Rencana liburan yang tidak lagi sama
Di dalam kamar mewah bernuansa krem dan emas itu, Vivian berdiri di depan cermin besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Mini dress navy tanpa lengan yang melekat sempurna di tubuhnya membuatnya terlihat anggun sekaligus berkelas. Rambut panjang hitam halusnya dicapol dengan beberapa bagian rambut bagian depan dibiarkan terjuntai, sementara riasan tipis di wajahnya semakin menonjolkan kecantikan alami yang ia miliki.
Vivian tersenyum kecil menatap pantulan dirinya sendiri.
“Akhirnya…” gumamnya pelan.
Ini adalah liburan pertamanya bersama Adam. Bukan sekadar liburan biasa, melainkan perjalanan yang selama ini ia nantikan, sudah banyak kegiatan yang dia ingin lakukan bersama Adam saat liburan nanti, selain itu liburan ini juga akan menjadi waktu di mana ia berharap bisa lebih dekat, lebih mengenal, dan mungkin memperkuat hubungan dirinya dan Adam. Dalam benaknya, liburan ini akan penuh tawa, percakapan ringan, dan momen-momen kecil yang hangat. Tiba-tiba lamunan Vivian akan liburannya buyar saat suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar.
Tok. Tok. Tok.
“Masuk!” sahut Vivian dengan nada ceria, nyaris tanpa berpikir.
Pintu terbuka perlahan, menampakkan seorang pelayan wanita yang menundukkan kepala dengan sopan.
“Nona, Tuan Adam sudah menunggu di bawah,” ucap pelayan itu dengan senyum profesional.
Senyum Vivian semakin merekah. Jantungnya berdegup lebih cepat, rasa antusias yang sejak tadi ia tahan akhirnya tak terbendung. Ia segera meraih tas kecilnya, menatap sekali lagi pantulan dirinya di cermin, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah ringan.
Tangga marmer yang menghubungkan lantai atas dan ruang tamu seolah tak terasa panjang saat Vivian menuruni satu per satu anak tangganya. Begitu tiba di ruang tamu, pandangannya langsung tertuju pada sosok Adam yang duduk santai di sofa, mengenakan kemeja kasual dan celana panjang gelap. Penampilannya sederhana, namun tetap memancarkan pesona yang selalu membuat Vivian merasa nyaman.
“Adam?!” panggil Vivian, suaranya penuh semangat dan sedikit tak percaya.
Adam menoleh, lalu tersenyum melihat Vivian. "Kau sudah siap?” tanyanya sambil bangkit berdiri.
Vivian mengangguk cepat. “Tentu saja.”
“Itu barang-barangmu?” Adam menunjuk koper yang dipegang seorang pelayan pria di samping tangga.
Vivian kembali mengangguk. “Iya.”
Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, Adam mengambil alih koper itu dari tangan pelayan. "Ayo,” ujarnya singkat namun terdengar hangat.
Mereka berjalan berdampingan menuju luar rumah. Vivian merasakan perasaan bahagia yang sulit dijelaskan. Langkahnya sedikit lebih ringan dari biasanya, seolah dunia hari itu berpihak padanya.
Namun kebahagiaan itu berhenti tepat saat Vivian membuka pintu mobil bagian penumpang depan.
Di sana, duduk dengan sikap santai dan senyum manis seorang gadis bernama Linzy.
“Halo, Kak Vivian,” sapa Linzy lembut, senyumnya tampak begitu ramah.
Tubuh Vivian menegang seketika. Tangannya masih menggenggam gagang pintu mobil, sementara matanya terpaku pada wajah Linzy seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Bibirnya terbuka sedikit, namun tak ada sepatah kata pun yang keluar.
Alih-alih membalas sapaan Linzy, Vivian justru mengalihkan pandangannya ke arah Adam yang saat itu sedang menutup bagasi mobil setelah memasukkan kopernya.
Ia menatap Adam dalam diam. Tatapan itu bukan sekadar tatapan biasa melainkan tatapan yang menuntut jawaban, kejelasan, dan penjelasan tentang kehadiran Linzy.
Adam, yang menyadari suasana mendadak berubah, akhirnya mendongak dan bertemu pandang dengan Vivian. Sejenak, ada keraguan di wajahnya, namun ia segera tersenyum tipis.
“Ah, Linzy ikut bersama kita,” ucap Adam santai, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia. “Kebetulan orang tuanya sedang dinas ke luar kota, jadi aku mengajaknya ikut.”
Penjelasan itu justru membuat d**a Vivian terasa sesak.
Ia kembali menatap Linzy, kali ini lebih lama dan lebih tajam. Vivian tahu betul Linzy adalah sepupu Adam. Ia juga tahu seharusnya ia tidak berpikiran buruk. Namun ada sesuatu, entah dari cara Linzy tersenyum, atau dari sikap Adam yang terlalu santai yang membuat hatinya tak tenang.
“Vivian?” panggil Adam ketika menyadari Vivian masih diam. “Kenapa diam saja? Ayo masuk.”
Vivian tersentak dari lamunannya. Ia kembali menatap mobil, lalu Linzy yang masih duduk nyaman di kursi depan tanpa sedikit pun menunjukkan niat untuk berpindah tempat.
“Kak Vivian,” ujar Linzy tiba-tiba, suaranya terdengar lembut dan dibuat-buat. “Izinkan aku duduk di depan, ya? Aku gampang mabuk perjalanan. Kalau duduk di belakang, nanti bisa pusing.”
Vivian mengepalkan tangannya. Kata-kata itu terdengar seperti permintaan, namun sikap Linzy sama sekali tidak menunjukkan kerendahan hati. Senyum imut yang Linzy tampilkan justru terasa menusuk hati bagi Vivian.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Vivian menarik tangan Linzy dengan kasar. Gerakannya cepat dan tegas, membuat Linzy terkejut hingga tubuhnya tertarik keluar dari mobil.
“Jika mabuk perjalanan,” ucap Vivian dingin, “maka tidak perlu ikut.”
Kalimat itu meluncur tanpa getar, penuh ketegasan.
Vivian langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan, menutup pintu dengan bunyi keras yang cukup membuat suasana semakin tegang.
Linzy berdiri terpaku di samping mobil. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena menahan amarah dan rasa dipermalukan. Matanya segera beralih ke arah Adam, penuh harap agar pria itu membelanya.
“Adam…” ucap Linzy lirih, nadanya memelas.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Adam menatap Linzy sejenak, lalu menghela napas. Ia mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Linzy mengalah dan duduk di belakang.
“Masuklah,” ucap Adam singkat.
Wajah Linzy mengeras. Rahangnya mengatup kuat, matanya menyiratkan kekesalan yang tak bisa ia sembunyikan. Namun ia tahu, jika ia memaksa, posisinya akan semakin buruk.
Dengan langkah berat, Linzy akhirnya membuka pintu kursi belakang dan duduk di sana. Pintu ditutup agak keras, mencerminkan perasaan yang sedang ia pendam.
Adam masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin. Mobil perlahan melaju meninggalkan halaman rumah.
Di dalam mobil, suasana terasa dingin dan canggung.
Vivian menatap lurus ke depan, ekspresinya tenang namun hatinya bergejolak. Ia merasa dikhianati, meski belum tahu pasti oleh apa. Liburan yang ia tunggu-tunggu kini terasa berbeda—tak lagi hangat, tak lagi sederhana.
Sementara itu, di kursi belakang, Linzy menyandarkan punggungnya sambil menatap ke luar jendela. Bibirnya terkatup rapat, namun matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kesal.
Dan Adam… ia hanya duduk dalam diam menatap Vivian lalu mulai menyadari bahwa keputusan kecilnya mengajak Linzy ikut bersama mereka akan membuat Vivian kehilangan minat liburannya. Namun Adam tidak memiliki pilihan lain selain mengajak Linzy, karena begitu Linzy tau dia dan Vivian akan berlibur ke Jepang, Linzy memaksa ikut jika Adam tak mengajak Linzy, Linzy mengancam akan membongkar hubungan mereka yang sesungguhnya pada Vivian.
Bersambung!...