Bab 9 ( Penolakan )

1007 Kata
Nadia bukannya senang malah dia tampak sangat emosi. Nadia menutup kembali kotak sepatu itu dan memberikan lagi pada Fabio. “Maaf ya, Pak Fabio. Saya tidak membutuhkan sepatu dari Pak Fabio karena saya bisa membeli sendiri sepatu untuk saya pakai bekerja.” “Kenapa kamu tidak mau menerima sepatu pemberianku? Aku sengaja membelikan kamu sepatu ini karena melihat sepatu kamu yang rusak Nadia.” “Saya tidak butuh! Kalau tidak ada hal penting lainnya, saya mau kembali ke meja kerja saya,” tekan Nadia. “Nadia, tunggu!” Pria itu memegang lengan tangan Nadia. “Lepaskan!” Nadia menepis tangan Fabio dengan kasar “Nadia, kenapa kamu tidak mau menerima pemberianku? Bagaimanapun juga kamu berhak menerima pemberianku. Aku masih suami kamu, Nadia, dan aku masih berhak memberi semua ini sama kamu,” ucapnya lirih. Nadia mengangkat kepalanya memandang dengan tatapan tajamnya pada pria di depannya. “Suami? Sejak kapan kita menikah? Saya bahkan tidak ingat pernah bertemu bahkan menikah dengan Pak Fabio,” tekannya sekali lagi. Fabio tau jika Nadia pasti tidak akan mau mengakui hal itu karena sakit hati yang termata yang pernah dia torehkan dulu pada Nadia. Padahal waktu itu dia berjanji akan membuat Nadia bahagia dan tidak akan pernah membuatnya sedih dan sakit hati lagi. “Nadia, aku mohon, maafkan atas segala kesalahan aku dulu. Aku bisa menjelaskan semuanya dan kenapa dulu aku sampai pergi begitu saja meninggalkan kamu.” “Aku tidak tau maksud Anda, Pak. Maaf, saya masih ada pekerjaan lainnya.” Sekali lagi Nadia berjalan perlahan-lahan keluar dari ruangan bosnya itu. Nadia duduk di mejanya dan menghabiskan segelas air putih dengan cepat. Nadia mencoba mengatur napasnya, dia tidak mau lagi menangis gara-gara pria itu.  Nadia kembali menatap meja kerjanya yang masih ada pekerjaan yang belum dia kerjakan. Dia kembali memfokuskan diri melakukan pekerjaanya saja daripada memikirkan tentang kejadian tadi. Beberapa jam kemudian Nadia merasakan perutnya yang berbunyi karena lapar, tadi dia kan memang belum makan siang. Tangan wanita cantik itu memegangi perutnya yang berbunyi. “Lapar, lagi. Apa aku harus menghubungi Tina untuk membelikan aku makanan ringan?” Nadia berdialog sendiri. “Nad, kamu kenapa? Wajah kamu pucat begitu? Apa kamu sakit?” tanya Sarah yang melihat Nadia. “Aku tidak apa-apa, aku mau ke pantry sebentar untuk membuat teh hangat.” Nadia beranjak dari tempatnya dan dia berjalan perlahan-lahan. “Ya ampun! Belum selesai masalah sepatunya, sekarang dia sepertinya tidak enak badan.” Tatap Sarah sedih. Nadia berada di pantry dan dia mencari cangkir untuk membuat teh hangat. Tidak lama Office girl yang bernama Tina datang menghampiri Nadia di sana. Dia menawarkan agar Nadia duduk saja dan dia yang akan membuatkan teh hangat untuknya. “Maaf ya, Tina, aku jadi merepotkan kamu di jam segini?”  Nadia duduk di kursi makan yang ada di pantry. “Mba Nadia jangan sungkan begitu, ini sudah tugas saya.” Office girl yang usinya lebih mirip adik Nadia itu tersenyum manis dan meletakkan secangkir teh hangat di depan Nadia. “Tina, apa ada roti atau snack begitu? Jujur saja perutku lapar,” ucap Nadia lirih. “Mba Nadia belum makan siang?” Nadia menggeleng pelan. “Kenapa tidak ke kantin?” “Lihat saja sepatuku.” Nadia menunjukkan sepatunya. “Aku malas turun ke kantin, yang ada nanti lapar jalan ke kantin terus makan, aku naik ke atas sudah lapar lagi. Ini saja aku paksakan jalan ke sini karena perutku benar-benar tidak enak. “Kenapa tadi tidak memesan makanan sama saya? Saya kan bisa mengantarkan ke atas?” “Tadi juga mau menghubungi kamu, tapi Pak Fabio malah memanggilku ke ruangannya karena ada pekerjaan.” “Pak Fabio itu apa tidak tau jam makan siang? Kenapa malah menyuruh Mba Nadia melakukan pekerjaan, jujur saja saya takut dengan Pak Fabio.” “Takut kenapa?” “Dia terlihat menyeramkan, tidak bisa tersenyum dan wajahnya sedingin es batu, malah lebih dingin,” jelas Tina. Nadia yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam, dalam hati dia merasa Fabio tidak seperti itu, malah dulu dia sangat lembut dan sentuhannya begitu hangat. “Aduh! Kenapa aku malah mengingat dia seperti itu. Dasar Nadia bodoh!” umpat Nadia lirih. Tina melihat Nadia heran karena mulutnya koma-kamit sendiri. “Mba Nadia, Mba Kenapa?” tanya Tina yang akhirnya membuyarkan lamunan Nadia. “Em ... aku tidak apa-apa. Oh ya, Tina! Apa ada roti atau camilan?” “Kalau camilan atau roti kayaknya sudah habis, Mba. Bagaimana kalau saya belikan makanan di warung bawah saja. Mba Nadia tunggu di sini?” “Jangan Tina, nanti malah kelamaan, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku lama-lama.” Nadia beranjak dari tempatnya dan di merasakan lagi sepatunya yang benar-benar menjengkelkan. “Sayang di sini tidak ada lem untuk sepatu itu, kalau ada sudah saya lemkan hak sepatu Mba Nadia.” “Iya, aku salah memberi lem kemarin, jadinya begini. Nanti di rumah aku potong saja hak sepatu satunya, walaupun aku tidak terlalu suka memakai sepatu flat, tapi mau bagaimana lagi. Tina, terima kasih teh hangatnya.” Nadia berjalan keluar dari pantry dan menuju kembali ke lantai tempat kerjanya. Sarah melihat Nadia yang sudah duduk di kursi kerjanya dia mendekatkan kursinya ke arah Nadia. “Nad, kamu baik-baik saja, Kan?” “Aku baik-baik saja.” “Nad, tadi Pak Fabio mencari kamu, dia ingin melihat laporan yang kamu kerjakan waktu itu, tapi aku bilang kamu masih di pantry karena tadi kamu terlihat tidak enak badan.” “Lalu?” Kedua alis Nadia mengkerut penasaran. “Ya kamu temui Pak Fabio sekarang dan jangan lupa bawa laporannya. Kamu tidak mau terkena masalah, kan? Pak Fabio itu memang tidak punya expresi lainnya selain wajah datarnya itu, masak aku cerita tentang kamu yang tidak enak badan saja dia datar saja mukanya, kalau pak Danu dulu kan pasti bilang supaya karyawannya itu istirahat sebentar.” “Mungkin dia memang butuh laporan itu. Ya sudah, aku akan ke ruangannya dulu.” Nadia mencari map berwarna biru yang berisi laporan dan dia beranjak perlahan-lahan menuju ruangan Pak Fabio. Nadia berjalan setengah malas karena memang dia masih merasa tidak enak badan dari tadi.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN