Sembari mengumpat tiada henti di dalam hatinya, kini Bina sedang melaksanakan ospek. Bagaimana tidak mengumpat, kini Ia sedang dijemur ditengah lapangan sembari duduk berbaris. Sudah terhitung tiga jam Bina dijemur, walau menggunakan topi. Tetap saja panasnya cahaya matahari menyorot kearahnya.
Selain itu, Bina pun merasa kesal dengan perlakukan senioritas yang ia dapat. Menurutnya senioritas itu terlalu kuno. Jika memang ingin di hormati dan dihargai, maka hormati dan hargai juga orang lain, dan itu tidak bergantung pada umur mau pun jabatan. Bukannya malah membentak dan mengingatkan bahwa mereka itu adalah seorang senior.
"Itu kamu yang besar, yang ada dibelakang, berdiri!" Panggil seorang kakak osis yang menggunakan nametag 'Farid' sembari menunjuk kearah Bina. Mau tidak mau ia pun berdiri, walau sebenarnya ia ingin sekali melempar seniornya itu dengan batu besar yang ada didekatnya.
"Bisa biasa aja gak mukanya?" Tanya seorang osis perempuan dengan nada sinis. Bina hanya menyerjitkan dahi dan melihat kearah Kakak osis yang bernametag 'Ayu' itu. Mereka pun beradu tatap. Untungnya tatapan tajam Bina menang melawan tatapan sok galak dari seniornya itu. Kak Ayu itu pun mengalihkan pandangnnya dari Bina.
"Perkenalkan diri kamu, baru kamu boleh duduk." Perintah seorang senior lain yang tidak menggunakan nametag, ia memerintahnya dengan nada tegas namun tidak terdengar galak ditelinga Bina. Ia yakin sekali bahwa senior yang tidak bernametag itu pasti ketuanya, karena aura pemimpinnya sangat menonjol menurutnya.
"Perkenalkan nama saya Nirbina Poetry, kalian bisa panggil saya Bina. Terima kasih." Saat Bina akan duduk, kakak tak bernametag itu menghentikannya. Bina menatap seniornya itu dengan tatapan bertanya. Mereka pun bertatapan, namun senior yang awalnya terlihat akan mengatakan sesuatu itu, mengurungkan niatnya dan memperbolehkan Bina duduk.
"Aneh." Gumam Bina. Ia tidak tahu saja Kakak tak bernametag itu bisa mendengarnya, namun ia memutuskan untuk tidak menghiraukannya.
***
Kini akhirnya Bina sudah diperbolehkan masuk kedalam kelas. Ia awalnya bingung harus duduk dimana, sampai ia melihat bangku kosong sebelah seorang anak perempuan.
"Boleh duduk disini?" Tanya Bina mencoba untuk membuat first impression yang baik. Gadis bermata sipit itu mengangguk sembari tersenyum. Setelah melihat reaksi itu, Bina segera duduk disampingnya.
"Bina." Ia mencoba untuk memperkenalkan dirinya. Gadis itu pun menyambut uluran tangan Bina dan berkata bahwa namanya adalah Vina. Setelah berkenalan, mereka pun mulai berbincang ringan, mencoba mengenal satu sama lain. Sampai senior-senior masuk kedalam kelas mereka, ternyata mereka mempersilahkan para murid baru untuk membuka bekal mereka.
"Bina ya?" Tanya senior yang tidak bernametag itu. Bina yang hendak membuka bekalnya itu, memberhentikan aktivitasnya dan menoleh pada seniornya. Bina hanya membalasnya dengan anggukan ragu.
"Temannya Teguh ya?" Pertanyaan random dari seniornya itu berhasil membuat Bina terdiam. Ia pun mengangguk, seniornya itu pun pergi begitu saja.
"Kenapa?" Tanya Vina, Bina hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Sesempit itu kah dunia? Tanya Bina pada dirinya sendiri. Karena sekolahnha ini terletak cukup jauh dari tempat tinggalnya, aneh jika ada yang mengenal dirinya dan Teguh.
"Perhatian semuanya." Saut senior tadi. Kelas yang awalnya sangat bising pun seketika menjadi sunyi.
"Abis selesai makan, kalian ke mading ya. Ada pembagian kelas soalnya. Okay? Terima kasih." Setelah menjelaskan itu ia pun pergi.
"Semoga kita sekelas ya." Ujar Vina. Bina pun mengangguk setuju, karena kan hanya Vina yang baru ia kenal. Mereka pun akhirnya bisa memakan bekal dengan tenang. Walau terlihat tenang, pikiran Bina melayang kemana-mana. Ia memikirkan mengapa seniornya itu tahu kalau dia ini temannya Teguh. Hanya ada satu kemungkinan sebenarnya, senior itu adalah mantan senior Teguh disekolah barunya. Mungkin ya. Bina juga tidak yakin.
***
Bina bingung harus melakukan apa, kini ia sedang menunggu Vina menghabiskan bekalnya. Bina pun mulai merindukan ponselnya. Ia bingung, mengapa ponsel tidak diperbolehkan dibawa kesekolah? Bagaimana jika ada anak yang diculik atau kecopetan? Siapa yang akan bertanggung jawab? Sekolah? Bina tidak yakin bahwa sekolah akan bertanggung jawab soal itu.
"Ayok." Ajak Vina sembari memasukan kotak bekal miliknya kedalam tas. Mereka pun berjalan berdampingan. Semua orang melihat kearah mereka, karena kebetulam sekali proporsi tubuh mereka hampir sama walau Vina lebih pendek darinya.
"Dua babon lewat." Bisik seorang siswa yang bisa didengar oleh Bina. Bina mencoba menahan diri dan melanjutkan perjalanan menuju mading.
Untungnya mereka benar-benar ditempatkan dikelas yang sama. Setelah melihat mading, seniornya meminta mereka untuk pulang. Dengan senang hati Bina menurutinya.
***
Bina masih ada dibangkunya, ia menunggu semua orang pulang terlebih dahulu, lalu ia baru berani untuk pulang. Ia takut bertemu dengan siswa-siswa sialan itu lagi. Bukan takut akan dihina, tapi Ia takut tidak bisa menahan emosinya. Apa lagi ia kan masih memiliki gelas anak baru. Masa sudah menimbulkan keributan, mau di taruh dimana wajahnya?
Setelah merasa cukup sepi, ia pun memakai tasnya dan segera keluar dari kelas. Namun, sialnya ia menabrak seseorang.
"Eh maaf." Ucap orang itu. Karena sebenarnya orang itu berlari dan menabrak Bina. Bina pun segera mendongkak kearah orang itu yang ternyata lebih tinggi darinya.
"Eh kamu, baru pulang?" Tanya penabrak itu yang ternyata adalah Pak Satria. Bina pun berbohong bahwa ia menunggu jemputannya. Ia melihat gurunya itu dari atas sampai bawah, karena dugaannya benar, pria didepannya ini sangat tinggi, bahkan hampir setinggi pintu kelas yang hampir dua meter.
"Ohh gitu, yaudah bapak tinggal dulu ya. Hati-hati dijalan." Ujar Pak Satria. Bina pun berpamitan dan pergi begitu saja tanpa menyalami Pak Satria. Untung saja ia tidak memperdulikan itu, ia kembali berlari kearah tujuannya, kantin.
***
Kini Bina sedang berjalan menelusuri gang menuju jalan raya. Ya, ia disuruh ibunya untuk menaiki angkot dengan alasan kemandirian, karena ia selalu dikatai bahwa ia manja. Ketika mendengar itu, Bina hanya menahan tawanya. Manja? Tidak, lebih tepatnya ia dimanjakan oleh ibunya sendiri. Ibunya tidak tahu saja apa yang Bina selalu lakukan jika ia tidak ada dirumah, karena ia tidak perduli pada Bina.
"Hey babon~" Kini Bina mengutuk dirinya sendiri karena memilih untuk mengambil jalan yang lebih dekat. Seharusnya ia memilih jalan yang jauh saja. Siswa itu sedang menongkrong pas didalam gang.
Bina berusaha untuk tidak menghiraukannya, sampai siswa itu mulai kurangajar, ia menepuk b****g Bina. Bina yang kesal itu segera berbalik dan langsung mencekik siswa itu lalu mendorongnya kearah tembok. Dua temannya hanya diam, mereka terkejut sekaligus takut dengan reaksi Bina.
"Sopan kaya gitu? Bajingan." Bina mencekiknya sampai wajah putih siswa itu memerah. Untungnya ada seseorang yang datang dan menarik Bina, mau tidak mau Bina melepas cekikan itu.
"b******n!" Teriak Bina. Mereka bertiga pun berlari pergi meninggalkan Bina yang masih ditahan oleh seseorang. Bina pun dengan kasar meminta orang itu melepaskannya.
"Tadi kamu ngapain?" Suara berat itu membuat Bina menoleh kearah orang itu.
"Keliatannya?" Cetus Bina. Jika Bina sedang kesal, ia akan marah pada semua orang yang ada didekatnya, tanpa memandang bulu.
"Iya ngapain? Kasian loh." Perkataan lelaki itu membuat Bina makin kesal. Ia melangkah mendekat kearah lelaki yang sedikit lebih tinggi darinya itu, lelaki itu pun perlahan mundur sampai punggungnya menabrak tembok.
"Kasian? Orang yang suka ngelecehin orang elu kasianin? Miris." Setelah mengatakan itu, Bina melanjutkan perjalanannya, ia meninggalkan lelaki itu dalam keadaan merasa bersalah. Tak lama ia pun sampai dijalan raya dan segera mencari angkutan umum.
Lagi-lagi Bina hampir membunuh orang. Anehnya, ada perasaan puas didalam dirinya saat mencekik siswa tadi.