Rasa Bersalah Elang

1220 Kata
Sama halnya dengan Sakti, Mentari pun tak kalah terkejutnya saat menyadari siapa pria yang ada di hadapannya sekarang. "Dokter Sakti?" pekiknya yang tidak menyangka jika pria yang pernah membantunya beberapa tahun lalu saat sang ayah sedang dalam keadaan kritis di rumah sakit, tiba-tiba ada di hadapannya sekarang. "Kamu kenapa bisa ada di sini, Mentari?" tanya Sakti dengan raut wajahnya yang penuh dengan kecurigaan. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari Mentari seperti baru keluar dari kamar sebelah, ia teringat perkataan Elang tadi yang mengatakan jika istri barunya tinggal di kamar itu. "Dokter sendiri sedang apa di sini?" Mentari balik bertanya. "Oh, apa jangan-jangan Dokter Sakti ini saudara sepupunya Mas Elang?" tebaknya. "Ya, aku sepupu Bang Elang. Mentari, jangan bilang kamu adalah istri barunya?" Sakti langsung mencecarnya untuk menghilangkan rasa penasarannya. Mentari hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya, senyuman Mentari seketika memudar, hanya seulas senyuman yang sangat tipis dan terlihat miris yang terbit di wajah cantiknya yang masih nampak sembab. Bahu Sakti merosot seketika setelah Mentari menjawab pertanyaannya. Sakti langsung bergegas kembali masuk ke dalam kamar Elang dan menutup pintunya rapat. Tanpa aba-aba, Sakti langsung meninju wajah Elang yang masih duduk bersandar pada sandaran ranjang. Bugh! "Akh!" pekik Elang yang mendapat serangan tiba-tiba dari Sakti. Dicengkeramnya kerah baju Elang oleh Sakti. "Kenapa harus dia, Bang?" sungutnya dengan tatapan memburu dan penuh amarah. "Huh? Apa maksud lo, Sak?" Elang balik bertanya karena tak mengerti apa maksud dari pertanyaan saudaranya itu. "Mentari! Dia istri baru lo, 'kan?" "I-iya, dia memang istri baru gue," jawab Elang. "Wait wait, lo kenal sama dia?" tanyanya. Sakti melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Elang sambil mendorong kasar tubuh pria itu, lalu bangkit berdiri, dan memunggungi Elang sambil mengacak rambutnya sendiri. "Aaargh!" teriaknya, lalu melempar ponselnya sendiri ke dinding hingga layarnya pecah. Dengan susah payah, Elang berusaha bangkit dari tempat tidurnya, dan menghampiri Sakti dengan langkah kakinya yang gontai. "Ada apa sebenarnya, Sak? Kenapa lo seperti ini?" tanya Elang yang masih belum mengerti dengan kemarahan Elang. Sakti berbalik dan kembali mencengkeram kerah baju Elang dengan tatapannya nyalang. "Dia itu cewek yang mau gue lamar, Bang!" jawabnya berteriak, ia tak takut jika Mentari mendengarnya, karena Sakti tahu benar jika kamar Elang kedap suara. Berteriak sekencang apa pun tidak akan ada yang mendengarnya. "Huh? J-jadi, perempuan yang lo maksud itu Mentari?" tanya Elang lagi memastikan. "Iya, Bang! Dia cewek yang udah tiga tahun ini selalu ada di pikiran dan hati gue! Dia cewek yang udah buat gue berubah dan nggak pernah main cewek dan mabuk lagi. Dia orangnya, Bang! Dan, lo sekarang udah nikahin dia. Gue harus gimana, Bang?" teriaknya lagi yang semakin mengeratkan cengkeramannya pada baju Elang. "S-Sorry, Sak. Gue nggak tau," jawab Elang yang merasa bersalah pada adik sepupunya itu. Sakti pun kembali mendorong tubuh Elang, berlalu meninggalkan kamar itu, yang ternyata Mentari masih berdiri di depan pintu kamar Elang. "Mentari, ada hal yang ingin aku bicarakan empat mata sama kamu. Bisa?" tanya Sakti pada wanita yang ia cintai itu. "Aku harus minta izin dulu pada Mas Elang, Dok," jawab Mentari. "Nggak perlu! Dia pasti ngizinin kok," kata Sakti, lalu menarik pergelangan tangan Mentari, dan membawanya ke taman belakang. Mereka berdua pun duduk di sebuah kursi taman. "Gimana keadaan ayah kamu, Tar? Apa kondisi beliau sudah lebih baik?" tanya Sakti setelah menghela napas panjangnya. "Sudah jauh lebih baik, Dok. Ayah sudah bisa berbicara sekarang. Hanya saja, kaki sebelah kirinya masih belum bisa digerakkan. Jadi, masih harus menggunakan kursi roda," jelas Mentari. "Syukurlah," jawab Sakti tersenyum. "Semuanya berkat Dokter, jika saja saat itu Dokter tidak membantuku untuk membiayai operasi Ayah, belum tentu Ayah bisa seperti sekarang," timpal Mentari. "Oh ya, Dokter ke mana saja selama ini? Selama tiga tahun aku bekerja di Arkatama, aku mengumpulkan semua bonus-bonus yang aku dapatkan dari perusahaan untuk mengganti uang yang pernah Dokter pinjamkan untuk operasi Ayah. Bisakah aku minta nomer rekening mu?" tanyanya. "Siapa yang bilang aku meminjamkannya? Aku saat itu hanya berniat ingin membantumu, bukan meminjamkan," balas Sakti. "Simpan saja uangmu. Aku tidak akan menerima jika kau ingin menggantinya. Lagi pula, bukankah sekarang kita adalah keluarga?" "Tapi, Dok ...." "Sudah, anggap saja itu angpau dariku untuk pernikahanmu." Sakti mengatakannya dengan hatinya yang terasa berdenyut sakit. Namun, ia masih berusaha untuk mengulas senyumnya, walaupun hanya sebuah senyuman getir yang terbit di wajah tampannya. "What's? Mana ada angpau pernikahan sebanyak itu, Dok," balas Mentari. "Ada," jawab Sakti hendak membelai rambutnya. Namun, Mentari menghindarinya. "Maaf, Dok. Aku sudah memiliki suami sekarang," ucapnya menundukkan pandangan, karena merasa tak enak hati. "Sorry," balas Sakti dengan kedua netranya yang mulai nampak mengembun. Betapa sakit hatinya mendapatkan kenyataan pahit ini. Wanita yang begitu ia cintai telah menjadi istri dari kakak sepupunya sendiri. Ia sungguh menyesal karena pergi tanpa menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada wanita itu sebelum kepergiannya ke negeri Paman Sam untuk melanjutkan pendidikannya. Elang yang sejak tadi memperhatikan mereka dari balik kaca jendela kamarnya, semakin diselimuti rasa bersalah. Ternyata dirinya tidak hanya menyakiti Mentari, tapi juga menyakiti hati saudaranya. "Oh ya, Dokter sejak kapan kembali ke Indo?" tanya Mentari. "Baru tadi malam," jawab Sakti yang masih tersenyum getir. "Oh," jawab Mentari yang juga tersenyum. Senyuman yang nampak kikuk. "Tar, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Sakti menatapnya lekat. "Ya! Of course," jawab Mentari lagi yang juga menatap pria itu sambil mengulas senyuman manisnya. "Kenapa kamu mau nikah sama Bang Elang?" tanya Sakti to the point. Mentari seketika mengalihkan pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong, lalu menghela napas panjangnya. "Apa kamu mencintainya?" tanya Sakti lagi. Mentari hanya mengangguk kecil dengan kedua netranya yang mengembun. Ia mendongakkan wajahnya, berusaha menahan air matanya agar tak tumpah. Sakit sekali hati Sakti mendapat jawaban dari Mentari. "Sejak kapan?" tanyanya lagi. "Sejak aku bekerja di perusahaannya. Entah kenapa, setiap aku berhadapan dengannya, jantungku selalu berdetak lebih cepat dari biasanya. Tapi, aku hanya bisa memendamnya, sampai akhirnya satu minggu yang lalu tiba-tiba dia melamarku," terang Mentari. "Dan dengan bodohnya kamu menerima dia yang nggak cinta sama sekali sama kamu, Tar," batin Sakti tersenyum miring. Sakti pun bangkit berdiri, ia tak sanggup lagi mendengar isi hati Mentari yang hanya ada Elang di dalamnya. "Dokter mau ke mana?" tanya Mentari. "Aku harus pulang, aku masih jet lag, dan butuh tidur," jawab Sakti tanpa menatap Mentari, dan berlalu pergi meninggalkannya. Setelah berada di dalam mobilnya, air mata Sakti tak terbendung lagi. Sejak tumbuh dewasa, baru dua kali seumur hidupnya ia menangis. Pertama saat ibu kandung Elang meninggal, karena ia ikut merasakan sakitnya saat melihat Elang yang sangat terpukul karena kepergian sang ibu yang juga adalah bibinya. Dan sekarang adalah kali kedua ia menangis. Ia mencengkeram setir kemudinya dengan begitu erat, lalu kembali mengacak-acak kasar rambutnya. "Bodoh banget emang gue! Andai aja dulu gue ngungkapin perasaan gue lebih dulu. Mungkin semuanya nggak akan seperti ini kejadiannya!" gerutunya merutuki kebodohannya. Dirogohnya ponsel yang ada di dalam tasnya untuk mengirimkan pesan pada Elang. [Kalo lo terus nyakitin hati Mentari, gue akan buat lo cerai sama dia, dan gue bakal nikahin dia!] Sakti tidak memiliki pilihan lain selain mengancam saudaranya itu. Ia hanya bisa pasrah pada takdir ini. Namun, ia juga tidak akan tinggal diam jika Elang terus menyakiti hati Mentari. Ia akan benar-benar merelakan Mentari jika wanita itu sungguh-sungguh bahagia menjalani rumah tangganya bersama Elang. [Gue bakal gugat cerai dia satu minggu dari sekarang Sak. Tenang aja, gue belum dan ga bakal nyentuh dia.] Mendapat balasan dari Elang seperti itu, aliran darahnya semakin mendidih dibuatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN