Bab 2. Rumah Tanpa Suara

1099 Kata
Rumah itu tidak berkabung. Ia tetap berdiri dengan lampu menyala normal, jam dinding berdetak patuh, dan pintu terbuka sebagaimana mestinya—seolah tidak tahu bahwa pemilik suaranya telah pergi. Maya berdiri di ambang pintu, membawa pulang diri yang tidak utuh. Bau rumah itu menyambutnya lebih dulu: kopi sisa semalam, kayu lembap, dan aroma samar parfum Aidan yang masih menggantung di udara. Bau itu menghantam dadanya lebih keras daripada hujan di malam kecelakaan. Maya memutar kunci perlahan, menutup pintu, lalu bersandar di sana. Dingin lantai merambat ke telapak kakinya, seperti peringatan bahwa ia sendirian sekarang. Ia menunggu. Menunggu langkah Aidan dari kamar. Menunggu suara sendal diseret. Menunggu pertanyaan sepele yang selalu sama—Kamu capek? Tidak ada. Jam dinding berdetak. Satu-satunya suara yang berani hidup. Maya melangkah masuk, pelan, seolah rumah ini makhluk rapuh yang bisa pecah jika disentuh terlalu keras. Ruang tamu rapi—terlalu rapi. Bantal sofa masih di posisi terakhir Aidan tinggalkan. Selimut abu-abu terlipat setengah, seperti kalimat yang berhenti di tengah. Ia duduk di sofa itu, memeluk lutut. Dadanya terasa kosong, tapi berat. Aneh bagaimana kehilangan bisa menjadi dua hal yang saling bertolak belakang. Di meja, ponsel Aidan tergeletak. Layar hitam. Maya menatapnya lama sebelum meraih dengan tangan gemetar. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan baru. Dunia terus berjalan tanpa menunggu kejatuhannya. Ia menekan ikon galeri. Wajah Aidan memenuhi layar—tertawa, cemberut, pura-pura marah. Foto terakhir diambil dua hari sebelum kecelakaan. Aidan berdiri di dapur, memegang spatula seperti mikrofon, mulutnya terbuka seolah bernyanyi. Maya menutup layar cepat-cepat. Napasnya patah. “Kenapa kamu nggak ada?” bisiknya. Suara itu terdengar asing, seperti milik orang lain. Ia bangkit dan berjalan ke kamar. Tempat tidur masih berantakan—sisi Aidan cekung, seolah tubuhnya baru saja bangun dan akan kembali. Maya duduk di sana, menyentuh seprai, berharap ada sisa hangat yang tertinggal. Tidak ada. Ia rebah perlahan, memeluk bantal Aidan. Bau parfum bercampur sabun menyusup ke hidungnya, menyalakan ingatan yang tidak mau padam. Maya menutup mata, menahan sesuatu yang mendesak dari d**a. Sunyi tidak datang sekaligus. Ia merayap, licik, mengisi celah-celah yang dulu ditempati suara Aidan. Sunyi mengendap di lemari, di sudut meja, di balik pintu kamar mandi. Sunyi belajar bentuk rumah ini dengan cepat. Maya tidak menangis. Tangis terasa seperti pengkhianatan terhadap kehancuran yang lebih besar—seolah jika ia menangis, semuanya akan benar-benar berakhir. Hari pemakaman datang dan pergi seperti adegan yang ditonton tanpa benar-benar hadir. Orang-orang berbaris, mengucap belasungkawa, menyebut nama Aidan dengan nada hormat yang terasa jauh. Maya mengangguk, tersenyum tipis, mengucapkan terima kasih. Ia melihat bibirnya bergerak, tapi tidak mendengar suaranya sendiri. Ia merasa seperti menonton tubuhnya melakukan semua itu. Setelah semuanya selesai, rumah kembali sunyi. Dan sunyi itu tidak pergi. Hari-hari berikutnya, Maya berjalan tanpa tujuan dari satu ruangan ke ruangan lain. Ia memindahkan barang-barang Aidan tanpa benar-benar memindahkannya—meluruskan jaket di lemari, menyusun ulang buku di rak, mengelap meja yang sudah bersih. Seolah dengan begitu, waktu bisa dipaksa berhenti di titik sebelum kecelakaan. Ia menunda satu hal: membuka laci paling bawah di meja kerja Aidan. Laci itu terasa seperti pintu ke dunia yang sudah ditutup rapat. Suatu sore, ketika cahaya matahari jatuh miring ke lantai, Maya berlutut dan menarik laci itu perlahan. Bunyi kayu bergesek terdengar terlalu keras. Di dalamnya: jam tangan Aidan, dompetnya, dan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Jantung Maya berdegup aneh saat ia membuka kotak itu. Cincin. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Ia mengenali cincin itu—mereka memilihnya bersama, tertawa di etalase, Aidan bilang ingin “waktu yang tepat”. Maya pura-pura kesal, menuduhnya penunda ulung. Kini cincin itu dingin di telapak tangannya. Beratnya terasa seperti seluruh masa depan yang tidak pernah terjadi. “Aidan…” Suaranya pecah untuk pertama kalinya sejak malam itu. Tangis datang tanpa izin. Tubuh Maya melipat ke depan, pundaknya terguncang. Tangisnya tidak keras—lebih seperti kebocoran yang tak terbendung. Ia memeluk kotak cincin itu, seolah memeluk Aidan sendiri. Malam turun. Lampu-lampu rumah menyala otomatis. Maya tidak menyalakan televisi. Tidak membuka jendela. Ia duduk di lantai ruang tamu, dikelilingi benda-benda Aidan, seperti penjaga makam yang lupa cara pulang. Ketukan pintu membuatnya tersentak. Maya bangkit, menyeka wajah. Di luar berdiri seorang pria paruh baya berjas rapi—dokter dari rumah sakit. Wajahnya menyimpan kehati-hatian. “Apa ada yang bisa kami bantu?” tanya Maya datar. Dokter itu ragu sejenak. “Saya perlu membicarakan sesuatu. Tentang almarhum Aidan.” Kata almarhum menancap seperti pisau. Mereka duduk berhadapan. Dokter mengeluarkan map tipis. “Aidan terdaftar sebagai donor organ.” Maya mengangguk. Ia ingat formulir itu. Ia ingat menandatanganinya dengan tangan yang tidak gemetar. Aneh, betapa tenangnya ia kala itu. “Apakah Anda yakin dengan keputusan ini?” tanya dokter. Maya menatap lantai. “Dia pasti mau.” Dokter menghela napas lega. “Terima kasih. Keputusan Anda akan menyelamatkan beberapa nyawa.” Beberapa nyawa. Maya mengantar dokter itu ke pintu. Ketika pintu tertutup, rumah kembali sunyi—lebih sunyi dari sebelumnya, seolah ada sesuatu yang baru saja diputuskan tanpa meminta izinnya. Malam itu, Maya tidur di sisi tempat tidur Aidan. Ia tidak berganti pakaian. Tidak mematikan lampu. Ia menatap langit-langit, menghitung retakan kecil yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Setiap detik terasa seperti pengkhianatan—karena waktu terus berjalan, sementara Aidan berhenti. Ia terbangun karena mimpi. Dalam mimpi itu, Aidan berdiri di lorong rumah. Wajahnya pucat, tapi matanya hangat. Ia tersenyum seperti biasa, seolah tidak pernah pergi. “Kenapa kamu lama?” tanyanya. Maya ingin berlari, tapi kakinya berat. “Kamu ke mana?” Aidan menepuk dadanya. “Aku di sini.” Maya terbangun dengan napas terengah. Telapak tangannya menekan dadanya sendiri. Jantungnya berdegup keras, seperti mencoba meniru detak yang bukan miliknya. Ia bangkit, berjalan ke dapur, menuang air. Tangannya gemetar. Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Maya berdiri di tengah dapur, memandang kursi kosong di seberang meja. Ia bisa membayangkan Aidan duduk di sana, menyesap kopi, mengomentari cuaca dengan nada sok bijak. “Kalau kamu benar-benar pergi,” bisiknya ke udara, “kenapa rasanya kamu masih di sini?” Jawaban tidak datang. Tapi perasaan itu—kehadiran samar—tidak pergi. Keesokan harinya, Maya mendapati dirinya memegang ponsel Aidan lagi. Ia membuka pesan terakhir yang dikirim Aidan, sehari sebelum kecelakaan. Aku pulang telat. Jangan nunggu. Aku sayang kamu. Maya menutup ponsel itu perlahan. Ia tidak tahu bahwa di tempat lain, jauh dari rumah ini, sebuah jantung yang pernah berhenti kini berdetak di d**a orang asing—dan setiap detaknya membawa sesuatu yang bukan miliknya. Di rumah tanpa suara itu, Maya belum tahu: sunyi ini bukan akhir. Ia hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih rumit, dan—tanpa ia sadari—sudah mulai mendekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN