Bab 7 ( Impian Nadia )

1026 Kata
Nadia malah tersenyum melihat wajah sahabatnya yang sedang ditekuk kesal karena tidak bisa menghadiri pesta pernikahannya. “ Maaf, Sa, tapi Fabio yang menginginkan pernikahan kilat ini, dan aku lihat dia sangat serius denganku. Fabio juga berjanji akan mengajak aku ke rumahnya setelah pekerjaannya di sini selesai. Dia akan memperkenalkan aku dengan keluarganya di sana.” “Jadi kalian akan menikah dan tinggal di sana dulu sampai nanti dia membawa kamu ke Italy?” “Iya, dan aku percaya dengannya, beberapa hari mengenal dia, dia sangat sayang dan perhatian denganku. Fabio pria yang baik, Sa.” “Kamu kok bisa percaya secepat itu? Apa kamu menerima tawaran Fabio bukan karena ingin melupakan Elang?” Nadia terdiam sejenak mendengar pertanyaan saahabatnya. “Aku sudah benar-benar melupakan Elang. Buat apa aku memikirkan pria pengecut seperti Elang yang lebih memilih harta dan kedudukan yang ditawarkan ayahnya daripada harus mempertahankan cintanya padaku.” “Iya juga sih! Pria seperti Elang memang harus di hilangkan dari hati dan pikiran kamu, aku juga dengar dia akan bertunangan dengan wanita pilihan ayahnya.” “Jangan membahas pria itu, Sa. Aku tidak mau mengingatnya lagi, aku sekarang sangat bahagia akan menikah dengan pria yang benar-benar serius denganku.” “Semoga saja Fabio benar-benar dapat dipercaya dan membahagiakan kamu, Nad. Penderitaan kamu sudah sangat banyak selama ini. Mungkin Fabio adalah orang yang akan membawa kamu dalam kebahagiaan.” “Kamu benar, daripada aku harus kembali ke rumahku dan dinikahkan oleh pamanku dengan tuan tanah yang sudah memiliki lima istri itu, lebih baik aku menikah dengan Fabio yang jelas-jelas serius denganku dan nanti aku akan hidup bersamanya.” “Iya, aku salut sih sebenarnya sama pria blesteran kamu itu, dia mau menikahi kamu bahkan dia mau menjadi mualaf agar dapat menikah dengan kamu. Berarti dia pria yang bertanggung jawab, hanya saja waktunya cepat sekali, aku kan tidak bisa ke sana,” rengek Sasa. “Kamu doakan saja aku dengan Fabio akan bahagia setelah ini. Kapan-kapan kamu juga bisa mengunjungi aku ke sini, dan nanti aku perkenalkan kamu dengan Fabio. Sa, sudah dulu ya, aku harus segera menuju tempat pernikahan aku dengan Fabio.” “Iya, jangan lupa nanti hubungi aku lagi setelah acara pernikahan kamu selesai.” Mereka berdua mengakhiri panggilannya. Nadia keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu di mana Fabio dan beberapa orang ada di sana. Nadia dan fabio melakukan pernikahan sederhana secara islam. Fabio walaupun pria blasteran, dia ternyata sudah lama bisa berbahasa Indonesia, hanya dengan satu tarikan napas Fabio telah sah menjadikan Nadia sebagai istrinya. “Kenapa kamu harus pergi seperti itu, Fabio? Apa salahku sama kamu? Kamu tidak hanya pergi meninggalkan aku, tapi juga kamu telah meninggalkan cinta yang begitu indah yang aku harus berjuang untuk membesarkannya sendiri.” Nadia yang masih berada di dalam kamar putrinya mengusap lembut wajah putri kecilnya itu. Nadia beranjak pergi dari kamar Nafa dan dia menuju ruang tamu untuk menyelesaikan tugas prakarya milik Nafa. Nadia mulai membuat bentuk orang-orangan dari kardus dan kertas lipat. Sekarang dia bingung mau menempelkan wajah siapa dalam orang-orangan  kertas itu? “Apa aku menempelkan wajah artis kesukaan Nafa saja? Aku saja tidak memilki memiliki foto Fabio, kalaupun ada aku tidak akan juga memberikan pada Nafa. Aku tidak mau jika nanti mereka bertemu secara tidak sengaja, Nafa mengenali wajah Fabio sebagai ayahnya. Aku tidak mau itu terjadi.” Akhirnya Nadia menempelkan wajah artis idola Nafa, dan besok Nadia akan mengirim pesan kepada gurunya Nafa untuk menjelaskan semuanya. Nadia membereskan semuanya dan kemudiaan dia menuju kamar tidurnya untuk merebahkan tubuhnya yang memang sudah sangat lelah sekali. Keesokan harinya Nadia kembali melakukan aktivitas seperti biasanya, dia membuatkan sarapan untuk Nafa dan dirinya sendiri. Nadia memberikan prakarya yang sudah dibuatkan olehnya semalam. “Bukan foto ayah?” “Ibu nanti akan menghubungi guru kamu, katanya kemarin tidak apa-apa kalau memakai foto artis idoal kamu, Ibu belum menemukan foto ayah kamu, Nak.” “Iya, tidak apa-apa. Terima kasih ya, Bu.” Sikecil itu mengecup pipi ibunya. “Sekarang kita makan dulu dan nanti ibu akan langsung mengantar kamu ke sekolah, ibu tidak mau sampai terlambat ke kantor.” Makan pagi selesai dan wanita cantik itu mengantarkan putrinya ke sekolah kemudian dia berangkat ke kantornya. Saat berjalan menuju lift dia merasakan sepatunya ada yang aneh. Sepertinya hak sepatunya yang semalam dia beri lem agak bergoyang. “Aduh! Apa ini lemnya tidak bekerja dengan baik? Atau aku salah memakai lem?” Nadia mengerutu pelan. Nadia masih berusaha berdiri dengan baik mengantri di depan lift bersama karyawan lainnya. Dia mengedarkan pandangannnya mencari di mana temannya Sarah dan Tania, tapi mereka berdua tidak ada dan sepertinya mereka sudah berada lantai atas. Saat pintu lift terbuka Nadia yang ingin masuk, tapi tidak bisa karena terserobot karyawan lainnya, di tambah dengan sepatunya yang memang  haknya mulai berpindah tempat. Nadia memilih mengalah dan dia kembali berdiri di depan.Tidak lama sang  pemilik perusahaan itu datang dengan asisten cantiknya berdiri di depan lift yang  khusus untuk sang direktur di sana. Nadia tampak agak terkejut, dia berusaha memposisikan dirinya dengan baik,seolah dia tidak memiliki masalah dengan sepatunya. “Selamat pagi, Pak Fabio dan Mba Selena,” sapa Nadia sopan. Jujur saja Nadia sebenarnya malas untuk menyapa Fabio, kalau Pak Danu dia akan senang hati menyapanya, tapi untuk menjaga sopan santun, Nadia harus bekerja dengan sangat baik. “Pagi, Nadia.” Fabio memperhatikan wanita cantik yang pernah mengisi hidupnya itu dengan seksama. Bahkan sekarang kedua matanya melihat ke arah sepatu yang di pakai Nadia. “Pagi, Nadia. Nadia kamu tidak apa-apa? Kenapa berdiri kamu aneh begitu?” tanya Selena. “Em ... saya tidak apa-apa, Mbak, saya baik-baik saja.” Tidak lama pintu lift Nadia terbuka dan Nadia segera masuk ke dalam setelah memberi anggukan pelan pada Fabio dan Mba Selena. Nadia berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Tania dan Sarah yang melihat tampak mengkerutkan kedua alisnya. “Kamu kenapa, Nad?”  tanya Tania heran. “Tidak apa-apa hanya sepatuku yang bermasalah,” ucap Nadia malas dan saat sampai di depan mejanya dia langsung duduk dengan perasaan lega. Nadia mencopot sepatunya dan benar saja lem yang dia gunakan mulai perlahan memisahkan antara sepatu dan haknya. “Tuch, kan! Benar dugaan aku, lemnya tidak bekerja dengan baik.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN