“Kamu mau apa, Sayang?” Nadia bertanya dengan lembut pada gadis kecilnya.
“Rendang saja, Bu, jangan lupa sama sayurnya.”
“Kamu selalu tidak lupa makan sayuran. Ibu senang anak ibu ini menyukai semua sayuran.”
“Aku kan mirip sama Ibu.”
Nadia tersenyum. Sebenarnya Nafa mirip sekali dengan ayahnya yang tak lain adalah Fabio. Dulu, Fabio sangat suka memesan salad sayur dan setiap dia makan dia selalu harus ada sayuran pada menunya.
“Ibu akan memesankan dulu makanan untuk kamu, kamu duduk dulu di sini.” Wanita cantik itu berjalan menuju si penjual yang sedang melayani pembeli lainnya. Nadia memesan dua piring nasi dengan ikan rendang dan sayuran. Nadia menambahkan sambal hijau pada menunya.
“Wah! Sudah datang, baunya enak sekali, Bu.”
“Ayo kita makan.” Nadia dan putrinya menikmati sarapan paginya. “Kapan-kapan ibu akan membuatkan kamu masakan seperti ini, nanti ibu akan meminta Bi Ima untuk mengajari ibu membuat rendang seenak ini.”
“Ibu pasti bisa.” Nafa terlihat sangat menyukai dan dia makan dengan lahap.
Di dalam mobil mewah Fabio sedang fokus melihat pada notebook yang dibawanya. Dia terlihat serius membaca sesuatu di sana. “Pak, apa Anda sudah sarapan? Kalau belum apa mau saya pesankan sesuatu untuk sarapan Pak Fabio di kantor?”
“Aku memang tadi tidak sempat makan pagi di rumah karena aku memang semalam pulang agak larut,” ucapnya tanpa melihat ke arah Selena yang duduk di depannya.
“Memangnya Anda semalam makan malam dengan siapa sampai pulang sangat larut malam?”
Seketika pria tampan itu meletakkan notebooknya dan melihat ke arah Selena yang juga sedang menoleh melihatnya. “Dengan seseorang yang sangat spesial untukku, Selena.”
“Spesial untuk Pak Fabio? Maaf, saya tidak pernah melihat Pak Fabio selama kembali ke Indonesia dekat dengan seseorang. Apa saya mengenalnya?”
“Kamu mengenalnya, tapi kamu belum saatnya tau siapa, dia. Dia orang yang sangat berharga bagiku, tapi aku harus berusaha mendapatkannya lagi,” ucapnya lirih dengan sorot mata datar.
“Apa Pak Fabio sudah melakukan sesuatu yang buruk kepadanya dan sekarang Pak Fabio menyesal?”
Fabio tidak menjawab, hanya terlukis senyuman pada bibir pria itu. Tidak lama ponsel Fabio berdering dan dia melihat ada nama seseorang di sana. “Halo, Ken, ada apa?”
Selena yang mendengar nama Ken langsung memutar posisi tubuhnya, dia memperbaiki duduknya menghadap ke depan. Raut wajah wanita itu tampak dingin mendengar pembicaraan bosnya dengan pria bernama Ken.
“Aku akan usahakan untuk datang ke acara pesta ulang tahun calon istri kamu, Ken, tapi aku tidak janji karena hari ini pekerjaan aku juga sangat padat, kamu tau sendiri aku baru saja memegang perusahan milikku di sini dan aku masih harus menata semuanya dengan baik.”
“Dasar kamu dari dulu memang gila kerja. Ya sudah kalau begitu, aku tidak akan memaksa kamu, padahal aku ingin mengenalkan kamu pada saudara sepupu calon istriku yang pastinya kamu akan senang dengannya.”
“Lihat saja nanti, Ken.” Mereka berdua mengakhiri panggilan teleponnya. Fabio melihat ke arah Selena yang duduk fokus melihat pada notes yang dibawanya. “Selena, apa Ken tidak mengundang kamu ke acara pesta ulang tahun calon istrinya?”
“Tidak, Pak, lagipula saya juga tidak akan bisa datang karena nanti malam kedua orang tua saya akan datang ke apartemen saya.” Selena berbicara dengan tidak menoleh pada Fabio, tampak dia sedang mencoba menenangkan hatinya yang cemas entah kenapa?
“Selena, apa kamu bisa memesankan aku masakan padang? Entah kenapa aku ingin sekali makan masakan padang dengan banyak sayuran. Sudah lama aku tidak makan masakan padang di sini.”
“Baik, Pak. Di depan ada tempat makan nasi padang yang sudah buka dan saya akan membelikannya.”
Tidak lama mobil Fabio berhenti agak jauh dari mobil yang terparkir di depan tempat makan itu. Fabio tidak turun dan hanya Selena yang turun untuk membelikan apa yang dipesan oleh Fabio.
Selena masuk ke sana dan langsung memesan pesanannya, kebetulan si penjual sedang tidak melayani pembeli, jadi selena langsung di layani oleh penjualnya. Nadia yang barusan keluar dari dalam kamar mandi karena mengantar putrinya ke kamar mandi agak terkejut melihat ada Selena di sana. Namun, dia tidak melihat keberadaan Nadia yang agak jauh di belakangnya. Nadia mencoba mengalihan perhatian putrinya dengan kembali masuk ke toilet dengan mengatakan ada barangnya yang tertinggal.
Selena yang sudah menerima pesanannya segera pergi dari sana dan masuk ke dalam mobil Fabio. “Sudah selesai, Pak.”
“Ya sudah, sekarang kita langsung ke kantor saja.” Raut wajah Fabio agak terlihat aneh, dia sebenarnya melihat ada mobil berwarna putih di parkiran tempat makan itu yang mirip dengan mobil Nadia.
“Selena, apa kamu melihat ada Nadia di dalam tempat makan itu?”
“Nadia? Karyawan Anda di kantor maksud Pak Fabio?” Fabio mengangguk. “Tidak ada Nadia di sana waktu saya masuk dan menunggu pesanan Anda, memangnya ada apa, Pak?”
“Mungkin aku salah.”
Nadia yang kembali keluar, perlahan mengintip dari balik tembok pembatas di sana apa ada Selena atau tidak. “Syukurlah.” Dia mengehela napasnya pelan.
Nafa yang memperhatikan ibunya jadi bingung. “Ibu ini kenapa?”
“Oh ... Ibu tidak apa-apa. Ayo sekarang kita berangkat ke sekolah kamu karena ibu tidak mau kamu terlambat.”
Nadia dan Nafa menuju ke sekolah karena akan mengantarkan putri kecilnya itu bersekolah seperti biasanya. Setelah mengecup kening Nafa dan berpamitan, Nadia segera meluncur ke kantornya.
Nadia sudah sampai pada lantai ruangannya dan dia segera duduk di mejanya mulai mencari beberapa berkas pekerjaan yang belum dia kerjakan. Tidak lama Tani menghampiri meja Nadia dan Sarah yang memang berdekatan.
“Menurut kalian, kira-kira Pak Fabio apa akan menyukai pemberianku ini tidak?” Tania menunjukkan apa yang dia bawa.
“Memangnya itu apa, Tania?” Sarah melihat penasaran dengan apa yang di bawa oleh Tania.
“Ini cheese cake.” Tania mengeluarkan apa yang ada di dalam goodie bag berwarna coklatnya. Cheese cake yang di kemas dengan snagat cantik dan memang terlihat elegan “Aku membeli ini di toko kue yang terkenal di sini dan katanya rasanya sangat enak, apalagi ini harganya agak mahal.”
“Kamu mau memberi Pak Fabio itu? Dalam rangka apa?”