Tania tersenyum pada temannya yang bernama Sarah. “Ini sebagai balasan terima kasihku pada Pak Fabio yang kemarin memberiku sepatu yang sangat bagus dan mahal. Sebenarnya, aku juga ingin mulai bisa lebih dekat dengan Pak Fabio, aku sangat tertarik dan menyukai Pak Fabio dari awal dia datang ke kantor ini.” Tania memainkan matanya genit.
“Bukannya kamu sudah punya kekasih, Tania?” Lihat Sarah dengan sorot mata menelisik.
“Aku sudah putus dengan kekasihku. Habisnya dia tidak mau mengajakku liburan ke tempat yang aku inginkan nanti sore, dengan alasan dia banyak pekerjaan. Padahal aku ingin jalan-jalan ke Singapuran sekali lagi.”
“Hidup kamu itu cuma bersenang-senang, Ya? Hanya karena kekasih kamu tidak mau mengajak kamu jalan-jalan, kamu langsung memutuskan dia. Dia kan sedang sibuk, siapa tau dia ingin bekerja keras agar bisa menabung untuk melamar kamu.”
“Melamar? Haduh, Sarah! Aku masih belum mau memikirkan tentang hal pernikahan, tapi kalau Pak Fabio yang mengajakku aku mungkin akan memikirkannya.” Tania tersenyum dan berlalu pergi dari sana dan dia menuju pintu ruangan Pak Fabio.
“Pak Fabio tidak akan suka dengan cheese cake,” gerutu Nadia pelan, tapi teman disebelahnya masih bisa mendengar.
“Kok kamu tau kalau Pak Fabio tidak suka dengan Cheese cake?” Sekarang Sarah malah melihat bingun pada Nadia.
Nadia malah meringis, dia kenapa malah bicara keceplosan sok tau tentang Fabio, tapi sebenarnya dia memang tau semua tentang Fabio. “A-aku Cuma menebaknya saja. Orang seperti Pak Fabio yang terlihat sangar dan dingin begitu pasti lebih suka dengan kue atau minuman yang berbau caffein seperti rasa moccacinno begitu, tapi ya tidak tau lagi.” Nadia langsung mengambil bolpinnya dan pura-pura menulis “sesuatu agar tidak ditanyai lagi.
“Bisa juga sih! Dan sepertinya Tania terobsesi sekali dengan pak Fabio. Aku jadi kasihan jika dia di tolak mentah-mentah sama pak Fabio, secara pak Fabio itu orangnya terlihat dingin dan seolah tidak peduli dengan wanita. Dia normal, tapi kan ya Nadia?” bisik Sarah.
“Hah?” Nadia agak terkejut mendengar pertanyaan Sarah. Ini sahabatnya belum tau seberapa normalnya Fabio saat dengan seorang wanita,dan Nadia pernah merasakannya. “Dia terlihat normal, kok.” Wajah Nadia benar-benar aneh mendengar semua pertanyaan Sarah.
“Hihihi! Iya, aku yakin dia pasti normal. Sudahlah! Kenapa kita dari tadi malah membicarakan bos kita sendiri?”
“Lah! Kan, kamu yang memulainya, sudah kita kembali bekerja saja. Sambil menunggu Tania dari ruangan Pak Fabio. Aku penasaran mau melihat wajah Tania. Kira-kira mukanya bahagia atau malah kayak kain kusut.
Tidak lama Tania keluar dari ruangan Pak Fabio dengan wajah antara senang dan seperti memikirkan satu hal. Dia tidak menyapa kedua temannya dan malah melewati kedua temannya begitu saja.
“Dia kenapa? Apa cheese cake mahalnya di tolak sama pak Fabio?” bisik Sarah.
Nadia hanya menggedikkan bahunya pelan, dan dia tidak menjawab malah kembali melihat ke atas mejanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Tidak lama Nadia mendapat panggilan dari pria yang dari tadi dia bicarakan.
“Nadia, kamu ke ruangan saya sebentar.”
“Iya, Pak.” Nadia tersenyum. Sebenarnya Nafa mirip sekali dengan ayahnya, yaitu Fabio
Nadia dengan malas beranjak dari tempatnya dan dia berjalan menuju ruangan bosnya. Pintu di ketuk seperti biasa dan suara dari pria tampan itu menyuruh Nadia masuk.
"Selamat pagi, Pak. Ada apa Pak Fabio memanggil saya?" Nadia langsung to the poin.
"Nadia, nanti siang kamu ikut dengan meeting dengan klien di restoran yang sudah aku dan klienku pesan."
"Meeting? Kenapa tidak di sini saja, Pak? Biasanya Pak Danu meeting dengan klien manapun selalu di ruang rapat kantor ini."
"Aku ingin meeting kali ini di luar untuk mencari suasana baru. Jadi sekalian kamu bisa makan siang nantinya."
Nadia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya mengangguk perlahan sembari menatap box kue yang tadi di bawa oleh Tania ada tepat di meja kerja Fabio.
Nadia berpikir jika Fabio menerima kue pemberian Tania. Mungkin Fabio menyukai Tania. Bagus kalau begitu, jadi Fabio tidak akan mengejar-ngejarnya lagi.
"Kalau sudah tidak ada hal lainnya, saya permisi dulu."
"Masih ada lagi, Nadia."
"Ada lagi? Apa itu, Pak?"
Fabio beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekat pada Nadia. Detak jantung Nadia sudah mulai dag dig dug saja. "Tadi Tania memberiku cheese cake ini dan kamu pasti tau aku aku tidak menyukai cheese cake."
"Pak, saya--."
"Maaf, aku lupa jika kamu bukan Nadiaku dulu. Namun, aku rasa kamu pasti menyukai cheese cake ini. Aku mau memberikannya sama kamu."
Fabio masih ingat jika Nadia memang sangat menyukai cheese cake, dulu Fabio pernah memesankan sampai tiga buah cheese cake dan Nadia malah menghabiskannya sampai mulutnya belepotan, dan Fabio yang membersihkan mulut Nadia. Tentu saja dengan cara yang romantis, menggunakan bibirnya.
"Memberikan sama saya? Pak, apa Pak Fabio sadar dengan yang Pak Fabio katakan?"
Pria itu memberikan senyum tipisnya. "Tentu saja aku sadar."
"Tania memberikan kue itu untuk Anda, Pak, tapi kenapa malah Anda berikan sama orang lain? Hal itu tidak sopan! Maaf, saya tidak mau karena saya memang tidak menyukai cheese cake."
"Ya sudah kalau begitu aku buang saja." Fabioa mengambil kue itu dan akan membuangnya ke tempat sampah.
"Jangan dibuang, Pak!" seru Nadia cepat, dan Nadia menatap tidak percaya jika Fabio bisa berbuat tidak bisa menghargai seperti itu.
"Aku tadi sudah bilang pada Tania, jika aku sebenarnya tidak menyukai cheese cake dan aku menyuruhnya untuk memberikan kepada orang lain agar tidak sia-sia dia membelinya, tapi dia memaksa karena aku tidak mau dianggap tidak menghargai, aku terima saja."
"Pak Fabio jangan membuangnya ke sampah walaupun sudah tidak menyukainya. Bagaimanapun Pak Fabio harus menghargai sesuatu. Apalagi jika sesuatu itu diberikan dengan tulus," Nadia seolah menekankan sesuatu pada Fabio. Ada yang berdenyut sakit dalam hati Nadia.
Nadia merasa jika cheese cake itu seperti dirinya yang jika Fabio tidak suka, apalagi sudah mendapatkan apa yang dia inginkan dia akan membuangnya atau meninggalkannya begitu saja.
"Aku menghargainya, tapi memang aku tidak menyukainya. Aku memberikannya sama kamu karena aku menganggap kamu seperti Nadia istriku yang sangat menyukai kue ini, tapi maaf, aku salah."
"Pak Fabio bisa berikan kepada orang lain tanpa harus membuangnya."
"Baiklah, aku akan tanya Selena saja, apa dia mau atau tidak." Pria ini sebenarnya ingin mengetahui tentang apa reaksi yang akan dilakukan oleh Nadia.