Benarkah aku mendambakannya?
Asumsiku berkata bahwa masih tahap penasaran.
Tapi bukankah akan lebih baik ketika disebut dengan mengenali
Mengenali-nya
Mengenali hati sendiri
Hm, apa sebaiknya ku bawa ta'aruf saja?
Tiga minggu berlalu pasca pertemuan terakhirku dengan hasna di Pesantren Hikmah. Kabut asap pun sudah menghilang setelah hujan terus mengguyur seminggu setelah peristiwa di Pesantren Hikmah. Isu pembakaran hutan untuk membuka lahan pun ikut menghilang diguyur hujan. Selain mengirim tim penanggulangan bencana untuk memadamkan api, belum terdengar aksi pemerintah untuk menanggulangi hal ini secara jangka panjang. Aksi protes atau penggalangan dana atau shalat istisqa yang dilakukan oleh masyarakat juga ikut menghilang diguyur hujan. Begitulah Indonesia. Sederhana.
Tidak hanya aksi penanggulangan bencana saja yang surut. Nampaknya kesempatanku untuk bertemu dengan Hasna juga semakin menipis. Tidak bisa dipungkiri aku berharap tiba-tiba punya alasan untuk ke sana. Aku ingin mengajukan diri untuk menjadi dokter yang ditugaskan di poloklinik sekolah itu. Sayangnya belum ada kabar bahwa posisi itu patut kugantikan.
Aku sedang browsing informasi tentang Program Spesialis di salah satu kampus ternama di Pulau Jawa. Ya, aku sedang menimbang nimbang untuk melanjutkan studiku. Tabunganku lumayan cukup untuk melanjutkan studiku. Aku terkekeh ketika teringat pernyataanku kepada Ustad Kareem, akan-menikah-dulu-baru-spesialis.
Ponselku mengedip menandakan ada notifikasi dari aplikasi i********:. Ada pesan yang masuk ke DM Instagramku. Itu adalah pesan dari orang yang tiba-tiba menghilang sebulan yang lalu. Fahri.
Sebulan yang lalu aku tiba-tiba mendengar kabar dari Audry kalau Fahri telah mengundurkan diri dari RS. Aku kesal karena harus mendengar kabar ini dari Audrey. Maksudku, aku lebih dulu berteman dengan Fahri ketimbang Audry. Rasanya ketika mengetahui Fahri mengundurkan diri dari mulut Audry seolah hubungan pertemananku dengan Fahri hanya omong kosong.
Kekesalanku bertambah ketika aku tidak bisa menghubunginya sama sekali. Nomor ponselnya tidak pernah aktif sejak kuhubungi untuk mengonfirmasi kepindahannya. Jawaban dokter Herman tentang alasan kepindahan Fahri juga tidak memuaskan rasa ingin tahuku.
"Fahri hanya bilang ingin kembali ke kampung halamannya Emran." Kata dokter Herman sambil memijit pelipisnya. Baiklah aku mengganggunya pada waktu yang tidak tepat— dan itu adalah kali ketiga aku menanyakan hal yang sama.
Fahri berasal dari Makassar. Aku berteman dengannya sejak tahun pertama kuliah. Belum pernah sekalipun aku mengunjungi rumahnya. Dulu semasa kuliah, biaya perjalanan ke sana sangatlah berat bagi mahasiswa yang mengandalkan beasiswa sepertiku. Dan ketika sudah bekerja seperti ini, sangat sulit untuk menemukan waktu yang tepat untuk pergi kesana.
Kemudian usaha terakhir yang kulakukan adalah dengan meneror Fahri melalui satu-satunya media yang— semoga—masih bisa terkoneksi dengannya. Aku masih selalu berusaha untuk berpikir positif bahwa Fahri tidak memblokirku. Semoga lost contact ini adalah murni karena insiden yang tidak terduga, ponsel yang hilang atau dicuri misalnya.
Balasan DM ini membuatku sedikit lega. Artinya Fahri tidak marah padaku.
Tunggu dulu.
Kenapa Fahri akan marah padaku?
Kupikir aku dan Fahri tidak mengalami insiden yang tidak menyenangkan.
Fahri melamar Hasna.
Tiba-tiba saja aku teringat hajat itu.
Memangnya kenapa kalau Fahri melamar Hasna? Aku terus bermonolog dengan diri sendiri. Aku tidak pernah menunjukkan ketertarikanku pada Hasna di depan Fahri. Jadi rasanya tidak mungkin Fahri akan marah padaku dengan alasan persaingan. Aku menggelengkan kepala menghapus prasangka-prasangka buruk ini. Fahri adalah sahabat. Pasti ada alasan lain yang mendasari Fahri untuk pindah—tanpa memberitahuku sama sekali. Sejujurnya aku sangat berharap memang karena alasan lain itu.
Jan 3, 6:36 PM
@_emran : Assalamu'alaikum Ri. Ana dengar antum pindah ke Makasar.
Jan 4, 8:40 PM
@_emran : Nomor antum ga bisa dihubungi, kenapa ri?
Jan 24, 10:23 PM
@_emran : Antum kenapa ri?
Jan 25, 1:03 AM
@_emran : Assalamu'alaikum Ri, ana berharap bisa mendengar cerita dari antum. Semoga antum bisa membaca pesan ini.
Hari ini 11:01 AM
@fachriii : Gue ditolak Ran
Ditolak? Apa ini tentang lamarannya kepada Hasna? Aku tidak mengharapkan jawaban yang seperti ini. Kubalas secepat yang aku bisa. Semoga Fahri memberiku kabar terbaru darinya.
@_emran : Berapa nomor WA terbaru antum? Ana ga sabar dengar kabar terbaru antum.
Benarkah semua ini dilakukan Fahri karena dia ditolak oleh Hasna? Seperti bukan seorang Fahri saja. Aku tidak yakin sepenuhnya bahwa 'ditolak' adalah alasan menghilangnya Fahri. Entahlah, kupikir Fahri tidak lemah seperti ini. Sembilan tahun bersahabat dengan Fahri, aku melewati banyak fase ketika Fahri menjalin hubungan—pacaran dengan banyak perempuan. Belum pernah kulihat sekalipun Fahri bertindak cengeng ketika putus dengan mantan pacarnya.
Astaga Emran, itu adalah hubungan yang tidak serius, bisa jadi ini berbeda dari yang sudah-sudah. Bisikan itu menggema di otakku. Cepat-cepat aku menyangkal pemikiran itu. Aku butuh konfirmasi langsung dari Fahri. Dan itu tidak efektif kulakukan dengan pesan di aplikasi ini. Aku ingin bicara secara langsung dengannya meski hanya lewat telpon.
Sayangnya sampai jam 5 sore, tidak ada balasan dari Fahri. Aku hanya mendapatkan beberapa pesan di WA grup yang kemudian kuabaikan. Dan 1 pesan dari ustadz Kareem.
Ustad Kareem : Assalamu'alaikum Ran. Kapan antum ke Iqra' lagi?
Tanpa sadar senyum tersungging dari bibirku. Tentu saja ini adalah senyum Aku-Akan-Bertemu-Dengan-Hasna-Lagi.
Astaghfirullah. Aku tersadar dari angan-angan itu. Apa yang baru saja kupikirkan? Apa aku baru saja berkhayal? Sepertinya ini sudah mulai tidak baik bagiku. Memikirkan perempuan yang bukan Mahram-ku. Dan lebih parahnya lagi ini telah kulakukan sejak pertemuan pertamaku dengan Hasna.
Hatiku mencelos seketika. Apakah yang kurasakan ini benar adanya. Tiba-tiba saja aku memikirkan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kupikir sebelumnya aku selalu menjaga hati. Bertahun-tahun didekati oleh Audry tidap pernah membuatku memikirkannya seperti ini—seperti mendambakannya.
Benarkah aku mendambakan Hasna? Aku tidak yakin dengan perasaanku sendiri. Aku tidak mempunyai pengalaman interaksi yang banyak dengan perempuan. Mereka semua adalah teman-teman selama masa studiku dengan interaksi sewajarnya—kecuali Audry tentu saja. Aku tidak pernah mencari-cari kesempatan untuk bertemu—seperti yang ingin kulakukan dengan Hasna—termasuk dengan Audry.
Aku hendak men-dial nomor ustad Kareem bermaksud untuk mengkonsultasikan hal ini pada beliau. Lima detik kemudian kuurungkan niatku karena aku sebenarnya bisa memprediksi apa jawaban dari beliau. Aku bahkan bisa membayangkan wajah ustad Kareem ketika menyampaikan nasehatnya kepadaku.
'Udahlah Ran, kamu mau tunggu apa lagi? Kerjaan udah bagus, sudah mapan, soleh dan tampan. Langsung khitbah saja, nanti ditikung orang lain'
Tidak... Tidak.... Aku menggelengkan kepalaku menghapus bayangan ekspresi wajah ustad Kareem padaku.
Ya, aku belum yakin terhadap perasaanku sendiri. Belum yakin apakah benar Hasna adalah perempuan yang kuinginkan untuk melengkapi imanku. Aku perlu memahami apa yang kurasakan. Dan aku perlu mengenal Hasna lebih lanjut.
Me: Wa'alaikumussalam tad. Insya Allah hari Ahad ana ada waktu free.
Ustad Kareem: Masya Allah. Saya tunggu kedatangan antum. Antum memang benar-benar bisa diandalkan. Kapan seorang perempuan bisa mengandalkan antum?
Tanpa sadar aku memutar bola mataku membaca balasan dari ustad Kareem. Selalu saja beliau tidak melewatkan kesempatan untuk menyindirku.
Me: Soon tad, soon. Insya Allah
Pukul Sepuluh malam aku pulang ke rumah dan ternyata kakakku menunggu kepulanganku. Tidak biasanya seperti ini. Jika aku pulang malam, kakakku biasanya selalu sudah tidur. Sejak Aisha masuk ke Pesantren, aku dan kakakku tinggal berdua saja di rumah peninggalan orang tuaku ini. Ayahku meninggal ketika aku duduk di kelas 2 SMA. Dan ibu menyusul beliau 3 tahun kemudian. Jarak umurku dengan kakakku terbilang jauh—12 tahun. Aku 27 tahun sedangkan kakakku 39 tahun. Makanya aku bisa punya keponakan sebesar Aisha—15 tahun. Sayangnya Ayah Aisha meninggal ketika ia berumur 9 tahun karena kecelakaan lalu lintas. Itulah alasan aku masih tinggal dengan mereka berdua selain karena memang aku belum menikah.
Selesai membersihkan diri, aku menemui kakakku yang sudah menungguku di ruang keluarga. Ia sedang mengganti-ganti saluran tv secara acak.
Aku berdeham membersihkan tenggorokan dan duduk menjatuhkan diri di sebelahnya. "Ada apa Ni malam-malam begini masih nunggu aku pulang?"
Kakakku mengangsurkan kue padaku. Berpikir sejenak sebelum mengatakan maksudnya. Entah mengapa aku menahan napas. Tegang.
"Audry gimana Ran?"
Aku mendesah kesal. Bahkan kakakku berpikir kalau Audry adalah pacarku. Tidak bisa dipercaya.
"Loh? Kenapa kok tiba-tiba gitu?" Rupanya ia bisa merasakan kekesalanku.
"Aku ga tau Ni gimana Audry, dan aku ga tau sebenarnya Uni mau tanya tentang apa." Nada bicaraku yang tiba-tiba menjadi ketus tidak bisa menutupi rasa kesalku.
"Iya deh iya... Kamu sama Audry tidak ada hubungan apa-apa."
Aku memutar bola mataku dan menarik napas panjang menenangkan gejolak kekesalanku.
"Jadi sebenarnya ada apa Ni?" Aku berharap kakakku langsung menuju poin pentingnya saja. Membuka pembicaraan dengan membawa-bawa Audry membuat mood ku menjadi buruk.
"Kemarin ada orang yang melamar Uni." Katanya pelan. Ia melirik dengan sudut matanya menilai reaksiku.
Mulut dan mataku terbuka. Aku benar-benar tidak menyangka.
"Benarkah? Masya Allah. Siapa orangnya Ni?"
"Dia teman kuliah dulu. Dua tahun yang lalu bercerai dengan istrinya." Jawab kakakku sekenanya.
"Terus gimana? Uni terima?" Aku semakin antusias. Pasalnya baru kali ini kakakku mau mempertimbangkan lamaran orang lain kepadanya semenjak suaminya meninggal 6 tahun yang lalu.
Kakakku diam saja. Ia masih terus mengganti-ganti saluran tv secara acak.
"Uni tolak lagi?" Tanyaku curiga.
"Maksud kamu Ran?" Kakakku mengernyitkan keningnya bingung.
"Emran tau selama ini Uni banyak menolak laki-laki yang melamar Uni."
Kakakku tergelak. Ia seperti menertawakan perbuatannya sendiri.
"Kalau Uni tolak, terus apa yang mau diomongin sekarang?" Aku gemas sendiri.
"Siapa bilang Uni tolak?" Godanya dengan mata nakal.
"Uni terima?" Aku sumringah.
"Tidak juga." Tawanya meledak. Ia berhasil mempermainkanku.
Aku memutar mataku padanya mengirimkan sinyal 'jangan bercanda' padanya.
"Emang kamu tidak apa-apa kalau Uni menikah lagi?"
"Loh kenapa Emran harus keberatan, kan itu hal baik Ni. Akan ada yang menjaga Uni dan Aisha nantinya." Jawabku diplomatis. Entahlah. Itu adalah jawaban standar yang bisa kulontarkan.
"Kamu kan belum nikah Ran."
Lalu kenapa kalau aku belum nikah?
"Uni ingin kamu nikah duluan, baru setelah itu uni mempertimbangkan orang lain." Jawabnya seolah bisa membaca pikiranku.
"Apa masalahnya Ni? Kalau uni ketemu jodoh duluan, sebaiknya disegerakan. Nanti Emran akan ada masanya menyusul."
"Uni maunya begitu Ran. Kamu duluan, baru deh Uni pertimbangkan."
"Jadi Uni selama ini menolak semua lamaran itu karena Emran belum menikah?" Aku tidak bisa menutupi nada tidak sukaku.
"Salah satu alasannya itu." Ia menyengir padaku.
Aku menarik napas dalam-dalam. Menjadikanku sebagai alasan menunda pernikahan adalah hal konyol yang dilakukan kakakku. Aku tidak menginginkan untuk didahulukan olehnya seperti ini. 'Waktu yang tepat' itu bukan tentang siapa yang duluan. Tapi ketika sudah datang dan muncul keyakinan, maka itu adalah waktunya.
"Terus alasan lainnya apa? Kalau Emran adalah 'salah satunya'"
"Belum ada yang cocok sama masih menunggu kesiapan Aisha Ran."
Aku sedikit lega. Setidak itu tidak sepenuhnya karena Emran-Belum-Juga-Menikah. Tidak bisa kubayangkan apabila selama ini aku adalah penghalang kakakku untuk melabuhkan hatinya kepada orang baru.
"Emran tidak masalah Ni, lagi pula Emran belum ada calon yang bisa disegerakan."
"Engga Ran. Uni maunya kamu duluan, baru habis itu Uni." Kakakku masih saja teguh dengan niatnya.
Astaghfirullah, haruskah aku berdebat tentang ini?
"Terus kalau Emran nikahnya masih lama gimana ni?"
"Uni tidak masalah Ran. Lagi pula uni belum mendiskusikan ini dengan Aisha. Dan hati Uni juga belum sepenuhnya yakin dengan orang itu."
"Jangan lama-lama Ni."
"Uni ga pacaran Ran." Kali ini kakakku yang memutar matanya padaku. Seolah menjadi penangkal agar aku tidak ceramah panjang lebar padanya tentang hubungan laki-laki dan perempuan selain pernikahan.
"Tapi setan sangat mudah menyusupi dalam ke-belum yakin-an itu Ni." Aku meringkas ceramah yang dihindari kakakku.
"Ya kamu juga cepat usaha dong Ran."
"Emran tidak keberatan kalau Uni mau segera." Balasku.
Ia melempar bantal padaku dan beranjak pergi.
"Kamu yang harusnya segerakan. Sudah masuk akhir zaman nih." Ia mengacak-ngacak rambutku sebelum benar-benar pergi ke kamarnya.
Akhir zaman. Aku terkekeh sendiri. Entahlah aku tidak terlalu terpengaruh engan guyonan-guyonan supaya-cepat-menikah yang santer di pakai orang-orang di media sosial sekarang ini. Bagiku tetap saja Allah telah mengatur segala urusan dengan rapi dan sempurna. Masanya akan datang. tenang saja.
"Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikannya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS Al Baqarah : 29)