Seminggu berlalu, kondisi kesehatan ayah Fahri memburuk. Beliau harus dilarikan ke rumah sakit di tengah malam buta.
Suara sirine ambulan memecah belah kesunyian jalanan yang dilewati hingga tiba di rumah sakit.
Fahri tidak menunggu hingga pagi, begitu dikabari ia langsung pergi ke rumah sakit. Ayahnya mengalami pecah pembuluh darah di otak akibat penyakit hipertensi yang dialaminya bertahun-tahun.
Ketika tiba, ibu dan adik-adiknya tengah menunggu sang ayah ditangani dokter di ruang UGD.
"Ibu, gimana keadaan ayah?" tukas Fahri panik, napasnya terengah-engah usai berlari.
"Ayahmu, ayahmu kritis Fahri. Mana Khodijah dan Yusuf? Ayahmu selalu memanggilnya walau ia tidak sadarkan diri.
" Ehm, Khodijah dan Yusuf di rumah. Tadi Fahri lembur di kantor, jadi tidak sempat pulang," tuturnya berbohong.
"Bisakah kamu jemput mereka? Sepertinya ayahmu tidak lama lagi. Mungkin, ayah ingin meminta maaf pada istrimu."
"Maaf untuk apa Bu? Ayah tidak punya salah apa-apa," tanya Fahri.
"Minta maaf untuk kamu! Ayahmu merasa bersalah karena kamu telah menduakan dan mengadaikan rumah kalian. Ayahmu juga merasa sangat bersalah karena bukan kami yang bertanggung jawab menebus rumah itu, tapi besan!" tukas Ibunya.
"Bu, sudah jangan ungkit itu!" keluh Fahri.
"Mangkanya ayahmu ingin minta maaf pada istrimu. Ayo jemput mereka sekarang, mumpung ayahmu masih hidup!" desak sang ibu.
"Tapi Bu...."
"Ayo jemput mereka!"
"Iya Bu. Kalau gitu Fahri pulang dulu, tolong beri kabar kondisi ayah."
Fahri pergi menuju rumah mantan istrinya, tak lupa ia menelepon terlebih dahulu memberitahukan kondisi ayahnya kepada Khodijah. Fahri juga meminta Khodijah ikut bersamanya ke rumah sakit menjenguk sang ayah.
Setibanya di rumah, Khodijah dan Yusuf langsung naik ke mobil. Fahri melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan 80km/perjam, supaya cepat sampai di tujuan.
"Mas, pokoknya aku tidak mau ada kontak fisik di hadapan mereka. Ingat, kita hanya pura-pura menjadi suami istri!" tegas Khodijah dalam perjalanan.
"Iya, aku juga tahu batasan kok. Kamu jangan khawatir!"
"Baguslah!"
Tidak ada percakapan diantara keduanya hingga tiba di rumah sakit. Fahri keluar dari mobil menggendong Yusuf yang tengah tidur, keduanya berjalan beriringan namun tetap berjarak.
Setibanya di ruang IGD, pihak keluarga tidak berada di sana. Ayah Fahri pun sudah tidak ada di dalam ruang UGD.
Deg!
Jantung Fahri berdetak kencang, ia membayangkan ayahnya telah tiada. Ia segera menelepon adiknya, ternyata sang ayah dipindah ke ruang ICU.
Fahri menghela napas lega, keduanya langsung pergi menuju ruang perawatan itu.
Semua keluarga Fahri berkumpul di dalam ruangan ICU, Khodijah melihat mantan ayah mertuanya sudah tidak sadarkan diri atau koma. Ada alat pernapasan yang dipasang di hidung hingga mulut, menandakan beliau tidak bisa bernapas dengan baik.
"Bu, bagaimana kabar ayah?" tanya khodijah kepada mantan ibu mertuanya yang bernama Salamah.
"Ya begitulah Nak. Ayahmu tidak sadarkan diri. Khodijah, ayah ingin meminta maaf padamu atas perbuatan Fahri. Tapi, tampaknya ayahmu tidak bisa mengucapkannya secara langsung, jadi ibu wakili ya."
"Kenapa harus minta maaf Bu? Khodijah tetap menyayangi Ayah dan Ibu seperti menyayangi Abi dan Umi hingga kapan pun. Yang lalu kita lupakan saja, semoga ke depannya kehidupan Mas Fahri dan kehidupan Dijah bisa bahagia."
"Terima kasih Nak. Kamu memang menantu yang baik dan berbakti."
Salamah memeluk Khodijah erat, merasa lega karena menantunya itu memaafkan semua perbuatan Fahri. Ia pikir sekarang kehidupan rumah tangga anaknya sudah kembali harmonis, Salamah tidak bisa menangkap makna ambigu dari perkataan Khodijah tadi.
"Oh iya, ayah kenapa bisa masuk rumah sakit? Darah tingginya kumat atau apa?" tanya Khodijah usai berpelukan.
"Iya, pembuluh darahnya pecah. Doakan semoga ayah bisa tertolong, bisa sehat lagi."
"Aamiin ya Rabb. Khodijah selalu mendoakan ayah dan ibu semoga selalu diberi kesehatan, bisa menyaksikan Yusuf nikah."
"Iya, bisa melihat adik-adiknya Yusuf lahir. Semoga saja ya Nak."
Khodijah tersenyum hambar, tentunya semua itu tidak akan pernah terjadi karena sebentar lagi keduanya akan segera berpisah resmi secara negara.
Khodijah melirik Fahri yang kebetulan sedang menatap nya. Bagaimana bila Salamah tahu bahwa sebenarnya mereka berdua sudah bercerai. Rasanya tak sampai hati melihat mantan mertuanya bersedih dan kecewa. Namun, waktu tidak dapat diputar mundur. Jodoh antara Fahri dan khodijah hanya sebatas kurang dari lima tahun.
Semua keluarga termasuk Khodijah membacakan surat yassin untuk ayahanda yang koma, mereka bisa merasakan bahwa Abdullah tidak lama lagi dipanggil oleh sang pencipta. Usai mengaji, satu persatu anak-anak Abdullah meminta maaf. Fahri bahkan menangis tersedu-sedu karena ia merasa paling banyak membuat kesalahan.
Khodijah pun meminta maaf kepada mantan ayah mertuanya, ia memegang jemari Abdullah. Wanita itu mencium punggung tangannya sebagai tanda bakti lalu berkata, "Ayah, Khodijah minta maaf. Maaf karena belum sempat berbakti kepada Ayah. Khodijah juga minta maaf atas semua kesalahan serta kekhilafan yang pernah dilakukan."
Titttt ...!
Mesin detak jantung bersuara nyaring bak sirine ambulan. Fahri menekan tombol darurat di sisi ranjang, kemudian tidak lama perawat dan dokter tiba. Pihak keluarga diminta keluar disaat dokter melakukan tindakan penyelamatan. Lima belas menit kemudian, dokter menyatakan pasien meninggal dunia.
Seluruh keluarga menangis saling berpelukan. Fahri yang sedang menggendong Yusuf masuk ke dalam menghampiri jenazah sang ayah yang terbaring di ranjang.
"Ayah, maafkan Fahri!" Pria itu menangis meraung. Ia ingin memeluk Abdullah, namun ia sedang menggendong Yusuf. Khodijah segera mengambil sang putra dari gendongan Fahri supaya mantan suaminya bisa leluasa memeluk Abdullah.
Fahri langsung memeluk ayahnya, menangis dibalik selimut putih yang menutupi jenazah. "Ayah, maafkan Fahri. Fahri sering kali membuat ayah kecewa. Kenapa harus secepat ini ayah berpulang? Fahri masih butuh ayah," tuturnya.
"Fahri, jangan meratap. Kasihan ayahmu," ucap Salamah. Beliau menarik lengan Fahri lalu memeluknya. "Ikhlas Fahri. Ini sudah takdir yang Kuasa," imbuh Salamah.
"Iya Bu. Fahri tidak menyangka mengapa secepat ini?"
"Sudah. lebih baik kita membawa ayahmu pulang supaya bisa cepat di makamkan."
Dengan berurai air mata, Fahri mengurus administrasi sang ayah. Setelah selesai, Abdullah dibawa pulang menggunakan mobil jenazah menuju kediaman keluarga Fahri.
***
Pagi-pagi sekali Fahri mengabarkan kematian sang ayah pada istrinya. Jennifer saat ini sedang tertidur di sebuah kamar hotel bersama seorang pria. Wanita dewasa itu menghabiskan malam panjang, bertukar peluh dengan pria pemberi kenikmatan. Walau Khodijah berstatus mantan, ia sibuk membantu keluarga Fahri. Seharusnya itu menjadi tugas Jennifer sebagai menantu, namun wanita itu justru bersenang-senang disaat sang suami menemani ayah mertuanya yang kritis.
Pukul delapan pagi, jenazah dimandikan dan dikafani. Setelah kuburan siap, mayat disalatkan di mesjid terdekat. Hingga acara pemakaian selesai, Jennifer belum juga membaca pesan yang dikirim suaminya. Wanita itu terbangun pada pukul satu siang, ia sedikit terkejut ketika membaca pesan itu. Ada banyak panggilan tidak terjawab dari Fahri, ia segera menghubunginya.
Tut Tut!
Ponsel Fahri aktif namun ia harus melakukan panggilan sebanyak tiga kali barulah pria itu menerima panggilannya.
"Halo Mas, maaf aku baru bangun. Aku turut berduka cita ya atas meninggalnya ayah kamu," ucap Jennifer.
"Kamu kesini Sayang, temui ibuku," pinta Fahri.
"Bukannya kemarin kamu tidak ingin aku hadir?"
"Ya, itu kan untuk menjaga kondisi ayah. Sekarang beliau sudah tidak ada, kamu datang ya. Kasih perhatian ke ibu aku."
"Di sana ada mantan istrimu tidak?" tanya Jennifer.
"Iya ada bersama anakku juga."
"Ah malas aku. Kenapa harus ada dia sih? Aku tidak suka dia!" protes Jennifer.
"Ya namanya orang berbelasungkawa, masa iya diusir. Pokoknya kamu kesini sekarang, mas tunggu!"
"Iya iya. Aku siap-siap dulu!"
Jennifer memakai kimono lalu pergi ke kamar mandi. Pria yang bersamanya semalam masih tertidur pulas usai menggoyang penyewanya semalaman. Usai berpakaian rapi, wanita itu meninggalkan uang tunai sebesar lima juta rupiah yang ia taruh di sisi bantal. Jennifer pergi tanpa pamit pada pemuda tampan itu, ia bahkan tidak berganti pakaian ketika melayat ke rumah mertuanya.
Jennifer memoles wajahnya penuh riasan, mengenakan gaun berwarna biru dengan belahan dadanya berbentuk v dan sepatu hak tinggi. Saat tiba di kediaman keluarga Fahri, semua mata tertuju padanya termasuk Khodijah. Wanita itu sampai tercengang melihat penampilan istri sang mantan, ia secepatnya menghindar ke dapur supaya keduanya tidak bertemu muka.
Fahri yang sedang duduk lesu melihat kedatangan istrinya. Reaksi awalnya pun sama, ia tercengang. Jennifer menghampiri suaminya yang sedang bengong. "Mas, kamu kenapa bengong?" tanya Jennifer.
"Astagfirullah hal azim. Kamu mau melayat apa ke pesta sih? Coba dikondisikan pakaianmu. Apa pantas memakai gaun terbuka begitu!" protes Fahri.
"Memang kenapa? Ini masih batas sopan kok,' sahut Jennifer. Para kerabat berbisik-bisik, saling bertanya siapa wanita yang sedang berbicara bersama Fahri.
"Kenapa makin kesini, sulit sekali memahami kamu. Terutama gaya hidupmu yang bertolak belakang denganku!"
"Mangkanya kamu adaptasi dong. Mana ibumu, aku mau mengucapkan bela sungkawa padanya."
Fahri berdiri, wajahnya tampak kecewa sekali. "Hah, sebaiknya tidak perlu menemuinya. Daripada imange kamu buruk di matanya!"
"Gimana sih Mas. Udah capek-capek kesini malah begini sambutan Mas!"
Ibunda Fahri keluar dari kamar, ia melihat putranya sedang mengobrol dengan wanita yang bukan istrinya. Beliau menghampiri untuk mencari tahu siapa dia. Fahri melihat kedatangan ibunya, ia panik. Gerakan tubuhnya tidak nyaman.
"Aduh ibu datang," gumamnya. Jennifer menoleh ke belakang, ibu mertuanya itu berada tiga langkah darinya.
"Fahri, bicara sama siapa kamu?" tanya Salamah ketika tiba dan berdiri di sisi Fahri, ia memandangi Jennifer dari ujung rambut sampai kaki.
"Hmm ...ini Bu. Anu ...."
"Saya Jennifer. Istrinya Fahri" timpal Jennifer.
"Hah, istri Fahri? Oh, mantan istri siri ya? Jadi mbak ini yang bernama Jennifer"
"Iya, apa kabar Bu?"
"Alhamdulillah baik. Tau dari mana ayahnya Fahri meninggal? Kalian sudah tidak bersama lagi kan?"
"Maksudnya apa?" sahut Jennifer.
"Mohon maaf, bukannya ibu ngusir. Menantu saya sedang berada disini, sebaiknya kamu pergi. Ibu tidak mau melihat Khodijah sakit hati."
"Khodijah masih di sini? Memangnya ibu tidak tahu bahwa Mas Fahri dan Khodijah sedang dalam proses cerai? Sekarang ini istrinya Mas Fahri ya saya, Jennifer!"
Jeger!
Bak disambar petir mendengarnya. Salamah menoleh ke sisi kiri dimana Fahri berdiri. "Apa benar itu Fahri?" tanya Salamah.
Fahri diam menunduk, ia menyayangkan perbuatan Jennifer. Harusnya hal ini dibicarakan pelan-pelan supaya Salamah mengerti. Namun, Jennifer merusak semuanya.
"Iya benar Bu. Fahri dan Khodijah sudah bercerai secara agama, dan sekarang sedang proses di pengadilan. Bu, Fahri minta maaf. Rumah tangga Fahri dan Khodijah tidak bisa diselamatkan lagi. Sekarang, Fahri mohon ibu terima Jennifer sebagai istri Fahri ya."
Plak! Plak!
Dua tamparan mendarat di wajah Fahri, hal itu menarik perhatian semua orang yang melihatnya.
"Terlalu kamu, Fahri! Apa kurangnya Khodijah, sampai kamu mendua hati? Kamu seperti bukan putra ibu. Kamu berubah!"
"Fahri tidak akan berubah Bu. Fahri masih sama seperti dulu, menyayangi ibu dan yang lainnya."
Salamah terduduk lesu di kursi, Wanita berusia hampir enam puluh tahun itu sangat kecewa kepada putra pertamanya itu.
Ketika situasi sedang tegang, Khodijah menghampiri mereka. Wanita itu merasa perlu meminta maaf kepada Salamah, karena ia pun menyembunyikan perceraiannya walaupun itu atas permintaan Fahri.
"Bu, maafkan kami. Saya dan Mas Fahri bukan bermaksud menyembunyikan semua ini dari kalian semua. Tapi, saat itu kami memikirkan kesehatan ayah. Khodijah minta maaf Bu. Maaf mengecewakan," ucap Khodijah.
Ia memeluk Salamah, tetes air mata tak kuasa terbendung padahal ia tidak ingin terlihat lemah.
"Kamu selamanya menantu ibu. Kamu putri ibu. Ibu yang seharusnya minta maaf, maaf atas kelakuan Fahri." Salamah semakin erat memeluk Khodijah. Fahri pun merasa terharu, matanya berkaca-kaca.
Jennifer yang berada di sampingnya merasa muak melihat tingkah Khodijah, menurutnya sikap wanita itu penuh drama.
"Mas pulang yuk, gerah disini!" ujar Jennifer.
"Kamu yang pulang sana. Usia dewasa tapi kelakuan seperti ABG. Tidak bisa apa kamu bersikap seperti Khodijah!" sarkas Fahri.
"Khodijah Khodijah dan Khodijah! Wanita itu bagai sang Dewi, tanpa cela. Padahal aku istrimu dan dia mantan!"
Jennifer pergi begitu saja tanpa pamit kepada Salamah.