Nadia yang masih duduk di bangkunya sekali lagi mencoba menarik napas panjangnya, dia benar-benar ingin menguatkan hati dan perasaannya agar bisa menghadapi pria dari masa lalunya itu. Kenyataan yang tidak pernah Nadia bayangkan selama ini, bertemu lagi dengan pria yang dulu dia cintai bahkan memberikannya malaikat kecil yang begitu dia jaga dan sayangi selama ini.
“Nadia, kamu harus kuat dan percaya kamu bisa melalui ini semua. Pikirkan tenta Nafa, tidak mungkin kamu mundur dan menghilang lagi hanya untuk menghindari orang-orang dari masa lalu kamu,” Nadia berdialog dengan dirinya sendiri.
Wanita cantik itu berdiri dari tempatnya dengan membawa beberapa map di tangannya, dia berjalan menuju pintu dengan tulisan Direktur Utama berwarna emas. Tangan Nadia perlahan terangkat dan dia akhirnya mengetuk pintu itu beberapa kali ketukan.
“Masuk.” Terdengar suara seseorang menyahut dari dalam.
Nadia masuk dan berjalan dengan kepala menunduk walau sesekali dia melihat sekilas apa yang ada di depannya. Nadia melihat kursi kebanggan yang dulu di duduki oleh orang yang paling dia hormati bahkan dia anggap ayah itu sekarang sedang di duduki oleh pria yang tidak ingin dia temui lagi. Pria itu sekarang sedang duduk membelakangi Nadia.
“Apa benar nama kamu Nadia Maharani?” Kursi yang di duduki oleh Fabio sekarang berputar menghadap pada Nadia. Detak jantung Nadia langsung berdetak hebat, kakinya serasa lemas dan hampir jatuh jika dia tidak berpegangan pada kursi di depan meja Fabio. “Saya bertanya pada kamu?” ucap Fabio sekali lagi.
“I-iya, nama saya Nadia Maharani, Pak,” jawab Nadia terbata tanpa melihat ke arah Fabio.
Fabio berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekati Nadia. Fabio sebenarnya tau jika wanita yang sedang berdiri di tempatnya ini adalah wanita satu-satunya yang pernah dia nikahi dulu, bahkan malam pertama yang dia lakukan dengan Nadia adalah malam yang sangat luar biasa yang tidak pernah Fabio rasakan sebelumnya dengan beberapa wanita yang dia tiduri.
“Nadia.” Fabio membalikkan tubuh Nadia agar berhadapan dengannya. Kedua tangan Fabio memegang kedua lengan tangan Nadia. Mata Fabio menatap lekat pada mata Nadia. Pun dengan Nadia, dia juga sedang menatap pria yang ada di dekatnya, tapi dengan tatapan yang berbeda.
“Pak, apa yang Anda lakukan? Tolong jangan terlalu dengan begini dan lepaskan tangan saya.”
“Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu adalah Nadia Maharani, wanita yang dulu pernah menikah denganku, dan ternyata kamu wanita itu.” Seketika terlukis senyum kecil yang sangat manis dari bibir pria tampan itu.
“Maaf, Pak. Saya tidak mengerti apa maksud Pak Fabio.” Nadia dengan ketus melepaskan tangan Fabio dan berjalan agak menjauh dari Fabio. “Saya ke sini karena tadi asisten Pak Fabio mengatakan jika saya dipanggil oleh Pak Fabio untuk menyerahkan beberapa dokumen yang Bapak butuhkan. Ini dokumennya.” Nadia menyerahkan dokumen yang dibawanya kepada Fabio.
Fabio mengambil dokumen itu dan meletakkannya di meja, sekali lagi dia menatap Nadia yang berdiri agak jauh darinya. “Kenapa kamu tidak mengakui kamu Nadia Maharani yang tak lain adalah istriku dulu?”
“Istri? Apa Pak Fabio sedang tidak bermimpi? Saya tidak pernah menikah dengan Pak Fabio. Saya saja baru bertemu dan berkenalan dengan Pak Fabio di sini. Maaf ya, Pak. Jika tidak ada lagi yang Bapak butuhkan dari saya, saya permisi kembali ke ruangan saya karena masih ada pekerjaan saya yang belum selesai.”
Saat tangan Nadia akan memegang knop pintu, dengan cepat Fabio menarik tangan Nadia sehingga tubuh Nadia masuk ke dalam dekapan Fabio. “Aku belum menyuruh kamu pergi dari sini.”
Nadia terdiam sejenak dalam dekapan Fabio, dia dapat merasakan aroma parfum yang beberapa tahun lalu sangat dia sukai. “Pak, tolong jaga sopan santu Anda.” Nadia yang tersadar segera mendorong tubuh Fabio dengan kasar. Dia merapikan baju dan rambutnya yang agak sedikit berantakan. “Kita baru bertemu dan saya harap Bapak bisa sopan. Permisi.” Nadia ingin sekali segera pergi dari ruangan yang baginya seperti neraka itu.
“Aku tau aku salah sama kamu, Nadia,” ucapan Fabio berhasil menghentikan langkah Nadia yang hampir melangkah keluar dari pintu.
“Saya tidak mengerti maksud Pak Fabio,” Nadia berkata tanpa melihat ke arah Fabio dan dia dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Nadia tidak langsung kembali ke mejanya, dia berjalan dengan langkah gontainya karena perasaan yang tidak karuan dan ditambah dengan sepatu kekecilan milik Sarah yang dia pakai. Nadia menuju kamar mandi dan segera masuk ke dalam salah satu toilet di sana. Nadia bersandar pada daun pintu dan menangis dengan menahan mulutnya dengan kedua tangannya agar suara tangisannya tidak terdengar.
“Aku tau jika kamu pasti sangat membenciku karena sudah meninggalkan kamu waktu itu Nadia, tapi aku memiliki alasan kenapa aku sampai meninggalkan kamu waktu itu. Aku akan berusaha untuk meminta maaf sama kamu, bahkan aku akan berusaha mendapatkan kamu kembali Nadia,” Fabio berdialog dengan dirinya sendiri.
Di ruangan kerja Sarah dan Tania. Tania berdiri dan menghampiri meja Sarah, dia bertanya pada Sarah kenapa Nadia lama sekali di ruangan direktur baru itu?
“Mungkin Nadia masih menjelaskan beberapa perincian tentang masalah perusahaan ini, kamu tau sendiri jika pak Fabio baru bekerja di sini, jadi wajar saja Nadia harus menjelaskan satu persatu secara detail. Lagian kamu curigan sekali dengan Nadia? Dulu sama Pak Danu, sekarang sama Pak Fabio.” Sarah melihat kesal pada Tania.
“Bukan curiga, hanya saja aku kan tidak mau kalau sampai Nadia ikut-ikut mencari perhatian pada si tampan pak Fabio itu. Aku kan tidak mau bersaing dengan sahabat aku sendiri, lagian Nadia itu sudah tidak layak bersaing denganku,” ucap Tania sombong.
“Tidak layak dari mana? Nadia cantik, pintar dan pekerja keras, dia juga baik. Apa yang menurut kamu dia tidak layak dengan Pak Fabio?” tanya Sarah sekarang dengan wajah seriusnya.
“Haduh! Dia itu sudah punya anak dan Pak Fabio masih single belum pernah menikah dengan siapapun, kasihan kalau dapat janda anak satu seperti Nadia.”
“Apa salahnya?”
“Tidak pantas, Sarah.” Setelah mengatakan hal itu Tania melenggang dengan sombongnya kembali ke meja kerjanya.
“Dasar! Lagian, aku yakin Pak Fabio juga tidak akan mau sama wanita sombong, dan sok seperti kamu,” gerutu Sarah pelan melirirk kesal pada Tania.