Part 13 Tidak Ada Silaturahmi!

1442 Kata
Sidang pertama pun digelar, Khodijah ditemani oleh kedua orang tua, Maryam dan sahabat karibnya Sabrina. Sedangkan Yusuf dititipkan pada Nisa, kakak kedua Khodijah. Fahri tidak ditemani orang tuanya, mereka bahkan tidak mengetahui bahwa perceraian ini dilanjutkan. Sebelum ayahnya sakit, kedua orangtuanya sempat memohon kepada Khodijah untuk membatalkan perceraian, namun Khodijah tetap bersikukuh pada pendiriannya. Sampai suatu hari Ayah Fahri masuk rumah sakit, keduanya sepakat untuk menutupi perceraian itu dan berpura-pura kembali bersama sampai sang ayah sembuh. Sidang pertama ini beragendakan mediasi kedua belah pihak. Namun, mediasi itu menemui jalan buntu. Khodijah tetap pada keputusannya untuk bercerai dan Fahri tidak berusaha memperjuangkan pernikahan mereka. Mediasi itu hanya berlangsung dua puluh menit saja, keduanya langsung berpisah usai keluar dari ruang sidang. Jennifer menghampiri suaminya, ia merangkul mesra Fahri di depan keluarga Khodijah. Seolah sengaja mempertontonkan kemesraan itu. "Sayang, kamu sudah resmi bercerai kah?" ucap Jennifer. "Belum. Masih ada sidang lanjutan minggu depan," jawab Fahri pelan sembari melirik kedua mertuanya. "Dulu, saat sidang cerai dengan mantan, aku langsung mendapat keputusan cerai. Kok kamu lama ya?" "Mas ikuti saja prosesnya." bisik Fahri. "Kita langsung pulang atau mau kemana dulu? Atau mau ke resto terdekat?" "Nanti kita bicarakan di mobil ya." Fahri merasa tidak nyaman. Walau bagaimanapun, ia masih berstatus suami Khodijah sampai hakim mengetuk palu. Khodijah dan keluarganya buru-buru pergi, abi dan umi muak melihat pasangan itu. Namun, keduanya bersikap biasa saja. Disaat rombongan Khodijah mulai menjauh, Fahri berlari menyusul. "Abi, Umi tunggu!" panggil Fahri. Keduanya menoleh diikuti oleh yang lainnya. Mereka menghentikan langkah kecuali Khodijah dan Sabrina yang terus melangkah, seolah ia tidak mengenal Fahri. "Ada apa Fahri? Puas kamu menyakiti putri abi, hah!" tukas pria keturunan Arab itu. "Abi. Maaf harus berakhir seperti ini. Maaf juga karena Fahri tidak bisa menjadi imam yang baik untuk putri Abi. Fahri mohon, bisakah Fahri tetap menganggap Abi sebagai orang tua Fahri?" ucap Fahri mengiba. "Berani sekali kamu berkata begitu pada saya. Kamu tau, sejak tadi saya menahan diri untuk tidak berbuat kasar padamu! Kalau menuruti hawa nafsu, sudah saya patahkan tulang kamu. Bahkan mungkin saya bakar kamu!" maki Abi. "Maaf Abi. Fahri akan tetap menganggap Abi sebagai orang tua Fahri, karena diantara kita akan selamanya terikat melalui Yusuf. Jadi, demi tumbuh kembang Yusuf, kita bisa menjaga silaturahmi." "Silaturahmi t*i kucing! Tidak ada silaturahmi lagi setelah ini. Pintu rumah kami tertutup rapat untuk penghianat macam kamu!" "Iya Fahri. Kok kamu percaya diri sekali ya? Amit-amit saya pernah punya adik ipar seperti kamu!" timpal Maryam. Jennifer yang sejak tadi berdiri agak jauh berjalan mendekat. Ia berdiri di sisi Fahri. "Sudahlah Mas, jangan mengemis pada mereka. Lagipula, kamu tidak bersalah. Kita itu menikah, bukan kumpul kebo. Dan poligami itukan halal, bukan zina!" tukas Jennifer. "Masya Allah Fahri. Kok ya perempuan begini bisa jadi madu Khodijah. Astaghfirullah hal azim, umi sampai tidak bisa berkata-kata. Masa anak saya diduakan sama tante-tante, otakmu taruh di dengkul ya!" sarkas umi. "Maaf Umi. Fahri mencintai Jennifer, sama seperti mencintai Khodijah. Andai saja Kho...." Plak! Plak! Abi menampar Fahri sangat keras. Sejak tadi ia menahan diri untuk tidak main tangan, namun ucapan Fahri dan Jennifer sungguh sangat melukai harga dirinya sebagai ayah dari Khodijah. "Ayo kita pergi. Buang-buang waktu meladeni dua orang gila ini!" titah Abi kepada Maryam dan juga istrinya. Ketiganya berbalik badan lalu pergi. Fahri bergeming menatap kepergian keluarga sang istri yang sebentar lagi berstatus mantan. "Keluarga khodijah barbar ya. Kata kamu mereka religius? Tapi kok kasar begitu," ucap Jennifer. "Ya wajar sih mereka benci aku, Khodijah itu anak kesayangan abi. Mangkanya aku bisa mendapat restu walau sulit, karena abi tidak bisa menolak permintaan putri kesayangannya." "Whatever! Ayo kita pergi Sayang. Kita bobo di hotel aja yuk, lagi pingin nih." Fahri menoleh, ia sedikit terkejut dengan ajakan istrinya. "Sekarang? Bukannya semalam sampai pagi kita melakukan 'itu', masa masih mau lagi?" "Aku belum puas. Apalagi yang terakhir, aku belum apa-apa, milik kamu loyo. Menyebalkan!" gerutu Jennifer. Glek! Fahri menelan ludah, ia benar-benar dibuat kewalahan menghadapi nafsu istrinya yang besar. Ia merasa tak ubahnya seperti robot pemuas nafsu, harus on terus dua puluh empat jam. "Hei, kok melamun. Ayo pergi!" ucap Jennifer. "Iya, terserah kamu. Tapi kalau punyaku tidak maksimal, jangan marah. Soalnya aku capek, mungkin tidak bisa beberapa ronde!" tegas Fahri. "Ah kamu. Nanti aku belikan obat kuat di apotek!" "Astaghfirullah hal azim. Dia perempuan apaan sih? Sekarang aku jadi takut, " batin Fahri. Dengan sangat terpaksa ia menuruti kemauan istrinya. Keduanya pergi ke hotel bintang lima, melakukan hubungan suami istri tidak kurang dari lima belas menit. Seperti prediksi Fahri, staminanya tidak kuat untuk melakukan 'itu' beberapa kali, bahkan durasi pun kurang dari lima belas menit saja sekali main. Wajah Jennifer cemberut, ia mengambil ponsel di meja kemudian menghubungi seseorang. Setelah panggilan terputus, ia pergi meninggalkan Fahri yang sedang tertidur lelap. "Dasar pria lemah. Baru segitu saja udah loyo!" gerutu Jennifer saat berjalan menuju lift. Wanita empat puluh tahun itu pergi menuju apartemen seorang pria pemuas nafsu wanita-wanita haus kasih sayang. Ketika menyandang status janda, ia sering menyewa jasa pria itu untuk memuaskan dirinya. Jennifer pikir, Fahri hebat di ranjang. Namun, ternyata suaminya itu hanya kuat di awal-awal pernikahan saja. Makin kesini Jennifer merasa tidak terpuaskan dan lebih banyak kecewa. *** Hari ini Fahri mengunjungi kedua orang tuanya di kampung, ia tidak membawa Jennifer karena kesehatan ayahnya sedang memburuk. Ia takut kehadiran istri keduanya itu justru membuat ayahnya meninggal. Fahri memijat betis ayahnya yang sedang berbaring di kasur. Sang ibu datang membawa secangkir teh lalu duduk di sisi Fahri. "Fahri, kenapa istri dan anakmu tidak dibawa? Ibu rindu mereka. Hubungan kalian baik-baik saja kan? Kamu tidak membuat ulah lagi seperti waktu itu?" tukas Ibu Fahri. "Khodijah sibuk di warung Bu, sedang banyak pembeli. Dia titip salam buat ayah dan ibu, katanya maaf belum bisa datang," jawab Fahri berbohong. "Khodijah memang istri sempurna. Dia itu cantik, baik, lembut dan pintar cari uang. Kamu jangan sia-siakan dia Fahri. Susah mendapat wanita seperti itu di zaman sekarang," puji ayah Fahri. "I-iya Yah." Mata Fahri berkaca-kaca, andai kedua orang tuanya tahu bahwa mereka tetap melanjutkan proses cerai, apa yang akan terjadi. "Maafkan Fahri ayah, ibu. Fahri harus melepas khodijah," batin Fahri. "Ibu udah masak pepes ikan kesukaan istrimu, eh ternyata kamu hanya datang sendiri. Nanti ibu bawakan saja untuknya," ujar sang ibu. "Iya Bu. Oh iya, obat Ayah masih ada? Apa perlu kita ke dokter lagi hari ini? Mumpung Fahri pulang." "Tidak usah Nak. Dua hari lalu adikmu sudah membawa ayah ke rumah sakit, obat pun belum habis," jawab ibunya. "Ya sudah kalau begitu. Ayah cepat sembuh, jangan banyak pikiran." "Gimana tidak banyak pikiran. Kamu punya istri lagi, terus menggadaikan rumah. Ayah malu sama besan. Untung saja besan mau menebus rumah itu, dia juga mau memaafkan kamu. Pokoknya kamu jangan lagi kepincut perempuan lain, cukup sekali saja melakukan kesalahan!" Fahri tertegun, ia menunduk tanpa kata. "Kamu dengar yang ayah ucapkan Fahri? Jangan mengulangi kesalahan yang sama!" imbuh sang ayah. "Iya ayah, jangan khawatir." "Awas saja kalau sampai kamu ketahuan main gila sama perempuan lagi, ayah dan ibumu tidak akan mengakui kamu sebagai putra kami lagi. Camkan itu Fahri!" tegas sang ayah. "Iya ayah, iya!" Ponsel Fahri berdering, ia meraih kantong celana mengambil ponsel itu. Ia beranjak dari duduknya lalu masuk ke kamar pribadinya. "Halo, apa Sayang?" ucapnya. "Kamu dimana sih? Kok tidak pulang-pulang!" tanya Jennifer. "Aku masih di rumah ayah ibu. Mungkin satu jam lagi aku pulang." "Aku maunya kamu pulang sekarang juga!" "Ya tidak bisa begitu Sayang. Ayahku sedang sakit." "Aku mau kamu pulang sekarang juga. Apa kamu mau aku jemput? Biar keluargamu tahu bahwa sekarang aku istrimu satu-satunya!" ancam Jennifer. "Tolong mengertilah Sayang, aku mohon." "Pulang sekarang, Mas!" pekik Jennifer. "Ya sudah aku pulang. Aku pamitan dulu!" "Cepat ya. Awas kalau bohong!" Tut tut tut! Jennifer menutup telepon itu sepihak tanpa pamit, wanita itu bagai atasan buka istri. "Kalau begini aku jadi rindu kamu, Khodijah. Mana pernah kamu memerintah aku seperti itu," gumam Fahri. Penyesalan memang selalu di akhir. Awalnya saja Fahri merasakan manisnya menjadi suami Jennifer. Semakin kesini, makin terlihat sifat asli sang istri. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau dia harus menelan meski terasa tidak enak. Huft! Fahri menghela napas lalu menghampiri kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu . Fahri pulang dulu ya," ujarnya. "Hati-hati di jalan, Nak. Ingat pesan ayahmu tadi, jangan menduakan Khodijah lagi. Jangan mengulangi kesalahan yang sama!" tegas ibunya. "Iya Ibu!" "Jangan cuma iya di mulut saja. Awas kau kalau berulah lagi!" "Astaghfirullah, iya Bu!" Fahri meninggalkan rumah orang tuanya, kembali ke rumah istri kedua yang sebentar lagi menjadi satu-satunya. Namun, selama di perjalanan ia malas pulang. Tubuhnya lelah, ia ingin beristirahat. Ia tidak sanggup bila harus melayani nafsu sang istri ketika tiba di rumah nanti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN