Bab 14 ( Undangan Makan Malam )

1013 Kata
Nadia melepaskan tangan Fabio yang memegangnya. Dan tertarik senyum miring pada sudut bibir Nadia. “Maaf,Pak. Saya sama sekali tidak peduli dengan siapapun Bapak memiliki hubungan. Saya hanya berharap Pak Fabio jangan mengganggu hidup saya karena kita tidak pernah saling kenal sebelumnya. Itu saja.” “Nanti malam aku akan menjemput kamu ke rumahmu dan aku harap kekasih kamu itu tidak berada di rumah kamu, atau akan terjadi hal yang tidak akan kamu bayangkan,” ucap Fabio tegas dan berhasil membuat tangan Nadia yang akan membuka knop pintu berhenti seketika. Nadia memejamkan kedua matanya serta terlihat dia menarik napasnya dengan susah. Nadia menoleh pada Fabio yang malah berdiri santai bersandar pada meja kerjanya. Nadia berjalan perlahan mendekat pada Fabio. “Kenapa Pak Fabio selalu mengganggu kehidupan pribadi saya? Apa salah saya sama Anda, Pak?” Tatap Nadia nanar. Seketika pria dengan wajah tegasnya itu berubah menjadi aneh melihat tatapan Nadia. Dia sebenarnya tidak bermaksud untuk menyakiti atau membuat sedih wanita yang sangat dia cintai itu sampai saat ini “Nadia.” Tangan Fabio mencoba memegang lembut pipi Nadia, Nadia yang tidak suka akan hal itu agak menghindar dari sentuhan Fabio. “Nadia, bisakan kamu tidak menyangkal lagi siapa diri kamu? Aku masih sangat mencintai kamu, bahkan sampai sekarang aku tidak bisa melupakan kamu dan pernikahan kita,” sekarang nada bicara Fabio lembih lembut, dan tangannya pun masih berusahan menyentuh lembut pipi Nadia. “Maaf, saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Pak Fabio katakan, saya belum menikah sama sekali dan mungkin wanita yang Anda maksud itu mirip dengan saya, tapi dia bukan saya.” Nadia sekali lagi menepis tangan Fabio. “Oh my God! Sampai kapan kamu akan menyangkal hal ini, Nadia? Aku akan menjelaskan semuanya sama kamu kenapa waktu itu aku harus pergi meninggalkan kamu setelah malam pertama kita. Aku tau aku salah telah meninggalkan kamu dan mengingkari janjiku untuk tidak membuat kamu bersedih,” ucap Fabio Frustasi. Nadia yang bediri di sana berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak keluar di depan Fabio. “Saya benar-benar tidak mengerti maksud Pak Fabio.” “Terserah jika kamu masih mau menyangkalnya, tapi nanti malam aku akan tetap menjemput kamu dan kita akan makan malam berdua untuk menyelesaikan ini.” “Tidak ada yang perlu diselesaikan, Pak, dan nanti malam aku benar-benar tidak bisa keluar makan malam dengan Pak Fabio,” terdengar nada ketakutan dari ucapan Nadia. Fabio melihat curiga pada Nadia. “Kenapa kamu sangat terlihat ketakutan saat aku ingin menjemput kamu ke rumah? Apa kamu tinggal satu atap dengan kekasih kamu? Kamu tidak mau kalau dia sampai mengetahui masa lalu kamu sebenarnya?” Fabio tampak emosi sekarang, bahkan dia sampai mencengkeram lengan tangan Nadia. “Pak Fabio, saya minta tolong kepada Anda, tolong jangan mengganggu kehidupan pribadi saya, biarkan saya bahagia dengan kehidupan yang selama ini sudah saya jalani dengan tentram,” mohon Nadia. “Aku tidak mau membuat kamu bersedih, Nadia, tapi aku ingin memperbaiki semua kesalahanku sama kamu di masa lalu. Aku ingin kita bisa kembali bersama seperti dulu. “Tidak ada yang perlu Pak Fabio lakukan pada saya, Pak Fabio tidak memilki salah kepada saya.” “Kalau memang kamu bukan Nadia Maharani istriku dulu, kenapa kamu seolah bersikap menghindariku bahkan terkesan dingin denganku?” “Saya tidak bersikap seolah menghindari Pak Fabio, hanya saja sikap Pak Fabio duluan terhadap saya, jadi saya merasa harus mengambil sikap agar tidak terjadi pembicaraan di kantor in nantinya.” Nadia benar-benar tidak tau harus memberi alasan apa lagi. “Baiklah kalau begitu. Anggap saja kalau kita memang tidak saling mengenal sejak dulu, mungkin aku yang salah, tapi kalau sekarang aku ingin dekat bahkan mengenal kamu apa itu salah?” Fabio melepaskan tangannya dan melihat pada Nadia dengan serius. “A-apa? Tapi saya sudah mempunyai kekasih, Pak, dan Pak Fabio sendiri juga bilang jika Pak Fabio sudah menikah, bahkan sampai sekarang kalian belum berpisah?” “Memang hal itu benar, tapi sepertinya aku tidak akan menemukan keberadaan istriku karena dia seolah memang menghindar dariku atau bahkan dia sudah tidak mencintaiku lagi, jadi lebih baik aku mulai melupakan dia walapun sangat sulit. Dan mungkin jika aku memilki hubungan dengan seseorang bisa untuk melupakannya.” Nadia seolah semakin terpojok dengan pria di depannya itu. “Tapi saya sudah memilki kekasih yang sangat saya cintai, Pak.” “Putuskan saja, kalian hanya berpacaran belum menikah.” “Tapi--?” Nadia benaran tampak bingung. “Saya tidak mungkin memutuskan dia walaupun Pak Fabio memilki segalanya dibandigkan kekasih saya karena saya mencintainya dengan hati bukan dengan harta yang dia miliki.” “Aku tidak peduli, Nadia. Nanti malam aku akan menjemput kamu ke rumah kamu, sekarang kamu bisa keluar dari ruanganku.” Fabio tidak mau berdebat lebih lama dengan Nadia. Nadia benaran bingung sekarang, bagaimana jika sampai Fabio ke rumahnya dan bertemu dengan Nafa, dia pasti akan langsung tau jika Nafa adalah darah dagingnya yang Nadia sembunyikan selama ini. Apalagi mereka berdua memiliki paras dan manik mata yang sama birunya. “Pak, saya akan menerima makan malam dengan Pak Fabio, tapi saya akan ke tempat di mana Pak Fabio memesan restorannya, jadi Pak Fabio tidak perlu menjemput saya di rumah.” Nadia mengatakannya dengan terpaksa. Terlukis senyum bahagia dari bibir pria tampan itu. “Setuju. Aku akan menunggu kamu jam delapan malam di restoran Dream Food, kamu harus datang, kalau kamu tidak datang aku dengan senang hati akan menjemput kamu.” Nadia berjalan dengan gontai keluar dari dalam ruangan Pak Fabio dan dia sampai terduduk lemas pada kursinya. “Kamu kenapa, Nad?” Tania yang juga penasaran berlari kecil menuju meja kerja Nadia. “Iya, kamu kenapa lama sekali di dalam ruangan itu?” “Tidak apa-apa, hanya membahas pekerjaan saja,” jawab Nadia malas. “Apa pekerjaan kamu salah semua? Tumben? Biasanya kamu kan karyawan yang teliti dan sempurna,” Tania menunjukkan muka sebalnya setelah mengatakan hal itu. “Bagaimanapun juga Nadia itu manusia, Tania, pasti ada salahnya. Kamu sabar saja jangan diambil hati. Nanti lama-lama kalian juga akan bisa bekerja sama dengan baik.” Tangan Sarah mengusap perlahan punggung Nadia untuk menenangkan sahabatnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN