Bab 4. Tatapan di Kafe

1167 Kata
Tubuh Maya bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat berbohong. Detik itu—saat kursi di depannya bergeser pelan dan bayangan seseorang jatuh ke meja—dadanya mengencang, seperti ada tangan tak terlihat yang memutar kunci dari dalam. Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk sebuah kebetulan. Terlalu keras untuk sebuah pertemuan biasa. Detaknya tidak beraturan, seperti berusaha menyebut sebuah nama yang tidak ingin ia dengar. “Maaf,” kata suara itu. “Aku salah tempat.” Maya mendongak. Dan dunia yang ia jaga tetap beku selama tiga tahun runtuh tanpa peringatan. Pria itu berdiri canggung, satu tangan memegang sandaran kursi. Rambutnya hitam, sedikit berantakan oleh angin. Wajahnya bukan wajah yang ia kenal—tidak mungkin—namun ada sesuatu pada tatapannya yang membuat udara di paru-paru Maya seolah tersedot habis. Cara matanya menyapu ruangan sebelum kembali padanya. Cara alisnya sedikit mengernyit ketika ragu. Cara bahunya menegang, seperti seseorang yang baru saja memasuki ruangan yang pernah ia tinggali dalam mimpi. Logika Maya berteriak: bukan. Tubuhnya membalas: terlalu familiar. “Aku… maaf,” kata pria itu lagi, suaranya lebih pelan, seperti takut salah langkah. Seolah ekspresi Maya adalah sesuatu yang berbahaya jika disentuh terlalu kasar. Maya berusaha menelan ludah. Tenggorokannya kering. “Nggak apa-apa.” Kalimat itu sederhana. Namun ketika keluar dari bibirnya, suaranya terdengar jauh—seakan ia berbicara dari dasar air. Pria itu tidak langsung pergi. Ia berdiri terlalu lama. Menatap Maya sesaat lebih lama dari yang sopan. Lalu ekspresinya berubah—seperti seseorang yang baru menyadari dirinya berdiri di tepi jurang tanpa tahu bagaimana bisa sampai di sana. “Nama kamu… Maya?” tanyanya ragu, hampir berbisik. Cangkir kopi di tangan Maya bergetar. Sedikit. Cukup untuk menumpahkan setetes kopi ke piring kecil. Suara cairan itu terdengar terlalu nyaring di telinganya. “Dari mana kamu tahu nama saya?” tanyanya cepat. Terlalu cepat. Nada suaranya memotong udara. Pria itu tampak terkejut oleh dirinya sendiri. Matanya membesar sesaat. “Aku—aku nggak tahu,” katanya tergesa, seperti seseorang yang baru saja dituduh melakukan sesuatu yang tidak ia ingat. “Serius. Aku cuma… kepikiran.” Kepikiran. Kata itu mengendap di antara mereka seperti asap. Tipis, tapi membuat mata perih. Maya ingin berdiri. Pergi. Menghapus momen ini sebelum berubah menjadi luka baru yang tidak ia minta. Namun kakinya terasa berat, seolah lantai kafe menahannya dengan ingatan yang tak kasatmata. “Aku Rian,” katanya akhirnya, seperti memperkenalkan diri pada dirinya sendiri. Nama itu jatuh biasa. Tidak bergaung. Tidak memukul kenangan mana pun. Dan justru itulah yang membuat Maya merasa tidak aman. “Maya,” balasnya pelan. “Aku… lagi nunggu teman.” Kebohongan kecil. Aman. Maya tidak ingin pertemuan ini berkembang. Ia tidak ingin tubuhnya terus mengkhianatinya. “Oh,” kata Rian. “Kalau gitu aku—” “Duduk saja,” ucap Maya tiba-tiba. Kata-kata itu meluncur tanpa izin. Seperti refleks yang berasal dari bagian dirinya yang tidak lagi ia kenal. Rian tampak ragu. Detik yang singkat, lalu ia menarik kursi dan duduk. Senyum kecil muncul di wajahnya—bukan senyum penuh percaya diri, melainkan senyum yang sedang belajar ada. Senyum yang membuat d**a Maya kembali berdenyut. Mereka duduk berhadapan. Hening menumpuk, tebal dan berat. Suara mesin kopi, denting sendok, dan percakapan orang lain terasa terlalu keras. Seolah dunia berusaha mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian—padahal meja itu terasa seperti ruang terisolasi. “Kamu sering ke sini?” tanya Rian akhirnya. “Kadang,” jawab Maya. “Kopinya pahit.” Rian tertawa pelan. Suara itu rendah, hangat, dan—entah kenapa—terlalu tepat. “Iya. Tapi jujur.” Maya tersenyum tipis. Ia menyadari sesuatu yang membuatnya gugup: berbincang dengan Rian terasa terlalu mudah. Tidak ada usaha. Tidak ada jeda canggung yang panjang. Seolah percakapan ini pernah terjadi—di tempat lain, di waktu lain. “Aku jarang bisa ngobrol lama sama orang baru,” kata Rian sambil mengaduk kopinya. Gerakan itu membuat jantung Maya mencelos. Putaran sendoknya—arahnya—terlalu dikenalnya. “Aku juga,” jawab Maya, jujur, sebelum sempat menahan diri. Tatapan mereka bertaut. Ada sesuatu di sana. Bukan ketertarikan yang berisik. Bukan percikan yang riuh. Melainkan tarikan halus yang mencekik, seperti benang tipis yang ditarik perlahan tapi pasti. Maya merasakan panas menjalar dari pergelangan tangannya ke lengan, lalu ke d**a. Tubuhnya mengingat sesuatu yang pikirannya tolak. “Ini aneh,” gumam Rian. “Aku merasa… pernah ketemu kamu.” Maya menahan napas. Detik itu terasa panjang. “Kita belum.” “Aku tahu,” katanya cepat. “Maksudku—rasanya saja.” Rasanya. Kata itu terlalu akurat. Terlalu jujur. Maya ingin bertanya banyak hal. Tentang siapa Rian. Tentang masa lalunya. Tentang mengapa kehadirannya membuat dunia yang ia bangun runtuh perlahan. Namun ia tahu, pertanyaan-pertanyaan itu akan membuka pintu yang selama ini ia segel rapat. “Kamu mirip seseorang,” kata Maya akhirnya. Suaranya nyaris patah. Rian tersenyum canggung. “Sering dibilang begitu.” Kalimat itu seharusnya netral. Namun Maya merasa seperti ditampar oleh ingatan. Ia menunduk, menatap kopinya yang sudah dingin. “Maaf,” lanjut Rian, lebih pelan. “Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman.” Maya menggeleng. “Bukan kamu.” Yang tidak ia katakan: ini aku. Dan aku tidak siap. Waktu bergerak tanpa mereka sadari. Matahari condong, cahaya keemasan menyusup lewat jendela. Kafe semakin ramai. Namun meja mereka tetap terasa terpisah dari dunia. Rian melirik jam di pergelangan tangannya. Wajahnya berubah sedikit. “Aku harus pergi.” Ada kekecewaan kecil yang menyelinap ke d**a Maya—reaksi yang membuatnya marah pada dirinya sendiri. “Oh,” katanya singkat. Rian berdiri, lalu ragu. Tangannya mengepal sebentar. “Boleh aku… ketemu kamu lagi?” Logika Maya berteriak tidak. Pengalaman berteriak lari. Namun tubuhnya—tubuhnya—diam, menunggu. “Kita lihat nanti,” jawabnya akhirnya. Rian tersenyum. Senyum lega. “Oke.” Ia melangkah pergi, lalu berhenti di tengah jalan, seperti tersentak oleh sesuatu yang memanggilnya dari belakang. “May,” panggilnya refleks. Maya berdiri cepat. “Ya?” Rian tampak sama bingungnya. “Maaf. Aku nggak tahu kenapa aku manggil kamu begitu.” Nama itu—dengan intonasi yang tepat—menghantam Maya lebih keras dari apa pun hari ini. Dadanya sesak. Ia tidak mampu menjawab. Rian pergi. Pintu kafe tertutup di belakangnya. Maya duduk kembali. Napasnya goyah. Ia menekan dadanya, mencoba menenangkan detak jantung yang membangkang. Mungkin ini cuma trauma, katanya pada diri sendiri. Otakmu menghubungkan hal-hal yang tidak seharusnya. Namun malam itu, mimpi tidak datang sebagai kenangan. Ia berdiri di persimpangan jalan basah. Lampu jalan berkedip. Hujan turun pelan, membasahi bahunya. Seseorang berdiri membelakanginya. “Aidan?” panggil Maya. Orang itu menoleh. Wajahnya bukan Aidan. Tidak sepenuhnya. Namun mata itu—tatapan itu—membuat Maya mundur selangkah. “Kenapa kamu lama?” tanya suara yang bukan Aidan. Maya terbangun dengan napas terengah. Jantungnya berdegup liar, seolah mencoba keluar dari dadanya. Ia duduk lama di tepi ranjang, menatap kegelapan, memahami satu hal yang membuat tengkuknya dingin: Yang ia rasakan di kafe bukan sekadar nostalgia. Bukan sekadar trauma. Ada sesuatu yang hidup di balik tatapan Rian. Dan sesuatu itu… mengenalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN