Ponsel yang ada diatas nakas itu berbunyi, Bina yang sedang memakai dasi itu segera menggapainya.
"Hey, kamu dimana? udah mau pengumuman nih." Ujar si penelfon. Bina pun menjelaskan bahwa ia masih dirumah dan masih bersiap. Setelah bercekcok ringan akhirnya Bina mematikan telfonnya dan segera memasukannya kedalam saku.
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Setelah bertarung dengan ujian, akhirnya Bina berhasil menyelesaikan studynya. Hubungannya dengan Dimas pun semakin dekat setelah kejadian itu. Bina pun menobatkan tahun ini adalah tahun terbaik dikehidupannya, walau lagi-lagi ia merasa janggal, karena ini terlalu sempurna baginya.
Saat merasa sudah siap dan rapih, Bina keluar dari kamarnya dan bergegas menuju kesekolah. Tidak lupa ia menguncin pintu, karena ibunya sudah pergi sejak subuh tadi. Baru saja Bina melangkah dari gerbang, ia melihat sebuah mobil PickUp yang terparkir didepan rumah Teguh. Dan didalamnya sudah ada beberapa barang. Kerisauan pun menghampirinya, dengan perlahan ia berjalan melewati rumah Teguh.
"Eh Bina, sini." Mau tidak mau Bina memberhentikan langkahnya dan berjalan menuju Mamahnya Teguh yang tadi memanggilnya.
"Tante pindahan?" Tanya Bina ingin memastikan.
"Enggak, itu Teguh mau masuk asrama di Bogor." Jawaban Mamahnya itu membuat Bina senang dan sedih diwaktu yang bersamaan. Ia merasa senang karena setidaknya Teguh tidak pindah rumah. Namun, sedihnya, Teguh tetap akan pergi jauh walau tidak selamanya. Saat sudah merasa terlambat, dengan sopan Bina berpamitan pada Mamahnya Teguh dan berlari menuju ke sekolah.
***
Bina kini sedang berdempetan dengan anak-anak lainnya untuk melihat hasil ujiannya yang di pajang dimading sekolah. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik Bina keluar dari kerumunan itu.
"Ih, aku belum liat nilai punyaku." Gerutu Bina pada Dimas yang tadi menariknya. Dimas tersenyum kecil dan mengusak surai Bina. Ia meminta Bina untuk sabar dan menunggu sampai mading itu sepi. Bina pun menurutinya, dan kini mereka sedang duduk dikursi panjang dekat mading.
"Kamu mau lanjut SMP dimana?" Tanya Bina. Dimas tidak menjawab, ia hanya diam dan menunduk. Bina yang melihat itu pun segera menyentuh tangan Dimas.
"Aku harus pindah ke Bandung lagi Na." Jawab Dimas sembari menggenggam tangan Bina. Lagi-lagi firasat Bina benar, pasti ada sesuatu yang tidak mengenakan akan terjadi.
"Ohh, bagus dong? kemaren katanya kamu kangen Bandung." Ujar Bina untuk menutupi rasa sedihnya. Bagaimana tidak sedih, lagi lagi ia harus berpisah dengan orang yang ia cintai.
"Tapi kan gak bisa ketemu sama kamu." Jawab Dimas sembari memajukan bibirnya tanda bahwa ia sedih. Bina pun tertawa renyah dan meyakinkan Dimas bahwa mereka masih bisa berkomunikasi melalui ponsel dan mungkin bisa bertemu jika sedang libur.
"Iya juga sih," Jawabnya dengan nada yang lemas.
"Bina..." Panggil Dimas sembari mendongkak kearah Bina. Bina menampakan wajah bertanya. Dimas terlihat sangat ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Nanti pesta kelulusan mau dateng?" Tanyanya. Bina tahu itu bukan sesuatu yang ingin Dimas katakan sebelumnya. Bina pun berkata bahwa ia tidak akan datang, karena ia tidak suka dengan keramaian. Ia selalu merasa menjadi pusat perhatian dan semua orang menghakiminya. Walau itu tidak benar.
"Yah.. yaudah deh aku juga gak dateng." Jawaban Dimas itu membuat Bina seketika berkata bahwa ia akan datang. Bina akan merasa sangat bersalah jika memang Dimas ingin datang, tapi tidak jadi hanya karena ia tidak datang. Seketika Dimas pun mengambangkan senyuman.
Mading pun mulai sepi, dan mereka segera menghampiri mading itu. Dimas mendapat nilai yang cukup memuaskan, berbeda dengan Bina. Ia mendapat nilai terkecil ketiga dari satu angkatan. Bina tidak sedih, karena ia sadar diri bahwa ia tidak pernah belajar atau pun berusaha belajar. Karena kan ia sudah tidak perduli lagi dengan nilai akademiknya. Dimas yang melihat Bina terdiam itu segera merangkulnya.
***
Kini Bina sedang berjalan pulang, ia sedang meyakinkan dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika ibunya tahu. Apakah ibunya akan senang karena Bina pasti masuk kesekolah islam sesuai keinginan ibunya, atau ibunya akan marah besar? Untuk kesekian kalinya pikiran Bina membayangkan suatu kejadian yang belum tentu terjadi yang membuat dirinya panik dan cemas yang berlebihan.
Benar saja, ibunya pulang cepat, bisa dilihat sepatu hak tinggi ibunya ada didepan pintu. Dengan ragu Bina menutup pintu.
"Gimana dek?" Tanya Ibunya yang dengan tiba tiba muncul saat Bina selesai menutup pintu. Bina pun memberitahu ibunya dengan terbata-bata. Namun, diluar ekspektasinya, Ibunya mengusak surai Bina dan berkata bahwa tidak apa apa dan juga berkata bawa besok ibunya akan mengantar Bina untuk mendaftar di sekolah Al-Huda. Bina hanya tersenyum ragu, bisa bisanya ia bersekolah di sekolah yang beragama, sedangkan dengan tuhan saja ia tidak percaya.
Setelah percakapan singkat itu, mereka kembali seperti biasa. Masuk kedalam sarangnya masing-masing.
***
Setelah membersihkan diri, Bina memutuskan untuk merebahkan dirinya, sembari memikirkan lagi apa yang akan ia lakukan disekolah pilihan ibunya itu. Karena Bina ini sangat tidak percaya akan tuhan.
Ia menatap kearah pergelangan tangannya. karyanya itu sudah mulai kering dan memudar. Dimas menyelamatkannya, untuk saat ini. Bina mencium karyanya itu singkat.
Tiba-tiba ia mendengar suara getaran dari atas meja belajarnya. Ia pun bangkit dan memeriksa ponselnya itu. Saat melihat nama yang tertera, seketika senyumnya mengembang bagai bulan sabit. Ia segera mengangkatnya.
"Hey." Sapanya, Bina pun duduk kembali diatas kasurnya.
"Halo, aku lagi dibis loh hehe." Jelas Dimas. Bina yang awalnya lupa tentang kepergian Dimas itu seketika memudarkan senyumannya. Ia mulai berpikir, apakah di sekolah barunya nanti ia mendapatkan seorang teman? Maksudnya, teman seperti Dimas atau... Teguh?
"Na? Are you there?" Suara Dimas itu berhasil mengembalikan Bina kedunia nyata.
"Oh iya, hati-hati ya." Ucap Bina.
"Eh tunggu, berarti kamu enggak jadi ikut ke pesta kelulusan dong?" Tanya Bina penasaran. Ia bisa mendengar suara seorang lelaki paruh baya memarahi Dimas. Bina tahu pasti siapa itu. Ayah Dimas. Dari mendengar cerita Dimas saja, Bina sudah membenci sosok ayah Dimas itu.
"Eh, udah dulu ya. Udah mau turun." Tanpa menunggu jawaban dari Bina, Dimas memutus sambungan telfonnya. Ia meninggalkan Bina yang kini merasa khawatir padanya. Bagaimana tidak, Dimas menggambarkan sosok ayahnya itu seperti seorang pembunuh berantai.
Bina menaruh ponselnya dan memutuskan untuk tidur saja, dari pada harus memikirkan dan membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi.