"Aleee.. Aku capek! Mau berapa kali lagi kita keliling taman?"
"Tau nih. Istirahat dulu ya?"
"Mau sampe kapan kita jalan??"
"Sampai Ale nemuin Mommy," jawab Ale mantap menjawab pertanyaan dari para sahabatnya yang selama ini setia membantunya mencari Mommy Impiannya.
Teman-teman Ale memutar bola mata jengah.
"Mungkin Mommy impianmu itu nggak ada disini Al, pulang yuk?" ajak teman perempuan Ale yang mengikat dua rambutnya, Abigail atau akrab disapa Abby.
"Iya nih, laper. Hehe" lanjut seorang temannya lagi, Reynand.
"Yaudah, kalau kalian mau pulang pulang aja. Kan tadi kalian yang nawarin bantuan buat bantuin Ale. Jadi kenapa kalian yang malah ngeluh?"
Putus Ale, matanya tetap menatap sekeliling taman. Berharap ia menemukan sosok wanita yang didambakannya.
"Hm, gini aja, gimana kalau kita mampir ke Cafe sana dulu? Kita istirahat bentar trus lanjutin pencarian ini, gimana?" usul Arsen yang sedari tadi diam.
Reynand dan Abby menatap Ale penuh harap. Semoga Ale setuju dengan usul Arsen. Ditambah lagi, Cafe yang ditunjuk Arsen adalah salah satu Cafe milik ayah Ale. Jadi mereka bisa makan gratis disana.
Mumpung ada kesempatan makan gratis kenapa tidak? Hehe
Ale menghembuskan nafasnya pelan lalu mengangguk. "Yaudah ayo, ini juga udah jam makan siang"
Reynand dan Abby tersenyum lebar, berbeda dengan Arsen yang hanya tersenyum kecil.
4 anak itu pun segera memasuki Cafe tujuan mereka.
"Selamat datang, Nona" sapa para Pelayan yang melihat Ale masuk.
Ale mengangguk dan tersenyum lebar.
4 s*****n itu duduk dimeja pojok dekat jendela. Dari situ mereka bisa melihat langsung keadaan luar Cafe.
Seorang pelayan menghampiri meja yang ditempati Ale dan teman-temannya. Ketiga temannya sibuk membaca buku menu yang ada, sedangkan Ale melihat sekitar Cafe yang sudah lumayan lama tak dikunjunginya lagi.
Tiba-tiba matanya menangkap sosok seorang wanita cantik, terlihat anggun dengan senyum manis melayani para pengunjung Cafe. Wanita itu tampak sangat muda.
"Kak Jess? Itu pelayan baru, ya?" tanya Ale pada pelayan bernama Jessica yang ada didekat mejanya. Ale memang sangat Akrab dengan Jessica, karna Jessica sangat ramah pada siapapun.
Jessica menatap seseorang yang ditunjuk Ale, lalu ia mengangguk semangat.
"Iya! Cantik ya? Dia itu orangnya penyayang loh, dek. Ramah, baik, suaranya bagus lagi." Jessica memprovokasi.
Ale tampak mulai tertarik, "oh ya?"
"Iya! Cocok deh sama Mommy impianmu. Hihihi" Jessica terkikik. Ia memang tau mengenai Ale yg menginginkan sosok Ibu.
"Siapa namanya?"
"Denisa Lucyanna, biasanya dipanggil Anna" katanya, "umurnya 21 tahun. Masukin list calon Mommymu gih, mumpung dia masih single" lanjut Jessica.
Senyum merekah dibibir tipis Ale. "Nama kita hampir mirip. Bisa tolong panggilin Mommy, kak?" ucap Ale antusias.
"Oke, Anna! Sini!" panggil Jessica setengah berteriak.
Dengan senyum yang masih terpantri diwajahnya, Wanita bernama Anna itu mendekat kearah Jessica.
"Kenapa Jess?" tanyanya.
"Ah, ini, bantuin gue ya? Tolong layanin dulu anak ini, gue mau ngurusin makanan tiga temennya dulu." alibi Jessica.
Anna mengerutkan dahinya. "Sekalian kan bisa?"
"Gabisa! Mereka bertiga pesennya banyak! Iya kan dek??" tanya Jessica pada Reynand, Abby dan Arsen.
"Hah? Eh.. e... I..iya iya. Kita pesennya banyak" jawab Abby tergagap gagap.
Anna beralih menatap gadis kecil yang ditunjuk Jessica. Gadis cantik berambut hitam pekat panjang nya sepinggang, mata bulat dengan iris mata caramel, pipi chubby merah alami, kulit putih bersih, bibir tipis pink kemerahan, seperti menatapnya memuja.
'Manis' batin Anna.
Anna menampilkan senyuman hangatnya.
"Hay sayang, nama kamu siapa?" tanya Anna lembut, perempuan itu membungkuk, mensejajarkan tubuhnya dengan Ale yang masih duduk.
Ale semakin melebarkan senyumannya mendengar nada lembut itu. Sungguh terdengar lebih indah dari kotak musik pemberian ayahnya kemarin.
"Namaku Devina Alisya Elgandara. Panggil aja Ale, Mom"
Anna mengernyit bingung, "Mom?"
Ale memgangguk antusias. "Iya! Mom. Ale ingin tante jadi Mommynya Ale!"
Teman-teman Ale tersenyum senang.
"Iya tante! Tante cantik! Juga baik! Udah masuk kategori Mommy impiannya Ale! Mau ya jadi Mommynya Ale??" Abby ikut merayu.
Anna semakin bingung, ia menengok kesamping berharap mendapat jawaban dari Jessica, nyatanya Jessica sudah tak ada disampingnya. Makhluk satu itu sudah kembali kehabitat asalnya alias dapur mengambilkan pesanan anak anak tadi.
"Sebentar sebentar, tante masih bingung. Maksud kalian apa?" mau tak mau Anna menanyakannya pada para bocah ingusan ini, daripada penasaran.
"Ibunya Ale udah pulang ke surga pas ngelahirin Ale. Kata Om Dipta, Ibunya Ale nggak akan pulang lagi. Makannya Ale ingin punya Ibu baru. Ale udah nyari Ibu Impiannya lama banget. Dan sekarang, Ale nemuin tante. Tante mau ya? Kasian Ale" jelas Reynand menatap iba pada sahabatnya itu.
Ale hanya menunduk. Ia takut mendapat penolakan dari wanita cantik dihadapannya ini.
Anna beralih menatap Ale, diraihnya dagu Ale agar tidak menunduk.
Ale menatap Anna dengan mata berkaca-kaca.
Anna yang melihat itu tertegun sejenak, entah kenapa hatinya juga terasa pilu mendengar cerita teman Ale ditambah melihat pancaran luka dimata Ale.
Anna membelai pipi chubby Ale, "Sshh, jangan nangis. Iya sayang, tante mau jadi mommy kamu. Jangan nangis ya, nanti cantiknya hilang"
"Beneran tante?!" tanya Ale, matanya langsung berbinar.
Anna mengangguk, tanpa fikir panjang Ale langsung memeluk tubuh Anna, rasanya hangat.
"Jadi gini ya rasanya dipeluk mommy? Hangat" gumam Ale yang masih bisa didengar Anna.
Anna semakin mengeratkan pelukannya dan sesekali mengecup puncak kepala gadis kecil yang akan dianggapnya anak mulai sekarang.
...........................................................
BRAKK
"Daddyy!!!! Daddyy!!!"
Panggil Ale setelah membuka pintu dengan kencang tanpa mengucap salam ataupun apa. Ia benar benar tak sabar untuk mengatakan pada sang ayah bahwa ia telah menemukan Ibu impiannya.
"Dad, where are you?" panggil Ale lagi. Ia memeriksa ruang kerja, dapur, kamar, walk in closet, dan kamar mandi Dipta namun nihil. Ayahnya tak ada dirumah.
Ale menghembuskan nafasnya kasar, sang ayah belum pulang rupanya.
Ale memilih pergi kekamarnya, mandi dan segera berbaring ditempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar. Terbayang wajah Anna yang tersenyum sangat manis padanya. Ale yakin Dipta akan langsung suka pada Anna. Ia yakin itu.
Tak lama, rasa kantuk mulai menyapanya, dan ia pun terlelap ditemani mimpi bersama Anna.
***
Ale mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke matanya.
Ia menengok menatap jam dimeja kecil sebelahnya. Sudah pukul 19.30 rupanya.
Samar-samar Ale mendengar suara obrolan dari luar kamarnya.
Seketika senyuman Ale mengembang. Ia teringat akan Anna. Ale langsung bangkit dan membuka pintu kamarnya kencang.
Ia berlari menuruni tangga "Daddyy!!" teriak Ale melengking. Ketika sang ayah menengok, Ale langsung menubruk tubuh tegap ayahnya itu.
"Wohoo, Calm down, baby. What's up?" tanya Dipta sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Ale.
Tanpa melunturkan senyuman lebarnya Ale menatap Dipta. "Dad, tadi Ale ketemu sama-" ucapannya terhenti. Seketika senyumannya kuncup. Terganti dengan pandangan heran pada seseorang dibalik tubuh Dipta yang baru Ale sadari kehadirannya.
Dipta ikut menengok menatap apa yang Ale tatap. Senyumnya mengembang.
"Nah, Ale, kenalin. Dia Tante Zera. Calon Mommy kamu. Cantik kan? Tante Zera juga bisa nyanyi, biar kamu nyenyak tidurnya."
Ale masih belum menjawab, ia menatap intens wanita yang ia ketahui namanya Zera tersebut. Zera tersenyum sangat manis padanya. Entah kenapa, Ale merasa tak nyaman dengan keberadaan Zera disini.
Setelah beberapa saat, Ale menatap Dipta dalam. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Ale nggak mau Tante Zera! Ale maunya Mommy Anna!"
Senyuman Zera luntur seketika, pandangannya berubah dingin. Dipta juga terdiam mendengar penolakan Ale entah yang keberapa kalinya. Dan, apa tadi dia bilang? Mommy Anna? Siapa dia?
"Tante Zera baik sayang, dia bakal antar jemput kamu sekolah, bacain dongeng buat kamu, nyuapin kamu makan, dan nyanyiin lagu biar kamu tidur."
Ale tetap menggeleng. "Mommy Anna jauh lebih baik. Mommy Anna sayang sama Ale"
"Tante Zera juga sayang sama Ale, iya kan Ra?" Dipta menengok kearah Zera membuat Zera mengembangkan senyuman yg sempat luntur.
"Ah, i..iya. Tante Zera sayang kok sama Ale. Sayang banget malah."
Ale kembali menatap Dipta. "Ale maunya Mommy Anna, dad. Mommy Anna!"
Dipta menghela nafasnya. "Ale, bahkan daddy nggak tau siapa itu Mommy Anna. Tante Zera aja ya?"
Lagi lagi Ale menggeleng. "Kasih waktu tante Zera 1 bulan buat buktiin ke kamu bahwa Tante Zera sayang sama kamu" putus Dipta.
Ale tampak menimbang nimbang, "satu minggu" akhirnya ia memutuskan.
"Sayang.."
"Satu minggu dad!"
Dipta menghembuskan nafasnya kasar. "Oke, as your wish. Satu minggu" setelahnya Dipta tersenyum manis pada putri kesayangannya.
Ale menatap Zera dengan wajah datar tak berekspresinya. Dibalas senyuman sok manis dari Zera.
"Ini udah malam. Kenapa tante nggak pulang?" lagi lagi senyuman Zera luntur mendengar pengusiran secara halus dari Ale.
Jika Ale bukan anak dari Dipta, ia pasti akan mencekik bocah itu hingga pingsan.
".eee.. Yaudah, Tante pulang dulu ya? Dip, aku pulang dulu ya?"
"Aku antar ya?"
"Bol..."
"Tante kan punya kaki. Bisa naik taksi atau jalan kaki. Punya uang kecil kan? Kalau nggak ada Ale punya kok kembalian beli permen tadi," potong Ale membuat bibir Zera berkedut menahan segala sumpah serampah yang hendak ia lontarkan.
"Ah iya, aku baik taksi aja Dip, nggak papa. Aku pulang ya? Bye, See you.."
Setelah itu Zera langsung keluar dari rumah dan menuju jalan untuk mencari taksi.
Ale tersenyum puas melihat Zera yang sudah pergi menjauh. Ia lalu menatap sang ayah yang masih menatap kearah pintu.
"Daddy jangan ngelamun. Nanti kesambet hantunya tante Zera. Tuh dipojokan ada pengikut tante Zera yang ketinggalan," canda Ale langsung pergi kekamarnya meninggalkan sang ayah yang masih termangu.
To Be Continued