Lamaran Untuk Emran

1933 Kata
Ya Allah, jangan Engkau jadikan hamba orang yang zalim. Aku membuntuti Hasna untuk memastikan ia sampai dengan selamat—semoga ini masih tergolong pekerjaan yang mulia. Aku jelaskan sekali lagi, aku bukan penguntit. Aku hanya memastikan Hasna sampai dengan utuh. Lagi pula aku dan Hasna berada di kota yang sama. Hasna adalah tipikal manusia yang mengutamakan keselamatan di atas segala-galanya. Menghabiskan waktu hampir 2 jam untuk menempuh perjalanan yang biasanya kutempuh selama 1 jam saja. Semoga ia tidak mencurigai mobil Aku datang pagi-pagi sekali untuk melihat jadwal Ahad depan. Dan benar saja, aku mendapat giliran jaga. Kalau begitu aku tidak bisa menghadiri pentas seni di Iqra'. AKu tidak bisa bertemu dengan Hasna—maksudku aku tidak bisa menonton teater anak-anak. Kutelurusi lagi semua jadwal di minggu ini dan menemukan beberapa peluang agar aku bisa berganti. Ada Audry—Tidak! Aku sudah melakukan usaha pembatasan interaksi dengannya selama kurang lebih 7 tahun, meski ia selalu berusaha sebaliknya. Aku tidak mau minta tolong padanya. Hanya akan menciptakan harapan konyol baginya. Baiklah... aku akan menemui Putra. Dokter baru yang menggantikan Fahri. Sebaiknya aku segera mencarinya sebelum pergantian shift dan ia pulang. Audry mencegatku begitu aku akan keluar dari ruangan. Ini tidak bagus! "Minggir Audry." Ucapku dingin. "Aku mau bicara Emran." "Aku tidak punya waktu." "Ini kan belum pergantian shift." "Aku tau, aku punya urusan lain." Aku menutup pintu ruanganku dan melintasi Audry tanpa mengacuhkannya. "Emran! Aku mau bicara!" Bentak Audry. Ia setengah berlari untuk mensejajari langkahnya denganku. "Bicaralah." Jawabku tanpa menghentikan langkah sama sekali. "Aku mau tempat yang lebih privasi." "Kamu tau Audry, aku tidak akan melakukan hal itu." Aku memberi kode pada Putra yang sedang melakukan pemeriksaan. Mengabaikan Audry yang mencoba mendapat perhatianku. "Masih setengah jam lagi lo Bang." Ujar Putra ketika aku menghampirinya yang sedang cuci tangan. Ia melihat sekilas pada Audry yang terus membuntutiku. "Bukan itu, saya mau minta tolong sama kamu." "Apa itu Bang?" "Saya ada keperluan hari Ahad depan. Bisakah kita berganti jadwal?" "Jadwal Abang kapan?" "Hari Selasa—" "Kamu bisa tukar sama aku Ran, aku bisa menggantikanmu hari Minggu." Sela Audry. Aku mengabaikan Audry. Putra tersenyum tak enak. "Gimana Bang?" Tanya Putra segan pada Audry. "Gimana apanya? Kamu bersedia tukar sama saya?" "Tapi..." Putra melirik pada Audry. "Saya minta sama kamu." Jawabku kesal. Bahkan Putra yang baru beberapa minggu di sini sepertinya sudah punya prasangka padaku dan Audry. "Saya ga masalah Bang." Audry mendengus kesal. Ia melipat tangannya di d**a dan membuang mukanya. "Makasih ya." Aku menepuk-nepuk pundak Putra dan segera meninggalkannya. Bersiap-siap untuk pergantian shift. "Emran!" Bentak Audry padaku yang menarik perhatian beberapa penghuni IGD. Oh baiklah, sekarang aku seperti pasangan yang sedang bertengkar. Ini adalah perilaku yang tidak bisa kuterima. Aku menutup mataku, menghirup napas meredam amarahku pada Audry. "Istirahat. Di kantin!" Desisku tanpa menoleh padanya. Audry pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya. Audry melambai padaku begitu aku masuk ke area kantin rumah sakit. Dengan malas aku menghampirinya. Ia menepuk-nepuk kursi di sampingnya untukku. Aku memilih untuk duduk di kursi yang tidak berhadapan langsung dengannya. Itu membuatku lebih berjarak dengan Audry. Apalagi ia memilih tempat duduk di sudut kantin yang sedikit tersembunyi. Kuputuskan untuk tidak membahas itu lebih lanjut agar urusanku tidak begitu panjang dengannya. "Ada apa?" Tanyaku tanpa basa-basi. "Aku sudah memesankanmu makanan." Audry mengabaikan nada ketusku. Ia menghampirkan Nasi Padang ke hadapanku. "Kamu suka Gulai Ikan kan? Seperti biasa." Aku menghela napas. "Saya puasa." Jawabku sekenanya. Aku bersyukur dalam hati ketika memutuskan puasa hari ini. Aku menepikan makanan yang sudah dihidangkan Audry untukku. Muka Audry berubah masam. "Aku sudah memesankanmu makanan Emran." "Saya puasa Audry." Cepatlah! Tidak perlu bertele-tele. "Lalu bagaimana ini?" Audry menunjuk makanan dengan dagunya. Aku memutar mataku. "Kamu bisa memberikan pada siapa saja yang kamu mau dan sedang tidak berpuasa. Lain kali jangan bertindak seenaknya. Cepat utarakan apa yang ingin kamu katakana agar urusan ini cepat selesai." "Selesaikan aku makan dulu ya?" Audry mencoba menawarku. "Kalau begitu kamu makan, dan saya akan pergi." Aku hendak berdiri ketika Audry menyerah. Ia mengelap tangannya dengan serbet. "Baiklah aku akan langsung saja. Sekarang kamu duduk dulu." Aku duduk. Dengan malas aku buka aplikasi chatting dan membaca chat grup yang selama ini kuabaikan agar aku punya alasan untuk tidak terlalu serius dengan apa yang akan dikatakan oleh Audry. "Mama sama Papa minta kamu datang untuk makan malam hari sabtu." Aku melirik Audry dengan sudut mataku. Ia menuntuk dan memilin-milin jarinya. Aku memijit-mijit keningku. Ini sepertinya akan menjadi masalah baru yang menimpaku. "Kenapa Audry, saya tidak kenal sama Mama dan Papamu." Lucu sekali ia mengatakan makan malam dengan orang tuanya padaku. "Kamu kenal Emran. Waktu itu pas wisuda. Aku mengenalkan mereka padamu." "Baiklah. Oke waktu itu berkenalan. Mereka tau namaku, tapi tidak kenal untuk sampai mengundang makan malam Audry." Aku menggertakkan gigiku menahan suaraku agar tidak berteriak di depan hidungnya. "Mama Papa mengundangku untuk membahas hubungan kita Emran." Tatapan tajamku tidak membuat Audry gentar untuk menghentikan omong kosongnya. "Demi. Allah. Kita. Tidak. Punya. Hubungan. Apa. Apa. Audry!" Aku mengetukkan jariku ke meja agar setiap kata yang kueja menggambarkan kemarahanku. "Tapi aku menyukaimu Emran. Kumohon. Aku sudah bilang sama orang tuaku. Aku ingin kita berta'aruf dan menikah." Apa?! ia memintaku untuk menikahinya? Tidak tidak tidak. Satu-satunya yang ingin kunikahi sekarang hanya Hasna. "Aku tidak bisa Audry." Audry menatapku tidak percaya. Ya, aku menolakmu. Jika kamu tersinggung maafkan aku. Tapi itulah kenyataannya. "Apa kamu menyukai perempuan lain Emran?" Audry terisak, tapi belum akan menangis. Ya. Itu Hasna temanmu. Apa yang akan kamu lakukan dengan kenyataan itu. "Itu bukan urusanmu Audry." Kualihkan perhatianku pada ujung sepatuku. Perasaan tidak nyaman mengaliri setiap sendiku karena sudah menolak seorang perempuan. Aku berharap tidak akan pernah melakukan ini seumur hidupku. Tapi baru saja kulakukan. "Siapa perempuan itu Emran?" Audry masih menahan tangisnya. Hasna. Audry mendengus. "Tidak ada kan?" Ia tersenyum miring. "Kamu tidak mampu berbohong Emran. Kamu hanya ingin menolakku kan Ran." Aku tidak berbohong. Hanya saja perasaanku kepada perempuan lain bukanlah urusan Audry. Menggelikan sekali aku ingin membuatnya cemburu karena perempuan lain. "Sudahlah Audry, saya tidak bisa memenuhi keinginanmu. Terlepas dari urusan perasaan saya—yang bukan urusanmu." Aku mendorong kursi ke belakang dan beridir hendak meninggalkan Audry. "Aku bisa memaksamu Emran." Ujar Audry dengan sorot mata penuh tekad. Kutinggalkan Audry tanpa menanggapi pernyataannya. Aku tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini dengannya. Aku ingin menjaga puasaku dari rasa marah. Berlama-lama dalam pembicaraan ini bersama Audry hanya akan memancing kemarahanku saja. Audry tidak main-main dengan ucapannya tentang memaksaku untuk memenuhi undangan makan malam orang tuanya. Dengan licik Audry menyuruh Papanya menelpon untuk membujukku makan malam bersama mereka. Aku tak kuasa menolak karena kesopanan Papanya ketika menelponku. Kuputuskan untuk menerima saja. Ini adalah kesempatanku untuk mengutarakan kebenaran kepada orang tuanya. Semoga saja orang tuanya bisa memahamiku. Papa Audry menyambutku di rumahnya. Ia memberikanku pelukan dan sekali lagi berkenalan denganku. Ia tersenyum sumringah padaku—semoga ini karena aku memenuhi undangannya. Bukan karena berpikir aku benar-benar akan melamar anaknya. Terdengar derap langkah dari dalam rumah. "Emran!" Teriak Audry dan melemparkan diri padaku. Itu terjadi begitu saja. Aku merinding. Audry memeluk lenganku. Kutarik tanganku dan mendorongnya menjauh. "Astaghfirullah Audry! Jaga sikapmu!" Suaraku berdesis. aku tidak bisa menyembunyikan marahku. Audry melotot kaget karena kemarahanku. Ia melirik ke arah Papanya. Aku mengikuti arah pandangnya. Jelas Papanya terlihat terkejut. Aku tidak tau apakah itu karena tingkah anaknya atau karena aku yang marah. Papa Audry mencoba mengabaikan apa yang terjadi. Ia meninggalkan kami di pintu masuk. "Kamu yang harusnya jaga sikap Emran! Ada Papaku di sini. Kamu harus menghargainya!" Audry marah tanpa kumengerti. "Saya menghargai Papamu dengan memenuhi undangan ini, bukan berarti kamu seenaknya menyentuh saya! Demi Allah kita bukan muhrim Audry!" Kugertakkan gigiku menahan amarah. "Maafkan aku Emran, aku begitu senang dengan kedatanganmu." Lagi-lagi Audry mengulurkan tangannya ingin mengambil tanganku. Aku segera menjauhkan diri darinya. "Baiklah, ayo kita masuk. Makan malamnya sudah terhidang." Audry mencoba mengabaikan penolakanku. Kami masuk ke ruang makan. Aku dipesilahkan duduk dan memilih tepat di sebelah kanan Papa Audry. Dan Audry mengambil tempat di sampingku. "Duduklah di sebelah sana Audry!" Ucapku dingin. Audry akan protes ketika Papanya menatap tidak suka padanya. Dengan gerakan malas-malasan ia berpindak tempat ke sebelah Mamanya. Dengan begitu ia tidak duduk di samping maupun di hadapanku. Makan malam berlangsung canggung. Ini pasti karena kejadian di pintu masuk. Entahlah, apakah aku atau Audry yang menapilkan perilaku yang tidak pantas. Tapi itu tidak bisa kutoleransi sama sekali. Sesekali Papa Audry masih tetap menanyai seputar kehidupanku. Beliau masih belum mengungkapkan sama sekali maksudnya mengundangku makan malam bersama. Makan malam selesai, beliau mengajakku untuk berbincang di sofa. Ini saatnya. Audry bersikeras untuk ikut duduk bersama kami. Namun akhirnya ia menyerah ketika Mamanya memaksa untuk membawanya pergi meninggalkan ruang tamu. "Saya menghargai sekali nak Emran sudah mau datang ke rumah dan makan malam bersama kami." "Terima kasih atas undangannya Pak." Apalagi yang bisa kusampaikan. Suasana hening sejenak. Aku menunggu. "Ini tentang Audry—" Tentu saja, siapa lagi kalau bukan karena dia. "Dia sudah lama menyatakan rasa sukanya terhadap nak Emran pada kami. Tapi ia mengatakan bahwa nak Emran hanya mau untuk menikah." "Saya mengapresiasi Audry karena mengetahui apa yang saya jaga terhadap perempuan." Well... setidaknya Audry paham apa yang kulakukan selama ini. Meskipun itu tidak ia tunjukkan kepadaku. "Baru-baru ini ia juga mengungkapkan keinginannya untuk menikah dengan nak Emran." Akhirnya masuk pada poin intinya. Aku sudah tau apa yang aku inginkan. Hanya saja aku belum merancang apa yang harus aku sampaikan. "Audry ingin berta'aruf dengan nak Emran. Dan saya berharap bisa untuk mewujudkan keingin Audry." Buru-buru beliau menambahkan. Apa ia baru saja melamarku untuk anaknya? Aku menelan ludahku. Pahit. "Saya menghargai apa yang baru saja Bapak sampaikan. Tapi—" Oh tidak, berat sekali mengutarakannya. "Mohon maaf sebelumnya dengan apa yang akan saya sampaikan, Tapi saya tidak bisa menerimanya Pak." Alhamdulillah. Lega. Aku menegakkan kepalaku. Semoga raut wajahku menampilkan permohonan maaf yang tulus. Wajah Papa Audry berubah. Pandangan matanya mengeras. Sepertinya ia terkejut dengan penolakanku. "Kenapa? Apa nak Emran menyukai perempuan lain?" Apa Audry membahas ini dengan Papanya. Ini tidak bagus. Aku menelan ludah sekali lagi. Rasanya bertambah pahit. "Sekali lagi saya mohon maaf Pak, saya tidak berniat untuk bertindak sopan sama sekali. Tapi ini adalah keputusan saya. Saya tidak bisa karena memang tidak bisa menerima. Saya tidak ingin mencari-cari alasan Pak, apalagi tentang perasaan saya terhadap orang lain. Saya tidak ingin membuat orang lain tersalahkan karena saya." "Ada apa? Apa yang kurang dari Audry? Saya yakin Audry mampu untuk memperbaikinya." Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini. Jangan jadikan hamba menjadi orang yang zalim. "Pak... Audry adalah Audry. Saya tidak mempunyai keberanian untuk memberikan penilaian terhadap orang lain sedangkan saya sendiri adalah manusia yang tidak sempurna. Cukuplah Allah yang memutuskan derajat hamba-Nya. Saya tidak bisa karena saya rasa tidak ada kecocokan antara diri saya dengan Audry." "Tapi kan kamu belum mengenal Audry sepenuhnya nak Emran." "Saya mengenal Audry sejak 7 tahun yang lalu Pak, memang saya tidak mengenal dalam artian berteman dekat dengan Audry. Tapi saya sudah berpikir bahwa saya tidak cocok dengan Audry." Papa Audry terdiam. Ia menatapku lekat-lekat. "Baiklah, saya paham." Jawaban singkatnya itu mengentikan p********n padaku sejak Audry memaksaku untuk ikut makan malam. Aku menghembuskan napas mencoba memupuk kekuatan untuk mengakhiri ini tanpa menyakiti siapapun. Jangan bodoh Emran, kamu melukai mereka yang ada di rumah ini! "Terima kasih Bapak mau memahami saya—" dan menghentikan p********n ini "Sungguh tidak ada maksud saya untuk menyakiti hati Bapak dan Audry." "Ya saya paham apa yang kamu maksud." Tapi nada itu jelas-jelas tersinggung. Bertahanlah Emran! "Kalau begitu saya pamit undur diri Pak. Sudah larut sekali." Aku berdiri untuk menjabat tangannya. Ia menyambut tanganku tanpa senyum sama sekali. Aku meninggalkan rumah Audry secepat yang aku bisa karena ini benar-benar menyiksaku. Ya Allah, jangan Engkau jadikan hamba orang yang zalim.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN