Dia tau sangat jika Nadia sangat menghargai makanan dari dulu, apalagi kue ini. Namun, Nadia kekeh tidak mengakui jika dia tidak menyukai kue ini, padahal tadi dia terlihat agak kesal saat Fabio bilang akan membuang kue itu.
Sekali lagi, Nadia berjalan dengan muka kesalnya keluar dari ruangan Pak Fabio. Sarah yang melihatnya lagi-lagi mengerutkan dahinya.
Jam makan siang pun tiba, pria tampan pemilik perusahaan di mana Nadia bekerja berjalan menghampiri meja Nadia. Tania dan Sarah yang melihatnya tampak membulatkan kedua matanya.
"Nad, ada Pak Fabio," ucap Sarah pelan.
"Apa sih? Aku sedang sibuk," jawab Nadia tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.
Pria itu hanya berdiri terdiam di samping Nadia. Sarah memberikan senyum sungkannya. "Nad, ada Pak Fabio," sekali lagi Sarah mencoba memberitahu dan sekarang tangannya menyenggol lengan Nadia pelan.
"Sarah, pekerjaanku belum selesai, kalau kamu mau makan siang kamu pergi saja. Aku sedang menunggu si bos menyebalkan itu!" serunya kesal.
Seketika kedua mata Sarah mendelik mendengar ucapan Nadia barusan. Sarah sekali lagi memberikan senyuman canggungnya pada bosnya.
"Nanti saja lanjutkan pekerjaan kamu, Nadia. Sebaiknya kita pergi makan siang dan meeting sekarang," suara Fabio baru terdengar di sana.
Nadia tidak langsung menoleh, dia meletakkan bolpoinnya dan menutup dokumen yang di kerjakannya. "Pak Fabio," ucapnya datar.
"Kita makan siang sekarang saja dan sekalian kita langsung meeting."
"Iya, Pak." Nadia langsung beranjak dari tempatnya dan membawa beberapa dokumen serta buku agenda yang di butuhkan.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju lift khusus para atasan di sana. Tania yang melihatnya agak sebal.
"Enak sekali jadi Nadia, bisa berdampingan terus dengan Pak bos tampan itu. Sebenarnya aku juga bisa melakukan semua pekerjaan Nadia."
"Mereka cocok ya, Tania?"
Wanita cantik yang di panggil Tania itu memberikan lirikan kesal pada Sarah. "Cocok apanya? Mereka tidak pantas. Pak Fabio itu pantasnya dengan seorang wanita yang masih gadis belum pernah menikah dan memiliki anak seperti Nadia."
"Cocok lah, Tania. Nadia cantik, pintar, dan pak Fabio juga tampan serta seorang pebisnis yang hebat. Mereka bisa jadi partner yang hebat."
"Malas aku berbicara sama kamu, kenapa membela Nadia terus? Aku juga sahabat kamu? Lagian kalau Pak Fabio tau Nadia sudah punya anak pasti dia tidak akan mau sama Nadia."
"Tania!" bentak Sarah kesal. "Kalau soal itu kita tidak perlu ikut campur, lagian itu urusan Nadia nanti, dia mau menceritakan soal putrinya itu atau tidak." Tania terdiam dengan wajah kesalnya. "Sudahlah! Kalau memang mereka berjodoh pasti bisa bersatu, kalau tidak ya sudah. Kamu kenapa malah seolah-olah ingin menunjukkan rahasia Nadia pada pak Fabio agar pak Fabio tidak menyukai Nadia?"
"Maksudku bukan begitu."
"Lalu apa? Kamu tau kan Nadia di sini itu bekerja sungguh-sungguh karena ingin bisa menghidupi dirinya dan putrinya, kita sebagai teman cuma bisa mendukungnya dan jangan membuat dia mendapat masalah atau malah syirik. Lagian Nadia juga tidak pernah jahat sama kita."
"Iya, aku tau," jawabnya kesal.
"Ya sudah, sekarang kita makan di cafe dekat sini saja, aku yang traktir kamu. Gaji kita kan sudah masuk." Sarah memeluk Tania yang mukanya masih rada kesal.
Nadia dan Fabio duduk di sebuah restoran sedang menunggu rekan bisnis yang akan meeting dengan mereka. "Kamu mau makan apa, Nadia?"
"Terserah, Pak Fabio."
"Kalau begitu aku akan memesankan makanan kesukaan kamu. Sup jagung hangat dan nasi serta lemon tea dingin." Fabio tersenyum setelah menyebut menu yang memang di sukai oleh Nadia.
"Maaf, Pak Fabio salah, saya tidak suka makanan itu. Saya mau spagetti dan orange jus saja."
"Apa kamu yakin? Apa kamu kenyang hanya makan spagetti? Lihat saja tubuh kamu lebih kurus daripada yang dulu."
"Tubuh saya masih tetap dari dulu hingga sekarang. Pak, saya mohon jangan samakan saya seolah-olah saya ini istri Pak Fabio. Sekali lagi saya ingatkan--."
"Baiklah! Maafkan aku."
Fabio memanggil pelayan di sana dan memesan menu makanan untuk Nadia dan dirinya. Sambil menunggu Fabio membaca beberapa dokumen yang dibawa oleh Nadia.
Tidak lama ponsel Nadia berdering dan Nadia melihat ada panggilan dari nomor telepon rumahnya.
'Ini pasti Nafa yang menghubungiku, tapi ada apa? Bagaimana ini? Di sini ada Fabio?' Nadia berbicara dari dalam hatinya. Beberapa kali Nadia melirik pada Fabio.
"Pak, saya permisi ke belakang dulu."
"Kenapa? Memangnya siapa yang menghubungi kamu sehingga kamu harus menjauh dariku? Jika kekasih kamu, sebaiknya tidak perlu diangkat, atau mau aku yang bicara sama dia?" Sekarang tatapan pria itu menuju pada Nadia setelah tadi nyerocos tanpa melihat.
"Pak, saya bukan istri Pak Fabio. Jadi saya masih punya privasi yang harus Pak Fabio hormati. Permisi." Nadia beranjak dari tempatnya tanpa menunggu izin dari pria dingin itu.
Kedua rahang pria tampan itu tampak mengeras menahan emosi. "Aku akan mencari tau siapa pria yang menjadi kekasih Nadia. Pria itu tidak boleh mendekati Nadia karena Nadia masih istriku." Sekarang tangannya mengepal erat memegang gelas yang ada di depannya.
Di kamar mandi, Nadia berdiri di depan kaca besar dan ada wastafel berjejer sekitar tiga buah, dan kebetulan di sana sedang sepi.
"Halo," ucapnya lembut.
"Halo, Ibu. Ini Nafa, apa Ibu sedang istirahat makan siang?"
"Iya, Sayang, Ibu sedang istirahat makan siang, tapi ibu sedang ada meeting dengan bos ibu dan rekan kerjanya."
"Oh begitu! Apa aku menggangu Ibu?"
"Tidak, Nafa, memangnya ada apa? Tumben kamu menghubungi Ibu di kantor?"
"Bu, aku sedang ingin makan salad sayur, apa nanti Ibu bisa membelikan aku salad sayur? Eh, tapi kalau Ibu tidak memiliki uang tidak perlu di belikan."
"Nanti Ibu belikan untuk kamu. Ya sudah, kalau begitu ibu mau kembali ke tempat bos ibu, ya? Nanti kalau kelamaan takut bos ibu marah."
"Iya, Bu.Terima kasih ya, Bu. Nafa sayang banyak sekali sama Ibu."
"Ibu juga sayang banyak sekali sama Nafa." Nadia menambahkan memberi kecupan pada putri kecilnya melalui ponsel.
Setelah selesai Nadia segera merapikan dirinya kembali ke tempat di mana Fabio sedang duduk menunggunya.
Nadia melihat menu makanan sudah terhidang di atas meja, dan kedua mata Nadia terfokus pada makanan milik Fabio. Ternyata pria itu memesan salad sayur pada hidangan makan siangnya.
'Mereka berdua sangat mirip.' batin Nadia.
"Nadia, ayo makan." Nadia duduk dan mulai menikmati makanannya. Pun dengan Fabio.
Beberapa menit kemudian datang seorang pria dengan setelan kemeja berwarna hitamnya, perawakan hampir mirip dengan Fabio, tapi jika dilihat dari wajahnya, dia berusia sekitar kepala lima.