Pria itu mengulurkan tangannya mengajak Fabio berjabat tangan. "Selamat siang Fabio." Fabio berdiri dan menerima jabatan tangan pria itu. Pun dengan Nadia.
"Selamat siang Paman Albert. Silakan duduk."
"Apa ini sekretaris kamu?"
"Iya, namanya Nadia. Dia seorang sekretaris yang pintar dan bertanggung jawab."
"Hem ... sesuai dengan kriteria kamu." Pria paruh baya itu menyunggingkan senyum kecilnya.
"Dia memang sesuai dengan pilihanku dan aku senang Nadia menjadi sekretarisku." Gantian sekarang Fabio melihat dengan tatapan yang malah membuat Nadia tidak suka.
"Maaf, Fabio, apa kamu dari tadi di sini?" Pria itu melihat piring makanan yang sudah kosong. "Paman kira paman yang terlambat? Bukannya kita memang janjian pukul setengah dua dan ini masih pukul satu lebih lima belas menit." Pria itu menengok ke arah jam di tangannya.
"Paman tidak terlambat, aku memang sengaja datang lebih awal untuk makan siang juga. Bisa kita mulai saja pembicaraan bisnisnya?"
Fabio meminta pada Nadia dokumen yang di bawanya dan kemudian mereka memulai meetingnya.
Sebenarnya hati Nadia agak gondok karena merasa sudah dibohongi oleh pria dari masa lalunya ini. Nadia mengira dia diajak meeting dan makan siang bertiga dengan rekan bisnisnya, tapi ternyata ini hanya akal-akalan Fabio agar bisa makan siang berdua.
Meeting hari ini selesai dan berjalan dengan hasil kerja sama yang saling menguntungkan. Di dalam lift, Nadia hanya diam saja, bahkan tidak mau menoleh pada Fabio yang berdiri di sampingnya dengan beberapa kali lirikan ditujukan pada Nadia.
"Nadia, kenapa kamu tidak memakai sepatu pemberianku?" Fabio baru menyadari jika sepatu yang dikenakan oleh Nadia bukan sepatu yang diberikan oleh Fabio. Nadia tidak menyahut pertanyaan Fabio. Fabio yang agak kesal dengan cepat menarik tangan Nadia dan mendekatkan tubuh Nadia pada tubuhnya.
"Apa yang Anda lakukan, Pak? Ini kita di dalam lift, dan di sini ada kamera CCTV, aku tidak mau ada salah paham nantinya."
"Apa kamu lupa siapa aku di sini? Aku bisa menyuruh petugas menghapus CCTV di sini jika aku menyuruhnya. Katakan? Kenapa kamu tidak memakainya?" Tatap Fabio.
"Saya tidak nyaman memakai sepatu itu dan saya tidak menyukainya," jawab Nadia datar.
"Baiklah kalau begitu." Fabio seketika melepaskan pegangan tangannya pada Nadia, dan saat pintu lift terbuka Fabio dengan langkah lebarnya dan tegasnya berjalan keluar tanpa melihat ke arah Nadia.
"Apa dia marah?" Nadia berdialog sendiri. "Kenapa juga aku peduli, aku malah senang dia marah karena itu lebih baik." Nadia melangkah keluar dan menuju mejanya.
Tania yang melihat hal itu langsung dengan cepat menghampiri meja Nadia. "Nadia, kalian meeting di mana?"
"Di restoran pas tikungan kantor kita."
"Hah! Itukan salah satu restoran yang mahal, apalagi rasa makanannya sangat enak."
"Aku tidak tau malah," jawab Nadia santai.
"Lalu, bagaimana hasil meetingnya?" sekarang Sarah yang bertanya.
"Berjalan sukses dan kita bersiap-siap saja mengerjakan proyek besar dengan keuntungan yang juga tidak kalah besar karena Pak Albert itu memang pengusaha sukses di London dan sudah kenal lama dengan pak Fabio."
"Wah ...! Kita bisa-bisa bakal dapat hadiah kejutan lagi seperti sepatu waktu itu. Kali ini andai boleh meminta aku tidak mau diberi barang-barang, aku mau diajak kencan saja dengan Pak Fabio," celetuk Tania ngasal. Nadia dan Sarah langsung saling melihat.
Fabio di ruangannya duduk dengan raut wajah kesal karena Nadia tidak memakai sepatu pemberiannya. Selena yang barusan datang agak kaget melihat raut wajah Fabio dan dia tau kalau atasannya ini sepertinya sedang marah akan suatu hal.
“Pak Fabio,” panggilnya perlahan. Fabio sama sekali tidak sadar jika Selena memanggilnya, dia masih terdiam dengan kedua telunjuknya di satukan membentuk segitiga menempel pada dagunya. “Pak, apa ada yang sedang mengganggu perasaaan Anda?” sekali lagi Selena bertanya pada pria itu.
Fabio yang sepertinya sudah menemukan penyelesain dari hal yang di pikirkan melihat ke arah Selena dengan datar. “Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Apa sudah selesai?”
Selena berjalan mendekat pada meja bosnya dan duduk tepat di depan Fabio yang menunggu laporam dari pekerjaan Selena. “Semua sudah selesai, Pak. Kita mendapatkan tempat yang Pak Fabio inginkan itu.”
“Kamu memang bisa di andalkan dengan baik, Selena. Sebentar lagi aku akan memberi informasi untuk para karyawan di sini yang nantinya akan membuat mereka pasti akan sangat senang mendengarnya.”
“Kalau saya boleh tau apa itu, Pak?”
“Aku akan mengatur jadwal liburan untuk mereka, aku akan membawa mereka ke tempat yang baru saja aku beli. Tempat itu sangat indah dan juga ada sesuatu yang sangat berharga dalam hidupku pernah terjadi di sana.” Fabio sekilas teringat tentang pernikahannya.
“Apa karena Anda memiliki kenangan yang sangat spesial dia sana makanya Anda berusaha untuk dapat memiliki tempat itu?”
“Kamu benar. Ya sudah kalau begitu, nanti saja kita akan membuat jadwal tentang liburan itu, sekarang aku akan segera menyelesaikan proyek yang baru saja aku dan Paman Albert sepakati.”
“Baik, Pak.” Selena beranjak dari tempatnya dan izin pergi ke ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan Fabio.
Pria tampan itu berdiri dari tempatnya dan memandangan dengan tatapan tajam pada jendela kaca besar yang menunjukkan suasana di luar gedung besar miliknya. “Nadia, kamu pasti akan menyukai kejutan yang akan aku berikan untukmu, di tempat, di mana kita pernah saling membutuhkan satu sama lain, bahkan tempat itu yang membuat aku jatuh cinta sama kamu.” Dialognya sendiri.
Hari ini adalah hari Sabtu, jadi kantor di mana Nadia bekerja tidak pulang sampai malam. Tepat jam tiga sore mereka sudah bersiap-siap akan pulang ke rumah masing-masing, apalagi ini juga awal bulan, semua karyawan tampak sangat senang karena gaji mereka sudah masuk tepat waktu.
“Nanti malam aku mau makan malam dengan kenalan aku, dan kalian tau? Kenalan aku kali ini seorang pengusaha restoran yang terkenal di kota ini,” terang Tania.
“Kamu cepat sekali mendapat pengganti kekasih kamu?” Muka Sarah heran.
“Tentu saja, aku kan wanita penuh pesona dan menyenangkan, jadi mereka senang berkenalan denganku. Cuma pak Fabio saja belum bisa aku takhlukkan. Ya sudah! Aku mau pulang dulu dan bersiap-siap tampil yang cantik.” Tania berjalan dengan ala model di atas catwalk menuju liftnya.
“Dia terobsesi sekali dengan bos kita,” bisik Tania.
“Biarkan saja, kalau dia bisa menakhlukkan pak Fabio, hal itu malah lebih bagus.” Bagus buat Nadia maksudnya karena Nadia tidak perlu susah payah menghindari pria itu.