Bukankah semuanya berawal dari harapan.
Well, pembicaraan dengan kakakku sedikit banyak mempengaruhiku. Sekarang aku berangkat menuju Rumah Baca dengan hati berdebar-debar. Harapan bertemu dengan Hasna di sana ditambahkan dengan doa 'semoga bisa ta'aruf'—Aamiin.
Aku datang sedikit terlambat. Entahlah, aku tidak tau apakah ini bisa dihitung terlambat. Ini kali kedua aku kesini sebagai volunteer tidak tetap dan masih tidak mengetahui waktu pelaksanaannya. Ustadz Kareem menyambutku dengan semangat yang meluap-luap. Beliau segera menyeretku ke saung utama tempatku membina anak-anak pada kedatangan pertamaku.
Dia datang! Hatiku bersorak begitu mengenali sosok yang juga berada di saung utama yang kuketahui bernama Sg-Nabila. Sg adalah singkatan untuk saung, sedangkan Nabila sepertinya diberikan untuk menghormati seseorang. Setelah kuperhatikan beberapa bangunan di sini diberikan dengan nama sesorang yang kebanyakan nama perempuan.
Senyum 1000 watt masih belum redup dari wajahku begitu Ustadz Kareem mengabarkan kedatanganku di dalam saung utama. Anak-anak dari pertemuan pertama berhamburan padaku. Ada yang ingin bersalaman dan ada yang memelukku. Ah, sepertinya mereka masih ingat denganku. Meski begitu senyumku masih tertuju pada Hasna yang terlihat harus bersabar karena kegiatan yang sudah dimulainya bersama anak-anak terganggu karena kehadiranku.
"Kita sedang latihan untuk pertunjukan teater." Ustad Kareem menjelaskan padaku.
"Benarkah? Kapan Tad?"
"Minggu depan dalam rangka Milad Iqra' yang ke-10. Kamu nanti harus datang ya Ran."
"Insya Allah Tad, kalau jadwal ana kosong." Ingatkan aku untuk mengosongkan jadwal di hari itu. Aku tidak bisa mengontrol ekspresi bodoh di wajahku.
"Hari ini tidak ada kegiatan lain selain latihan sih Ran, kamu bantu ya kasih masukan dan mengontrol jalannya latihan. Nanti bisa di bicaran sama Hasna dan teman-teman lain."
Aku melirik Hasna dan ia pun sedang memperhatikanku yang berbicara dengan Ustadz Kareem. Wajahnya datar saja. Aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirannya. Mungkin saja dia keberatan jika aku ikut mengatur latihan teater—berinteraksi denganku lebih tepatnya. Baiklah, aku tidak akan menempatkan Hasna dalam ketidaknyamanannya padaku.
"Saya sebaiknya menjauhi teater Tad."
"Kenapa?"
Aku tidak boleh menakuti Hasna. Ia pasti tidak nyaman berada di dekatku dalam waktu yang lama.
"Latihan sudah panjang, saya tidak mau ikut campur. Nanti mengacau saja. Saya bantu dibagian dekorasi panggung saja ya Tad." Aku menunjuk sekelompok anak yang sedang membuat properti dan dekorasi panggung. Selain itu, aku sangat payah dalam teater.
"Terserah antum saja kalau gitu."
Koordinator properti—Malik— bertepuk tangan dengan girang begitu aku bergabung dengan tim. Secara suka rela ia menceritakan apa saja yang terjadi di divisi design dan properti—sebagian besar adalah keluhan bahwa pekerjaan mereka masih banyak.
Majid sedang melukis background panggung bersama beberapa temannya yang lebih banyak mengganggu ketimbang membantu. Malik menjelaskan bahwa lukisan masjid yang setengah jadi itu adalah latar utama untuk panggung. Ia memberikanku design kasar panggung.
Aku mengernyit melihat coretan itu.
Oke well, ada masjid. Tapi apalagi?
Ini kacau sekali.
"Malik—" Aku menyerah untuk membaca design ini.
"Ya Bang?" Malik segera menghampiriku.
"Ini siapa yang buat? Majid?" Aku ragu gambar jelek ini Majid yang buat setelah menilai lukisan setengah jadinya.
"Bukan Bang. Mmm... Kak Hasna yang buat waktu ia menjelaskan design panggung." Malik menundukkan kepala merasa tidak enak hati.
Hasna? Aku tidak bisa menahan tawaku. Well, ini adalah karya Hasna. Aku harus respek. Kita lihat apa yang bisa kulakukan dengan gambar ini.
"Terus ini bagaimana penjelasannya? Abang engga bisa baca. Kita mulai dari mana?" Aku masih mengernyit menimbang kertas kertas ini. Tapi semangatku berkobar untuk mewujudkan keinginan Hasna agar terlihat lebih layak.
"mmm... Bang Emran bisa tanyakan langsung sama Kak Hasna ya." Malik masih menunduk dan sesekali melirik ke arah kanan belakangku.
"Kan Malik yang udah diskusi dengan Kak Hasna, Malik jelasin lagi sama Abang apa yang dibilang Kak Hasna. Abang engga ngerti lihat gambar ini."
Malik diam saja. Ia meringis menatap ke sebelah kananku lagi.
Oh tidak! Ada seseorang di belakangku. Aku berbalik dan mendapati—
Hasna!
Hasna berdiri dibelakangku dengan pipi merona merah. Ia malu. Apa ia mendengar komentarku tentang gambarnya?
Ini tidak bagus.
Tidak!
Aku tercekat hampir kehilangan suaraku.
"A...ada apa? Ada sesuatu yang perlu kami siapkan?" Aku tergagap dan tidak keren sama sekali. Ini tidak bagus Emran kalau ia benar-benar mendengar komentarmu.
"Sepertinya saya perlu menjelaskan design panggung pada Dokter Emran." Pipinya kembali merona melirik kertas yang ada di tanganku. "Itu rancangan saya. Maaf agak membingungkan untuk diinterpretasikan. Gambarnya jelek." Ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Tidak Hasna, ini bagus sekali. Kuteliti raut wajahnya. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ia tersinggung.
"Maaf saya hanya bingung mau memulainya dari mana." Aku berusaha untuk jujur—tidak menyakiti perasaannya lebih tepat.
Hasna tersenyum tipis. Kami duduk melingkar di salah satu saung kecil. Aku, Malik, Majid, Hasna dan satu anak perempuan yang dibawa oleh Hasna—aku tidak tau namanya.
"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih banyak pada Dokter Emran—"
"Tolong panggil Emran saja. Ini bukan rumah sakit." Potongku karena Hasna bersikap—terlalu—formal. Aku ingin keakraban.
Hasna diam sejenak sebelum kemudian memutuskan untuk mengabaikan permintaanku.
"Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk berpartisipasi di acara ini." Ia memilih untuk menghilangkan subjek dalam kalimatnya. "Harapannya adalah acara kita ini sukses dan langkah awal untuk tahun-tahun berikutnya."
Kita? Hatiku mengembang bahagia hanya karena menyebutkan kata 'kita'. Itu artinya keberadaanku diakui di sini. Bersusah payah aku menjaga raut wajahku untuk tidak mengeluarkan senyum konyol.
"Well, saya tau ini sudah terlambat, tapi saya harap saya bisa melakukan sesuatu untuk pertunjukan ini."
"Kedatangan Dokter hari ini benar-benar tepat, kami sangat membutuhkan bantuan seorang pria yang dewasa—Ustad Kareem sama sekali tidak bisa diganggu." Sepertinya Hasna benar-benar canggung jika harus memanggil namaku.
Aku berdehem membersihkan tenggorokanku menahan hasrat untuk menyela karena panggilan formalnya. "Coba kita lihat, apa yang bisa kita kerjakan." Aku membentangkan kertas A4 hasil karya Hasna. Aku melirik dengan sudut mataku. Ia gugup memandangi karyanya.
Tenang saja Hasna, aku tidak akan melanjutkan komentar tidak pantasku tentang master piece-mu ini. Kita akan memperbaiki hasilnya nanti.
"Sebenarnya saya ingin masjid ini dikelilingi oleh nuansa perkebunan dan persawahan." Hasna menunjuk gambar abstrak yang ia sebut masjid.
Aku mengernyitkan dahiku. Meski tau bahwa design utama panggung adalah masjid. Tapi tidak ada tanda-tanda kebun dan sawah.
"Saya tidak membuatnya di sana, takut Malik dan teman-temannya kewalahan." Tambahnya cepat begitu aku akan membuka mulut protes tentang kebun dan sawah.
"Oke... jadi kebun dan sawah." Aku mencatatnya agar terlihat profesional di depan Hasna. "Ada lagi yang mau ditambahkan?"
"mm... kalau bisa, sekaligus mem-visual-kan hasil pertanian." Ucapnya ragu-ragu.
"Hasna, katakan semua yang ukhti inginkan. Bukankah kita menginginkan pertunjukan yang spektakuler. Design panggung menyumbang sebanyak 40% keberhasilan kurasa." Kataku sok tau dan tentu lagi-lagi ingin membuatnya terkesan.
Aku masih menangkap keragu-raguan dan keterkejutan di mata Hasna—yang selalu memandang lima derajat ke arah kanan atau kiri wajahku. Ia menjaga pandangannya Emran!
"Saya takut ini terlalu banyak. Anak-anak hanya punya waktu setelah sekolah."
"Tapi ini potensial Hasna. Saya yakin ukhti juga sependapat dengan saya bahwa mereka semua potensial—dan luar biasa." Ini harusnya kalimatmu Hasna.
Diam Emran! Hasna sedang gugup karena mungkin ini adalah proyek yang berarti untuknya. Jangan melukai harga dirinya.
Dahinya Hasna mengernyit menatap jari-jarinya yang terpilin. Ia gugup?
"Apa Ukhti mau memberikan kepercayaan kepada mereka?"
Senyum merekah dari bibirnya. Ia mengalihkan pandangannya pada Malik dan Majid yang duduk di sampingku.
"Dokter benar, aku meremehkan kemampuan mereka."
Oh Hasna. Jangan tersinggung, aku tidak melihatmu begitu.
"Tentu saja saya akan percaya dengan mereka." Senyumnya mengembang.
Tanpa sadar senyum iklan pasta gigiku juga mengembang.
"Jangan ragu untuk mengutarakan semua yang kalian inginkan untuk design panggung. Insya Allah tim dekorasi akan berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkannya."
"Kami ingin s*****a dibuat senyata mungkin." Ungkap Hasna malu-malu. "Itu saja dulu, nanti akan kami tambahkan kalau membutuhkan lebih."
"Oke Ma'am." Aku memberikan penghormatan yang dibuat-buat.
Hasna undur diri untuk latihan. "Jazakallah Dokter Emran." Ia menghadiahiku senyum manis yang belum pernah kulihat sebelumnya. Senyum konyol menghiasi wajahku menatap kepergiannya.
Aku mengatakan pada Majid untuk membuat lukisan tambahan setelah masjid selesai. Majid tidak keberatan. Ia akan mencari personil tambahan teman-teman sekolahnya yang ia ketahui mempunyai kemapuan seni yang bagus.
"Bagus sekali Jid. Nanti untuk pohon dan sawah sebagai efek 3D akan dipasang satu hari sebelum pertunjukan agar tidak layu. Kita akan menggunakan pohon asli. Bisakah kita mendapatkannya Lik?"
"Insya Allah Bang. Nanti kita cari di sekitar sini saja. Banyak kebun kok."
Aku menempatkan tas berisi makanan yang diberikan Ustadz Kareem dengan paksa untuk oleh-oleh yang kubawa pulang. Aku memutar mataku pada Ustadz Kareem saat menerimanya. Ia hanya terkekeh ketika akhirnya aku menerima tas itu. Aku menutup bagasiku dan terlonjak karena tiba-tiba seseorang sudah berdiri di samping mobilku. Hasna. Ia tersenyum padaku.
"Hai... Maaf mengangetkan Dokter." Menyenangkan sekali karena ia tersenyum padaku sekarang dan hampir tersenyum sepanjang pertemuanku dengannya hari ini. Berbeda sekali dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Aku nyengir. "Ada apa?" Aku ingin memutar mata pada diriku sendiri karena respon aneh yang kuberikan. Aku tidak bisa membohongi diri sendiri kalau terlanjur gugup.
"Hanya memastikan bisa melihat Dokter minggu depan."
Hasna ingin aku mengadiri pertunjukan. Aku harus membuat catatan untuk mengosongkan jadwal minggu depan begitu sampai di rumah sakit besok. Aku menyeringai dengan pikiranku sendiri.
"Kalau Dokter benar-benar sibuk, pasti anak-anak bisa mengerti." Hasna mengembalikanku kehadapannya.
Tidak! "Saya ingin melihat mereka, tentu saja tidak akan melewatkan Ahad depan tanpa menonton mereka."Setelah kamu meminta secara pribadi, mana mungkin aku menolaknya Hasna. "Insya Allah." Buru-buru aku menambahkan. Tidak ada yang akan menjamin masa depan kecuali Allah.
"Baiklah... sekali lagi terima kasih bantuannya Dok. Anak-anak puas dengan s*****a yang sudah jadi."
Ya, kami berhasil membuat 75% s*****a yang akan digunakan untuk pertunjukan. Para aktor sudah mulai menggunakannya saat latihan.
"Masih banyak yang perlu dikerjakan sebenarnya. Tapi saya sudah meninggalkan pesan pada Malik dan Majid. Ustadz Kareem juga bersedia membantu mereka untuk seminggu ke depan."
Aku mengerutkan dahi melihat tas besar yang dijinjing Hasna.
"Ukhti akan pulang?"
"Tentu saja." Jawabnya heran.
"Pulang dengan apa?" Tiba-tiba aku tidak menyukai gagasannya untuk pulang malam-malam. "Dengan bus?" Selidikku. Aku teringat kejadian beberapa minggu sebelumnya ketika ia kesulitan mendapatkan angkutan.
"Saya bawa mobil." Senyumnya menghilang. Perasaan tidak nyaman menjalar ke leherku. Apa Hasna marah? Tapi kenapa?
Hasna menutup matanya dan menggeleng. "Baiklah, saya pulang dulu. Maaf. Assalamu'alaikum." Ia berbalik tanpa menunggu responku.
Maaf? Tapi kenapa? Dan ia tiba-tiba merasa tidak nyaman.
Aku meremas rambutku memikirkan apa yang baru saja kukatakan dan membuatnya tidak nyaman—atau bisa jadi ia marah. Kudengar Hasna menutup pintu mobilnya dengan keras. Menghidupkan mobil dan segera meninggalkan area parker.
Aku juga harus segera masuk ke dalam mobilku. Aku tidak boleh kehilangannya. Ya, aku akan mengikutinya. Ia tidak boleh dibiarkan mengemudi sendiri malam-malam.