Sepulang dari sekolah Migy terus pulang ke rumah dahulu. Setelah itu ia berganti pakaian dan meminta izin kepada nenek untuk menjenguk teman yang sedang sakit.
Setelah mendapat izin, Migy melajukan motor kesayangannya ke sebuah tempat penjual es krim. Kebetulan cuaca saat itu sedang panas dan gerah, jadi ia menginginkan yang segar-segar di tenggorokannya.
Memikirkan Kalvi yang sedang sakit, saat menatap ke sekeliling tempat penjual es krim, ia melihat ada pedagang yang berjualan cincau. Migy melangkah mendekati tempat penjual cincau dan memesannya satu gelas untuk dibawa ke rumah Kalvi.
Ia berharap Kalvi menyukai cincau yang dibelinya. Menurutnya, cincau adalah minuman yang paling tepat di saat panas dalam.
Tiba di rumah Kalvi, Migy langsung disambut baik oleh bibi Ina yang sedang menyapu halaman di depan rumah.
“Migy, sudah datang ya?” kata bibi Ina menyapa.
Migy tersenyum. “Iya bi. Migy mau melihat Kalvi.”
“Ya sudah. Masuk saja, Migy. Di dalam Kalvi sedang beristirahat. Kebetulan dia baru saja minum obat,” kata bibi Ina ramah.
Saat masuk ke rumah Kalvi, ia merapikan rambutnya dan membenarkan letak tas samping yang dipakainya. Entah mengapa saat ini Migy masih grogi jika berhadapan dengan Kalvi.
Apakah mungkin mereka baru berpacaran? Atau bisa jadi karena Kalvi adalah cowok pertama yang membuatnya berdebar.
Dengan keberanian yang kuat, Migy mengetuk pintu kamar Kalvi. Ia tidak ingin membuat Kalvi terganggu karena waktu istirahatnya.
“Masuk saja.” Kalvi memberi perintah dari dalam.
Migy menarik ganggang pintu. “Hai,” sapa Migy canggung.
“Kamu udah pulang sekolah?” tanya Kalvi yang bergerak untuk duduk dari berbaringnya.
“Sudah. Tadi aku pulang dulu ke rumah,” kata Migy berjalan mendekati tempat Kalvi.
Kalvi bisa melihat jika Migy tampak masih malu-malu di dekatnya. Dan ia juga melihat ada yang dibawa Migy dari balik tubuhnya.
Migy yang melihat kemana arah tatapan Kalvi, mulai mengeluarkan belajaannya. Di dalam kantong makanan itu Migy membawa buah-buahan, es krim, dan cincau tawar untuk Kalvi. Tetapi, es krim hanya khusus untuknya saja, karena Kalvi tidak bisa makan-makanan dingin saat ini.
“Oh, iya. Aku tadi membelikan buah-buahan dan juga ada es cincau. Siapa tahu kamu suka,” kata Migy tersenyum sambil mengeluarkan satu per satu barang belanjaannya.
“Terima kasih, Migy. Kamu nggak perlu repot, aku sudah makan siang barusan.”
“Ini hanya buah. Kamu coba makan cincau ini, ya? Aku rasa ini pas buat kamu yang lagi panas dalam,” kata Migy membukakan gelas cincau yang dibelinya.
Kalvi menerima cincau pemberian Migy dengan senang. Satu suapan di mulutnya membuat ia ketagihan untuk menghabiskan. Rasanya sangat tawar di mulut. Dan kebetulan ia menginginkan yang tawar-tawar setelah rasa mulutnya kurang nyaman akibat panas.
“Enak, aku suka. Kamu tau aja kesukaan orang yang lagi demam.” Kalvi menatap Migy yang sedang memakan es krim miliknya.
Migy menyesap es krim berperisa stroberinya begitu datang dan mendesah senang. Kalvi mengakui, kelihatannya memang enak dan menyegarkan. Dia ingat pernah merasakan stroberi dua kali di saat mencium bibir Migy, dan mengintip bibirnya begitu Migy meneguk lagi. Mungkin es krimnya sudah meleleh saat di perjalanan ke rumah Kalvi.
Sepasang bibir merah muda dan membengkak, dan masih berkilauan karena lip gloss yang dipakainya. Lidahnya bergerak cepat, menjilat sisa-sisa tetes es krim di bibirnya. Dorongan hasrat menyerang Kalvi.
Hanya dalam beberapa minggu saja, reaksi tubuhnya menyangkut Migy sudah membuat Kalvi kesal. Bagaimana jadinya setelah beberapa bulan?
Migy menyodorkan gelas es krimnya kepada Kalvi. “Mau coba? Kau memperhatikannya seperti orang yang hampir mati kehausan. Kurasa menyukai es krim yang feminin tidak masalah.”
Tapi yang disukai oleh Kalvi bukanlah es krim feminin itu. Kalvi menyukai wanita yang memegangnya.
Sialan.
Migy bahkan bukan sedang merayunya atau bersikap seolah dia menginginkan Kalvi. Hari ini pakaian sederhananya. Celana hitam dan blus berwarna merah muda. Sampai rambutnya saja digelung di atas lehernya.
Namun tetap saja, Kalvi tak bisa berhenti memperhatikannya, seolah saat ini tak ada benang sehelai pun di atas tubuhnya, dan dia sedang merayu Kalvi mati-matian. Entah apa yang diperbuatnya kepada cowok itu. Kenapa belakangan ini Kalvi sangat tertarik padanya?
Fakta bahwa mereka baru berpacaran yang melambangkan saling memiliki harusnya cukup untuk Kalvi menggunakannya. Tapi saat ini dia malah setengah mati melawan hasrat setiap kali cewek itu tersenyum padanya.
“Aku tak akan berpikiran buruk tentangmu kalau kau mengaku suka rasanya.” Migy tertawa, menaruh gelasnya di meja dekat Kalvi.
Terpikirkan oleh Kalvi beberapa hal buruk yang bisa dilakukannya kepada Migy saat ini. Namun dia buru-buru mengalihkannya dengan menghabiskan cincau di gelasnya. Terasa begitu menyegarkan dan menenangkan perut Kalvi, menenangkan ketegangan yang dari tadi semakin menumpuk.
Seharusnya makan dan minum membuat seseorang tenang, tapi entah bagaimana efeknya jadi berseberangan. Hanya ada satu alasan yang mungkin. Migy.
Kalvi mendengus.
“Kau baik-baik saja?” tanya Migy, memutar badan untuk berhadapan dengan Kalvi.
Tangannya menjamah pundak Kalvi, jari-jarinya memijat otot yang lumayan keras.
“Kau kelihatan tegang.”
“Aku baik-baik saja.” Kalvi menahan dorongan untuk menepis tangannya.
Bukannya karena dia tidak ingin disentuh oleh Migy, melainkan justru karena dia begitu menginginkannya. Sentuhan Migy di setiap bagian tubuhnya. Dia ingin cewek itu membebaskan kancingnya satu demi satu.
Dia ingin cewek itu meletakkan tangan di dadanya, di pahanya…. Pada barangangnya yang berharga, yang telah membesar seiring elusan pada pundaknya.
Ini sangat tak baik. Tak baik bagi hasrat yang makin meluap dalam perutnya, serta bagi janjinya untuk tidak merusak perempuan yang dicintainya.
Janji yang konyol.
Seharusnya dia tidak membuat janji yang tak yakin bisa ditepatinya, tapi waktu itu, berjanji adalah satu-satunya cara yang paling efektif untuk meninggalkan semua mantannya dan hanya menjalani hubungan normal bersama Migy.
“Mungkin cincau itu kurang membuatmu berselera. Ayo aku kupaskan buah.” Migy mengambil satu buah jeruk dalam kantong belanjaan.
Kalvi mulai bersikap santai agar dia bisa berpikir jernih. Kalau tidak, Migy akan merasa tidak nyaman dengannya.
“Sepertinya aku lebih lelah daripada yang kukira.”
“Tentu saja. Kau baru saja sakit. Jadi memang tubuhmu memerlukan istirahat yang cukup.”
Migy memberikan satu potong jeruk kepada Kalvi. Lalu memakannya satu potong.
“Hari ini sebenarnya sangat menyenangkan. Banyak sekali yang bisa aku kerjakan.” Migy dengan senang hati mengupaskan jeruk untuk Kalvi.
Kalvi tersenyum melihat semangat yang ditunjukkan Migy. Rasanya oke juga menerima perhatian dan sukacita dari perempuan yang dicintainya itu.
“Kau luar biasa hari ini. Aku senang melihatmu begitu bersemangat.” Kalvi memandang Migy dengan lembut.
“Terima kasih.” Migy tampak berbinar.
“Kau juga harus bersemangat. Jadi, kau bisa cepat sehat dan kita bisa kembali ke sekolah bersama lagi.”
Selagi Kalvi memperhatikan, Migy yang memakan jeruk yang menyebabkan bibirnya basah terkena cipratan jeruk yang digigitnya. Sebelum Migy meraih tisu, Kalvi lebih dulu menyapukan ibu jarinya pada bibir Migy, dan menjilat sisanya dari jarinya.
Migy mematung, membelalak, mulutnya ternganga, lidahnya tersembunyi dari pandangan Kalvi.