“Tidak apa-apa, kamu pergi saja.” Pelayan itu segera pergi dari sana.
“Aku mau pulang Fabio, Ini sudah semakin malam.”
“Apa bekas luka di punggung kamu itu akibat perlakuan paman kamu dulu, Nadia Maharani?”
Nadia berhenti melangkahkan kakinya. “Bekas luka? Aku memang memiliki bekas luka, tapi karena aku saat itu tidak berhati-hati saat bermain dengan temanku dan akhirnya punggungku terkena batu karena jatuh.”
“Apa kamu yakin? Itu terkena batu bukan karena paman kamu?”
“Saya tidak punya paman atau siapapun di dunia ini. Orang tuaku juga sudah lama meninggal saat aku masih kecil, dan aku hidup bersama dengan nenekku waktu itu.”
Fabio tau jika wanita di depannya ini sangat keras kepala dan selalu memiliki alasan untuk menyangkal siapa dirinya. “Bekas luka yang kamu miliki sama dengan bekas luka yang di miliki istriku, aku dapat merasakannya walaupun aku tidak melihat bentuknya. Bahkan aku masih ingat semua apa saja yang ada pada tubuh istriku.” Fabio mendekatkan wajahnya dan napasnya terasa pada ceruk leher Nadia.
“Mungkin kita memang memiliki bekas luka yang sama, tapi belum tentu aku istri kamu. Selamat malam, aku mau pulang.” Nadia berbicara tanpa menoleh dan berjalan dengan langkah tegasnya.
Fabio tidak melepaskan pandangannya pada punggung Nadia. “Aku ingin melihat dia tinggal di mana?” Fabio akhirnya mengikuti Nadia menuju tempat parkirnya. “Nadia tunggu!”
“Ada apa lagi, Fabio?” tatap wanita itu tajam saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh Fabio.
“Aku ingin mengantarkan kamu pulang, biar mobil kamu di sini saja dan nanti akan ada yang mengantarkan ke rumah kamu.”
“Tidak perlu! Aku bisa menyetir mobil sendiri.”
“Tapi ini sudah malam Nadia dan biar aku yang mengantar kamu pulang?”
Mengantar pulang? Hal ini tidak boleh terjadi, kalau Fabio sampai mengantarkan dirinya pulang dan melihat ada Nafa di rumah, pasti dia akan tau semuanya.
“Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bukan wanita lemah, Fabio.” Nadia masuk ke dalam mobil.
“Sebenarnya apa yang dia sembunyikan dariku? Kenapa aku merasa menyembunyikan sesuatu dariku?” Fabio ini sebenarnya sudah mencari tadi tentang Nadia dari biodata yang ada di kantor.Di sana hanya menjelaskan jika Nadia hanya seorang wanita single yang tinggal sendirian di alamat yang tertera.
Nadia memang menyembunyikan siapa dirinya dan Nafa. Dia berada di tempat baru di mana dia tidak mengenal semua orang di tempat itu. Pun sebaliknya orang-orang di kota itu juga tidak ada yang mengenal Nadia. Nadia memang sengaja melakukan hal itu karena masa lalu yang pahit yang ingin dia lupakan bahkan berhara tidak pernah terjadi.
Pak Danulah orang pertama yang mengetahui semua ceritanya dan akhirnya membantunya bekerja di perusahaan itu dengan identitas Nadia yang seorang wanita single, hanya teman dekat Nadia, yaitu Sarah dan Tania yang tau karena mereka pernah beberapa kali main ke rumah Nadia. Serta satu lagi, Bi Ima.
Nadia sampai di rumahnya dan memasukkan mobilnya pada garasi sederhana miliknya. Saat Nadia keluar dari mobilnya, dia melihat ada mobil Fabio di sana. “Fabio? Apa yang dia lakukan? Apa dia ingin mematai-mataiku? Benar-benar keterlaluan.” Nadia terlihat emosi.
Fabio juga turun dari mobilnya karena dia ketahuan oleh Nadia. Pria itu berjalan mendekat ke arah pintu pagar Nadia. “Ini rumah kamu, Nadia?”
“Maaf, ya, Fabio,” tekannya. “Apa yang kamu lakukan di rumahku ? Apa sekarang kamu ingin juga mematai-mataiku?” Sekali lagi Nadia memberikan tatapan tajamnya.
“Aku tidak mematai-matai kamu, aku hanya memastikan jika kamu sampai dengan selamat di rumah kamu, itu saja.”
“Sekarang kamu lihat aku sudah sampai selamat di rumahku, kamu bisa pulang sekarang.”
“Apa itu sikap bawahan kepada atasannya? Apa kamu tidak mau menyuruhku masuk ke dalam rumah kamu dan menawariku secangkir coklat hangat? Kamu pasti pandai membuatkan coklat hangat.”
“Saya tidak bisa membuat coklat hangat. Lagipula ini sudah malam dan sebaiknya kamu pulang saja. Aku tidak mau kalau sampai menjadi pembicaraan tetangga di sini nantinya.”
“Ck! Kenapa kamu selalu memperdulikan omongan orang? Kita tidak melakukan apa-apa, Nadia. Atau kamu takut jika kekasih kamu tau aku datang ke rumah kamu dan dia akan memutuskan kamu? Kalau itu yang terjadi, aku akan sangat senang sekali.” Fabio tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam teras rumah Nadia.
Nadia benar-benar di buat kelabakan oleh pria ini. “Fabio ... Fabio!” Nadia mencoba menahan tangan pria itu dan tidak lama dari arah pintu, keluar Bi Ima, melihat bingung pada Nadia yang memegang tangan pria blasteran yang baru pertama kali di lihatnya bersama dengan Nadia.
“Nadia, dia siapa?” tanya Bi Ima melihat Fabio dari atas sampai bawah.
“Bi, dia atasan aku di kantor. Fabio aku mohon kamu pulang saja karena ini sudah malam, dan aku juga mau beristirahat.”
Fabio yang melihat tatapan sayu Nadia tampak tidak tega dan akhirnya dia memilih untuk tidak memaksa lagi. “Baiklah, aku akan pergi dari sini, kamu beristirahatlah.” Fabio berjalan pergi dari sana dan Nadia langsung menghela napas panjang, masuk ke rumah. Nadia segera mengambil segelas air mineral dan menghabiskannya dengan cepat.
“Dia ayah Nafa, kan, Nadia?”
Nadia melihat ke arah Bi Ima yang berdiri di depannya menunggu jawaban dari seorang Nadia. Perempuan paruh baya yang sudah Nadia anggap seperti ibunya sendiri itu duduk di samping Nadia, tangannya pun memegang tangan Nadia yang terlihat saling ditautkan memegang gelas.
“Walaupun kamu tidak mengatakannya, Bibi tau jika itu pasti ayah Nafa. Wajah mereka sangat mirip, apalagi mereka berdua memiliki manik mata berwarna biru yang indah.
“Bi, aku benar-benar tidak menyangka akan bisa bertemu dengan pria yang sudah bertahun-tahun ingin aku lupakan, tapi ternyata takdir tidak mau berpihak denganku. Sekarang aku sangat takut jika Fabio mengetahui tentang Nafa, aku tidak mau dia akan mengambil Nafa dariku.” Nadia mengelap wajahnya kasar.
Bi Ima mengusap pundak Nadia lembut. “Kamu jangan berpikiran seperti itu dulu, Nadia. Siapa tau dia tidak akan mengambil Nafa dari kamu, malahan dia akan senang jika mengetahui bahwa dirinya memilki seorang putri yang cantik dan pandai seperti Nafa.”