Bab 24 ( Pencari Masalah )

1021 Kata
"Maaf, aku tidak ada yang cocok sepatu di sini." "Tidak ada yang cocok?" Fabio menaikkan salah satu alisnya. "Iya, jadi kita tidak perlu membeli sepatu, aku mau pulang saja." Nadia berjalan melewati Fabio, tapi tangannya dengan cepat di tahan oleh Fabio. "Kalau begitu kita pergi ke toko sepatu lainnya, sampai kamu menemukan sepatu yang kamu inginkan." "Apa?" Nadia benar-benar di buat kesal oleh pria ini. Dia sampai memutar bola matanya jengah. Nadia ingin sekali pergi dari sana dan membeli salad sayur untuk putrinya kemudian pulang ke rumah. "Kalau begitu kita ke toko lainnya." Nadia menghela napasnya kesal. "Fabio, kamu tidak perlu membelikan sepatu untukku. Besok aku mau pergi dan membeli sepatu sendiri di toko langganan aku karena aku juga mau berbelanja untuk kebutuhan bulanan," jelas Nadia dan berharap Fabio bisa mengerti. Mengerti? Hem! Apa yakin pria ini akan mengerti? Mengerti sama artinya dia menyerah dengan apa yang diminta Nadia. "Kalau begitu besok aku akan menjemput kamu di rumah dan kita akan pergi berdua." Nadia sampai mendelik mendengar apa yang di katakan oleh Fabio. Menjemput di rumah itu sama artinya bencana bagi Nadia. "Tidak perlu! Aku mau pergi dengan teman-temanku. Tolong Fabio, jangan membuatku seolah-olah aku tidak punya privasi." Nadia sekali lagi memberikan tatapan kesalnya. "Baiklah. Aku akan membeli sepatu di sini saja. Nadia kembali berjalan menuju wanita paruh baya yang dari tadi mendengar pembicaraan Nadia dan Fabio. Dia hanya bisa terdiam saja tidak mau ikut campur. "Tolong carikan saja sepatu yang menurut Mba cocok denganku." Wanita itu segera berjalan dan mengambil sepatu dengan warna hitam dan ada pita menyamping yang juga berwarna senada. "Bagaimana dengan sepatu ini?" "Iya, aku mau yang itu," jawab Nadia cepat tanpa memeriksa sepatunya. Wanita itu berjalan menuju kasir untuk mengepaknya ke dalam dus. Sedangkan Nadia berdiri dengan bersedekap agak jauh dari Fabio. Setelah melakukan pembayaran dan mereka keluar dengan Nadia membawa goodie bag berisi sepatu barunya. "Lusa kamu harus memakai sepatu itu, Nadia, dan buang saja sepatu rusak milik kamu." "Sekarang, apa kamu tidak mau keluar dari mobilku dan membiarkan aku mengemudikan mobilku sendiri? Kamu bisa menghubungi supir kamu untuk menjemputmu di sini, Kan?" Fabio tidak menjawab Nadia malah menyalahkan mobil Nadia dan pergi dari sana. Perasaan Nadia sudah kebat-kebit saja, dia takut jika Fabio akan mengantarkannya pulang dan akhirnya dia bertemu dengan Nafa. "Fabio, kita mau ke mana lagi?" Pria di samping Nadia itupun tidak menjawab sama sekali, dia malah fokus mengemudikan mobilnya. Nadia benar-benar di buat kesal bahkann tidak berdaya menghadapi pria ini. “Aku akan mengantar kamu pulang, Nadia, lalu aku akan menyuruh supirku untuk menjemputku di rumah kamu.” “Apa? Kamu ke rumahku? Untuk apa?” Fabio memiringkan posisi duduknya menghadap pada Fabio. “Untuk menemani kamu, Lagipula besok kan hari libur, aku ingin hari ini ke rumah kamu, kita bisa makan malam di rumah kamu, dengan begitu aku bisa lebih mengenal diri kamu.” Nadia langsung menyandarkan tubuhnya lemas. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Alasan apa lagi yang harus dia buat agar Fabio tidak datang ke rumahnya? “Fabio, aku tidak mau kamu ke rumahku karena kekasihku pasti nanti ke rumahku dan aku tidak mau terjadi masalah di dalam rumahku, jadi kamu turun saja di sini dan biarkan aku pulang sendiri.” Fabio tidak menjawab, tapi dia kemudian menepikan mobilnya dan mereka berhenti di tempat yang agak sepi. Pria dengan manik mata birunya itu memiringkan tubuhnya melihat pada Nadia dengan tatapan datar. “Kapan kamu akan memutuskan kekasihmu? Atau aku yang akan bicara dengannya, tentu saja dengan cara yang tidak baik,” nada bicara Fabio terdengar seolah mengisyaratkan ada ancaman. “Fabio, aku tidak akan memutuskan kekasihku karen aku sangat mencintainya dan dia adalah pria yang baik yang benar-benar tulus mencintaiku. Dia tidak akan pernah meninggalkan aku.” Nadia menekankan ucapannya. “Aku juga tidak akan meninggalkan kamu, Nadia. Aku juga sangat mencintai kamu, atau kita menikah?” Seketika kedua bola mata Nadia membulat sempurna melihat pada Fabio. “Jangan mengatakan hal tentang cinta dan janji yang manis secepat itu jika suatu hari nanti kamu tidak bisa memegang janji kamu. Lihat saja kamu kehilangan istrimu, kan? Dan aku tidak mau hal itu sampai menimpaku.” Nadia sudah pernah di tinggal oleh Fabio, jadi dia sudah trauma tidak akan percaya dengan pria di depannya ini lagi. “Ada alasan yang membuat aku berbuat begitu, Nadia, dan aku bisa menjelaskannya.” “Maaf, Fabio, Aku tidak ada waktu mendengarkan curhatan kamu. Sekarang kamu minta jemput saja sama supir pribadi kamu dan aku bisa pulang ke rumah dengan mengemudi sendiri, atau kita ke tempat mobil kamu dan nanti aku akan pulang sendiri.” “Aku yang akan mengantar kamu.” Fabio kembali mengemudikan mobil Nadia. Nadia yang duduk di sampinganya benar-benar merasa ketakutan. Nadia diam-diam mengirim pesan pada Bi Ima untuk mengajak Nafa keluar dari rumah itu sampai nanti Nadia memberi kabar kapan boleh membawa Nafa kembali ke ruma, dan tidak lupa menyimpan foto-foto Nafa yang ada di sana. Bibi Ima membalas pesan Nadia dan mengatakan akan membawa Nafa ke rumahnya. Nadia merasa agak sedikit lega. Tidak lama saat perjalanan menuju pulang, Nadia melihat ada cafe di mana menjual salad sayur yang enak yang Nafa inginkan. “Fabio, tolong berhenti dulu sebentar, aku mau membeli sesuatu di cafe itu.” Telunjuk Nadia mengarah pada cafe yang berada di seberang jalan. “Kamu mau makan di sana?” “Tidak, aku hanya ingin membeli sesuatu. Aku akan turun sebentar.” Nadia melepas seltbeltnya dan turun menuju cafe itu. Fabio di dalam mobil menunggu Nadia yang masuk ke dalam cafe. Beberapa menit Fabio menunggu, akhirnya dia tidak sabar dan memutuskan untuk turun dan menyusul Nadia di dalam cafe itu. Saat dia membuka pintu cafe, terlihat Nadia sepertinya sedang ribut dengan seorang pria. “ Nadia kenapa?” dialognya sendiri. “Jangan kurang ajar, ya? Aku tidak mau berkenala sama kamu karena aku sudah memiliki keluarga,” ujar Nadia ketus. Fabio yang mendengar hal itu langsung berdiri di tengah-tengan Nadia dan pria yang bertengkar itu. “Kamu ada masalah apa dengan istriku?” ucapnya dingin dan terlihat sorot mata Fabio berubah tajam. “Fabio? Kenapa kamu ke sini?” Nadia agak terkejut melihat Fabio di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN