Dipta mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ini sudah pukul 11 malam dan jalanan cukup lenggang untuk dilewati, sungguh ia sangat khawatir dengan keadaan Ale, putri satu satunya yang sangat ia cintai. Seharusnya ia tidak marah marah tadi sore, harusnya ia tidak sampai membiarkan Ale melihatnya marah, harusnya ia tidak melempar Vas Bunga kedepan pintu. Lagipula kenapa Dipta harus marah?? Berkali kali Dipta merutuki kebodohannya, membuat fokus menyetirnya terpecah. Dipta memejamkan matanya sesaat, saat membuka matanya, ia terbelalak kaget, disana terlihat ada seorang perempuan yang tampak berjalan melamun ketengah jalan. Sekuat tenaga Dipta menginjak pedal rem dan membunyikan klakson secara bersamaan. Perempuan itu menoleh pada mobil Dipta dengan pandangan k

