Sarah mengambil sepatu Nadia dan memeriksanya. “Hem ... tentu saja lem ini tidak bisa merekatkan sepatu kamu, kamu memakai lem yang salah, Nadia Sayang. Bukan lem ini yang di gunakan untuk sepatu.
“Hah? Apa benar, Sar? Aku kira sama saja, makannya aku pakai saja, habisnya kemarin malam aku mencari sepatu milik aku yang sudah lama, tapi sepatunya malah tidak muat sama aku.”
“Kamu beli lagi saja, kenapa begitu repot sih?”
“Uang aku belum cukup, Tania. Rencananya nanti kalau sudah terima gaji bulan ini aku mau membeli sepatu baru dan tas baru untuk putriku Nafa.”
“Makannya, kamu cari kekasih yang tajir seperti aku supaya kamu tidak bingung kalau memasuki tanggal-tanggal seperti ini, jadi kalau ada masalah kamu bisa meminta pada kekasih kamu. Kamu betah sekali sedirian, Nad.”
‘Kekasih? Rasanya dalam hidup Nadia tidak ada tempat untuk memikirkan lagi masalah percintaan seperti mencari kekasih atau memikirkan pasangan hidup. Hati Nadia sudah benar-benar beku dan tertutup sejak dia ditinggalkan oleh Fabio.’ Nadia berkata dari dalam hati.
“ Aku tidak mau memikirkan untuk memiliki kekasih atau mencari pasangan hidup. Aku sudah bahagia hidup berdua dengan putriku, dan prioritas utamaku sekarang hanyalah Nafa.”
“Memangnya kamu tidak mau mencari seseorang yang nantinya akan bisa menjadi ayah untuk Nafa? “
“Aku tidak mau mau memikirkan itu Sarah. Kamu tau sendiri, kan?”
“Iya, kamu sudah sering cerita sama aku. Eh, tapi kalau sama kepala divisi si Dimas itu kamu tidak mau juga? Dia baik loh dan lumayan tampan juga, Nad,” goda Sarah dengan mata genitnya.
“Apa sih, Sarah? Kita ini sedang membicarakan tentang sepatu, kenapa malah pindah ke topik lainnya? Sudah! Aku mau kembali melanjutkan pekerjaan aku yang belum selesai.”
Sarah terkekeh melihat wajah Nadia. “Benar juga kata Sarah, Nadia. Coba kamu mau sama si Dimas itu, kan enak kamu kalau membutuhkan bantuan seperti membelikan kamu barang yang kamu butuhkan seperti ini pasti dia akan langsung membelikannya. Seperti pacar aku.”
“Aku bisa beli sendiri, Tania.
“Eh, Tania, bukannya ukuran sepatu kamu sama dengan ukuran sepatu Nadia? Kenapa kamu tidak pinjamkan salah satu sepatu kamu?” Sarah mendongak melihat wajah Tania yang berdiri di depannya.
Seketika wajah Tania tampak sedikit aneh. “Sepatuku? Sepatu lamaku sudah tidak ada, sudah aku buang semua. Di rumah hanya tinggal sepatu branded milikku yang di belikan oleh kekasihku. Maaf, aku tidak bisa meminjamkan karena aku tidak mau kalau sampai rusak dan akhirnya kekasihku marah sama aku. Maaf ya, Nadia.” Tania langsung pergi dari sana dan kembali ke mejanya yang berjarak beberapa meja karyawan lainnya.
“Dasar pelit! Sok pamer juga. Sepatu branded, palingan belinya di mall dengan harga yang biasa saja. Memangnya dikira aku tidak tau siapa kekasihnya,” ujar Sarah kesal.
“Biarkan saja, Sarah, aku juga tidak mau meminjam pada Tania, nanti yang ada malah ribet,” ucap Nadia pelan.
Mereka melanjutkan pekerjaan seperti biasa, sampai akhirnya jam istirahat makan siang tiba, Sarah menghajak Nadia makan siang di kantin seperti biasa. “Benar kamu tidak mau makan di kantin?”
“Iya, aku makan di mejaku saja, nanti aku minta tolong sama Tina buat membelikan makan siang di warung bawah. Kamu tau sendirikan sepatuku seperti apa? Kalau aku buat jalan ke kantin pasti kelihatannya aneh.”
“Ya sudah kalau begitu aku ke kantin dulu dengan Tania.” Nadia mengangguk dan melihat kedua temannya dan karyawan lainnya menuju lift.
Saat Nadia ingin melakukan panggilan pada Tina di bagian pantry, ternyata ada panggilan masuk dari ruangan Fabio. “Pria itu! Ada apa lagi? Inikan jam makan siang?” gerutu Nadia kesal.
“Nadia, apa kamu bisa ke ruangan saya sebentar?”
“Iya, Pak.” Nadia berdiri dengan perlahan dan berjalan menuju ruangan Fabio dengan hati yang tetap saja masih berdegup tidak karuan. Pintu di ketuk dan terdengar suara sang direktur utama menyuruhnya masuk.
Fabio yang berdiri bersandar pada meja kerjanya , memperhatikan cara jalan Nadia yang tampak aneh seperti orang yang pertama kali memakai high heel. “Kalau sepatu itu sudah tidak bisa digunakan, kenapa kamu masih tetap memakainya, Nadia?” Fabio to the point mengatakan tentang sepatu Nadia.
Nadia agak gelapan karena Fabio mengerti tentang masalah sepatunya. “Sepatu saya baik-baik saja, Pak. Sebenarnya Pak Fabio menyuruh saya ke sini ada perlu apa?”
“Kalau baik-baik saja, kamu tidak mungkin kemarin melepaskan dan menentengnya saat pulang kemarin dan sekarang kamu pakai sepatu itu sampai jalan kamu terlihat aneh.”
“Saya masih bisa mengatasinya, Pak.”
Fabio berjalan mendekati Nadia. Seketika kedua mata wanita cantik itu membulat lebar dan ingin memundurkan langkah ke belakang, tapi yang ada dia malah hampir jatuh. “Nadia hati-hati!” Tangan Fabio secepat kilat memegang Nadia, memeluk pundak Nadia.
Nadia yang sadar akan sentuhan Fabio segera menjauh dari tangan Fabio, tapi lagi-lagi karena sepatunya dia hampir terjatuh lagi, dan kali ini Fabio tanpa basa basi dan permisi langsung menggendong Nadia ala bridal style. Seketika Nadia seolah mematung menatap pria yang wajahnya sangat dekat dengannya.
“Aku sudah bilang hati-hati.” Fabio membawa tubuh Nadia menuju sofa panjang yang ada di sana dan mendudukannya.
“Maaf, Pak. Sebenarnya Pak Fabio ada perlu apa memanggil saya? Kalau tidak ada yang penting saya mau ke meja saya.” Nadia berdiri dari tempanya dengan wajah yang kesal.
“Kamu duduk dulu. Aku ingin memberikan sesuatu untuk kamu.” Fabio berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil sesuatu di bawah meja kerjanya.
Nadia tampak bingung dengan maksud Fabio itu. Nadia melihat pria dari masa lalunya itu menuju ke arahnnya dengan tas goodie bag berukuran besar..Fabio mengambil kotak berukuran sedang dan memberikan pada Nadia. “Ini apa?”
“Bukalah, nanti kamu juga akan tau apa isi kotak itu.”
Nadia dengan berdiri membuka kotak itu dan Nadia agak kaget melihat isi kotak itu ternyata sepasang sepatu yang Nadia tau dari mereknya, itu termasuk sepatu yang mahal. “Sepatu?” Nadia menatap bingung.
“Iya, itu sepatu untuk kamu, aku membelikannya agar kamu bisa memakainya untuk bekerja. Aku sengaja memilih warna itu karena aku tau kamu pasti menyukainya, Nadia," ucap Fabio yakin.