Part 12. Mau Dibawa Kemana.

1511 Kata
Khodijah menangis histeris di pundak Sabrina. Ia tak sanggup menahan sesak di dadanya. Khodijah berteriak, memaki Fahri dan Jennifer. Ia juga merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh tertipu berkali-kali oleh janji manis Fahri. Fahri Hamzah. Pria yang ia cintai sejak remaja itu tega menghancurkan hatinya berkeping-keping. Kini rasa cinta itu sirna, hanya tersisa kebencian yang membuncah. Sabrina tidak mengerti apa yang terjadi dengan sahabatnya ini. Mengapa secara tiba-tiba Khodijah datang dalam keadaan menangis histeris seperti ini. Yusuf yang berada di bangku belakang, ikut menangis saat melihat bunda menangis. Tangis ibu dan anak itu bersautan di dalam mobil. Tak lama Sabrina pun ikut menangis. Ketiganya menangis bersama, saling berpelukan. Disaat Khodijah sudah mulai tenang, Sabrina memberanikan diri untuk bertanya. "Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba mengajak pulang, lalu menangis histeris seperti habis melihat hantu saja?" tanya Sabrina. Khodijah memangku Yusuf. Ia menciumi anaknya lalu memeluk erat. Ia terlebih dulu menyeka cairan bening yang belum juga surut. "Aku. Aku, memergoki Fahri dan wanita itu di kamar hotel. Aku ...hiks." Khodijah tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia kembali menangis pilu, kali ini Khodijah menutup mulutnya dengan telapak tangan supaya Yusuf tidak ikut menangis. "Kurang ajar si Fahri. Dimana dia, biar aku yang kasih pelajaran!" pekik Sabrina. Ia kesal dan geram pada suami sahabatnya ini. Rasanya ia ingin menonjok wajah Fahri dengan kepalan tangannya sendiri. "Ada di lantai sepuluh. Aku mau bercerai Sab. Kamu benar, mempertahankan rumah tangga bukan semata-mata karena anak, tapi harus berdasarkan hati. Untuk apa aku bertahan demi Yusuf, kalau hatiku sakit." "Aku mendukung semua keputusanmu. Kamu jangan jadi wanita lemah, kita memang wanita, kodratnya mengabdi pada suami. Tapi ingat, Allah memberikan semua wanita kepintaran dan keahlian. Wanita dalam kondisi apa pun dia bisa survive, meski cuma jadi tukang cuci, ojek online dan lainnya, tapi kita bisa menghidupi keluarga." "Iya, Sab." "Ingat Dijah. Duniamu belum berakhir. Ada banyak yang sayang padamu. Lepaskan Fahri, ia tidak layak mendapat wanita sepertimu." "Aku bodoh ya, Sab?" "Kamu bukan bodoh, hanya naif. Dengar ya Dijah. Terkadang, laki-laki selingkuh bukan karena wanitanya banyak kekurangan, tapi justru karena wanitanya terlalu sempurna, sehingga ia bingung harus bersikap apa? Maka dari itu, dia akan mencari wanita bodoh supaya dia terlihat sempurna di depan selingkuhannya." "Jazakillaahu Khoiron, Sabrina. Kamu memang sahabatku yang paling the best. Aku beruntung memilikimu. Sekarang kita pulang, aku akan minta Mbak Maryam dan Mbak Nisa ke rumah." "Ayo kita pulang. Ingat, aku akan selalu mensupport kamu Dijah. Semangat!" "Aku harus kuat. Kali ini aku tidak akan goyah Sab, secepatnya akan aku urus perceraian kami. Aku hanya ingin hidup tenang bersama Yusuf, hanya itu saja yang kumau." Ponsel Khodijah berdering. Fahri melakukan panggilan telepon kepadanya. Dengan malas Khodijah memperlihatkan layar ponselnya kepada Sabrina. "Angkat saja, beritahu bahwa kamu akan menggugat cerai." "Aku abaikan saja, Sab. Rasanya aku belum memiliki banyak kekuatan untuk berdebat dengannya." Panggilan Fahri ia tolak. Rasanya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi antara mereka berdua. Khodijah tidak mau bertatap muka lagi dengan suaminya, ia tidak akan memberikan kesempatan pada Fahri untuk membodohi dirinya lagi. "Bunda, jangan nangis lagi ya. Usuf ndak mau Nda sedih," ucap Yusuf. "Iya anak bunda yang tampan. Yusuf jadi anak soleh ya, doakan bunda semoga selalu diberi kecukupan rejeki." "Iya Nda." Sabrina melajukan mobilnya menuju kediaman Khodijah. Saat di perjalanan pulang, Khodijah menghubungi kedua kakaknya, meminta mereka untuk datang ke rumah. Tidak banyak bertanya, kedua kakak perempuan Khodijah segera meluncur ke rumah adik bungsu mereka. Sepertinya, Maryam dan Nisa paham apa yang terjadi. Di luar dugaan, setibanya di rumah, ternyata Fahri lebih dulu tiba di sana. Khodijah keluar dari mobil sambil menggendong Yusuf, diikuti oleh Sabrina setelahnya. Kedua suami istri itu kini saling berhadapan layaknya musuh. Khodijah enggan meladeni Fahri, dia bergegas masuk ke dalam rumah, diikuti oleh suaminya. Ketika akan memasuki kamar, Fahri menarik lengan Khodijah. "Kita selesaikan dulu urusan rumah tangga kita. Kamu maunya dibawa kemana pernikahan ini!" pekik Fahri. Khodijah terlebih dulu menyerahkan Yusuf kepada Sabrina, dia memberi isyarat untuk membawa Yusuf menjauh supaya tidak mendengar pertengkaran mereka. "Jangan bertanya, bila kamu sudah tau jawabannya!" teriak Khodijah sambil menunjuk wajah Fahri. "Aku masih ingin kita bersama, tapi bila kamu tidak bisa menerima poligami yang kujalani, silahkan menggugat cerai!" "Oh, dengan senang hati. Kamu tau, aku merasa menjadi wanita paling Bodoh sedunia. Bisa tertipu oleh laki-laki murahan sepertimu!" "Khodijah. Jaga bicaramu!" teriak Fahri. Dia geram, terlihat dari kedua telapak tangan yang terkepal. "Bertahun-tahun kamu memakai topeng, akhirnya lelah juga. Ahh ... bodohnya aku. Astaghfirullah hal azim, kenapa aku begitu bodoh." "Kamu berubah Khodijah. Kamu tidak patuh lagi padaku. Kenapa, siapa yang telah menghasut mu untuk melawan suami? Siapa Khodijah?" "Pergi dari sini. Pergi pada gundikmu yang bisa memberimu harta dan kenikmatan dunia. Pergi!" teriak Khodijah. Fahri mendekat, sangat dekat hingga napasnya bisa terasa di permukaan wajah Khodijah. "Dengar, aku masih sangat mencintaimu. Tapi, aku tidak akan menghalangi bila kamu menggugat cerai. Jadi sebaiknya pikirkan matang-matang. Aku pergi." Fahri berbalik badan lalu melangkah. Saat dia berada di depan pintu, Khodijah berteriak, " Kita bertemu di pengadilan agama!" Fahri terdiam sejenak, dia hanya menoleh sekilas lalu pergi dari rumah itu. Hati Khodijah semakin hancur karena kedatangan Fahri, tubuhnya lemas, tak kuat menopang beban tubuhnya. Dia terjatuh, bersimpuh di lantai. Suara tangisannya seperti terjepit di tenggorokan, hanya terdengar tarikan napas cepat. Sabrina yang semula berada di taman belakang rumah datang menghampiri, berbarengan dengan kakak pertama Khodijah. Maryam tiba lebih dulu, ia segera memeluk Khodijah ketika bertemu. Terlihat jelas kondisi adiknya yang sedang mengalami masalah berat. "Sabar ya, Dek. Insya Allah kamu kuat." Maryam mengusap punggung adiknya sambil memberi semangat. "Mbak ...hiks." "Mbak siap membantumu apa pun itu. Kamu jangan khawatir, kami semua sayang padamu Hana. Insya Allah, Mbak, Nisa, Umi dan Abi tidak akan pernah menyalahkan Hana." "Jazakillaahu Khoiron ya, Mbak. Hana memang bodoh, kenapa berkali-kali tertipu olehnya." "Sudah jangan disesali lagi. Lebih baik sekarang kamu pikirkan langkah apa yang akan kamu tempuh." "Hana ...akan menggugat cerai Fahri." "Mbak tidak bisa meraba sedalam apa hatimu untuknya. Tapi kalau Mbak boleh menyarankan, tinggalkan dia. Laki-laki seperti itu sekalinya berdusta, maka ia akan terus menerus berdusta." "Iya, Mbak." Khodijah memeluk kakak perempuannya, rasanya beban ini tidak kuat ia pikul seorang diri. Maryam mengusap punggung Khodijah, ia pun ikut menangis. Sedih rasanya menyaksikan rumah tangga adiknya hancur karena ulah wanita lain. "Menangis lah Hana, tapi hanya hari ini saja. Esok, kamu harus sudah bisa melupakan semua." Kakak perempuan Khodijah yang kedua tiba. Nisa mengucap salam lalu masuk ke dalam rumah. Ia langsung duduk di lantai memeluk adiknya dari belakang. Khodijah dihimpit di tengah tengah kedua kakak perempuannya, menangis bersama, ikut larut dalam kesedihan yang dirasakan Khodijah. "Dek, yang sabar ya. Mbak Nisa cuma bisa bantu doa dan support." Khodijah melepas pelukannya pada Maryam, ia berbalik badan beralih memeluk Nisa. "Mbak Nisa," ucapnya. "Kuat ya, Dek. Insya Allah, kami semua bersamamu. Tunggu saja, si Fahri pasti akan mendapat balasan atas perbuatannya." "Terima kasih banyak ya, Mbak. Insya Allah dengan dukungan kalian semua, Hana kuat." Mereka bangkit lalu duduk di sofa. Khodijah, Maryam, Nisa dan Sabrina silih berganti memeluk dan mengusap punggung Khodijah. Yusuf sedang menonton kartun kesukaannya. Anak sekecil itu belum mengerti dengan apa yang menimpa bundanya. Ia hanya tahu bundanya menangis, namun tidak tahu karena apa? Andai ia sudah lebih besar, pastilah saat ini Yusuf membenci ayahnya. Sebulan kemudian ... Waktu terus berputar, Khodijah mantap menceraikan Fahri. Besok adalah sidang perdana keduanya. Orang tua Fahri berkali-kali mendatangi Khodijah, memohon supaya menantunya itu menarik gugatan, namun Khodijah menolak. Ia tetap pada pendiriannya untuk bisa bebas dari Fahri Hamzah. Fahri, ia sama sekali tidak berusaha untuk membatalkan perceraiannya. Pria itu akan mengabulkan keinginan Khodijah untuk bercerai. Saat ini Fahri sedang menikmati hari-harinya menjadi direktur utama di perusahaan milik Jennifer. Pria itu berpikir ulang, untuk apa mempertahankan istri yang tidak patuh padanya. Fahri menganggap Khodijah tidak mematuhinya sebagai kepala rumah tangga. Menurut Fahri, dalam agama yang ia anut, laki-laki diperbolehkan menikahi empat wanita tanpa harus izin kepada istrinya. Dalam hal ini, Khodijah tidak sanggup menerima poligami yang ia jalankan, meski awalnya ia sempat menerimanya. Berbeda dengan Jeniffer yang rela jadi istri kedua meskipun wanita itu bergelimang harta. Fahri lebih memilih Jennifer. Wanita berusia 40 tahun itu lebih mengerti dirinya ketimbang Khodijah. Istri keduanya ini pun pandai memanjakannya melalui kemewahan dunia, sesuatu yang tidak ia dapat dari istri sahnya. Harta yang dimiliki Jennifer membutakan mata hati seorang Fahri. Ia tak ubahnya piaraan wanita itu. Khodijah semakin semangat membuka usahanya. Ia menambah varian baru yaitu kebab Frozen. Khodijah memanfaatkan sosial media untuk memasarkan produknya. Kedainya sedang direnovasi menjadi lebih luas. Bagian depan rumahnya dirombak, dibuat seperti kedai makan. Abi dan Umi sedang di perjalanan menuju rumah Khodijah. Mereka berdua tidak mau melewati sidang perdana antara Fahri dan Khodijah. Abi bahkan sudah berancang-ancang, saat bertemu dengan Fahri, ia akan mendaratkan bogem mentah di pipinya. Betapa kesal dan marahnya beliau pada Fahri, jikalau waktu bisa diputar kembali, sampai mati Abi tidak akan pernah merestui hubungan keduanya. Beliau menyesali karena telah mengizinkan anak bungsunya menikah dengan pria minim iman seperti Fahri. Namun, saat ini tidak ada gunanya menyesal dan menyalahkan, langkah kedepannya adalah menata kehidupan Khodijah supaya bisa bangkit dari keterpurukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN