Bab 6 - Benalu.

1471 Kata
"Pergi! Kita cerai sekarang juga!" teriakku menggelegar. "Jangan, As ..." pegangannya semakin erat dikaki ini. "Kasihan Naura, dia pasti terluka jika tahu orangtuanya berpisah." sambungnya. Aku benar-benar muak, beraninya dia menyeret Naura dalam masalah ini. Otakku mendidih seketika, menarik nafas dalam-dalam, bersiap melayangkan kaki sekuat tenaga. Bugh! "Aaaa ...." Mas Ronald terjengkang, memekik kesakitan saat kepalanya menghantam sudut meja. "Kurang ajar, kamu Astrid!" teriak Sekar sambil menghambur kearah suamiku. "Kamu tidak apa-apa, Mas?" tanyanya panik. "Diam kamu. Ini semua karna ulahmu!" rutuk Mas Ronald sambil menyentak tangan, Sekar. "Mas ... a-aku," Sekar menatap nanar, tergagap di sentak, Mas Ronald. "Astrid dengar ..." Mas Ronald menjeda kalimat, mengatur nafas yang tersenggal-senggal. "Aku tidak sengaja, As ... sungguh, aku menyesali semuanya." rengeknya tak tahu diri. Tidak sengaja? Enak saja. Papah saja tidak pernah mencubitku. Dia sebagai suami yang gagal, berani sekali menamparku. "Kita cerai ..." ucapku melemah. "Jangan, As ..." wajah Mas Ronald mendongak, mengiba padaku. "Ronald!!" Sentak Ibu sambil menarik tangan Mas Ronald. "Berdiri ... jangan merusak harga diri demi perempuan bodoh ini. Bikin malu!!" sungutnya berapi-api. "Bu ... Ronald masih cinta sama Astrid," ucap Mas Ronald. "Sudahlah ... jangan mengemis seperti itu. Kamu itu kepala rumah tangga. Harus tegas dengan istri." sentak Ibu, bibirnya komat-kamit tidak jelas. "Bu ... tolong, ini hidupku. Berhenti ikut campur!" teriak Mas Ronald tepat diwajah Ibunya. Mulut Ibu menganga, terkejut dengan aksi Mas Ronald yang diluar kendali. Nafas Ibu terlihat sesak, dia mundur satu langkah sambil memegangi dadanya. "Aku sudah menuruti Ibu untuk menikah dengan Sekar, sekarang apa lagi Bu!" suara Mas Ronald melemah, matanya memerah dipenuhi genangan air mata. Oh jadi Ibu yang merencanakan ini semua. Licik sekali. Sebegitu bencinya kah Ibu padaku? Tak ingatkah dia siapa yang memberinya makan selama ini. "Kenapa masih disini? Keluar kalian semua," ucapku muak, memutuskan drama yang diciptakan mertua juga anak dan menantu barunya. Tanganku menunjuk kearah pintu, mengisyaratkan agar mereka segera angkat kaki dari sini. "Wanita seperti ini yang kamu cintai. Yang tega mengusir Ibumu sendiri?" suara Ibu bergetar, tetesan bening mulai mengalir dipipinya. Cih ... merasa ter'dzolimi padahal sebaliknya. Mana mungkin aku mengusir tanpa sebab. "Mas akan kembali ... tenangkan dulu pikiranmu," ucap Mas Ronald padaku. "Hah ... apa aku tidak salah dengar. Kembali katamu?" tanyaku dengan sorot tak percaya. "Ya ... kita tunggu semua tenang, masalah ini bisa kita selesaikan secara baik-baik. Seperti sebelumnya," jawabnya tanpa beban Aku mendengkus kesal. Tak habis pikir dengan apa yang ada didalam kepalanya. Aku rasa sebagian otaknya sudah rusak, tak lihatkah dia ekspresi wajah dan cara aku berbicara. Apakah aku menginginkan dia kembali? Sama sekali tidak! Masalah ini bukan hanya aku dan Ibunya. Tapi melibatkan dia juga selingkuhannya. Mana mungkin bisa dibicarakan dengan baik-baik. Mustahil! "Pergi ... akan aku urus semua surat cerai kita," sahutku. Mas Ronald menghela nafas, menatap wajahku lekat. "Tidak ada yang akan bercerai, kita bisa hidup rukun bersama-sama." ucapnya percaya diri. Aku mendecih sinis, ingin sekali aku menikamnya. Namun energiku seakan melemah, kenyataan ini membuat tenagaku habis tak tersisa. Aku benar-benar tidak menyangka, Ibu mertualah yang menyokong pengkhianatan ini. Sorotku kini beralih pada Ibu, menatap lekat bola matanya dan mengitari tubuh gempalnya. Sorotku berhenti tepat dilehernya. Kalung liontin berinisial namanya tergerai indah dileher keriputnya, aku jalan mendekat melangkah maju kearahnya. Sekali hentak, kalung itu sudah berada didalam genggamanku. Perempuan tua itu menjerit, memegangi lehernya. "Dasar pencuri. Kembalikan!" geramnya dengan mata yang nyaris saja keluar dari tempatnya. "Tidak!" sahutku tegas. "Kalung ini aku yang beli, sudah sepatutnya aku mengambilnya kembali." sambungku. "Ronald yang beli, bukan kamu!" bantahnya dengan tatapan menyalang. "Iya memang benar anakmu yang beli," sahutku dengan senyum miring. "Tapi uangnya ... tentu saja hasil mengemis padaku." sambungku dengan tatapan meremehkan. "Ronald lihat istrimu, dia ...." "Sudah Bu, sudah ..." tukas Mas Ronald sambil mencegah Ibu, yang ingin merampas kalungnya dari tanganku. "As ... kenapa kamu jadi keras begini, dimana rasa hormatmu kepada, Ibu. Biar bagaimanapun, Ibuku adalah Ibumu juga." ucapnya sok bijak. Aku terkekeh geli mendengar ucapannya, rasa ingin mencekik lehernya semakin menjadi-jadi. Benar-benar tidak tahu diri kedua manusia ini, sudah berbuat seenaknya, menyalahkan aku pula. "Rasa hormatku untuk Ibumu sudah menguap entah kemana, selama ini aku begitu bodoh selalu menuruti ucapanmu, dengan harapan Ibumu akan menyayangiku." aku menarik nafas, menahan debaran yang sudah bergolak-golak. "Ibumu bahkan memberiku madu pahit, sebagai balasan semua kebaikanku." ucapku perih. Hatiku begitu sakit menerima kenyataan bodoh ini. "Astrid dengar ... jangan hanya karna satu kesalahanku. Semua jadi merembet kemana-mana, aku ini masih suamimu. Sudah sepatutnya kamu patuh pada, Ibuku." ucapnya tegas, namun tatapannya begitu sendu. Berharap aku kembali luluh, dan menuruti segala keinginannya. "Cepat kembalikan!!" sentak Ibu masih menginginkan kalung bermata berlian ini. "Tidak! Enak saja. Sanah minta sama menantu barumu!" teriakku tak mau kalah. "As ... tolong jangan memperkeruh keadaan. masalah ini hanya kita berdua, Ibu tidak perlu kena imbasnya." lagi Mas Ronald berucap. Membuat aku harus menarik nafas dalam-dalam, guna meredupkan emosi yang sudah menyala-nyala. "Kembalikan kalung itu, As ... kasihan Ibu." rengek Mas Ronald tak tahu malu. Aku menimbang-nimbang kalung hasil jerih payahku, tak menyangka Ibu mertua mempunyai selera yang sangat menarik. Kalung berinisal T yang artinya Tiarma dengan jejeran berlian cantik yang menempel dihurufnya. Kilaunya mampu menyilaukan mata, benar-benar sempurna. Pasti harganya sangat mahal. Entah berapa puluh juta, Mas Ronald mengeruk isi Atmku demi memenuhi gaya glamor Ibunya. Dengan tololnya, aku mudah saja terpedaya. Selama ini aku menganggapnya laki-laki sempurna, suami tanpa celah. Tapi sekarang dia tak lebih dari seonggok kotoran dimataku. Menjijikan! "Pergi. Apa kalian tidak punya telinga, berkali aku mengusir tapi kalian masih saja betah disini." ucapku datar. "Ayo Bu ... kita pulang, biarkan Astrid menenangkan pikiran," bujuk Mas Ronald pada Ibunya. "Tapi kalung Ibu--" "Sudah ... nanti, Ronald ganti sama yang lebih bagus." Mas Ronald menarik tangan Ibunya. Wanita tua itu masih saja menengok kearahku. Mungkin dia berharap aku bisa berbaik hati seperti biasa dan memberikan kalung ini untuknya. Cih ... jangan mimpi! Mulai besok aku bahkan akan mencabut segala fasilitas yang biasa aku berikan untuknya. Biar dia bisa berpikir, kalau bukan karna aku dan Papahku. Mana mungkin mereka bisa tidur dengan nyaman dan makan enak. Kasihan sekali punya otak, tapi tidak pernah digunakan. "Ngapain masih disitu?" tanyaku sinis pada, Sekar. "Pergi! Dasar perempuan gatal," umpatku, muak melihat tatapan menyalangnya. Sekar malah semakin melototiku, tangannya terkepal kuat dan melangkah cepat kearahku. Sebelum aku menepis, kedua tangannya mencengkram kuat rambutku. Rasa perih serta terbakar langsung menjalar dikepala. "Dasar mulut sampah! Muak sekali aku mendengar ocehanmu!!" geramnya sambil terus menarik rambutku. Aku memekik keras, rasa sakit benar-benar membakar seluruh tubuhku. Langkah Ibu dan Mas Ronald terhenti, bukan membantu memisahkan mereka malah seperti asyik menikmati kesakitanku. Ibu malah seperti senang dengan perbuatan Sekar, senyum mengejek bahkan tersungging dibibirnya. Aku menarik nafas dalam-dalam, tak guna berharap mereka akan melerai pertikaian ini. Dengan sekuat tenaga aku menyikut perut perempuan itu dengan keras berkali-kali. Hingga cengkraman pada rambutku mengendur perlahan. Teriakkan histeris keluar dari mulutnya, Sekar menjerit kesakitan. Tanpa membuang waktu, aku langsung menarik dan memiting tangannya kebelakang. Hingga terdengar suara krekk ... dari pakainnya. "Aaa ... tolong, Mas! Perempuan gila ini ingin membunuhku!" teriak Sekar kesakitan. Mas Ronald tergagap, dengan langkah lebar dia dan Ibu berjalan mendekati kami. Plakk!! Satu tamparan mendarat dipipiku, Ibu mertua dengan brutal memukuli dan mencubit tubuhku dengan kencang. "Lepas!!" teriak Ibu. Cekalanku terlepas paksa berkat dorongan Mas Ronald, Nenek tua itu menatap garang kearahku lalu sibuk memperhatikan wanita binal itu. "Kau lihat itu, Mas ... jangan sampai aku melihat wajah mereka berdua. Atau kau tahu sendiri akibatnya!" geramku, dengan nafas menggebu-gebu. Mas Ronald terlihat frustasi, saat ingin mendekatiku tangan Ibu dengan cepat mencegahnya. "Pulang!!" titah Ibu. Suamiku yang sangat patuh dengan Ibunya, langsung menurut tak peduli dengan keadaanku. Cubitan Ibu meninggalkan jejak ditanganku, kuku tajamnya mampu menggores serta merobek kulit. Rasa perih dan panas diseluruh tubuh tak sebanding dengan sakitnya hati ini. Aku bersumpah akan membalas semua perbuatan hina ini. Mereka akan membayar segala perbuatannya. "Kau yang memulai, kau akan merasakan sakit yang aku alami saat ini." ucapku datar namun tatapanku nyalang kearah tiga manusia laknat itu. Ibu mencebik sinis, dengan langkah tertatih dia menuntun Sekar berjalan keluar dari rumahku. "Tunggu!" teriakku saat mereka sudah ada diujung pintu. Bergegas aku berlari dan mendekat kearah mereka. Tanganku langsung merampas kunci mobil yang tergantung diselah celana, Mas Ronald. "Cicilan serta Dp mobil ini aku yang membayar. Pergilah, tanpa membawa apapun, dari keringatku. Kau tak pantas memilikinya!" Ketiga manusia itu terperangah mendengar suaraku. Dengan cepat aku mendorong tubuh Sekar, membuat dia hampir terjatuh jika Mas Ronald tidak menahannya. "Kopermu bawa sekalian! Aku tidak ingin menampung apapun. Yang berhubungan dengan dirimu!" Aku menunjuk koper miliknya yang tersandar disamping pot bunga. "Kau mengusir suamimu sendiri?" tanyanya tak percaya. "Mulai hari ini kau bukan lagi suamiku!" ucapku tegas, seraya membanting pintu dengan keras lalu menguncinya. Tak aku hiraukan teriakkan serta caci maki dari para mulut busuk itu, aku memilih menaiki tangga dan membaringkan tubuh diatas ranjang empukku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN