Bab 23 ( Tentang Sepatu Lagi )

1024 Kata
“ Tapi aku kenapa tidak yakin?” Sarah Berpikir. “Ayo, Nadia, kita pulang sekarang,” ajak Sarah. “Iya, aku akan mengambil tas milikku, hari ini aku mau mampir sebentar ke cafe yang menjual salad yang enak karena tadi Nafa meminta aku untuk membelikan dia salad sayur.” “Putri kamu itu memang sangat lucu dan pintar. Anak seusia dia juga suka sekali makan sayuran. Aku ingin sekali memiliki putri seperti Nafa, tapi Tuhan belum mempercayakan aku untuk memiiki anak,” ucap Sarah terdengar sedih. Nadia langsung memeluk sahabat baiknya itu. Nadia juga tau tentang kisah hidup Sarah yang sebenarnya tidak berjalan dengan mulus. Rumah tangganya juga menghadapi banyak ujian, tapi Sarah adalah wanita yang sangat kuat. “Kamu sabar saja, suatu saat kamu akan mendapatkan kebahagiaan itu, Sarah. Ya sudah kalau begitu kita pulang saja.” Saat mereka akan berjalan menuju lift, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari arah belakang mereka. Nadia dan Sarah menoleh dan di sana ternyata Fabio berdiri dengan wajah tegasnya. “Pak Fabio?” “Nadia, apa kamu bisa ke ruanganku sebentar?” Nadia melihat pada Sarah yang ada di sebelahnya. Sarah menyuruh Nadia menemui Pak Fabio dulu dan dia bisa turun sendirian. “Suamiku mungkin sudah menunggu, kamu ke ruangan Pak Fabio saja dulu, siapa tau ada hal yang ingin dibicarakan.” Nadia tanpa berkata berjalan menuju ke ruangan bosnya dan dia melihat Fabio berdiri di depan mejanya dengan bersedekap melihat wanita cantik yang berjalan menuju ke arahnya dengan langkah perlahan seolah takut untuk mendekat ke arahnya. “Ada apa, Pak? Saya mau pulang, ini, kan, sudah jam pulang?” Fabio tidak menjawab pertanyaan Nadia, malahan pria itu malah memindai Nadia dari atas sampai bawah, terutama pada bagian sepatu yang dikenakan oleh Nadia. “Lepaskan sepatu kamu!” “Apa? Melepaskan sepatuku? Untuk apa, Pak?” “Sepatu itu sudah rusak, Nadia, apa kamu mau terus memakainya? Aku sudah membelikan sepatu baru untuk kamu.” “Saya menyukai sepatu ini dariapada sepatu yang Pak Fabio berikan. Pak, kalau tidak ada hal penting lainnya selain kita membicarakan tentang sepatu, saya mau pergi dulu.” Nadia berjalan keluar dari dalam ruangan pria yang masih menatapnya dengan wajah datarnya. Nadia segera berjalan dengan langkah cepatnya menuju lift dan berharap agar lift ini cepat turun dan dia bisa segera pergi dari kantor ini. Sesampainya di lantai bawah, Nadia segera berjalan menuju ke area parkir dengan berlari kecil menuju ke mobil putihnya. Di area parkir juga sudah sepi, hanya tertinggal mobil Nadia, dan karena saking terburu-burunya, Nadia sampai menjatuhkan kunci mobil yang dia ambil dari dalam tas miliknya. "Aku ini kenapa, sih?" gerutu Nadia kesal. Nadia berjongkok untuk mengambilnya, tapi gerakannya kalah cepat dengan tangan seseorang yang lebih dulu mengambil. "Nadia, aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat." Fabio menekan tombol kunci dan mobil Nadia terbuka. Pria itu tanpa meminta izin masuk ke dalam mobil Nadia. "Fabio! Apa yang kamu lakukan? Aku mau pulang, dan kenapa kamu masuk ke dalam mobilku?" Nadia berdiri dengan wajah marahnya tepat di sebelah Fabio duduk. "Ikut denganku sebentar, setelah itu kamu bisa pulang." "Aku tidak mau! Aku mau pulang. Tolong Fabio, aku sudah sangat sabar menghadapi pria seperti kamu." Fabio tidak bergeming, di malah duduk dengan wajah tegasnya. "Kamu ikut denganku sebentar, atau lusa seluruh karyawan di kantor akan mendapat kabar yang sangat mengejutkan tentang aku yang akan menikah dengan kamu." "Apa?" Nadia benar-benar di buat tidak berdaya oleh pria ini, dan Nadia tau jika Fabio bisa berbuat apa saja dengan nekat. "Masuk, Nadia," sekali lagi ucapnya tegas. Nadia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Fabio yang mengemudikan mobil Nadia. Nadia baru sadar jika di dalam mobilnya ada foto dirinya dan sang anak. Nadia tampak melihat ke arah dashboard depan karena dia meletakkan foto itu di sana, tapi foto itu tidak ada di sana. Nadia mencoba mencari dengan perlahan tanpa di curigai oleh Fabio yang fokus mengemudikan mobilnya. 'Mana fotoku dengan Nafa?' batin Nadia sambil terus mencarinya. "Kamu sedang mencari apa?" Fabio tiba-tiba bertanya tanpa melihat ke arah Nadia. "Tidak apa-apa, aku hanya tidak nyaman saja di samping kamu begini," ucapan ketus sekali lagi keluar dari mulut Nadia. Tidak lama mobil yang dikemudikan Fabio berhenti di depan sebuah toko sepatu yang waktu itu Fabio kunjungi. "Kita turun, Nadia." Nadia tampak heran melihat mobilnya berhenti di depan toko sepatu yang besar dan mewah. "Untuk apa kita ke sini, Fabio?" "Aku ingin kamu memilih sendiri sepatu mana yang kamu inginkan." "Tapi--?" Belum selesai Nadia berkata Fabio sudah keluar dari mobilnya. Nadia yang kesal malah tidak sengaja kakinya mengenai sesuatu di bawahnya, dan saat dia menunduk, dia melihat frame foto dirinya dan Nafa. Nadia segera mengambil dan memasukkannya ke dalam tasnya tepat saat Fabio membukakan pintu untuk Nadia. Nadia segera keluar agar Fabio tidak curiga, lalu mereka masuk ke dalam toko sepatu itu. "Selamat sore. Apa Anda Pak Fabio yang waktu itu membeli banyak sepatu di sini?" sapa pegawai toko itu yang sudah tidak asing dengan wajah Fabio. "Iya, saya ingin membeli sepatu lagi untuk--." Fabio melihat pada Nadia. "Oh, untuk kekasih Anda ini? Kalau begitu mari saya antarkan ke dalam untuk memilihnya sendiri." "Fabio, aku ingin pulang saja, lagian aku besok bisa membelinya sendiri dengan uang gajianku, aku tidak meminta kamu," bisik Nadia. "Kamu ikut saja, uang gajian kamu bisa kamu simpan untuk hal lainnya." Fabio menatap dengan tatapan serius. Nadia yang tidak mau ribut di sana akhirnya menuruti apa yang di minta pria itu. Dia mengikuti pegawai toko sepatu dan di tunjukkan model sepatu di sana. "Maaf, Anda mau model sepatu untuk pesta, kerja, atau--." "Untuk bekerja." "Oh, kalau begitu silakan ikut dengan saya ke ruangan ini." Wanita paruh baya itu mengajak Nadia ke ruangan di mana berjejer sepatu yang di khususkan untuk wanita bekerja. "Wah! Bagus-bagus sekali sepatu ini." Nadia tampak takjub melihat banyak sepatu yang memang tampak sederhana, tapi elegan. "Apa mau saya bantu pilihkan sepatu yang Anda sukai?" "Tidak perlu, biar saya memilih sendiri." Saat Nadia berjalan-jalan menyusuri rak-rak sepatu itu, pria bernama Fabio itu juga ada di sana. Nadia melirik sekilas pada pria itu dan berjalan menghampiri Fabio. "Apa sudah menemukan sepatu yang kamu inginkan, Nadia?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN