Bab 18 ( Makan Dengan si Kecil )

1027 Kata
Nadia menatap sayu pada Bi Ima. “Aku tidak akan mau mempertemukan Nafa dengan Fabio, Bi.” “Kenapa? Dia ayahnya dan dia berhak tau jika dia memilki seorang putri dari hasil pernikahannya sama kamu?” “Dia tidak perlu tau, Bi. Sudah banyak rasa sakit yang teramat yang dia lakukan padaku waktu dulu dan aku tidak mau dia mengambil kebahagiaanku yang selama ini aku jauhkan dari orang-orang yang mengenalku. Bibi tau kan kenapa aku pindah di kota ini? Aku hanya ingin hidup tenang, seolah aku tidak punya masa lalu yang menyakitkan.” “Bibi tau, Nadia, tapi apa kamu tidak mau memberikan kebahagiaan yang selama ini Nafa inginkan? Kamu tau, kan, jika Nafa ingin sekali bisa memiliki sosok seorang ayah?” Nadia terdiam sejenak, dan kembali dia melihat sayu pada Bi Ima. “ Nafa sudah menganggap jika ayahnya sudah tiada, Bi, dan aku yang akan memberikan kebahagiaan untuk Nafa. Nafa tidak membutuhkan orang lain apalagi sosok ayah,” ucap Nadia tegas. “Sakit hati kamu masih sangat besar pada ayah Nafa, tapi jangan membuat kamu menutup hati kamu dengan menjauhkan seorang anak dari ayahnya, Nadia. Setidaknya mereka harus jika mereka memiliki ikatan darah.” “Mereka tidak perlu tau, Bi.” Nadia seolah kekeh dengan apa yang dia lakukan. “Kamu sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghindari orang-orang yang sudah menyakiti kamu dengan pindah ke kota ini, tapi takdir kamu malah mempertemukan dengan pria dari masa lalu kamu lagi, itu berarti takdir ingin kamu dan pria itu menyelesaikan dengan baik masalah kalian yang belum selesai, atau mungkin takdir ingin kamu mendapatkan kebahagiaan kamu lagi.” Nadia hanya terdiam. “Apa kamu sudah tidak memiliki cintai untuk ayah Nafa lagi, Nadia?” Seketika detak jantung Nadia berdetak dengan keras mendengar pertanyaan Bi Ima. “Cinta untuk Fabio sudah hilang sejak dia pergi meninggalkan aku di malam pertama itu, Bi. Aku bahkan tidak mau dia mengetahui bahwa aku Nadia wanita yang dinikahinya dulu. Sekuat tenaga aku akan menyangkal siapa diriku di hadapannya.” Bi Ima tidak mau mengajak Nadia berdebat lagi karena hari sudah malam. Bi Ima izin pulang agar Nadia bisa beristirahat.  Nadia masuk ke dalam kamar putrinya setelah membersihkan diri dan berganti baju. Wanita cantik itu naik ke atas tempat tidur putri kecilnya, dia memandangi wajah polos dan manis malaikat kecilnya itu. “Sayang, Maafkan Ibu sekali lagi karena Ibu tidak bisa membuat kamu memiliki keluarga yang sempurna, tapi Ibu yakin kalau kamu tidak akan merasa sedih atau tidak bahagia.” Nadia mendaratkan kecupannya pada kening Nafa. Wanita cantik dengan hanya berselimut putih yang menutupi tubuh polosnya itu bangun dan mencari keberadaan pria yang semalaman bergelut dengannya di dalam kamar pengantin mereka yang dihias sebegitu indahnya. Dia berjalan dengan memegang selimut putihnya mencari pria yang barusan menikah dengannya, membuka setiap pintu ruangan di sana dan menelusuri setiap ruangan yang ada, tapi sosok pria itu tidak dia temukan. Wanita itu terduduk lemas di bawah kamar tidurnya dengan air mata yang perlahan menetes pada pipinya. “Ke mana Fabio? Dan kenapa salah satu koper miliknya tidak ada? Apa dia pergi meninggalkan aku? Tapi kenapa?” Banyak pertanyaan yang berputar-putar di atas kepala gadis cantik itu. Dia  bangkit dan mencoba mencari tau kembali pria yang sudah membuatnya melupakan masa lalunya yang sangat pahit, bahkan pria yang sudah kembali memnbuatnya merasakan cinta yang sebenarnya. Barang-barang milik pria itu yang masih tertinggal di sana dia bongkar dan bahkan dia mencoba menghubungi ponsel milik pria itu, tapi yang ada ponsel itu sudah tidak aktif. Wanita itu memakai bajunya dan keluar menuju ruang resepsionis di mana dia mungkin mendapat informasi dari sana tentang suaminya. Namun, semua itu nihil, yang dia tau jika pria itu sudah kembali ke Italy negara asalnya. Nadia hanya dapat menangis mengingat semua itu dan sejak saat itu hatinya benar-benar membeku, sedingin es di kutub utara yang tidak akan pernah mencair lagi.  Nadia menyeka air matanya dan dia berbaring di sebelah putri kecilnya dengan tangan memeluk tubuh kecil malaikat kecilnya itu. Keeseokan harinya, Nafa yang sudah terbangun agak keget melihat ibunya yang ternyata ada di sebelahnya dengan tertidur memeluknya. “Ibu, kenapa tidur di sini?” ucapnya lirih. Gadis kecil itu mengecup pipi ibunya sehingga membuat ibunya terbangun. “Selamat pagi, Ibu. Ibu kenapa tidur di kamarku?” “Sudah pagi ya, Sayang? Maaf ya ibu terlambat bangun malah kamu dulu yang bangun.” “Tidak apa-apa, memangnya ibu semalam pulangnya sangat malam, Ya?” “Iya, pekerjaan ibu juga banyak.” Nadia bangkit dan memegang tangan putrinya agar bangun juga. “Sekarang kamu bersiap-siap dulu, mandi, lalu pakai seragam kamu. Ibu akan mengajak kamu makan di luar saja dan kemudian mengantar kamu ke sekolah.” “Kita makan di luar?” “Iya, ibu juga tidak akan sempat untuk memasak. Ayo mandi dulu.” “Apa Ibu memiliki uang?” “Ada, Sayang, kalau buat kita makan di depot dekat sini. Lagian besok ibu gajian dan besok kita akan jalan-jalan berdua seharian, kamu mau, kan?” Nafa seketika meloncat kegirangan dari atas kasurnya memeluk ibunya. “Mau dong! Aku ingin nonton bioskop sama Ibu, ada film disney yang ingin aku lihat, Ibu, dan juga beli tas baru untuk aku gunakan sekolah.” “Tentu saja, apapun yang kamu inginkan. Ya sudah! Sekarang kamu mandi dan ibu juga mau mandi lalu bersiap-siap.” “Siap, Bos.” Tangan Nafa diangkat dan seolah-olah sedang memberi hormat pada tiang bendera. Nadia terkekeh melihat tingkah putri kecilnya. Kedua wanita cantik yang berbeda generasi itu berjalan saling bergandengan tangan  dengan riang menuju mobil putih yang terparkir di samping rumah. “Ibu akan membawa kamu makan masakan padang, apa kamu mau?” “Tentu saja aku mau. Ibu kenapa tau sekali apa yang ada di dalam hatiku?” “Tentu saja Ibu tau, kamu kan putri kesayangan Ibu, jadi ibu sangat tau apa yang diinginkan putrinya.” Nadia mengeluarkan mobilnya dan mereka menuju ke rumah makan masakan padang yang sangat diinginkan oleh Nafa. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah Nafa, dan tidak lama mereka sampai di sana. Tempat makan itu lumayan besar dengan kaca besar di bagian depannya. Nadia memilih duduk di dekat kaca besar sehingga mereka bisa melihat ke arah luar tempat makan itu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN