Alis Gunung Uhud

1772 Kata
Oh tidak! ini berbahaya. Reaksiku selalu berlebihan padamu. Aku takut sekiranya aku yang salah mengartikannya. Akhirnya aku mengerti apa yang dimaksud Hasna dengan 'mengawasi'. Ia menyilangkan tangannya memperhatikan setiap gerak-gerikku. Alisnya bertaut sejak pertama kali aku mulai memeriksa. Bahkan ketika aku hanya menyentuh kening anak untuk merasakan panas tubuhnya. Ia tidak melontarkan komentar satu katapun, tapi ekspresinya menjelaskan semua yang ia pikirkan. Aku tidak tahan lagi. "Sepertinya ukhti tidak pernah melihat dokter melakukan tugasnya." Aku tiba-tiba menemukan sebutan yang tepat untuk berbicara dengannya. Hasna menatapku tidak percaya. "Apa maksud dokter dengan saya-tidak-pernah-melihat-seorang-dokter?" "Lihat ini." Aku menunjuk alisnya yang masih bertaut dengan ujung stetoskop. Cepat-cepat Hasna memperbaiki ekspresi wajahnya. "Ada apa dengan alis saya." Balas Hasna tidak terima. "Alis itu menghakimi saya seperti orang yang berbuat dosa. Saya hampir mengira saya sedang disupervisi." "Tapi itu bukan berarti saya tidak pernah melihat seorang 'dokter'." Hasna menggerakkan jarinya seperti tanda petik. "Haruskah saya ubah kalimatnya dengan 'ukti sepertinya tidak suka dengan dokter laki-laki'." Aku memutar bola mataku. "Saya tidak pernah mendiskriminasi profesi seseorang. Bukankah itu rasis?" Balas Hasna. "Lalu?" Aku menunggu jawabannya. "Apa maksudnya dengan 'lalu'?" "Alis itu kenapa mengernyit?" Hasna membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, kemudian ia menutupnya lagi. "Katakan saja, saya akan berusaha untuk tidak tersinggung." "Secara pribadi saya hanya lebih memprioritaskan dokter perempuan." Katanya pelan. Aku terdiam beberapa saat. Puluhan jawaban untuk pernyataan Hasna bergumul di otakku. Tapi aku kehilangan minat. Kulanjutkan saja memeriksa anak berikutnya. "Tu kan, dokter bilang tidak akan tersinggung." Hasna melambai-lambaikan tangannya. "No, I'm not." Dustaku. "Yes, you're. liat wajah itu. Ia bilang ia tersinggung." Aku tertawa di dalam hatiku. Bukankah ini menyenangkan. Obrolan kami terkoneksi dengan baik. Bisa ku bilang kalau gelombang humor kami berada dalam frekuensi yang sama. "Saya tidak tersinggung, hanya saja ukhti seperti mengabaikan begitu saja kalau kami punya kode etik yang kami junjung tinggi. Lagi pula bukankah sudah sering dikaji oleh ulama tentang urgensi dokter untuk mengobati pasiennya itu seperti apa." "Saya sudah tekankan kalau ini adalah preferensi saya saja. Saya tidak mau berdebat tentang perkara ini." Hasnya menyilangkan tangannya di d**a. Akhirnya aku hanya bisa mengangkat tanganku menyerah. Hasna memalingkan mukanya dariku. Kemudian diam-diam ia memperhatikanku dengan ekor matanya. Ia pura-pura tidak melihat apabila aku menoleh kepadanya. Aku membalikkan tubuhku untuk berhadap-hadapan dengannya. "Saya tidak bisa seperti ini." Aku menyilangkan tanganku di d**a. "Apalagi dok?" Tanya Hasna malas. "Saya tidak bisa bekerja dengan pengawasan yang seperti itu. Saya merasa seseorang mengawasi saya kalau-kalau saya akan melakukan pelecehan." Mata Hasna membesar tidak percaya dengan ucapanku. "Bagaimana mungkin dokter beranggapan saya berprasangka seperti itu kepada dokter?" Hasna menggerak-gerak tangannya tidak percaya. "Aura-nya terasa seperti itu."Aku mengangkat bahuku. "Bagian mana lagi dok? Saya dari tadi diam saja." "Liat alis itu." "Jangan tuduh alis saya lagi. Saya paham kalau alis saya sudah bagus, menukik tajam seperti gunung Uhud tanpa harus saya lukis dengan pensil." Aku ternganga. Tidak percaya dengan kalimat yang Hasna lontarkan. Maksudku bukan tentang fakta yang Hasna ucapkan tentang alisnya. Ini tentang kenyataan bahwa Hasna-tidak-sekaku-itu. Harusnya aku sudah tertawa terbahak-bahak, tapi kutahan demi argumenku. Kalau diperhatikan lagi inilah kali pertama aku melihat wajahnya dari dekat. Aku terpana meneliti setiap detail wajahnya. Wajah tanpa riasan itu. Begitu sederhana, tapi sangat memesonaku. Jantungku berdegup dengan kencang. Astaghfirullah. Segera kutundukkan pandanganku. "B...bisakah saya memeriksa mereka sendiri saja." Aku tergagap bukan tanpa sebab. Tidak ada jawaban. Aku melihat padanya. Tergambar keberatan dari wajahnya, kemudian ia menggeleng. Aku menarik napas panjang. "Dimana toiletnya?" Tanyaku tanpa melihat padanya. Ini berbahaya, jantungku terus berdebar-debar. Berada di dekat Hasna setelah aku terpesona sangat tidak sehat. Aku harus menetralisir hatiku. "Tidak ada toilet untuk laki-laki di lingkungan asrama. Dokter bisa pakai toilet di poliklinik saja." Jawab Hasna. Tidak mengapa. Aku memerlukan ruang untuk mengembalikan perasaan yang tidak karuan ini. "Saya akan kembali sebentar lagi." Ku basuh wajahku dengan kasar berharap bisa meluruhkan potret Hasna dari dalam pikiranku Astaga Emran. Ini tidak benar. Ku hirup udara banyak-banyak. Ah, tidak mempan. Udara juga sedang tidak sehat untuk ku hirup. Kabut asap sangat tidak membantu sama sekali. Baiklah! Akan kuhadapi. Aku kembali ke asrama itu. "Baiklah ukhti, saya punya kesepakatan." Tawarku begitu aku kembali ke asrama itu lagi. "Apa?" Tanya Hasna curiga. "Ukhti akan membantu saya untuk memeriksa pasien." Mata Hasna membesar tidak percaya. Sepertinya ia tidak habis pikir dengan pernyataanku. "Jangan bercanda dokter." Jawab Hasna dengan tawa yang dibuat-buat. "Saya tidak bercanda." Kupastikan menjawab dengan wajah serius. "Ukhti bisa mengawasi dan mungkin juga bisa ikut mendapatkan pengalaman memeriksa pasien. Dan saya bisa melaksanakan pekerjaan saya tanpa perasaan 'dituduh akan melakukan pelecehan'." "Saya bukan dokter." Bibirnya mengerucut cemberut. "Saya tidak bisa menyuntik." Sambungnya. Aku tertawa. "Tentu saja saya tidak akan menyuruh ukhti untuk menyuntik. Nanti saya bisa dipenjara." Hasna menaikkan alisnya sebelah tidak percaya. Jantungku berpacu lebih kencang. Kalau saja aku ditemukan meninggal malam ini, mungkin penyebab kematiannya adalah karena Hasna menaikkan alis gunung Uhudnya di depanku dan kemudian aku kena serangan jantung. Sebelum aku menjadi pendosa, aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Segera kualihkan fokusku. Ku jelaskan saja langkah kerjanya agar ia bisa segera menurunkan alis itu. Hasna setuju untuk membantuku memeriksa anak-anak. Akhirnya ku bisa bernapas lega karena ia berhenti memperhatikan gerak-gerikku. Aku benar-benar tidak bisa bekerja di bawah tatapannya yang menyiratkan bahwa aku akan melakukan pelecehan s*****l. Aku mengintruksikannya untuk mengukur suhu tubuh, mengecek tensi, memeriksa detak jantung. Ia membulatkan matanya ketika aku menyuruhnya melakukan hal tersebut. Di cobanya sedikit, dan kemudian ia mengembalikan alat-alat itu agar aku yang melakukannya. Syukurlah dengan begitu Hasna terlihat sedikit lebih bersahabat ketika aku melakukan hal-hal yang tidak bisa dikerjakannya. Kami menyelesaikan memeriksa semua anak di ruangan itu. Hasna mengumpulkan semua resep obat yang sudah ku tuliskan. Ia benar-benar seperti asistenku sekarang. Aku mengirimkan resep obat ke rumah sakit agar dapat dikirimkan obat-obat yang dibutuhkan. "Saya akan mengecek Audry, mungkin dia butuh bantuan kita." "Oh tentu saja." Ucapku berseri-seri begitu Hasna menyebut kata 'kita'. Hasna mengernyit heran dengan tingkahku. Tiga puluh menit berlalu, tidak ada kabar dari Hasna. Sebenarnya ia juga tidak ada janji untuk menghubungiku. Ponselku berbunyi pertanda ada pesan yang masuk ke aplikasi WA. Segera kuraih dengan harapan itu adalah pesan dari Hasna. Audry: Aku sudah selesai memeriksa semuanya. Akan istirahat sebentar di kamar Hasna. Jangan pulang dulu. Aku tersenyum pahit, mana mungkin Hasna yang nge-chat. Ia saja mungkin tidak tau nomorku. Astaga bukankah ia bisa minta ke Audry? Batinku kesal. Bukannya yang tadi itu seperti jalinan pertemanan yang mulai tumbuh di antara kami. Emran sadarlah! Dia Hasna. Bukan Audry. Dia bahkan keberatan padamu untuk memeriksa santrinya. Ku putuskan untuk istirahat di ambulance saja. Tidak ada tempat di poliklinik. Sudah ku pesankan kepada akhwat Pembina asrama yang berjaga di sana untuk mencariku di ambulance kalau-kalau terjadi sesuatu—atau kalau Hasna mencariku. Seseorang mengetuk-ngetuk pintu ambulance dengan tidak sabar. Aku terbangun. Kepalaku sakit "Ya." Ujarku agar ia berhenti mengetuk-ngetuk. Aku mengintip ke luar. Seorang perempuan membelakangiku. Aku membuka pintu belakang. Perempuan itu berbalik. Ia Hasna. Aku bisa mengetahuinya meski ia memakai masker dan pakaiannya sudah berganti. Tentu saja aku mengenalinya dari alis gunung Uhud itu. Cepat-cepat ku rapikan rambut dan muka bantalku. "Kami sudah menyiapkan sarapan untuk dokter dan tim." Katanya dari balik masker. Ku lihat arlojiku, menunjukkan pukul 8 pagi. Sudah 3 jam sejak aku tidur selepas Subuh. Hari sudah terang. Meski suasana seperti berembun, tapi itu bukan embun segar yang bisa di hirup di pagi hari. Itu kabut asap yang sudah hampir 2 minggu menyelimuti. "Tunggu sebentar." Cepat-cepat aku merapikan pakaianku. Aku tidak mau mengulur waktu agar Hasna tidak meninggalkanku. Kami berjalan memasuki lingkungan asrama. Tidak seperti sebelumnya Hasna yang selalu berjalan dengan secepat kilat. Kini ia terihat lebih santai bahkan membiarkanku berjalan bersisian dengannya—Maksudku jarak kami itu 2 meter. Aku mengikutinya ke ruang makan asrama. Ruangan besar yang berisi meja-meja panjang dan kursi. Audry melambaikan tangannya. "Di sini Emran." Katanya padaku. Aku membuang mukaku malas. "Laki-laki di meja sebelah." Ujar Hasna. Aku ingin berterima kasih padanya karena sudah menyelamatkanku. Meskipun dalam hati kecilku aku ingin bisa makan di meja yang sama dengannya. Tapi aku lebih tidak ingin semeja dengan Audry. Aku segera mengambil tempat di meja khusus laki-laki mengabaikan Audry yang terus mengodeku. "Emran di sini." Bisik Audry. "Audry, ini pesantren." Tegur Hasna. Audry mengerucutkan mulutnya kesal. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak senang. Hasna menyelamatkanku. "Aku harus minta tambahan cuti nih, dalam semalam aku memeriksa lebih dari 50 pasien. Rekor yang luar biasa." Audry mulai mengoceh dengan nada yang dibuat-buat. "Bagus sekali Audry. Jazakillah Khairan bantuannya." Hasna memujinya dengan tulus. "Emran, kenapa kamu diam aja." Aku menoleh dengan malas "Terus?" Tanyaku singkat. Aku sebenarnya paham apa yang ingin Audry dengar dariku. Semua tim juga paham dengan sikap Audry. Mungkin mereka sudah terbiasa melihatku yang selalu diganggu oleh Audry. Bahkan separuh orang-orang di rumah sakit sepertinya sudah menganggap aku dan Audry adalah sepasang kekasih. Masalahnya sekarang adalah ada Hasna. Bisa-bisa Hasna berpikiran aku adalah pacar Audry. Maksudku Hasna akan mengira kalau aku adalah tipikal orang yang PACARAN. Oh tidak! Ini tidak benar. "Emran, semalam aku memeriksa lebih dari 50 pasien." Audry memberikan penekanan pada jumlah 50 pasien. Ia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih nan rapi miliknya. Aku tahu ia mengharapkan pujian dariku. "Bagus Audry. coba daftarkan, mana tau kamu dapat masuk Guinness World Record." Jawabku asal-asalan. Aku malas sekali. Aku mendengar seseorang tersedak dan kemudian terbatuk. Ku alihkan pandanganku dari piring sarapan. Hasna sedang memukul-mukul dadanya. Mukanya memerah segera meraih air. Meminum dengan cepat. "Kamu ga apa-apa Hasna?" Tanya Audry. Hasna menggeleng dengan cepat, tapi wajah itu.... Hasna terlihat menahan tawanya. Apa ia tertawa karena ucapanku? Tidak lama setelah itu Audry menyadari penyebab Hasna tersedak, ia menatapku dengan tajam.  "Lihatlah! Hasna menertawakanku Emran. Kamu membuatku terlihat seperti melakukan sebuah lelucon." Audry memberengut. Aku tidak peduli. "Ody, itu tidak benar. Kamu sudah melakukan hal yang luar biasa." Hasna membujuk Audry. "A.. aku tidak menertawakanmu." Hasna meringis merasa bersalah pada Audry. "Aku tidak marah padamu Hasna, tapi pada Emran. Dia memang jutek." Balas Audry. Ia memasang wajah sebal padaku. "Jangan begitu Ody, aku pikir dokter Emran hanya bercanda, makanya aku tertawa. aku minta maaf kalau Ody tersinggung." Hasna membelaku. Rasanya bunga-bunga dalam hatiku bermekaran. Seperti mendapatkan oksigen segar di tengah kabut asap ini. "Tapi Emran, tidak biasanya kamu lambat begitu memeriksa pasien. Biasanya kamu lebih lihai ketimbang aku." Audry menaikkan alisnya padaku. Aku melirik Hasna dengan ekor mataku, jelas ia sedikit tersentak mendengar pernyataan Audry. Sekarang ia berusa menormalkan raut wajahnya. Seperti seorang yang tidak ingin tertangkap melakukan sesuatu. Ia juga terlihat sedikit tegang. Kenapa dia begitu? Apa Hasna tidak ingin Audry mengetahui bahwa kami berdua memeriksa anak bersama? "Di sini perempuan semuanya Audry, memang sebaiknya kamu yang lebih banyak memeriksa." Jawabku sekenanya. Ku lirik Hasna dengan ekor mataku. Jelas itu, aku menangkapnya menghembuskan napas lega.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN