NIGHTMARE

711 Kata
Setelah kejadian penghindaran itu, Bina dan Teguh tidak pernah bertemu atau bahkan bertegur sapa pun tidak. Mereka seperti menghindar satu sama lain entah kenapa, karena tidak masuk akal jika hanya karena video itu. Bina mencoba untuk tidak memikirkan itu, karena ia harus belajar agar lulus dengan nilai yang memuaskan. Hubungannya dengan Dimas semakin dekat. Mereka sering berbincang, membeli makanan di kantin bersama dan bahkan kini mereka sedang mengerjakan tugas kelompok dirumah Dimas. "Ini dikupas aja?" Tanya Dimas, mereka sedang mengerjakan tugas pembuatan makanan dari talas. Bina pun mengangguk. Selama memasak, mereka terus terusan bercanda. Seperti Dimas menaruh tepung di wajah Bina yang membuat Bina menatapnya tajam, anehnya bukannya takut, Dimas malah tertawa. Untungnya kue mereka berhasil diselesaikan walau tidak sesempurna yang dibeli dari toko. Setelah selesai dan membersihkan diri, Bina segera pulang karena besok mereka ada jadwal pembagian raport. Ya, mereka telat mengerjakan project ini. Untung saja guru pelajarannya baik hati dan memberi mereka perpanjangan waktu pengumpulan sampai pembagian raport. "Hati-hati ya." Ucap Dimas sembari menunjukan lesung pipitnya. Bina yang melihat itu langsung teringat dengan Teguh. Ia tersenyum dan berjalan pulang. *** Hari ini Bina sangat gugup. Raportnya akan diambil oleh ayahnya, ia merasa aneh, karena ini pertama kalinya ayahnya mengambilkan raport. "Gak usah degdegan! Anak Ayah pasti naik kelas!" Ucap Ayahnya yang kini duduk disampingnya didalam kelas. Bina tersenyum dan melihat kesekelilingnya. Seluruh mata ibu-ibu itu melihat ke arah ayahnya. Tidak bisa dipungkiri, ayahnya ini memang sangat tampan. Tak lama kepala sekolah pun masuk, berbicara sebentar dan membagikan raport. Bina merasa sedikit sedih karena ia tidak masuk ke peringkat lima besar. Namun, ayahnya ini memujinya secara berlebihan yang membuat Bina sedikit tenang karena setidaknya Ayahnya tidak kecewa, tapi... tidak tahu dengan ibunya. Baru saja sampai dirumah, ibunya sudah menunggu sembari duduk didepan televisi. Ibunya sengaja mengambil libur hanya untuk melihat raport Bina. Dengan ragu Bina menghampirinya, Ayahnya memberikan raport Bina pada Ibunya. Ayahnya itu tidak berhenti memuji muji Bina dihadapan Ibunya. Tanpa diduga, Ibunya yang telah melihat raportnya itu memeluk Bina dan berkata bahwa ia bangga. Bina binggung, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, karena ia selalu saja merasa jika sesuatu terlalu sempurna, pasti ada suatu hal buruk yang akan terjadi. *** Malam harinya Bina tidak berhenti mengeluarkan darah dari hidungnya. Dugaannya benar kan? Tapi Ibu dan Ayahnya tidak tahu soal itu. Karena ia tetap diam dikamar. Tak terasa waktu subuh pun datang dan seperti biasa Ayahnya berpamitan untuk sholat subuh di masjid dekat rumah. Anehnya, Bina merasa sesak didadanya. Ia takut Ayahnya akan mengalami sesuatu yang buruk, karena Bina ini memiliki intuisi yang sangat kuat. Ayahnya tetap pergi dan Bina pun memutuskan untuk tidur, karena sedari malam ia harus bertarung dengan hidungnya. *** Telah lama Bina tertidur, akhirnya ia pun bangun. Awalnya ia tidak merasa ada yang aneh, karena memang biasanya rumahnya sepi. Tapi, saat melihat kearah kalender, mustahil jika rumahnya sepi saat weekend Ia segera memeriksa ponselnya dan ternyata ada banyak telfon tidak terjawab dari Ibunya dan Kakaknya. Ia yang memiliki firasat buruk itu segera menelfon Ibunya. "Halo Bu." "Na kamu kemana aja sih?! Ibu telfonin!" Ibunya itu langsung marah. Bina yang bingung hanya diam. "Emang kenapa Bu?" Tanya Bina. Ibunya itu mengembuskan nafas berat. "A-ayah kamu meninggal Na..." Kalimat itu membuat Bina terdiam sejenak dan mencoba mencernanya. "M-maksud ibu apa?" Tanyanya dengan suara yang sedikit gemetar. Ibunya menceritakan bahwa sepulang dari sholat subuh, Ayahnya terjatuh dengan tiba-tiba. Warga yang melihatnya segera mengendongnya kerumah. Ibu dan kedua Kakanya yang melihat itu segera menelfon ambulance dan lupa tentang keberadaan Bina. Awalnya Ayahnya hanya kritis, tapi akhirnya dinyatakan meninggal karena stroke dan penyakit paru-parunya yang sudah sangat parah. Lutut Bina terasa sangat lemas sekarang. Perlahan ia terjatuh diatas kakinya sendiri. Ia memutus sambungan telfon dengan ibunya itu. "Sesedih itu hidupku?" Layaknya orang gila, Bina berbicara pada dirinya sendiri. *** Kini rumah Bina penuh dengan orang-orang yang ingin melayat Ayahnya. Ia bisa lihat Teguh datang, tapi Teguh sama sekali tidak menghampirinya atau menenangkannya yang kini tengah menangis. Mereka sudah seperti orang asing sekarang. Setelah kepergian Ayahnya, Bina menjadi sangat pendiam. Bahkan ia sama sekali tidak berinteraksi dengan orang lain terkecuali Dimas dan Raya. Ia tidak pernah lagi bermain dengan teman rumahnya. Bina seratus persen menarik diri dari dunia luar. Hubungan dengan ibunya pun semakin renggang. Dunia berjalan begitu lambat baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN