Migy tak yakin apa yang menyebabkan Kalvi mendadak menatapnya penuh arti, atau kenapa dia mau menggantikan pekerjaan serbetnya barusan. Sentuhan pada bibirnya tadi hanya berlangsung sepersekian detik, tapi sudah cukup untuk membuat isi perutnya bergejolak.
Ketika Kalvi menjilat ibu jarinya, Migy hampir pingsan membayangkan cowok itu menjilatnya langsung. Kalvi biasanya mahir dalam melakukan itu bersama mantan-mantannya. Pikiran itu membuatnya mengerut pada tempat duduknya.
Kalvi tersenyum menggoda, kalau Migy tak salah tafsir, ia berpaling pada Apel yang dipegangnya, melahap dengan gigitan besar, seolah dia bukannya baru saja bersikap tidak senonoh. Atau bisa juga memang benar.
Mungkin Kalvi hanya berusaha ramah, mencoba membantu saat Migy menunjukkan sisi berantakan.
“Kau mau?” tanya Kalvi mengunyah buah Apel.
“Tidak, aku sudah cukup banyak makan.”
Dia tertawa. “Aku lupa kau mudah kenyang.”
Kilatan nakal di mata Kalvi membuat Migy meragukan maksudnya.
“Kau sedang menungguku kekenyangan. Dan merayuku untuk tertidur di sini, ya?”
“Jangan bodoh. Aku bisa merayumu tanpa perlu mencurangimu.”
“Jadi… akhirnya kau mengakui tujuanmu. Padahal aku sudah rela datang kesini untuk menyemangatimu.”
“Aku tadinya hanya berpikir jika kau akan mampir sebentar.” Kalvi tersenyum, menggigit Apel lagi, tampaknya sengaja mengabaikan komentarnya yang satu lagi tentang punya tujuan untuk menggodanya hari ini.
Kebersamaan mereka sekarang hanyalah keadaan yang sifatnya sementara. Begitu Migy mengambil es krim terakhirnya dalam kantong, dia menjilat lelehan coklatnya pada pegangan kayu.
Migy mendongak mendengar suara tarikan napas berat. Kalvi menatap tajam saat dia menghela napas panjang, hampir seperti erangan.
“Jangan begitu, Migy,” kata cowok itu. suaranya dalam tercekat.
“Bagaimana?” tanyanya balik, memiringkan kepalanya ke sebelah.
Dia tidak merasa melakukan hal yang salah saat mendadak dia tersadar.
“Maaf, aku menghabiskan semua es krim ini. Aku tahu kau tidak bisa makan yang dingin-dingin saat ini.”
“Bukan itu yang aku bicarakan. Makan saja es krimnya, tapi jangan jilati pegangannya seperti itu lagi.”
“Kau benar-benar tak sadar apa yang sedang kau lakukan padaku, ya?”
Migy mengangkat bahu, susah payah menahan cekikikan. Sikap Klavi yang panik dan terkesan frustasi, entah bagaimana terasa lucu buatnya.
Dia bisa menghitung menggunakan jarinya, kapan saja dia pernah melihat Kalvi kehilangan kendali dan sikap tenangnya itu. Hal itu sering terjadi jika dia telah bersama dengan pacar-pacarnya.
“Sepertinya aku tidak tahu,” sahut Migy, tidak bisa menahan dengus tawa dari bicaranya.
Dia senang bisa bersikap rileks di depan Kalvi lagi. Baru sekarang dia sadar betapa besarnya ketegangan yang dirasakannya setiap kali berdekatan dengan pria itu.
“Sial,” Kalvi mengeluh pelan namun dapat didengarnya. “Sekarang dia tertawa terus bagus.”
“Ada yang salah?” tanyanya.
“Kau sok polos. Itu masalahnya.” Kalvi memberi isyarat dengan menutup matanya.
“Aku tidak sepolos yang kau katakan,” tegas Migy, lalu memukul lengan Kalvi.
Sejenak Migy merasakan otot lengan Kalvi yang keras. Ia tidak sadar telah menyusuri lekukan ototnya di sepanjang lengan, turun hingga sikunya, lalu naik kembali, dan berhenti sebentar menekannya. Kalvi sering berolahraga.
“Bagaimana kau bisa punya waktu untuk ini?”
“Punya waktu untuk apa?” tanya Kalvi, meluncur turun dari ranjangnya, dan menarik Migy untuk berdiri juga.
“Berolahraga. Membentuk semua otot ini.”
“Jangan lihat aku seperti itu.” Kalvi mengedarkan pandangannya pada langit-langit kamar, dan menghela napas keras.
“Seperti apa?” tanya Migy, sepenuhnya bingung.
“Sepertinya kau membayangkan kita bersama-sama.” Suara Kalvi tajam.
Migy tertawa, dan pipinya terasa panas. Dia tidak bermaksud untuk menatap Kalvi seperti itu.
“Kita memang bersama-sama…. Di dalam ruang ini.”
“Bukan itu maksudku, kau tahu itu,” kata Kalvi.
Tatapan mereka bertemu. Api berkobar di matanya. Tapi bukan atas kemarahan atau kekesalan. Melainkan nafsu yang menyala-nyala pada diri Kalvi. Ini adalah hal yang sudah biasa baginya. Namun, semenjak bersama Migy, ia telah mencoba berhenti untuk seperti itu.
Migy menggigit bibirnya.
“Gigit bibirmu seperti itu terus, dan akan kugigit untukmu,” Kalvi mempersempit jarak di antara mereka, intensitas tatapannya tak berangsur melonggar.
Tangan Kalvi tidak menyentuhnya, tapi pandangannya membuat Migy merasa seperti disentuh beribu tempat secara bersamaan.
Melihat nyala itu di matanya memicu lahirnya sesuatu yang liar, yang terkubur dalam diri Migy. Migy tak sadar jika dia telah berubah semenjak bersama dengan Kalvi.
Migy menjilat kedua bibirnya, lalu meletakkan yang bawah di antara deretan giginya, menggigit perlahan. Semua yang dilakukannya tanpa mengalihkan pandangan dari Kalvi.
Cowok itu membungkuk, menahan pundaknya dengan satu tangan.
“Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membuat pertahananku menipis.”
Kalvi menjentikkan jari ke dagu Migy dengan tangannya yang bebas. “Aku sudah berjanji membuat kesepakatan untuk tidak bertindak di luar batas denganmu. Kau memintaku untuk tidak m***m, dan sekarang kau sengaja menggodaku. Itu sungguh tidak terpuji.”
Bibir Kalvi sangat dekat dengan bibirnya, tapi berhenti sebelum menciumnya. Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Itu adalah bibi Ina mengabarkan jika makanan sudah dihidangkan di meja makan.
Tepat ketika pintu ditutup, Migy melesat keluar untuk menyusulnya dan berjalan di sebelah bibi Ina. Dalam pandangan terakhir, ia melihat Kalvi murung dan frustasi.
Di meja makan, wajah murung Kalvi terlihat jelas dari hadapan Migy. Ia sama sekali tidak melihat Migy dan mengambil satu suapan nasi ke mulutnya.
Tetapi, setelah itu ia meletakkan kembali sendoknya.
“Aku sudah kenyang. Selamat makan,” Kalvi kembali meninggalkan meja makan.
Migy menjadi tidak enak hati lantaran karena kejadian di dalam kamar. Ia juga berpikir jika telah mempermainkan Kalvi. Setelah berpikir sejenak, Migy bergerak menuju kamar Kalvi untuk meminta maaf sekalian pamit pulang.
Di kamar, Kalvi terlihat kesal. Namun, kedatangan Migy mengalihkan perhatiannya.
“Kalvi. Maaf ya, aku tidak berniat mempermainkan kamu tadi.” Migy berjalan mendekati Kalvi.
“Tidak masalah. Aku tahu kalau kau tidak sengaja.”
“Oh iya, aku mau sekalian izin pamit pulang ya? Ini sudah sore,” kata Migy mencoba tersenyum.
“Kamu mau pulang sekarang?”
Migy mengangguk. “Hmmm.”
“Ya sudah. Aku tidak bisa mengantar balik ya. Kamu balik pakai apa?” tanya Kalvi.
“Tadi aku ke sini pakai motor. Ya udah, aku pamit. Sampai jumpa,” Migy keluar kamar Kalvi.
Setibanya di rumah, Migy memasuki kamarnya, menutup pintu. Sambil duduk di tepian ranjang, dia menghabiskan air dalam botolnya, dan mengambil napas panjang sampai dia merasa kabut di kepalanya sudah memudar.
Migy harus berhenti memikirkan keadaan-keadaan yang terjadi di rumah Kalvi dan fokus kembali pada pikiran jernihnya. Jika selalu dihadapkan pada si cowok m***m itu, jelas saja pikirannya sering terkontaminasi oleh pikiran-pikiran aneh yang membuat jantung berdebar.