Bab 16 ( Makan Malam )

1023 Kata
Wanita itu masih tidak bergeming dari tempatnya dan sekarang dia ol sampai berkacak pinggang melihati gaun-gaun yang ada di atas kasurnya.“Aku pakai yang mana, Ya? Aku tidak mau terlihat seolah-olah aku memang berpenampilan yang berlebih karena undangannya itu. Aku mau tampil biasa saja supaya dikira aku memang tidak terlalu tertarik dengan undangannya itu.” Pilihan Nadia akhirnya jatuh pada gaun berwarna hitam selutut dengan lengan panjang dan terdapat belahan panjang seperti resleting di bagian punggungnya. Nadia terlihat sangat cantik apalagi terdapat banyak gliter bertaburan pada seluruh permukaan gaunnya. Nadia sudah siapa dengan penampilannya yang hanya menguncir rambutnya ke atas dan menggunakan make up minimalis serta sepatu berwarna merahnya yang memiliki hak agak tinggi. “Ibu cantik sekali?” “Masak, Sih?” Nadia berjalan ke arah putrinya yang sekarang berada di ruang tamu sedang menonton televisi. “Perasaan ibu biasa saja. Kamu itu yang sangat cantik sayang.” Nadia mengecup pipi putrinya, “Iya, kamu cantik sekali, Nadia. Lama tidak melihat kamu berpenampilan seperti itu.” “Ini gaun lamaku, Bi, aku kira sudah tidak muat, tapi ternyata masih muat.” “Nadia, sudah jam setengah delapan, lebih baik kamu berangkat sekarang supaya tidak terlambat sampai ke sana.” Nadia mengangguk dan dia pergi dengan menggunakan mobilnya. Nadia mencari retoran di mana dia harus datang ke sana karena ancaman Fabio. Tidak lama Nadia sampai di sana dan pelayan yang berada di depan pintu itu mengatakan jika kehadiran Nadia dari tadi memang sudah di tunggu oleh Pak Fabio. Nadia berjalan dengan gelisah menuju meja di mana dia melihat dari kejauhan punggu pria yang sebenarnya sangat tidak ingin dia lihat. Kedua jari jemarinya dia tautkan untuk menghilangkan rasa cemasnya. “Pak Fabio,” panggil pelayan itu. Fabio menoleh dan melihat wanita cantik yang dari tadi di tunggunya berdiri di depannya. Fabio beranjak dari kursinya dan melihat ke arah Nadia dengan tatapan seolah dia tersihir oleh kecantikan Nadia. “Kamu cantik sekali malam ini.” “Apa kita bisa langsung saja bicara? Apa yang ingin Pak Fabio bicarakan dengan saya?” Fabio menyuruh pelayan itu pergi dan menyiapkan makanan yang sudah dia pesan. “Silakan duduk, Nadia.” Fabio menarik kursi dan mempersilakan Nadia duduk di depannya. Nadia mengedarkan pandangannya pada sekitar restoran itu. Dia agak bingung kenapa restoran ini sepi? Apa karena memang tidak ada yang berkunjung di sini? Tapi hal itu tidak mungkin. “Pak, kenapa restoran ini sepi sekali?” tanya Nadia, tapi dia tidak mendapat jawaban dari pria di depannya, dan saat Nadia melihat pria itu ternyata pria itu sedang fokus menatapnya. “Pak, saya bertanya kepada Anda?” tanya sekali lagi Nadia. “Aku tidak akan menjawab pertanyaan kamu jika kamu terus memanggilku dengan sebutan Pak. Kita di sini hanya berdua Nadia, jadi jangan memanggilku pak.” “Tapi, Pak--.” Fabio malah menatapnya lebih dalam. Nadia yang memang seolah dari awal tidak bisa melawan pria berkuasa di depannya ini akhirnya menurut. “Fabio, kenapa restoran ini sangat sepi?” “Karena aku memang sudah memesannya hanya untuk kita berdua. Aku tidak mau makan malam pertama kita ini diganggu oleh orang lain.” “Apa?” Nadia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Kenapa kamu harus berbuat seperti itu? Kita hanya akan makan malam biasa tidak ada hal yang spesial.” “Bagiku makan malam ini sangat spesial karena dulu aku belum sempat mengajak kamu makan malam romantis seperti ini.” Nadia menghela napasnya pelan. “Bisa tidak kita tidak perlu membahas masa lalu kamu dengan istrimu. Aku bukan Nadia yang kamu maksud.” “Baiklah, kita tidak akan membahas hal itu.” Tidak lama makan malam mereka datang dan Fabio mengajak Nadia untuk menikmati makan malam dulu. “Fabio, aku tidak bisa pulang malam, jadi setelah ini kita langsung bicara saja apa yang kamu inginkan.” “Nadia, aku sudah katakan sama kamu waktu di ruanganku. Aku ingin mengenal lebih dekat dengan kamu, aku juga tidak peduli jika kamu sudah memiliki kekasih. Bagaimana tanggapan kamu?” “Sekali lagi saya katakan jika saya sudah memiliki kekasih. Kamu pria tampan dan kaya, kamu bisa mencari wanita yang sepadan dengan kamu, dan yang mencintai kamu.” “Apa kamu sudah tidak mencintaiku?” Seketika kedua mata Nadia membulat lebar dengan pertanyaan Fabio. “Ten-tentu saja, aku tidak mencintai kamu karena cintaku sudah dimiliki orang lain.” “Bagaimana jika aku memaksanya, dan aku meminta kamu untuk melupakan cinta kamu kepada pria itu?” “Apa maksud kamu? Apa kamu akan membuatku harus menuruti semua permintaan kamu dengan kekuasaan yang kamu miliki?” “Bila perlu, Nadia. Aku sangat menginginkan kamu dan apa yang aku inginkan harus aku dapatkan. Bagaimanapun caranya,” ucap tegas Fabio. Apa yang harus Nadia lakukan? Apa dia lebih baik mengundurkan diri saja dari perusahaan itu karena Fabio lama-kelamaan seolah menjerat dirinya, Nadia takut Fabio mengetahui segalanya. Namun, dia tidak bisa melakukan itu, dia harus memikirkan tentang ekonomi kehidupannya. Mencari pekerjaan tidak akan mudah pada saat sekarang, apalagi posisi Nadia di sana sudah cukup baik. “Fabio, cinta tidak dapat di paksakan, apa kamu tidak mengerti akan hal itu? Lagipula aku tidak mau menjadi buah bibir di kantor nantinya.” “Cinta memang tidak dapat di paksakan, tapi aku tau kamu masih sangat mencintaiku walaupun kamu tidak mau mengakui siapa diri kamu. Dan kamu jangan takut menjadi buah bibir di kantor karena aku sendiri nanti yang akan mengatakan pada semua karyawan di kantor jika aku dan kamu memiliki hubungan.” “Jangan! Oh Tuhan! Aku benar-benar tidak percaya kamu bisa berbuat semua ini?” “Putuskan kekasih kamu dan aku ingin menjalin hubungan dengan kamu, Nadia.” Nadia tidak menjawab dia langsung berdiri dari tempatnya dan karena terburu-buru Nadia sampai tidak melihat ada pelayan yang saat itu akan menghampiri mejanya. Nadia sontak kaget dan memundurkan langkahnya ke belakang sehingga dia hampir terjatuh. Namun, Fabio dengan cepat memegang punggung Nadia. Tangan Fabio yang saat itu reflek malah masuk ke dalam belahan Nadia dan telapak tangannya bisa merasakan punggung Nadia. “Ah!” Nadia yang kaget merasakan sentuhan Fabio seketika menarik tubuhnya. “Maaf, saya tidak sengaja, Nyonya,” ucap pelayan yang tadi hampir menabrak Nadia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN