Kini tidak terasa Bina sudah duduk di kelas enam, semester dua. Ia benar-benar jadi sangat pendiam bagai orang yang berbeda.
"Hey, ngelamun aja." Ujar Dimas yang sedikit mengejutkan Bina. Bina hanya tersenyum kecil. Dimas memberikan satu cup puding kepadanya. Bina sudah mencoba untuk menolaknya, tapi temannya ini sangat memaksa. Mau tidak mau Bina mengambilnya. Dimas tahu, Bina sedang ada di posisi terendah dalam hidupnya. Karena saat ayahnya meninggal, Dimas datang.
Baru saja Bina akan membuka puding itu, sebuah bola melesat kearahnya.
"Heh! Main bola itu di lapangan, bukan di kelas!" Teriak Dimas. Sudah pasti Bina kesal. Ia menampakan Smirk nya lalu ia berdiri mengambil bola yang tadi mencium wajahnya. Ia membawa bola itu kearah pelaku pelemparan.
"M-maaf." Ucap siswa itu terbata-bata. Bina mundur tiga langkah dan dengan sekuat tenaga ia melempat bola itu pas terkena wajah siswa itu. Dimas menghampiri Bina yang akan mengulangi perbuatannya lagi dan menariknya keluar kelas.
Setelah kepergian Ayahnya, Bina memang menjadi gadis yang mudah marah dan kesal. Bina merasa semua orang meninggalkannya, Kakak pertama yang memang sudah menikah itu harus pindah dari rumahnya dan ikut dengan pasangannya. Kakak keduanya pun harus pindah untuk kuliah diluar kota. Alhasil ia tinggal bersama Ibunya, rumah menjadi sepi karena Ia dan Ibunya memiliki dunianya masing-masing. Mereka tidak pernah berinteraksi layaknya ibu dan anak. Ibunya hanya menghampirinya jika akan memberi uang.
"Na... dia kan gak sengaja." Ucap Dimas lembut. Bina hanya diam. Kini mereka ada disebuah warung yang ada dikantin sekolah. Perlahan Dimas menggapai tangan Bina yang sedari tadi menarik-narik tangan hoodienya sendiri. Bina yang cukup terkejut itu segera menarik kembali tangannya dari Dimas, karena ia tidak mau kalau Dimas melihat hasil 'karya' nya. Dimas yang melihah perilaku Bina itu hanya memamerkan lesung pipitnya dan mengusak surai Bina.
Dimas ini menjadi lebih peduli pada Bina setelah Ayahnya meninggal. Sampai-sampai Bina berpikir bahwa Dimas ini hanya kasihan padanya. Bagaimana tidak, Dimas ini terkenal sebagai lelaki yang jutek pada semua orang. Namun, berbeda pada Bina. Dimas ini sangat lembut padanya dan amat perduli, sampai ia dengan rajinnya selalu mengirimkan pesan pada Bina hanya untuk menanyakan keadaanya. Karena sikapnya itu, Bina tidak mau mengakui bahwa seorang Dimas perlahan mengambil alih tahta yang sempat lama ditempati oleh Teguh.
Bel pun berbunyi, Bina sudah mempersiapkan diri karena ia yakin, bahwa ia pasti dipanggil kekantor, lagi. Dan benar saja, saat melewati kantor, Guru BK sudah menunggu didepan pintu kantor dan segera memanggilnya. Bina pun masuk kedalam kantor, Dimas yang tidak di perbolehkan masuk itu dengan setia menunggu Bina didepan pintu kantor.
"Suruh siapa main bola dikelas? Kan ada lapangan tuh segede gaban." Cetus Bina yang membuat guru BK itu menggeleng lelah. Iya, bagaimana tidak lelah, ini sudah ketiga kalinya Bina masuk kedalam kantor dengan kasus yang sama, perkelahian.
"Bina, kalau gini terus kamu mau jadi apa gedenya?" Pertanyaan Guru BK itu hanya di balas acuh oleh Bina. Ia hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. Walau sebenarnya pertanyaan gurunya itu sudah menjadi bahan Overthinking seorang Bina setiap malam setelah ayahnya pergi. Ia mulai cemas, karena ia kehilangan sosok figur ayah yang seharusnya menjadi patokannya untuk tahu mana lelaki baik dan mana yang tidak.
Setelah diskusi yang cukup panjang. Akhirnya guru BK itu menghukum Bina dengan memerintahkannya menulis kalimat Saya tidak akan nakal dan berkelahi lagi sebanyak satu buku penuh yang membuat Bina tertinggal dua pelajaran. Tadinya Dimas bersikeras ingin menemaninya, tapi Bina dengan tegas melarangnya. Karena ia tidak mau jika sahabatnya itu harus tertinggal pelajaran juga seperti dirinya. Dengan berat hati, Dimas pun pergi meninggalkan Bina.
***
"Pegel banget anjrot!" Umpat Bina sembari menutup buku tulis yang berisi kerja kerasnya itu. Untungnya ia dimasukan kedalam ruang hukuman yang terletak dekat kantor yang memiliki kedap suara yang bagus. Jadi tidak ada guru yang bisa mendengar Bina yang sejak awal memulai tulisannya, sudah bersumpah serapah. Ia keluar dari ruangan itu dan memberikan buku itu kepada gurunya sembari meminta maaf.
Bina pun segera keluar dari kantor itu. Ia mendapati bahwa Dimas sudah menunggunya didepan kantor sembari membawakan tas miliknya.
"Terima kasih." Ucap Bina sembari memakai tasnya. Dimas hanya membalasnya dengan senyuman dan segera merangkul Bina. Diperjalanan pulang, Dimas tidak berhenti menjelaskan pelajaran yang Bina lewatkan tadi. Walau sebenarnya Bina sudah tidak perduli lagi dengan nilai akademiknya.
Tak lama berjalan, mereka harus berpisah. Karena Bina harus menyebrang jalan sedangkan Dimas yang sebenarnya harus menaiki angkot itu tidak perlu menyebrang. Namun, Dimas membantu Bina menyebrang terlebih dahulu, walau sebenarnya Bina bisa sendiri. Setelah melihat Dimas menyebrang dan menaiki angkot, barulah Bina berjalan menuju rumahnya.
Karena bosan, Bina mengeluarkan ponsel Sony peninggalan Ayahnya itu dan sebuah earphone yang ia dapat dari Kakaknya saat ia berulangtahun tahun lalu. Ia menyumbat telinganya dengan earphone itu dan memilih lagu yang berjudul This Town yang dinyanyikan oleh Niall Horan. Tentu saja ia teringat dengan Teguh saat mendengar lagu itu. Walau mereka tidak pernah menjalin hubungan cinta, tapi tetap saja Teguh pernah mengisi hatinya.
And i remember everything,
From when we were the childern
Playing in this fairground...
Setiap kata yang terlantun itu benar-benar menggambarkan perasaan Bina
And i know that it's wrong
That i can't move on...
Bina bersenandung saat lirik favoritnya itu datang.
Over and over the only truth
Everything comes back to you.
Musik pun berhenti ketika ia sampai didepan gerbang rumah Teguh. Ia melambatkan langkahnya dan menoleh kearah pintu utama. Seketika memori saat ia tidak sengaja menabrak pintu itu, ia tidak menangis, melainkan Teguh yang menangis saat hidung Bina mengeluarkan darah, berputar dikepalanya.
Saat pintu itu terbuka, dengan cepat Bina berlari menuju rumahnya. Tak lupa mengunci gerbang, ia bergegas masuk kedalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Nafasnya memburu.
***
Setelah selesai mandi, Bina masuk kedalam kamarnya dan tidak lupa mengunci pintunya. Karena ibunya sudah pulang, jadi ia tidak perlu khawatir jika seseorang akan bertamu. Ia menggapai ponselnya dan ternyata ada banyak panggilan tidak terjawab dari Dimas. Bina dengan ragu menekan nomor Dimas, ia cukup terkejut karena Dimas langsung mengangkatnya.
"Halo, ada apa?" Tanya Bina. Ia pun berjalan kearah kasurnya dan merebahkan tubuhnya.
"Enggak, udah dirumah?" Tanya Dimas. Bodohnya, Bina hanya mengangguk.
"Na?" Tanya Dimas karena ia tidak mendapat jawaban yang ia mau.
"Iya udah." Jawab Bina singkat sembari melihat kearah pergelangan tangan yang sudah 'hancur' itu. Karyanya sudah mulai kering, Ia mengecup pergelangan tangannya sendiri. Setelah kepergian Ayahnya, sesedih apapun dia, ia tidak dapat menangis. Seakan akan Bina ini sudah mati rasa.
"Bagus deh, besok ada rencana?" Tanya Dimas. Ia ingin mengajak Bina jalan jalan karena memang besok hari minggu. Bina pun mulai berpikir. Ia mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika ia bilang iya dan jika ia bilang tidak.
"Hey." Ucap Dimas. Ia paham bahwa Bina pasti sedang berpikir.
"Enggak, kenapa?" Jawab Bina.
"Makan kue yuk! Nanti aku bayarin." Ajak Dimas, Bina berkata bahwa ia bisa membelinya sendiri. Namun, Dimas memaksa. Bina pun mau tidak mau meng iyakan. Mereka pun berbincang, walau lebih tepatnya Dimas bercerita dan Bina mendengarkan. Menurut Bina, mendengarkan lebih menyenangkan dari pada bercerita. Mereka tertawa sesekali.
Tok! tok!
Tiba-tiba pintu kamar Bina diketuk. Bina pun segera berkata pada Dimas bahwa ia ada urusan mendadak. Tanpa menunggu jawaban Dimas, Bina segera menutup sambungan telfonnya. Ia pun segera membuka pintu.
"Ayo makan, ibu beli kari." Ucap si pengetuk pintu yang ternyata adalah ibunya. Bina tidak bisa menolak, ia pun keluar dan mengunci kamarnya dari luar.
Mereka makan dalam diam. Hanya suara televisi yang menayangkan ulang film Titanic saking seringnya diulang, Bina sampai hapal dialog dan adegan antara Rose dan Jack itu.
"Kamu udah tahu mau SMP dimana?" Tanya ibunya disela makan. Firasat Bina ternyata benar, Ibunya berdialog dengannya hanya jika ingin membicarakan hal berat seperti in yang biasanya memicu pertengkaran mereka.
"Gimana sih! Minggu depan kamu itu udah ujian loh dek!" Omel ibunya. Ibunya itu pun bangkit dan masuk kedalam kamarnya. Diam-diam Bina terisak, air matanya perlahan jatuh kearah makanannya.
"Pokoknya kalau sampe ujian kamu belum tau mau kemana, Ibu masukin kamu ke sekolah islam Al-Huda." Teriak Ibunya dari dalam kamar. Bina mengutuk dirinya sendiri yang dengan beraninya mengharapkan bahwa ibunya akan menanyakan kabarnya atau sekedar mengobrol ringan layaknya ibu dan anak.
Setelah membereskan bekas makan, tiba-tiba isi perutnya memaksa untuk keluar. Ia pun bergegas menuju kamar mandi dan berjongkok didepan toilet duduknya, tidak lupa ia menyalakan shower terlebih dahulu. Agar ibunya tidak dapat mendengar suara muntahnya.
Cukup atau lebih tepatnya sangat lama Bina mengeluarkan semua isi perutnya, akhirnya kini perutnya benar-benar kosong. Ia yang lemas itu mendudukan dirinya diatas lantai kamar mandi yang basah karena shower. Ia segera mematikan shower itu.
Sebenarnya menurut Bina ibunya itu tidak jahat. Hanya saja... ibunya itu terlalu perfectsionis, dan selalu merasa she's the center of the universe. Lama kelamaan Bina lelah dengan ibunya itu, awalnya ia tidak sadar bahwa ibunya seperti itu saat masih ada Ayahnya. Ia baru menyadarinya ada Ayahnya tiada. Jadi Bina berpikri, jangan-jangan Ayahnya pun lelah dengan sikap dan sifat ibunya.
"Dek!" Teriakan ibunya itu berhasil membuat Bina hampir terpeleset saat akan bangkit dari duduknya. Ia segera membereskan kekacauan yang ia perbuat dan segera menghampiri ibunya.
"Besok teman-teman ibu akan datang, kamu dandan ya." Ucap ibunya. Bina pun segera menarik pergelangan tangan ibunya pelan saat ia melihat ibunya akan masuk kedalam sarangnya lagi.
"Besok ade ada kerja kelompok." Bohong Bina. Karena Ibunya mengira Bina tidak berbohong, jadi ia mengizinkannya dan memberikan beberapa lembar uang pada Bina. Setelah mengatakan terima kasih, ibunya itu masuk kedalam kamarnya dan Bina pun masuk kekamarnya sendiri.
Setelah mengunci pintu, ia pun segera menjarah lemarinya. Mencari pakaian untuk pergi besok. Entah kenapa ia merasa sangat antusias. Semoga saja Bina tidak menyesali keputusannya.