Nadia lega sudah menjelaskan semua pada guru kelas Nafa, dia kemudian berpamitan izin kembali ke kantornya dan saat tiba di kantornya, Nadia tampak sangat heran melihat di ruangannya kenapa karyawan lainnya pada terlihat riuh dan banyak box sepatu di atas meja mereka. Mereka juga saling berbisik dan berkata tentang bonus ulang tahun
“Nadia, kamu sini cepat!” Panggil Sarah.
Nadia berjalan menuju mejanya dan tampak bingung. “Ada apa ini?” tanya Nadia heran.
“Kamu tau? Tadi pagi saat kita barusan datang ternyata di atas meja kita semua ada box sepatu, dan harga sepatu-sepatu ini sangat mahal.
“Sepatu?” Nadia melihat di atas mejanya juga ada box sepatu yang kemarin dia tolak saat diberikan oleh Fabio. “Kenapa ini ada di atas mejaku?” Nadia melihat dan membukanya, dan ternyata benar itu sepatu yang kemarin.
“Itu untuk kamu, kita semua dapat sepatu dari pak Fabio.”
“Pak Fabio?” Kedua alis Nadia mengekrut.
“Aku juga dapat, sepatu milikku sangat bagus, warnanya silver, warna yang aku sukai. Pak Fabio kenapa bisa tau kesukaan aku? Modelnya juga sangat bagus.” Tania tampak memeluk sepatu dari bosnya.
“Nadia, punya kamu juga sangat bagus, coba kamu pakai pasti sangat cocok.” Sarah mengambil sepatu milik Nadia dan berjongkok ke bawah kaki Nadia agar Nadia mau mencoba sepatu itu.
“Sarah! Kamu mau apa? Nanti saja aku mencobanya.” Nadi sampai tidak siap dan akhirnya dia terpaksa memakai sepatu itu.
“Wah! Bagus sekali! Cocok sama kamu yang lembut dan keibuan.” Tangan Sarah merentangkan kedua tangan Nadia dan memutar-putar tubuh Nadia. “Akhirnya sepatu cinderella sudah ditemukan.” Ini Sarah malah seolah mengajak Nadia berdansa.
“Apa-apaan sih kamu, Sarah?” Nadia terkekeh dan tiba-tiba tubuh Nadia malah menabrak seseorang. Kedua mata Nadia membelalak lebar melihat siapa yang ditabraknya. “Pak Fabio?” Nadia dengan cepat menjauhkan tubuhnya.
Sepasang mata dengan manik biru itu menatap Nadia dari atas sampai bawah. Fabio terlihat menyembunyikan senyumannya saat melihat kedua kaki wanita cantik yang sangat dia cintai itu menggunakan sepatu pemberiaannya.
“Maaf, Pak Fabio, tadi itu kesalahan saya, bukan Nadia,” Sarah terlihat menundukkan kepalanya perlahan.
“Lain kali hati-hati, ini kantor bukan gedung pertunjukkan,” ucap Selena tegas.
“Iya, saya mint maaf.”
“Pak Fabio, apa benar hadiah sepatu ini untuk kita semua karena hari ini Pak Fabio sedang berulang tahun?” Tania mencoba bertanya pada Fabio.
Nadia agak terkejut dengan apa yang barusan dikatakan oleh Tania karena setahu Nadia hari ini bukan ulang tahun Fabio.Tanggal ulang tahun Fabio masih beberapa bulan lagi.
“Em! Sebenarnya sepatu itu sebagai ucapan terima kasih atas sikap baik kalian menerima saya sebagai direktur yang baru di sini. Anggap saja itu bonus untuk kalian semua.”
“Terima kasih banyak Pak Fabio. Kami sangat senang dengan hadiah pemberian Pak Fabio dan semoga ke depannya kita bisa menjadi satu kesatuan dalam membawa keberhasilan perusahaan ini,” ucap Tania yang diiringi oleh tepuk tangan para karyawan lainnya.
“Ya sudah, kalian lanjutkan saja bekerjanya. Nadia, kamu bisa tolong ke ruangan saya sekarang ada hal yang ingin saya bicarakan tentang laporan kemarin.”
“Iya, Pak.” Nadia melihat Fabio berjalan masuk ke dalam ruangannya. “Huft! Laporan apa? Bukannya sudah saya selesaikan semua dan sudah tidak ada masalah,” kali ini Nadia menggerutu pelan.
“Nad, ayo kembali bekerja.” Sarah membuat Nadia sadar.
Nadia berada di dalam ruangan Fabio, dia melihat Fabio sedang duduk pada kursi kebanggannya dan Selene duduk di sofa kecil pada ruang tamu sedang menulis sesuatu dengan fokus.
“Kamu bisa duduk dulu, Nadia. Aku akan membaca lagi laporan kamu.” ucapnya tanpa melihat pada Nadia yang dari tadi berdiri di depan mejanya.
“Iya, Pak.” Nadia duduk tepat di depan Fabio.
Tidak lama wanita cantik bernama Selena itu berdiri dari tempatnya dan sekarang berada tepat di samping Fabio. “Pak, sudah saya catat semua, sekarang saya akan pergi ke perusahaan Pak Wisnu menyelesaikan semuanya.”
“Selena, jangan lupa tentang makan malam yang tadi kita bicarakan.”
“Tentu saja saya tidak lupa, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.” Selena juga mengangguk samar pada Nadia, lalu dia pergi dari sana.
Sekarang ruangan itu hanya ada Fabio dan Nadia. Nadia masih duduk diam di tempatnya, Fabio menutup map yang tadi dia baca dan sekarang dia menatap wanita cantik yang ada di depannya.
“Apa ada yang perlu saya perbaiki dari laporannya, Pak?” tanya Nadia to the poin, dia tidak mau berada di sana lama-lama.
“Apa kamu menyukai sepatu yang aku berikan?”
“Sepatu? Pak, saya di sini ingin bertanya apa ada hal yang perlu saya perhatikan untuk laporannya?”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Nadia? Dan tolong jika kita hanya berdua kamu tidak perlu memanggilku dengan sebutan pak karena aku tidak suka mendengarnya.”
“Saya akan tetap memanggil Pak Fabio dengan sebutan Pak di manapun saya berada karena saya tidak mau dianggap lancang nantinya.”
Fabio beranjak dari tempatnya dan Nadia tampak mulai ketakutan. Dia takut jika pria ini akan berbuat hal yang di luar batas seperti kemarin.
“Tapi aku memerintahkan kamu untuk memanggilku dengan namaku, seperti saat kita berada di dalam kamar pengantin waktu itu,” bisik Fabio pada telinga Nadia.
“Pak!” Nadia sontak berdiri dari tempatnya dan melihat tajam pada Fabio. “Kalau tidak ada hal penting tentang pekerjaan yang mau Pak Fabio bicarakan, saya mau izin keluar karena pekerjaan saya masih banyak.
Tangan pria itu dengan cepat memegan lengan tangan Nadia dan membuat Nadia kembali menoleh ke arahnya. “Nadia, nanti malam aku ingin mengajak kamu makan malam berdua, ada banyak hal yang perlu kita bicarakan.”
“Apa? Makan malam? Maaf, saya tidak bisa.”
“Kenapa? Apa kamu ada janji dengan kekasih kamu?”
Nadia bingung mau mencari alasan apa? Dia malah tidak pernah keluar saat malam hari karena dia selalu menghabiskan waktunya dengan putri kecilnya di rumah, kalaupun dia keluar, pasti dia akan membawa Nafa.
“Iya, saya ada janji dengan kekasih saya nanti malam, lagipula Pak Fabio bisa makan malam dengan asisten Bapak, yaitu Mba Selena.”
“Selena? Dia hanya asistenku, Nadia. Kenapa? Apa kamu cemburu dengannya?” telisik Fabio.