Terlihat dahi pria yang sedang memejamkan kedua matanya dengan gelisah itu basah karena keringat. Pria itu tampak berusaha untuk membuka matanya. “Nadia!” Fabio seketika terbangun dari tidurnya, dan terlihat keringat membasahi dahinya. “Oh Tuhan! Apa yang sedang aku impikan? Dan siapa gadis kecil itu? Apa itu Nafa karena tadi aku berkenalan dengan dia, tapi kenapa aku merasa jika gadis itu seperti putri kandungku sendiri?” Fabio mengelap mukanya kasar dan dengan cepat dia mengambil segelas air putih yang ada di samping tempat tidurnya, menghabiskannya dengan sekali teguk. Pagi itu seperti biasanya, Nadia yang sudah berkutat dengan spatula dan penggorengan serta Nafa yang sudah duduk bersiap sarapan pagi masakan ibunya. Kemudian Nadia menyiapkan bekal makanan untuk Nafa, setelah sarapan pa

