“Huft! Aku malah ingin bisa sering ke ruangan Pak Fabio untuk dapat melihat wajah tampannya itu? Aku ingin sekali bisa dekat sama dia, tapi juga agak takut sebenarnya melihat dia yang dingin seperti itu. Aku akan mencari cara supaya bisa dekat dengan Pak Fabio.” Tania melihat dengan wajah liciknya pada Nadia dan Sarah.
Pekerjaan kembali berjalan seperti semula. Semua karyawan sibuk di meja kerjanya masing-masing, sedangkan Fabio di ruangannya malah sibuk melihati foto-foto Nadia yang masih dia simpan sejak lama pada ponselnya. “Kamu adalah istirku, Nadia, walaupun kamu begitu keras menyangkal hal itu.” Tangannya mengusap foto Nadia yang sedang tersenyum dengan gaun pengantin yang di kenakannya.
Bayangan malam pertama dengan Nadia saat itu terlintas pada ingatan Fabio, di mana dia begitu menikmati pergulatan mereka. Fabio seolah tidak mau melepaskan Nadia pada saat itu, entah kenapa sosok Nadia bisa membuatnya sangat menikmati malam pertama mereka.
“Aku capek, Fabio, bisa tidak kita lakukan lagi besok pagi. Kenapa kamu sangat bersemangat, besok pagi kita bisa melakukannya lagi.” Bibir wanita yang tubuhnya ada di atas tubuh Fabio itu mengerucut lucu.
“Aku masih belum capek, sayang? Apa tidak bisa kita lakukan satu kali lagi?” mohon Fabio dengan ekspresi baby facenya.
“Kita sudah beberapa kali melakukannya, apa kamu ingin membuatku segera hamil?”
“Memangnya kenapa kalau aku ingin membuat kamu segera hamil? Kamu tidak mau cepat-cepat memilki bayi denganku?” Fabio menarik tengkuk istrinya yang membuat wajah Nadia semakin dekat dengan wajah suaminya.
“Jujur saja kita baru menikah dan aku ingin bisa menikmati dulu pernikahan kita ini tanpa adanya bayi dulu. Baru nanti jika aku sudah berada di Italy dengan kamu, aku mau memiliki anak sama kamu, Sayang. Istri mana yang tidak ingin mengandung buah cintanya dengan orang yang dicintainya.” Nadia mengecup Fabio.
Fabio mengelap wajahnya kasar saat ingatan itu sudah memudar. “Nadia. Apa waktu aku tinggalkan saat itu dia tidak mengandung anakku? Tidak mungkin, dia tidak mungkin mengandung anakku secepat itu. Kalau dia mengandung anakku, dia pasti akan mengatakannya padaku saat ini, dia tidak mungkin tega membiarkan anaknya tidak mengenal ayahnya.” Fabio berdialog sendiri.
Jam makan siang tiba, dan Nadia menunggu teman-temannya turun ke lantai bawah karena dia ingin menghubungi Bi Ima yang sekarang pasti berada di rumah dengan putrinya Nafa.
“Halo, Nadia, ada apa?”
“Bi, apa aku nanti bisa minta tolong?”
“Minta tolong apa, Nadia?”
“Bi, nanti aku jam delapan ada undangan makan malam di luar dengan bos baruku di kantor, ada urusan pekerjaan sedikit, apa Bi Ima bisa nanti menjaga Nafa sampai malam?”
“Urusan pekerjaan? Bibi kira kamu kencan sama bos kamu, Nadia. Kalau kencan sebaiknya kamu ajak saja Nafa, siapa tau Nafa bisa mengenal calon ayah barunya,” celetuk Bi Ima.
“Bibi! Siapa yang kencan? Ini aku ada urusan kerja.”
“Iya-iya, Bibi hanya bercanda saja. Lagian kalau kencan juga tidak apa-apa, kamu kan selama ini memang tidak pernah dekat dengan seseorang. Hari-hari kamu selalu kamu lalui dengan pekerjaan dan fokus pada Nafa, sekali-kali kamu juga harus memikirkan masa depan kamu yang juga kelak untuk masa depan Nafa.”
“Huft! Aku masih belum kepikiran akan hal itu, Bi. Bibi nanti malam bisakan aku titip Nafa, aku janji tidak akan pulang malam.”
“Iya, Bibi bisa, nanti kamu juga jelaskan lagi sama Nafa.”
“Terima kasih ya, Bi, maaf aku merepotkan Bi Ima.”
“Tidak apa-apa, Nadia.”
Nadia menjadi agak lega sekarang dan dia nanti akan mencoba agar tidak lama-lama makan malam dengan Fabio. Jujur saja Nadia masih sangat takut jika dia nanti sampai keceplosan mengakui bahwa dia Nadia yang memang istri dari Fabio, apalagi menyebut tentang Nafa.
Mobil putih Nadia masuk ke dalam teras rumahnya dan dia melihat Nafa serta Bi Ima yang juga baru saja datang dari luar.
“Ibu.” Nafa berlari memeluk Ibunya yang baru saja keluar dari dalam mobil.
“Kalian dari mana?”
“Bi Ima tadi mengajakku ke taman dekat rumah untuk membeli ice cream. Lalu aku juga bermain sebentar di sana.
“Oh ya sudah, sekarang kita masuk saja ke rumah, ada hal yang ingin ibu katakan sama kamu, Sayang.” Nadia menggandeng putrinya.
“Ibu, tunggu!” Nafa menahan tangan ibunya dengan cepat,dan dia melihat ke arah sepatu milik ibunya. “Sepatu Ibu baru, Ya? Siapa yang membelikannya, Bu?” Nadia melihat ke arah Bi Ima yang berdiri di samping Nafa.
“Ini Ibu tadi mendapat hadiah dari bos baru ibu di kantor, Sayang. Em! Sebenarnya bukan hanya ibu yang dapat, tapi juga seluruh karyawan di sana. Ya sudah, ayo kita masuk dulu.” Nadia menggandeng tangan putrinya.
Mereka masuk dan Nadia izin untuk membersihkan diri dulu, setelah itu Nadia keluar dengan baju santainya. Dia melihat Nafa sedang duduk di meja makan menikmati kue yang tadi dia beli dengan Bi Ima. “Ibu, mau? Kue ini enak sekali.”
“Kamu makan saja, habiskan kalau kamu suka. Sayang, Ibu mau bicara sebentar sama kamu.”
“Mau bicara apa, Bu?” Gadis kecil itu melihat dengan menunjukkan gigi lucunya.
“Sayang, nanti jam delapan malam Ibu ada urusan pekerjaan di luar dengan atasan ibu, apa kamu bisa ibu tinggal dengan Bi Ima di rumah? Ibu berjanji, kalau nanti ibu tidak akan pulang malam.”
Gadia kecil itu lalu terdiam dan mendiamkan sendoknya masih menempel pada mulutnya. “Apa atasan Ibu yang memberikan Ibu sepatu itu yang akan pergi dengan Ibu?”
“Iya, tentu saja dia. Ini ibu ada urusan pekerjaan soalnya. Kamu tidak apa-apa, kan sayang?”
“Iya, aku tidak apa-apa. Ibu, nanti juga sampaikan salam terima kasihku karena sudah membelikan Ibu sepatu baru itu.”
Sekarang gantian Nadia yang terdiam mendengar permintaan putrinya. “Iya, nanti ibu sampaikan.” Nadia mengangguk perlahan.
Nadia berada di kamarnya, dia sedang bingung memilih baju yang akan dia gunakan untuk datang ke acara makan malam itu. Ada beberapa gaun yang dia bentangkan di atas kasurnya, dan sambil berdiri dia melihat gaun-gaun itu. Nadia tampak berpikir dia mau memakai gaun yang mana? Nadia sangat sebal dengan suasana seperti ini, Dia tidak berharap pergi makan malam dengan pria itu.