Ketakutan Mentari

1593 Kata
Tanpa menunggu lama, Sakti langsung meneleponnya. "Apa maksud lo di chat tadi, huh?" sungutnya saat Elang baru saja menjawab teleponnya. "Ya seperti yang gue bilang tadi di chat, gue bakal gugat cerai dia. Gue nggak mau ngerusak kebahagiaan lo, Sak. Apa lagi cuma dia cewek yang bisa merubah lo jadi jauh lebih baik seperti sekarang," jawab Elang sambil memijat pelipisnya dengan matanya yang terpejam. "Berani lo gugat cerai dia, jangan harap gue bakal mau ngomong sama lo lagi," ancam Sakti. "Loh? Kenapa? Bukannya lu mau nikahin dia? Ya udah gue bakal lepasin dia buat lo," balas Elang. "Lo ini bodoh apa gimana, Bang? Lo pikir Mentari itu binatang peliharaan yang bisa lo lepas gitu aja, biar bisa di adopsi sama orang lain gitu? Dia bukan hewan yang nggak punya perasaan yang bisa lo perlakukan seenaknya. Dia itu cinta sama lo. Kalo dia nggak cinta lo, dia nggak akan mungkin mau nerima lo untuk jadi suaminya, karena dia itu perempuan yang punya pendirian yang teguh. You're so stupid and asshole, Bang!" Sakti langsung mengakhiri panggilannya dan bergegas melajukan mobilnya meninggalkan kediaman saudara sepupunya itu. Ia sudah tak mengerti lagi dengan jalan pikiran Elang yang sungguh terlalu meremehkan perasaan wanita. Elang tertegun setelah mendengar semua perkataan Sakti, terlebih dia kalimat terakhir yang Sakti ucapkan tentang Mentari yang mencintai dirinya. "Apa benar kamu mencintaiku, Tar?" gumamnya sambil menatap layar ponselnya yang baru saja padam. Mentari memutuskan untuk menghampiri Enzy usai berbincang dengan Sakti tadi. Wanita itu memilih untuk menemani Enzy bermain agar dirinya tidak terus merasakan kesedihan karena sakit hati yang tengah dirasakannya terhadap Elang. "Mama," panggil Enzy. "Iya, Sayang. Kenapa? Enzy lapar? Mau camilan nggak?" tanya Mentari beruntun yang tersadar dari lamunannya saat Enzy memanggilnya. "Enggak, Mah. Enzy cuma badmood aja di rumah terus. Apa Papa nggak mau ajak kita main ke luar?" tanya Enzy dengan tatapan penuh harap. Mentari mengulas senyumnya yang nampak getir, "Papa kan sedang sakit pinggangnya karena terjatuh tadi, Sayang. Next time ya kalau kondisi Papa sudah jauh lebih baik," jawabnya. "Kalau Papa sakit, kenapa Mama nggak temanin Papa di kamar?" Pertanyaan polos Enzy membuat Mentari tersedak salivanya sendiri. "Uhukk ... uhukk." Mentari terbatuk-batuk. Lily, pengasuh Enzy, bergegas membawakannya satu gelas air putih dari dapur, dan memberikannya pada Mentari. Mentari pun langsung meneguknya hingga tandas. "Terima kasih, Sus Lily," ucapnya sambil memberikan kembali gelasnya kepada Lily. "Are you okay, Mah?" tanya Enzy sambil menepuk-nepuk punggung Mentari dengan telapak tangannya yang mungil. Mentari hanya berusaha tersenyum sambil mengangguk kecil. Enzy pun lupa pada pertanyaan yang sebelumnya ia ajukan. Saat Enzy kelelahan bermain dan terlelap di pangkuannya, Mentari menggendong Enzy, lalu membaringkannya di atas tempat tidur di kamar gadis mungil itu, lantas kembali ke kamarnya. Saat dirinya meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas, ia terkejut melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari Rani, suster yang merawat sang ayah di rumahnya. Dengan jantungnya yang berdegup kencang karena takut terjadi sesuatu pada ayahnya, Mentari menghubungi balik Rani sambil menggigiti ujung-ujung kuku jemarinya. "Halo, Suster Rani. Kenapa Suster menelfon aku hingga berkali-kali? Ayahku baik-baik saja, kan, Sus?" tanyanya beruntun saat Rani menjawab panggilannya. Alih-alih langsung menjawabnya, hanya terdengar suara isak tangis dari seberang teleponnya. "Sus, kenapa Suster menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mentari lagi dengan kedua netranya yang mulai mengembun. "Pak Abi terkena ... serangan jantung, Mbak Mentari," jawab Rani seraya menangis terisak. "Huh? Gimana bisa, Sus? Terus sekarang kalian di mana?" tanyanya lagi yang mulai panik sambil meraih tas selempangnya, dan memasukkan dompetnya ke dalam sana. "Saya membawanya ke rumah sakit Cipta Keluarga, Mbak," sahut Rani lagi. "Oke, aku langsung on the way ke rumah sakit, Sus," jawab Mentari sambil membuka pintu kamarnya. Bruk! Mentari yang berjalan terburu-buru sambil menelepon dan menutup rapat tas selempangnya pun tak menyadari jika ternyata ada Elang di depan pintu kamarnya hingga dahinya menabrak d**a bidang Elang. "Maaf," ucap Mentari dengan tatapannya yang sendu. "Kamu mau pergi ke mana, Tar?" tanya Elang yang nampak khawatir karena melihat raut wajah Mentari yang nampak cemas dan sedang berusaha keras menahan tangisnya. "Ayahku terkena serang jantung. Aku harus pergi ke rumah sakit. Maaf, Mas, kamu mengizinkan atau nggak, aku akan tetap pergi," jawab Mentari sambil menghapus air mata yang akhirnya luruh tanpa permisi di kedua pipinya, dan hendak berlalu meninggalkan sang suami. Namun, Elang mencekal pergelangan tangannya. "Tunggu, Tari. Saya ikut," kata Elang. "Nggak perlu, Mas. Aku bisa sendiri. Kamu istirahat aja," tolak Mentari sambil menyeka kedua pipinya sendiri. "Tidak bisa, Tar. Saya harus ikut. Walau bagaimanapun, Ayah kamu itu mertua saya," timpal Elang. Mentari seketika berdecih, lalu tersenyum miring sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan kembali menatap Elang dengan tatapannya yang dingin dan penuh kesakitan. "Bagaimana mungkin kamu menganggap ayahku sebagai mertua di saat kamu sendiri nggak menganggap aku sebagai istri kamu, Mas?" tanyanya dengan air mata yang kembali mengalir di kedua pipinya. "Kita akan bahas itu nanti, saya akan menjelaskan semuanya sama kamu. Kamu tunggu saya di bawah. Saya akan menyusul setelah berganti pakaian," tutur Elang, lalu hendak menyentuh wajah Mentari untuk menyeka air matanya, namun dengan cepat Mentari memalingkan wajahnya, dan menghapusnya sendiri. Elang hanya bisa menghela napasnya dengan pasrah, "Tunggu saya di bawah, ya?" ucapnya dengan tatapan memohon. Tanpa suara, Mentari hanya mengangguk kecil, dan berlalu meninggalkan Elang menuju ke lantai satu. Usai mengganti pakaiannya, Elang langsung menyusul Mentari ke lantai satu rumahnya itu, dan ternyata Mentari sudah menunggunya di dalam mobil. Namun, istrinya itu lebih memilih untuk duduk di kabin depan di samping kursi pengemudi. Sopir pribadinya, Toni, langsung membukakan pintu kabin belakang mobil untuknya. Menyadari Mentari sungguh-sungguh menjaga jarak darinya, Elang hanya menggaruk pelipisnya yang tak gatal, dan menghela napas panjangnya sebelum melangkah masuk ke dalam mobil miliknya. Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah sakit, mobil tersebut hanya dipenuhi dengan keheningan. Setibanya di lobi rumah sakit pun, Mentari langsung bergegas turun, dan berlari menuju ruang ICU tempat sang ayah berada. Karena pinggangnya yang masih terasa sakit, Elang hanya bisa menyusulnya dengan berjalan perlahan. "Sus, gimana keadaan Ayah?" tanya Mentari dengan wajahnya yang nampak sembab. "Kondisi Pak Abi kritis, Mbak," jawab Rani menundukkan sambil menitikkan air mata. Bahu Mentari pun merosot seketika setelah mendengar kondisi sang ayah. Ia terhuyung ke belakang karena tiba-tiba tubuhnya merasa lemas. Beruntung Rani segera menangkap tubuhnya, lalu merangkulnya, dan membawanya untuk duduk di kursi tunggu panjang yang terbuat dari stainless steel di depan ruangan itu. "Sus kenapa tiba-tiba Ayah seperti ini? Bukankah keadaannya selama ini sudah jauh lebih baik? Bahkan Ayah selalu menjaga pola makannya. Tapi, kenapa jadi seperti ini, Sus?" tanyanya lirih sambil menangis terisak. "Saya nggak tau, Mbak. Tapi, belakangan ini beliau sering sekali melamun dan tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. Tapi, setiap saya ingin menghubungi Mbak Mentari, beliau melarang saya untuk memberitahu Mbak," tutur Rani. "Kenapa Suster nggak bilang saya? Mungkin jika sejak awal kita periksakan keluhan Ayah ke dokter, kejadiannya nggak akan seperti ini, Sus!" Mentari mulai terlihat marah pada perawat yang sudah tiga tahun belakangan ini membantunya merawat sang ayah. "Maaf, Mbak. Tadinya, saya berpikir akan bilang ke Mbak Mentari saat jadwal terapi, agar kita bisa sekalian bertanya pada dokter. Tapi, kemarin kan Pak Abi libur terapi karena pernikahan Mbak Mentari," tutur Rani. Mentari tak membalas lagi perkataan Rani, ia hanya bangkit dari duduknya, masuk ke dalam ruang ICU tersebut. Dengan langkahnya yang gontai, ia pun menghampiri hospital bed tempat sang ayah terbaring, setelah mengenakan pakaian khusus bagi pengunjung ruangan tersebut. Digenggamnya tangan sang ayah yang tengah memejamkan matanya dengan sangat rapat. "Ayah, kenapa Ayah nggak bilang sama aku kalo kondisi Ayah lagi nggak baik-baik aja? Aku kan udah sering ngomong sama Ayah buat selalu bilang sama aku kalo ada keluhan yang Ayah rasain, biar kita bisa langsung periksa ke dokter," tutur Mentari sambil menangis terisak. Tangan sang ayah yang digenggamnya dan ia tempelkan di sebelah pipinya pun sudah mulai basah karena air mata Mentari yang terus mengalir tanpa henti. "Yah, aku mohon, jangan pernah berpikir untuk ninggalin aku sendirian, cuma Ayah yang tulus menyayangi aku selama ini ... Ayah harus bangun ya, Yah," imbuhnya setelah diam beberapa saat, dadanya semakin terasa sesak sekarang hingga napasnya tersengal karena tak kuat menahan isak tangisnya. Elang yang baru saja tiba di depan ruang ICU pun menatap Mentari yang terlihat sangat terpukul dari balik kaca ruangan tersebut, setelah bertanya pada Rani tentang apa yang telah terjadi sebelumnya pada ayah mertuanya. Ia ingin ikut masuk, namun hanya satu orang yang diperbolehkan untuk masuk ke dalam sana, sehingga ia hanya bisa menatapnya dari balik kaca. Akan tetapi, Dion, asisten pribadinya, mendadak menghubunginya, dan memberitahunya bahwa ada masalah yang terjadi pada proyeknya yang berada di Surabaya. Akhirnya Elang meminta Dion untuk segera menyusulnya ke rumah sakit, dan mengurus semua biaya administrasinya, lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa pamit pada Mentari. Namun, saat baru saja duduk di dalam jet pribadinya, ia mengirim pesan pada Sakti, dan memintanya untuk menjaga Mentari selama dirinya pergi. Sakti yang merasa marah setelah membaca pesan dari Elang pun, langsung meneleponnya, tapi ternyata ponsel Elang sudah tidak aktif karena pesawatnya yang sudah lepas landas. Mentari yang mengetahui kepergian Elang dari Rani setelah keluar dari ruangan itu pun, hanya bisa tersenyum sangat tipis. Namun, senyuman itu terlihat sangat getir. "Nyatanya, tadi itu kamu cuma pura-pura peduli sama Ayah, Mas," batinnya berucap. Baru saja ia kembali duduk di kursi tunggu bersama Rani, tiba-tiba dua orang dokter dan dua orang perawat berlarian masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi dengan suara flatline dari monitor detak jantung yang terhubung pada jantung Abimanyu. Mentari dan Rani seketika bangkit dan berlari menghampiri kaca ruangan tersebut, ketakutannya pun terjadi. Para tenaga medis itu tengah mengerubungi sang ayah, bahkan salah satu dokter sedang memegang alat pacu jantung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN