Bab 3. Tiga Tahun yang Tak Pernah Pergi

1039 Kata
Waktu tidak menyembuhkan apa pun—ia hanya mengajarkan Maya cara bernapas tanpa suara. Tiga tahun berlalu sejak malam hujan itu, dan dunia menganggap Maya sudah kembali normal. Ia bekerja tepat waktu, menyelesaikan tugas tanpa cela, menjawab sapaan dengan senyum tipis yang tidak pernah terlalu lama. Ia menghadiri undangan keluarga, duduk manis di antara kerabat, tertawa di waktu yang tepat, lalu pulang tanpa membuat siapa pun khawatir. Orang-orang menyebutnya kuat. Maya tahu, kata itu hanyalah nama lain dari mati perlahan. Setiap pagi, Maya selalu terbangun sebelum alarm berbunyi. Bukan karena disiplin—melainkan karena jantungnya selalu lebih dulu sadar, berdetak cepat seolah mengingatkan sesuatu yang belum selesai. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai, menunggu rasa sesak di dadanya mereda. Kadang butuh satu menit. Kadang sepuluh. Kadang tidak pernah benar-benar pergi. Ia tidak lagi tidur di sisi kiri ranjang. Tempat itu tetap kosong, rapi, tak tersentuh, seperti area terlarang. Spreinya selalu licin, bantalnya tidak pernah berubah posisi. Maya memperlakukan ruang kosong itu seperti makam kecil yang tak kasatmata—tidak diziarahi, tapi juga tidak boleh dilupakan. Ia hidup dengan aturan-aturan kecil yang ia ciptakan sendiri. Jangan menyentuh jaket hitam di lemari. Jangan membuka laci paling bawah. Jangan memutar lagu yang dulu sering mereka dengar bersama. Dan yang paling penting: jangan jatuh cinta. Di kantor, Maya dikenal pendiam dan efisien. Ia bekerja dengan ketelitian nyaris dingin, menyelesaikan laporan tanpa kesalahan, menghindari percakapan yang tidak perlu. Rekan-rekannya mengagumi fokusnya. Mereka tidak tahu, fokus itu adalah caranya bertahan—cara agar pikirannya tidak kembali ke satu malam yang menghancurkan segalanya. “Kamu belum pernah pacaran lagi?” tanya seorang rekan suatu siang, sambil mengaduk kopi. Maya mengangkat wajah, tersenyum kecil. “Belum kepikiran.” Jawaban itu aman. Tidak memancing pertanyaan lanjutan. Tidak membuka pintu ke ruang yang selalu ia kunci rapat. Padahal kenyataannya sederhana dan kejam: setiap kali seseorang mendekat, tubuh Maya menolak. Sentuhan ringan di lengan membuatnya menegang. Tatapan terlalu lama membuat dadanya mengeras. Bukan karena ia membenci kedekatan—melainkan karena ia tahu, kehilangan yang kedua bisa membunuhnya sepenuhnya. Ia tidak takut mencintai. Ia takut bertahan hidup setelahnya. Malam-malam Maya berlalu dengan rutinitas yang sama. Pulang kerja, mandi dengan air hangat yang terlalu lama, makan seadanya tanpa benar-benar merasakan rasa, lalu duduk di sofa dengan lampu redup. Televisi menyala tanpa suara. Ponselnya jarang bergetar. Dunia Maya mengecil menjadi jarak antara dapur dan kamar tidur. Kadang ia berbicara sendiri. Bukan karena gila—melainkan karena sunyi terlalu berat jika ditanggung sendirian. “Aku capek hari ini,” katanya suatu malam, menatap kursi kosong di seberang meja makan. “Kamu pasti bilang aku harus istirahat.” Tidak ada jawaban. Namun Maya tetap mengangguk kecil, seolah suara itu masih hidup di suatu sudut kepalanya. Trauma tidak selalu datang sebagai ledakan. Kadang ia hadir sebagai kebiasaan-kebiasaan kecil yang nyaris tidak disadari. Seperti cara Maya selalu memperlambat langkah saat hujan turun. Atau caranya refleks menoleh ke kanan setiap kali mendengar klakson keras, jantungnya melonjak sebelum ia sempat berpikir. Dan mimpi. Mimpi datang tanpa pola, tanpa izin. Kadang Aidan hadir utuh—tersenyum, memanggil namanya dengan suara yang lembut. Kadang hanya potongan: tangan yang menggenggam terlalu erat, mata yang menatap penuh kecemasan, d**a yang berlumur darah. Maya selalu terbangun dengan napas terengah. Tangannya refleks menekan dadanya sendiri, memastikan jantungnya masih berdetak. Setiap kali itu terjadi, ada rasa bersalah yang menyelinap—seolah hidup adalah pengkhianatan kecil yang terus ia lakukan. Suatu malam, setelah mimpi yang terasa terlalu nyata, Maya berdiri di depan cermin kamar mandi. Lampu putih menyorot wajahnya yang kini lebih dewasa, tapi matanya sama—mata seseorang yang tertinggal di masa lalu. “Kamu masih hidup,” bisiknya pada bayangannya. “Kenapa rasanya salah?” Ia mengira sudah belajar berdamai. Ia mengira tiga tahun cukup untuk menumpulkan luka. Ternyata waktu tidak menghapus luka itu. Ia hanya mengubah bentuk rasa sakit. Sore itu, di tahun ketiga yang seharusnya tenang, Maya berhenti di sebuah kafe kecil sepulang kerja. Tempat itu tidak istimewa—hanya persinggahan acak di sudut jalan yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Ia memesan kopi hitam, duduk di dekat jendela, dan menatap lalu lintas yang bergerak lambat di bawah langit mendung. Saat itulah jantungnya berdebar tidak wajar. Bukan karena kenangan. Bukan karena mimpi. Bukan karena bayangan masa lalu. Melainkan karena perasaan asing yang menyusup tanpa izin—perasaan bahwa sesuatu akan terjadi. Bukan sesuatu yang baik atau buruk. Hanya… sesuatu yang akan mengganggu keseimbangan rapuh yang ia bangun selama tiga tahun. Maya mengangkat cangkirnya, meneguk kopi yang terasa lebih pahit dari biasanya. Ia mencoba menenangkan diri, menyalahkan kelelahan, menyalahkan pikirannya sendiri. Ia hampir berhasil. Sampai kursi di depannya bergeser. Suara gesekan kayu itu kecil—sepele—namun cukup untuk membuat d**a Maya mengencang. Ia tidak mendongak. Tidak segera. Ada naluri aneh yang menahannya, seperti tubuhnya tahu sesuatu yang belum berani diterima pikirannya. Malam itu, Maya bermimpi lagi. Mimpi yang hamper irip dan berulang. Ia berdiri di lorong rumahnya sendiri. Lampu redup, udara dingin. Dinding-dinding terasa lebih sempit dari seharusnya. Di ujung lorong, Aidan berdiri membelakangi, tubuhnya kaku, bahunya sedikit turun. “Kamu lama,” katanya tanpa menoleh. Maya melangkah mendekat. Setiap langkah terasa berat, seperti berjalan melawan arus. “Kamu ke mana?” tanyanya, suara bergetar. Aidan menoleh. Dan wajah itu berubah. Wajah itu berubah menjadi sosok lain. Bukan Aidan. Maya menatap lagi. Betul dia bukan Aidan. Akan tetapi dia merasa akrab dan dekat. Tapi juga bukan orang asing. Ya, bukan orang asing, tetapi orang yang sangat dekat, dan akrab, bahkan sampai menyentuh relung hatinya. Wajahnya kabur, tak sepenuhnya jelas—namun rasa yang ditinggalkannya terlalu familiar. Jantung Maya berdegup keras, seperti mengenali sesuatu yang seharusnya tidak ada. Ada tarikan di dadanya, aneh dan menyakitkan, seperti kenangan yang mencoba hidup kembali dalam tubuh yang salah. Maya terbangun dengan jeritan tertahan. Napasnya tersengal. Telapak tangannya basah oleh keringat. Ia duduk lama di tepi ranjang, menatap kegelapan, memahami satu hal yang membuat tengkuknya dingin: Perasaan yang ia kubur selama tiga tahun kini bangkit—bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai sesuatu yang hidup. Trauma Maya tidak mencair. Ia berubah bentuk. Maya menangis tergugu. “Mengapa aku harus mengalami ujian seperti ini?” , tanyanya terisak dalam hati. Dan tanpa ia sadari, takdir—atau sesuatu yang jauh lebih gelap—baru saja mengetuk pintunya kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN