun sebelum ia keluar terlebih dulu ia menjambak rambut Fahri yang masih memeluk Jennifer. Setelah keributan yang terjadi, Khodijah berlari menuju lift, kembali ke Sabrina dan Yusuf.
Sabrina tidak tahu apa yang terjadi, namun saat sahabatnya meminta pulang, Sabrina langsung mengiyakan. Ada banyak tanda tanya di benak Sabrina saat melihat Khodijah datang dalam keadaan tak karuan. Ia menahan diri untuk tidak bertanya hingga mereka memasuki mobil di area parkir.
Saat itulah tangis Khodijah pecah. Ia memeluk erat Sabrina dan menangis histeris di pundak sahabatnya itu. Bukannya hanya menangis, ia berteriak, mengumpat kata makian untuk Fahri.
"Berengsek, kamu Fahri. Dasar pembohong!"