"Ale, bangun sayang,"
Bisikan lembut disertai elusan dipipinya membuat tidur Ale terganggu, perlahan ia membuka matanya. Hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan nan rupawan sang ayah.
"Morning, Daddy's Little Princess" sapa Dipta dengan senyum lembut.
Ale ikut tersenyum, "Morning too My Hero!"
"Ready for today?"
Ale mengerutkan dahinya, "ready for what?"
"Start your day with a Mommy," Senyuman Dipta semakin mengembang berbanding terbalik dengan senyuman Ale yang menyurut.
"Tante Zera disini?" Dipta mengangguk meng-iya kan.
"Sekarang kamu mandi ya? Daddy mau bantu Tante Zera bikin sarapan"
Ale mengangguk kemudian segera bangkit dan melaksanakan perintah sang ayah.
Setelah selesai mandi dan memakai seragam sekolahnya, Ale bergegas turun dan menuju ruang makannya dengan menenteng tas gendong mungil bergambar Unicorn warna Ungu kesukaannya.
Ternyata disana ada Zera yang juga sedang duduk dikursi sebelah Dipta, membuat Ale sedikit risih. Ia tak suka ada wanita yang dekat dekat dengan ayahnya, kecuali Anna tentunya.
"Good Morning Daddy!" sapa Ale ceria mengabaikan Zera dan duduk disisi Dipta yang satunya.
"Again?" kekeh Dipta
"No, yang dikamar itu sapaan buat Hero ku. Dan yang ini buat Daddyku!" Ale tersenyum lebar hingga menampakan gigi susunya.
Dipta kembali terkekeh, "ah ya, Tante Zera tidak disapa?"
"Tante Zera beneran ya? Ale kira itu cuma bayangan"
"Ale, daddy nggak pernah ngajarin kamu nggak sopan gitu!" nada bicara dan raut wajah Dipta tiba-tiba dingin.
Diam-diam Zera tersenyum puas, sebenarnya ia juga tidak menyukai anak-anak. Tapi demi mendapatkan Dipta ia rela berpura-pura baik pada Ale.
Ale menatap wajah sang ayah dengan menampilkan puppy eyes nya berharap sang ayah luluh, dan bingo! Dipta menghembuskan nafasnya pelan lalu melembutkan raut wajahnya.
"Minta maaf sama tante Zera" titah Dipta.
"I'm sorry, Lucifer"
Senyum puas diwajah Zera kembali luntur. Jika tidak ada Dipta ingin sekali ia memasukan Ale ke karung dan melemparnya jauh kehutan.
"Alee!" Dipta kembali memperingatkan.
"Kenapa dad? Itu kan panggilan kesayangan Ale buat Tante Zera," mata Ale berkaca-kaca membuat Dipta lagi-lagi luluh.
"Tapi nggak tokoh kartun jahat juga, sayang. Tante Zera nggak jahat"
"Ah, nggak apa-apa Dip, maklum anak kecil masih suka fantasy. Aku nggak keberatan kok. Kita mulai makan aja ya?" Zera menengahi.
Dipta menatap Zera dengan pandangan kagum membuat Ale agak kesal. Walaupun ia masih berumur 7 tahun, ia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Dan entah kenapa firasatnya berkata bahwa Zera bukanlah pilihan yang tepat.
Setelah selesai makan, Ale segera meneggak s**u coklat nya dan segera menggendong tasnya. "Ayo dad, nanti Ale terlambat,"
"Sebentar, Ra, kamu bareng kita kan?"
Zera tersenyum manis, "Oke, sekalian nanti tolong antar aku ke Mall ya, mau belanja"
Dipta mengangguk lalu segera menyambar air digelas kemudian meminumnya dalam sekali tenggak kemudian memakai jasnya.
"Sini, biar aku betulin dasinya,"
"Biar Ale aja!"
Ale segera menarik tangan Dipta agar mendekat, ia kemudian naik kekursi makan dan mulai membenarkan dasi Dipta yang memang terlihat kurang rapi. Dipta tersenyum melihat tingkah Ale, bangga rasanya memiliki putri pintar sepertinya.
Dibelakang Dipta, Zera mendengus 'buat apa pengen istri kalau anaknya aja bisa merangkap jadi istri. Dasar bocah ingusan!' umpat Zera dalam hati.
Ale memiringkan wajahnya, menatap Zera yang ada dibelakangnya dengan mata yang juling dan lidah menjulur keluar, membuat Zera membolakan matanya. Setelahnya Ale terkikik dan kembali menegakan kepalanya.
"Selesai!" pekik Ale bangga melihat hasil karyanya yang ada dileher sang ayah. Dipta tertawa kecil lalu mencium pipi chubby Ale gemas lalu menggendong Ale menuju mobil, hampir saja melupakan Zera jika Zera tak berdehem.
"Ah, maaf. Sampai kelupaan. Ayo" ajak Dipta berhenti.
Ale menahan tawanya digendongan Dipta, sedangkan Zera memaksakan senyumannya kemudian menyusul langkah Dipta.
"Belajar yang rajin, sayang. Jangan nakal! Nurut sama bapak ibu guru. Oke?" pesan Dipta ketika Ale turun didepan gerbang yang sudah ditunggu oleh Arsen.
"Oke dad, daddy juga jangan kerja terus! Ale aja pusing liat diagram yang ada dilaptop daddy. Oh iya, nanti siang jemput Ale ya dad! Ale ingin ajak daddy ke Cafe deket taman" celoteh Ale.
Dipta terkekeh lalu mengangguk. "Daddy titip Ale ya Arsen. Jaga dia baik-baik. Bye"
"Pasti dad, bye!" jawab Arsen menunjukan jempolnya.
"Bye daddy! Bye Lucifer! Hihihi"
Mobil Dipta pun menghilang dari pandangan Ale dan Arsen.
"Lucifer?" tanya Arsen
"Iya! Ayo deh kekelas, ntar aku ceritain!" Ale menarik tangan Arsen semangat, sedangkan Arsen terlihat pasrah ditarik begitu oleh Ale.
........................................................................
Tok Tok Tok
"Masuk"
CEKLEK
"Pak?"
"Hm? Ada apa?" tanya Dipta to the point ketika melihat sekertarisnya, Kevin datang.
"Rapat dengan dewan direksi 15 menit lagi."
Dipta melihat jam yang melingkar ditangannya, sudah pukul 11.15 siang. Itu artinya 45 menit lagi Ale pulang sekolah.
Baiklah, mungkin ia akan terlambat beberapa menit menjemput Ale nanti.
Dipta mengangguk kemudian Kevin segera undur diri dari ruangannya.
♥♥♥
Anna berjalan riang dengan menenteng sebuah botol besar berisi dua liter bahan bakar mobil, pamannya menyuruhnya untuk membeli bahan bakar mobil untuk persediaan mobil pick up nya.
Saat ini Anna sedang absen menjadi pelayan di Cafe. Hari ini ia mengambil cuti untuk membantu sang paman menjaga bibinya yang sedang hamil tua.
Sekarang, jalanan yang dilewati Anna cukup sepi. Jalanan pun cukup lenggang. Karna letak rumah Anna memang berada didekat sini, jadi ia sudah terbiasa tanpa merasa takut.
Namun sosok seorang pria dengan mobil mewahnya yang terbuka menarik perhatian Anna. Anna tampak menimbang nimbang.
Hampiri
Tidak
Hampiri
Tidak
Hampiri
Tidak. Ah, tapi melihatnya mengacak rambut frustasi sambil mencoba menelfon seseorang membuat Anna mendekat untuk menawarkan bantuan, mungkin.
"Pak?"
Pria itu segera berbalik, penampilannya tampak kacau. Apalagi rambutnya yang berantakan, tapi itu malah menambah kesan.. Err.. Seksi, mungkin.
"Ya?" jawabnya sekaligus tanyanya.
Mendadak jantung Anna berdegub kencang. Ia jadi gugup seketika melihat pria yang tampaknya lebih tua darinya itu menatapnya.
"Em.. Bapak sehat kan?"
Pria itu menaikan sebelah alisnya tanda tak mengerti.
"Eh, maksud saya, bapak nggak apa-apa kan? Kenapa ngacak-ngacak rambut? Bapak nggak punya penyakit depresi atau apa kan gitu??" tanya Anna was-was. Jika memang benar pria didepannya memiliki penyakit itu ia akan segera lari menjauh, daripada kena batunya kan?
"Kamu ngatain saya?" balas pria itu dingin, padahal diam-diam ia menahan tawanya mati matian melihat ekspresi panik gadis didepannya itu.
"Hah? Bukan pak bukan! Anu.. E.. Saya.. Eh, itu. Bapak ngapain?" akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulut Anna setelah mencoba mencari cari kalimat yang tepat.
"Saya mau ngamen" jawab pria itu asal.
"Loh pak, mau ngamen sama siapa? Disini sepi. Atau jangan jangan bapak dukun ya?! Bisa liat makhluk lain" Anna bergidik setelahnya. Sedangkan pria itu melotot.
"Mana ada dukun seganteng saya" pria itu menyombongkan diri.
'Ganteng mbahmu! Tapi emang ganteng sih, ekh' batin Anna.
"Yaudah kalo bapak mau ngamen, saya pulang ya pak!"
Anna berbalik hendak pergi tapi seseorang menahan tangannya, ya siapa lagi kalau bukan pria yang katanya hendak mengamen itu. Entah hanya perasaannya saja atau bagaimana tapi yang jelas Anna merasa seperti ada sengatan listrik ketika tangan besar itu menggenggam tangannya.
Anna menengok lagi, "kenapa pak?"
"Ehm, kamu bawa apa?"
"Ini jus batu"
"Serius"
"Hehehe, ini bensin pak. Paman saya nyuruh saya beli buat persediaan."
"Nah, kebetulan. Saya disini karena mobil saya kehabisan bensin. Boleh minta? Ah bukan bukan. Saya bayar 10 kali lipat harga bensin yang kamu beli"
Anna menaikan alisnya heran. "Mobil kece bensin kere. Jangan jangan mobil pinjeman lagi" gumam Anna pelan.
Wajah pria itu mendadak masam mendengar gumaman Anna. Ia mengambil dompetnya kemudian mengambil kartu namanya.
"Ambil ini"
"Apa ini pak?"
"Tagihan hutang"
"Hakh? Bapak debt collector?!"
"Itu kartu nama saya"
"Ooh," Anna membaca nama dikartu nama itu.
Dwi Pradipta Elgandara
'Namanya persis kayak namanya si pak bos' batin Anna.
"Jadi, gimana? Setuju kan? Saya butuh bensin itu. Anak saya nunggu disekolah. Kasian"
Anna menatap Dipta kemudian menghembuskan nafasnya mendengar kata 'anak' ia selalu tidak tega. Anna mengangguk setuju lalu menyerahkan botol berisi bensin itu pada Dipta.
"Tapi saya nggak bawa uang cash"
"Nggak apa-apa. Anak bapak lebih penting. Biar bensinnya saya beli lagi aja. Saya ikhlas kok" Anna memberikan senyum tulusnya.
"Hah? Beneran?" Anna mengangguk.
"Makasih! Makasih banyak!" Dipta segera mengambil botol ditangan Anna kemudian segera mengisi tangki bensin didalam mobilnya. Setelah selesai ia segera menghampiri Anna.
"Kamu mau pulang? Atau ketempat pembelian bensin lagi? Biar saya antar"
"Ah, nggak usah. Saya mau pulang dulu aja. Rumah saya deket sini kok. Bapak jemput anaknya aja. Kasian."
"Em.. Yaudah, kalau gitu saya pergi. Makasih sekali lagi"
Anna mengangguk kemudian segera berlalu saat Dipta masuk kedalam mobilnya.
Ditengah perjalanan, Dipta terus memikirkan gadis manis nan unik yang menolongnya tadi. Gadis itu tampil sederhana, namun entah kenapa itu malah membuatnya sangat cantik. Ditambah senyum tulusnya dan juga iris mata coklatnya yang meneduhkan.
Saat sedang asik memikirkan itu, Dipta baru menyadari sesuatu.
Siapa nama gadis itu??
'Bodoh!' umpat Dipta pada dirinya sendiri
To Be Continued