MR SATRIA

1051 Kata
Setelah kejadian cekik mencekik itu, Siswa itu tidak berani lagi pada Bina atau pun Vina. Malah sekarang siswa dan teman-temannya itu selalu membungkuk saat melewati mereka, seperti sekarang ini. Bina dan Vina sedang berjalan memasuki gerbang sekolah. "Mereka kenapa sih?" Tanya Vina. Bina hanya terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Yap, masa ospek mereka sudah selesai, karena saat pembagian kelas itu ternyata hari terakhir ospek. Mereka kini sedang mencari kelas mereka, ternyata mereka mendapatkan kelas paling ujung. Bina sudah menduga itu, karena ia ditempatkan dikelas paling terakhir, 7-5. Saat mereka masuk, semua mata tertuju pada mereka. Tanpa menghiraukan tatapan-tatapan itu, Bina segera duduk dibangku pojok belakang yang diikuti oleh Vina. Anehnya, murid-murid lain itu menatap Bina dengan tatapan aneh dan takut sembari berbisik. Bina sudah tidak heran jika memang cerita cekik mencekik itu menyebar, karena korbannya itu sepertinya salah satu murid hits. Tak lama, ada seorang guru wanita mendatangi kelasnya dan meminta para murid untuk sholat dhuha di masjid besar yang ada di tengah-tengah yayasan. Bina berkata pada guru itu bahwa ia sedang 'libur', walau sebenarnya tidak. Ia tidak mau pergi sendiri, karena Vina benar-benar sedang 'libur' Kini suasana sekolah terasa sangat sunyi, Bina hanya melihat gerombolan gadis sedang berkumpul dan merias wajah. Bina tidak tahu pasti para gadis itu 'libur' Sungguhan atau berbohong seperti dirinya. Bina pun mulai perpikir, kenapa ponsel yang sebenarnya bisa menjadi media pembelajaran di larang, sedangkan riasan diperbolehkan? "Vin, emang boleh ya bawa make up?" Tanya Bina pada Vina yang kini sedang mengeluh sakit pada bagian rahimnya. Ia hanya menggelengkan kepala dan mengistirahatkan kepalanya pada meja. Bina yang paham pun hanya diam. *** Satu persatu siswa dan siswi bermunculan. Itu tandanya sholat dhuha sudah selesai. Bina terkejut, karena mereka melaksanakan aktivitas itu terhitung hampir satu jam lamanya. Ia tidak bisa membayangkan jika ia ikut ke masjid tadi, sepertinya Bina akan bersumpah serapah selama disana. Tak lama setelah para murid berkumpul. Seorang guru pun datang. Sosok yang menyapa kelas dan tersenyum kearah Bina itu berhasil membuat tubuh Bina menegang. Itu, Pak Satria. "Halo anak-anak. Perkenalkan saya Satria. Saya disini sebagai walikelas sekaligus guru bahasa indonesia kalian. Saya harap kita bisa saling mengenal ya." Pak Satria melihat kearah Bina yang melihat kearahnya juga. Bina yang akhirnya sadar itu pun segera membuang muka. Pak Satria meminta para murid berdiri dan memperkenalkan diri serta hobi mereka. Bina rasanya ingin hilang saja dari bumi. Bina ini sebenarnya orang yang jika sedang gugup, ia akan berbicara dengan terbata-bata. Hampir semua murid sudah memperkenalkan diri. Kini Vina sedang memperkenalkan dirinya, setelah Vina selesai. Bina pun berdiri, ia yang duduk di belakang pojok itu menjadi murid terakhir yang memperkenalkan diri. Alhasil semua mata tertuju padanya. Bina hanya menelan ludah kasar. "P-perkenalkan, nama s-saya Nirbina Poetry. Hobi saya m-menulis." Dengan terbata bata dan keringat dingin yang mengucur. Bina berusaha untuk menetralkan terbata-batanya. Tidak ada respon apa apa pada awalnya, sampai Pak Satria berterima kasih dan meminta Bina untuk duduk kembali. Vina yang paham itu, segera menyentuh tangan Bina dan berkata bahwa ia akan baik-baik saja. Bina hanya tersenyum. Mereka pun mendapat penjelasan-penjelasan seputar sekolah dari Pak Satria. Sialnya, gurunya itu selalu menyebut nama Bina sebagai contoh. Bina yang sebenarnya merasa tersipu dan gugup diwaktu bersamaan itu, hanya diam dan berpura-pura menulis sesuatu diatas buku tulisnya. *** Setelah bel istirahat berbunyi. Semua orang berhamburan keluar kelas. Terkecuali Bina tentunya. Ia memilih diam dan menuliskan kata-kata yang ada dibenaknya yang sebenarnya terlihat seperti sebuah puisi. Sebenarnya ia rindu dengan ponselnya. Bagaimana jika Dimas tiba-tiba menghubunginya? Tanpa Bina sadar, Pas Satria masih ada didalam kelas. Ia menghampiri Bina dan duduk dibangku yanh ada dihadapan Bina. Pak Satria melihat kearah kertas itu, dengan cepat Bina menutupnya. "Suka bikin puisi ya? Kenapa gak dibukuin aja?" Tanya Pak Satria dengan nada yang teramat ramah menurut Bina. Ia pun bertanya apa kelebihan yang akan ia dapat, jika ia membukukan puisinya, yang sebenarnya Bina tidak tahu bahwa kalimat yang ada di otaknya itu adalah sebuah puisi. Pak Satria sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, ia tersenyum. "Ya banyak, kamu bisa dikenal banyak orang, mendapat uang dan memiliki karya sendiri." Jawabnya. Bina hanya mengangguk mengerti. Perlahan ia membuka buku itu, Pak Satria pun segera melihatnya. Dunia itu kejam Tiap aku melangkah, aku merasa jatuh kedalam jurang yang sangat curam. Aku ada diantara perasaan ingin hidup Dan perasaan ingin mengakhiri hidup. Pak Satria pun melihat kearah Bina yang kini menunduk. Ia menaruh buku itu dan mengusak surai Bina. "Bagus banget puisinya, kalau ada yang mau ditanyain dateng aja kesaya ya. Atau..." Pak Satria mengeluarkan ponselnya dan memberikan pada Bina. Ia meminta nomor Bina. Bina pun dengan ragu mengetik nomornya pada ponsel gurunya itu. Setelah berterima kasih, Pak Satria pun keluar dari kelas. Meninggalkan Bina yang tengah berpikir, ia berpikir apakah ia harus mengikuti saran gurunya itu? Atau mengabaikan nya saja? Karena sejujurnya, Ia meresa senang saat menulis. Dan saat mendengar bahwa ia akan mendapat uang, Bina pun bertekad untuk membuat buku puisi itu. Ia sudah memiliki rencana, saat pulang nanti ia akan langsung menghubungi Pak Satria. Pak Satria keluar berbarengan dengan masuknya Vina. Ia menghampiri Bina sembari membawa satu plastik jajanan. Vina sempat menawarkannya pada Bina, tapi tentu saja Bina menolak dengan sopan. *** Setelah Bel pulang berbunyi, Bina segera keluar dari kelas terlebih dahulu. Karena ia ingin menghampiri Pak Satria. Setelah Bian pikir-pikir, terlalu lama jika ia harus pulang lalu menghubungi gurunya itu melalui telfon. Untungnya Pak Satria ternyata sedang ada didepan minimarket yang memang disediakan oleh yayasan. Ia menghampiri gurunya itu. "Eh Bina, ngapain lari-lari?" Tanyanya pada Bina yang kini mencoba menormalkan nafasnya. Pak Satria hanya bisa tertawa kecil melihat muridnya itu. "Saya mau bikin buku itu Pak. Mohon bantuannya." Bina berkata seperti itu sembari melihat kearah Pak Satria dengan tatapan penuh harap. Gurunya itu pun mengiyakannya dan berkata bahwa ia akan membantu Bina. Ia meminta Bina untuk keruangan serbaguna saat istirahat. Bina pun dengan yakin menyetujuinya. Lagi-lagi gurunya itu mengusak surainya, setelah itu Pak Satria meninggalkan Bina masuk kedalam sekolah lagi. Tanpa Pak Satria tahu, perlakuannya itu membuat Bina merasa sangat nyaman. Kini ia melihat Pak Satria sebagai sosok pria yang seperti ayahnya. Tapi entah kenapa, ada rasa lain yang ia rasakan saat melihat gurunya itu. Rasa yang pernah ia rasakan saat bersama Teguh dan Dimas. Namun, disisi lain ia juga merasa aman seperti bersama ayahnya. Kini otak Bina mencoba untuk mencerna rasa aneh itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN