NEW SCHOOL

1079 Kata
Hari yang sudah Bina wanti-wanti itu pun datang. Kini ia dan Ibunya sedang ada didalam mobil. Bina menyumpal telinganya dengan earphone. Namun, ia sedikit kesulitan saat akan memakainya. Karena ibunya memaksanya untuk menggunakan kerudung. Ia memutar sebuah lagu yang berjudul Echo yang dinyanyikan oleh Jason Walker. Lagu itu memiliki lirik yang sama persis dengan apa yang Bina rasakan saat ini. Sayangnya, saat lagu itu belum selesai, mereka sudah sampai ke tujuan. Mau tidak mau Bina membuka earphone nya dan menyimpannya kedalam saku. "Ayo, nanti kamu ikutin Ibu aja ya." Ujar ibunya. Bina hanya bisa mengangguk. Mereka pun masuk kedalam sekolah itu. Sekolah ini sebenarnya adalah salah satu fasilitas yayasan Al-Huda. Karena mereka juga mempunyai Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama–yang akan Bina masuki–, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan. Bahkan ada Taman Kanak-Kanak, Paud dan Kampus juga. Kawasannya sangat asri dan luas. Kawasannya ini membentuk seperti bulatan, dan ditengahnya ada sebuah masjid yang cukup besar. Banyak pohon rindang dan kursi santai dibawahnya. Dari sisi kawasan, Bina merasa cukup puas. Karena setidaknya ada banyak spot untuknya bersembunyi dari banyak orang. Di dalam kawasan khusus SMPnya, Bina bisa melihat ada sebuah baliho yang bertuliskan 'Selamat datang peserta didik baru 2016/2017' Bina dengan rajinnya menghitung satu persatu kelas yang ia lihat, dan ternyata terhitung ada kurang lebih sembilan belas kelas dan kelas-kelas itu mengelilingi sebuah lapangan basket. Semua yang ada disini berwarna peach. Kini Ibunya sedang mengantri untuk mengambil formulir. Bukannya Bina menjadi durhaka, tapi ibunya itu yang memaksanya untuk diam dan duduk didekat tihang depan sebuah kelas. Sembari menunggu ibunya, ia memutuskan untuk berpesan dengan Dimas. "Nanti kalau udah sekolah disini, gak boleh bawa hp loh." Ujar seseorang yang kini duduk disamping Bina. Saat ia menoleh, ternyata orang itu adalah orang dewasa, dari penampilannya ia terlihat seperti seorang guru. Karena pria itu menggunakan kemeja hitam dan celana bahan. Bina yang tidak mau dipandang sebagai anak yang tidak sopan itu, hanya tersenyum. "Kamu dari sekolah mana?" Tanya pria itu. Bina pun menjawab. "Pak Satria!" Teriak seseorang yang sepertinya seorang guru juga kearah pria itu. Pria itu pun meninggalkan Bina dan menghampiri orang yang memanggilnya itu. Ternyata pria yang bernama Satria itu sangat tinggi, benar benar sangat tinggi. Bina yang memiliki tinggi hampir 170 itu sepertinya hanya sedada pria itu. Mata Bina masih menatap kearah Pak Satria yang sedang mengobrol itu. Sepertinya Pak Satria memiliki kepekaan yang kuat, karena ia menoleh kearah Bina dan tersenyum. Bina pun segera mengalihkan pandangannya. "Nih dek isi dulu." Setelah berhasil mendapatkan formulir, ibunya itu memberikan formulis dan pulpen pada Bina. Ia pun segera mengambilnya dan mengisinya. Isinya hanya pertanyaan-pertanyaan identitas pribadi, jadi Bina tidak perlu menguras tenang dan otaknya. Setelah selesai mengisi formulir, Bina diberikan sebuah kertas yang berisi daftar apa saja yang harus ia bawa saat ospek nanti. Bina tidak habis pikir, mengapa sekolah di Indonesia ini masih membudayakan ospek, yang dengan randomnya menyuruh para murid baru untuk membawa barang-barang yang dijelaskan dengan sebuah teka teki. *** Kini Bina dan Ibunya sedang berada disebuah super market, untuk mencari bahan makanan untuk membuat 'matahari diatas tentara hitam' yang artinya nasi goreng kecap yang diberi telur ceplok diatasnya. Bina sudah sangat expert jika bersangkutan dengan teka teki seperti ini. Setelah hampir mendapatkan semuanya, kini Bina sedang pusing dengan barang yang memiliki clue 'air perkakas' Air macam apa itu? Aki? Ia berputar-putar mencari disudut air mineral. Ada Aqua, Ades, Dua tang, dan– Bina mundur satu langkah dan mengambil air dua tang itu. Tang, perkakas. Rasanya Bina ingin sekali tahu siapa yang membuat clue yang sangat menyebalkan ini. Bina pun segera membayar, Ibunya yang tadi kesal saat Bina sedang mencari air sialan itu, memutuskan untuk menunggu dimobil dan memberi Bina uang. Untung aja antriannya tidak terlalu panjang, jadi dengan cepat Bina sudah selesai membayar. Ia pun bergegas menuju parkiran. *** Akibat memiliki rumah didaerah wisata, Bina kini hanya bisa sabar menunggu sistem satu arah berakhir. Ia sudah sangat muak, karena mobilnya ini benar-benar tidak bergerak barang seinchi pun. Selain itu, ibunya sudah mulai mengesalkan. Mengeluh namun tidak ada usaha atau ide untuk keluar dari masalah lalu lintas ini. "Anu Bu... saya tahu jalan agar bisa memotong jalan. Tapi harus isi bensin dulu bu." Ujar Pak supir dengan nada yang super hati-hati. Ibunya pun dengan cepat menyetujuinya dan memberinya uang untuk membeli bensin. Bina pun bernafas lega, karena setidaknya mereka tidak diam ditempat. Benar saja, Pak supir ini tahu jalan alternatif yang tidak macet, namun memang memakan waktu lebih banyak dibanding jalan raya biasa. "Ohiya, nanti kita ke tukang jahit ya dek. Bikin rok, soalnya kalau beli pasti gak ada yang ukuran kamu." Pernyataan ibunya itu menyayat hati Bina. Rasa percaya diri yang mulai tumbuh akibat Dimas yang selalu tanpa lelah meyakinkan Bina bahwa ia itu sempurna, runtuh seketika saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir ibunya sendiri. Tanpa sadar ia meremat rok merahnya. "Nanti kamu harus belajar pake kerudung yang pake peniti ya dek. Soalnya di peraturannya gitu." Lanjut ibunya, yang membuat Bina semakin membenci sekolah yang bahkan belum ia tempati itu. Ia hanya mengangguk dan kembali memusatkan perhatiannya pada ponsel yang ada ditangannya. Sebenarnya ia tengah menunggu Dimas untuk menghubunginya, karena ia berjanji akan membalasnya. Lagi-lagi Bina memiliki firasat yang tidak baik. *** Akhirnya jadwal hari ini selesai, Bina sudah membeli perlengkapan ospek dan sudah memesan seragam. Kini ia sedang termenung dibawah pancuran shower, ia sedang mandi, tentu saja. Tapi ia terdiam sembari membilas tubuhnya, ia memikirkan Dimas. Bagaimana jika Dimas berbohong padanya soal tidak akan lost contact ? Bagaimana jika Dimas menghilang begitu saja layaknya Teguh? Kini pertanyaan-pertanyaan itu berputar didalam pikiran Bina, bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan sekolahnya nanti. Mungkin jika pikiran dan benak Bina bisa berbicara padanya, kemungkinan besar kata pertama yang diutarakan pada Bina adalah Lelah. Ya, mereka lelah. Setelah mandi, ia pun masuk kedalam kamar. Bina membuka sebuah buku, buku diary tepatnya. Buku itu ia beli saat di supermarket tadi, ia tertarik dengan buku itu karena dilengkapi dengan sebuah gembok yang menjamin keamanan tulisannya. Ia menggapai sebuah bolpoin dan mulai menulis. 2016, Nirbina. Itu yang ia tulis untuk kalimat pertama dipojok kiri atas kertas itu. Tidak ada sesuatu yang sempurna. Jika sesuatu berjalan dengan sempurna, berarti ada sesuatu yang akan terjadi. Lanjutnya. Ia mulai menikmati aktivitas menulisnya. Intuisi, aku benci dengan intuisiku yang sangat kuat. Perlahan namun pasti, Bina mengutarakan semuanya dalam buku itu dan menghabiskan sampai dua lembar kertas hanya untuk mengutarakan keresahan pada dirinya sendiri. Tanpa ia sadar, itu adalah permulaan dimana ia akhirnya memiliki sebuah hobi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN