Nadia menunggu di depan pintu toilet dengan membawa sepasang sepatunya. Tidak lama, Sarah datang dengan membawa sepasang sepatu berwarna merah menyala. “Cepat pakai sepatuku, Nadia!” Sarah memberikan sepatu miliknya.
“Merah?” Mata Nadia melihat aneh.
“Iya! Aku mempunyai sepatu cadangan yang aku simpan di bawah meja kerjaku, aku, kan, kadang pulang kerja langsung diajak pergi sama suamiku, jadi aku menyimpan sepatu ini. Sudah! Pakai, Nadia! Kita sudah terlambat.”
Nadia rada aneh memakai sepatu berwarna merah menyala seperti itu. Tapi dia tidak punya pilihan lain, jadi dia segera memakainya. “Sarah, sepatunya kesempitan.” Nadia meringis kesakitan.
“Maaf, tubuhku kan agak kecil dari kamu.”
Nadia tidak mau banyak bicara lagi, urusan kaki sakit nanti saja, yang terpenting dia tidak terlambat datang ke acara itu, bisa-bisa Nadia nanti kena marah,atau lebih parahnya kena pemecatan. Nadia dan Sarah berlari kecil menuju tempat pertemuan.
Di sana sudah berkumpul para karyawan lainnya. Pak Danu juga sudah berdiri tepat di samping seorang pria dengan postur tinggi dan gagahnya. “Kalian dari mana saja?” tanya Tania.
“Dari toilet, Tan. Eh! Apa direktur utama kita yang baru sudah datang?” tanya Sarah.
“Sudah, itu dia di depan, dia ternyata sangat tampan, aku sampai tidak bisa berkata apa-apa.” Tania tersenyum senang.
“Mana, sih?” Sarah yang juga penasaran mencoba menjinjit ingin mencari tau tampang direktur baru itu. Beda dengan Nadia, dia malah sibuk dengan sepatu milik Sarah yang dia pakai, karena dari tadi kakinya merasa kesakitan.
“Kenapa kamu memakai sepatu yang mencolok sekali, Nad?” Tania memperhatikan Nadia dengan sepatu merahnya. “Kamu sengaja memakai sepatu baru yang mencolok itu untuk menarik perhatian direktur baru kita.” Tania melihat Nadia dengan sinis.
Nadia tidak mau memperdulikan ucapan Tania, Nadia rasanya sudah kebal dengan kata-kata Tania yang kadang menyakitkan. Tidak lama terdengar suara dari pak Danu memanggil nama Nadia. “Nadia, kamu di panggil oleh Pak Danu.”
“Aku?” Nadia seketika kelabakan. Dia tidak lagi fokus pada sepatunya.
“Iya, kamu di panggil ke depan, sekarang cepat sana!” Sarah segera memegangi lengan tangan Nadia, menyuruh Nadia berjalan ke depan.
Nadia berjalan perlahan-lahan karena memang kakinya sakit. Saat sampai di depan, kedua mata Nadia membulat sempurna melihat pria yang ada di samping Pak Danu. Jantung Nadia berdetak dengan cepat, dan seketika bayangan beberapa tahun lalu yang Nadia alami kembali teringat di dalam pikirannya.
“Aku akan menolong kamu.” Seorang pria dengan tubuh athletisnya menggendong seorang gadis yang kakinya terluka karena terkena batu kerikil saat dia berjalan. Waktu itu juga hujan deras sepertinya akan turun.
Nadia memandangi wajah pria yang sedang menggendongnya, pria itu membawa Nadia ke tempat penginapannya. Nadia diletakkan di atas sofa panjang yang ada di ruang tamu. “Kamu tunggu sebentar, aku akan mengambil kotak obat.” Pria itu berjalan menuju ke dalam kamarnya dan tidak lama kembali dengan kotak obat di tangannya, dia duduk tepat di depan Nadia.
“Aku tidak apa-apa, dan aku bisa mengobati kakiku sendiri.”
“Kamu duduk saja, biar aku yang mengobati kaki kamu. Maaf, aku membawa kamu ke tempatku, karena hanya tempatku yang terdekat dari pantai, apalagi sekarang sedang hujan deras.” Pria itu berbicara dengan Nadia, dan tangannya membersihkan luka pada kaki Nadia.
“Tidak apa-apa, terima kasih untuk bantuannya."
“Sudah selesai. Nama kamu siapa? Aku Fabio.” Pria itu beranjak dari tempatnya dan menuju sebuah meja yang terletak tidak jauh dari tempat Nadia.
“Namaku Nadia.” Nadia mencoba menurunkan kakinya dari atas sofa.
Fabio memberikan segelas minuman pada Nadia. Nadia tampak bingung melihat minuman yang di berikan oleh Fabio. “Kenapa? Minuman ini dapat menghangatkan tubuh kamu. Minumlah sedikit, aku juga melihat kamu sepertinya sedang tidak baik, dan minuman itu bisa membuat hati kamu lebih baik.” Fabio yang duduk di depan Nadia, menatap Nadia lekat.
Nadia tanpa berkata, dia menghabiskan dengan cepat minuman yang diberikan oleh Fabio. “Minuman apa ini?” Nadia mengerutkan mukanya setelah menghabiskan minuman itu.
Pria dengan rahang tegasnya itu tersenyum melihat wajah Nadia. “Kalau kamu mau, kamu bisa istirahat dulu di kamarku sampai hujannya reda. Aku akan menggendongmu ke kamar.”
“Ke kamar kamu? Kamu mau berbuat apa denganku? Jangan macam-macam, ya! Walaupun aku seorang wanita, aku bisa bela diri, aku tonjok kamu kalau kamu macam-macam. Hihihi!”
Sepertinya bicara Nadia mulai melantur. Efek minuman beralkohol yang diminum Nadia mulai bekerja.
“Aku akan membawa kamu ke dalam kamar supaya kamu bisa beristirahat.” Fabio menggendong Nadia, dan membaringkannya di atas ranjang tidurnya. Fabio menatap wajah Nadia yang sudah terlelap. “Wajah gadis ini sangat cantik, apalagi setelah dia menangis. Wajahnya terlihat menggemaskan.” Tertarik senyum miring pada sudut bibir Fabio.
“Nadia.” Suara Pak Danu memanggil Nadia yang sedang melamun.
"Iya, Pak?” Nadia yang sudah menginjakkan kakinya kembali ke bumi, langsung menoleh ke asal suara.
“Nadia, Pak Fabio ingin berkenalan dengan kamu.” Tangan Pak Danu menyentuh lengan Nadia.
Nadia melihat pria di depannya sedang mengulurkan tangan ke arahnya, sorot matanya menatap tegas pada Nadia. “Maaf, sa-saya Nadia, Pak,” ucap Nadia terbata. Nadia dengan ragu-ragu menerima jabatan tangan Fabio.
“Apa kamu yang akan menjadi sekretarisku?”
“Iya, Pak Fabio. Nadia adalah sekretaris yang sangat pandai, dia juga pekerja keras, maaf, jika tadi dia sedikit terkejut karena mungkin dia baru pertama bertemu dengan Anda,” terang pak Danu.
Nadia dengan cepat melepaskan tangannya dari jabatan Fabio. “Selamat datang di perusahaan, Pak Fabio.” Nadia berusaha memberikan senyumannya, walaupun terlihat memaksa.
“Terima kasih, Nadia. Saya harap kamu bisa bekerja dengan baik nantinya.” Nadia tidak menjawab hanya memberikan anggukan kepalanya, kemudian dia memundurkan dirinya berdiri di belakang pak Danu.
Fabio mulai menyapa yang lainnya, kemudian dia dengan tegas memberikan aturan-aturan baru yang sudah dia buat, dan semua karyawan harus mematuhinya selama Fabio menjabat sebagai direktur baru di perusahaan Diamond Grup. Setelah acara syukuran dan perkenalan selesai, semua karyawan kembali ke ruang kerjanya.
Nadia duduk lemas di kursinya. Wanita cantik itu mencoba mengambil napas panjangnya, dan dengan cepat pula dia menghabiskan segelas air yang ada di atas mejanya. “Kamu kenapa, Nadia? Kenapa kamu jadi pucat begitu?” tanya Sarah heran.
“Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut saja berkenalan dengan direktur baru itu.”
“Ternyata Pak Fabio tampan sekali, tapi dia juga orang yang menyeramkan. Kamu dengar, kan, peraturannya tadi? Huft!” Sarah menghela napas kesal.
Nadia hanya bisa tersenyum kecut, Nadia sudah mengenal Fabio lebih dari apa yang dikatakan oleh Sarah. Tidak lama seorang wanita yang tak lain adalah asisten pribadi Fabio berjalan menuju meja Nadia.
“Nadia, kamu diminta ke ruangan Pak Fabio sekarang."
Deg!
Nadia malah terdiam di tempatnya. Hatinya yang masih belum tenang karena bertemu dengan pria dari masa lalunya itu, dan kini, dia harus berhadapan lagi dengan pria itu. “Nadia! Apa kamu tidak mendengarkan?”
“I-iya.” Nadia segera beranjak dari tempatnya.
“Bawa juga laporan perusahaan, karena Pak Fabio ingin mengeceknya.” Setelah mengatakan hal itu wanita dengan penampilan rapi dan terlihat dingin itu berjalan pergi dari sana.
Nah, loh!