Bab 5 ( Sulit Untuk Menghindar )

1029 Kata
Tidak lama wanita yang dibicarakan oleh Sarah dan Tania sudah duduk di meja kerjanya. Nadia mengambil napas panjangnya dan membuka kembali pekerjaannya. Sarah yang melihatnya tidak berani bertanya apa-apa pada Nadia yang terlihat sibuk mengerjakan pekerjaannya. Jam pulang akhirnya tiba, Nadia melepas sepatu milik Sarah dan mengembalikannya pada Sarah. “Sarah terima kasih, Ya.” “Loh, kok sudah kamu kembalikan? Kamu nanti terus pulangnya pakai apa?” “Aku jalan kaki tanpa alas saja, lagian ini sudah waktu pulang, nanti aku menunggu yang lainnya pulang baru aku pulang.” “Kalau mau kamu pakai saja dulu, nanti kalau sudah membeli yang baru baru kamu boleh mengembalikannya.” Nadia meringis lucu pada Sarah. “Kaki aku sakit memakai sepatu kamu, Sarah. Lihat ini kaki aku sampai melepuh di jari-jarinya. Aku di rumah ada sepatu lama yang bisa aku bersihkan dan aku pakai nantinya,. Atau kalau tidak aku akan memperbaiki sepatuku ini.” “Ya sudah kalau begitu. Aku pulang dulu, Ya? Suamiku sudah mengirim pesan padaku.” “Iya, terima kasih, Sarah, dan hati-hati.” Sarah dan yang lainnya sudah keluar dari ruangan itu, tinggal Nadia yang masih membereskan beberapa kertas-kertas yang berserahkan di mejanya. Nadia kemudian mengambil sepatunya dan menentengnya berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah. Di perusahaan Diamond Grup terdapat dua lift yang salah satunya di khususkan untuk karyawan dan satunya lagi untuk direktur utama dan para kepala divisi di sana. Nadia berdiri di depan pintu lift untuk karyawan dengan sesekali menggerak-gerakkan kakinya karena merasa nyeri pada bagian yang melepuh.  Tidak lama Fabio dan asisten pribadinya berjalan menuju lift tepat di sebelah Nadia berdiri. Nadia menoleh sekilas pada Fabio dan wanita yang memiliki tinggi semampai dengan wajah tegasnya yang tak lain adalah asisten pribadi Fabio. Setelah lift terbuka Nadia yang memang sopan segera memberi senyum kecil kepada mereka berdua dan langsung masuk ke dalam lift. Nadia bisa bernapas lega tidak lama-lama melihat Fabio. “Pak, kenapa wanita itu tidak sopan begitu? Dia berada du kantor dengan tidak memakai alas kaki, tapi malah menenteng sepatunya?” “Hak sepatunya patah, Selena. Apa kamu tadi tidak melihatnya saat di membawa sepatunya?” “Hak sepatunya, patah? Pak Fabio teliti sekali melihatnya?” Selena tampak tersenyum aneh. Fabio melihat tegas pada Selena. “Apa kamu tidak tau siapa aku?” “Saya minta maaf, Pak.” Selena menundukkan kepalanya. Pintu lift terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam lift dan kemudian mereka berdau turun ke lantai bawah area parkir. Sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah menunggu Fabio di sana, dan ada supir yang membukakan pintu untuk Fabio. “Kita pergi ke toko sepatu yang terbaik di sini. Aku ingin membeli sepasang sepatu,” titah Fabio pada supir pribadinya. Selena yang duduk di depan agak terkejut mendengar apa yang baru di katakan oleh bosnya, tapi dia tidak berani bertanya apa-apa.   Mobil Fabio berhenti di depan sebuah toko sepatu yang sangat besar dan tampak mewah. Di sana memang menjual bermacam-macam sepatu dengan harga yang mahal sampai fantastis. Fabio di sambut hangat oleh wanita paruh baya yang bekerja di sana. “Pak, Anda ingin mencari sepatu untuk siapa? Bukannya sepatu Anda selama ini sudah ada pembuatnya sendiri?” tanya Selena yang memang dari tadi penasaran. “Kamu ikut saja, tidak perlu banyak bertanya.” Fabio berjalan lebih dalam masuk ke toko itu. Selena langsung terdiam dan mengikuti ke mana bosnya melangkah. “Apa bisa saya bantu untuk mencarikan sepatu yang Anda inginkan, Pak?” tanya wanita paruh baya itu. “Saya akan memilihnya sendiri,” ucap Fabio.  Fabio berjaln menyursuri lorong sepatu khusus wanita yang biasa digunakan untuk bekerja. Kedua mata Fabio tertuju pada sepasang sepatu berwarna coklat tua dan ada lipatan beberapa di bagian depannya. Sepatu itu tidak memiliki hak yang terlalu tinggi. “Saya mau sepatu ini dengan size 39. Tolong kemas dengan sangat rapi dan cantik.” Fabio mengatakan pada pelayan toko itu. “Pilihan Anda memang benar-benar bagus, Pak. Kekasih Anda pasti sangat menyukaianya.” Fabio tidak menjawab, hanya memberikan senyuman kecilnya. Pelayan toko itu mmebawanya ke dalam untuk mengemasnya. Selena yang melihat tampak sekali lagi terkejut. Dia berpikir untuk siapa sepatu itu? Apa Pak Fabio diam-diam memiliki seorang kekasih? Tapi selama ini yang Selena tau jika bosnya itu tidak pernah dekat dengan seseorang, walaupun ada wanita yang berusaha mendekatinya , dia malah bersikap biasa saja. Selena memilih untuk diam. Setelah selesai pelayan itu memberikan goodie bag berwarna hitam berukuran sedang dan di dalamnya ada box sepatu dengan pita cantik. Fabio membawanya dan kemudian dia pergi dari sana menuju penthouse miliknya. Fabio menyuruh Selena pulang ke rumahnya karena hari ini pekerjaannya sudah selesai. “Aku harap Nadia akan menyukai pemberianku ini. Dia sangat menyukai menyukai warna yang lembut seperti sepatu ini,” lagi-lagi Fabio berdialog sendiri. Di rumahnya, Nadia yang baru saja selesai membuat makan malam bersama dengan putri kecilnya membawa makanan sederhana yang dia buat ke meja makan. Mereka berdua berdoa dan kemudian  makan bersama. “Ibu, nanti jangan lupa bantu aku membuat prakarya bentuk orang ayah dan ibu.” Nadia melihat ke arah putrinya dan mengangguk dengan tatapan sayu. “Nanti ibu akan membantu kamu, Sayang. Sekarang habiskan dulu makanan kamu, dan nanti ibu mau mencari sebentar sepatu lama ibu di gudang.” “Memangnya sepatu milik Ibu kenapa?” “Tadi di kantor sepatu milik ibu haknya patah, jadi ibu tidak bisa memakainya besok. Kalau mau membeli baru lagi, ibu harus menunggu sampai gaji ibu keluar.” “Sayang sekali uang tabungan aku belum cukup, kalau cukup bisa Ibu gunakan untuk membeli sepatu buat Ibu.” Nadia yang mendengar hal itu tersenyum bahagia. Tangannya mengusap lembut pucuk kepala putri satu-satunya. “Terima kasih ya, Sayang, tapi kamu tidak perlu menggunakan uang tabungan kamu kalau hal itu tidak terlalu penting. Kamu simpan saja uang tabungan kamu dan nanti kalau sudah banyak katanya kamu mau gunakan untuk berkeliling dunia.” Nadia tersenyum. “Iya, aku mau menabung sampai banyak dan pergi berkeliling dunia berdua dengan Ibu.” Gadis kecil di samping Nadia tersenyum lucu memperlihatkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi. “Iya, maka dari itu simpan saja uang kamu, Sayang, kamu tidak perlu memikirkan ibu, biar ibu yang nanti akan membeli sepatu itu sendiri.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN