Bab 7 - Dedek Bayi.

799 Kata
Hah ... sungguh sangat menguras emosi menghadapi para dedemit itu. Dadaku masih terasa panas, akibat amarah yang belum sepenuhnya aku salurkan. Kupandangi goresan luka memanjang akibat serangan, Nenek tua itu. Sekian lama aku berbakti padanya, ini balasannya. Sakit .... Hatiku sungguh sakit sesakit-sakitnya. Cinta yang aku perjuangkan selama ini. Tak ubah seperti pedang panjang, yang sedang menghunus jantung hingga merobek ulu hatiku. Rasanya sulit tergambarkan, sakitnya mampu membuat otak berdenyut ngilu hingga terasa panas seluruh tubuh. Ibu ... kau akan menjadi sasaran amarahku berikutnya. Kurang baik apa aku padamu, selama menikah dengan Mas Ronald tidak pernah aku menolak keinginannya. Rumah sederhananya sudah aku sulap menjadi rumah mewah berlantai dua, lengkap dengan segala prabotan mahal yang elegant. Kendaraan roda dua butut milik pribadinya, sudah aku ganti dengan roda empat super nyaman, yang mampu melindungi dia tarik terik matahari dan tetesan air hujan. Inikah balasan dari segala kebaik dan murah hatiku? Sungguh miris, melihat kenyataan aku tak ubah bagai sapi perah untuk keluarga mereka. Aku rasa sudah cukup aku berbaik hati untuk merebut kasih sayang dan mengambil hatinya. Toh dimata Nenek tua itu, aku memang tidak berguna. Melimpahkan kemewahan ternyata tidak juga membuatnya luluh, terus saja dia mencibirku dengan segala kekuranganku. Andai aku bisa hamil kembali, dan melahirkan anak laki-laki sesuai keinginannya. Apakah Ibu mertua akan melunak hati dan perasaannya padaku? Ahh ... mengapa aku sebodoh itu. Cinta yang begitu besar membutakan mata hatiku, aku begitu percaya dengan segala rayuan, Mas Ronald yang akan tetap setia meski rahimku kini bermasalah. Aku bangkit dari peraduan, membuka jendela kaca yang menghadap kejalanan. Menatap nanar tiga manusia yang berdiri didepan pagar rumahku. Tak lama taksi berhenti didepan mereka, Mas Ronald menuntun sundalnya masuk kedalam mobil. Koper ... Mas Ronald tidak membawa kopernya. Aku membuka kaca jendela lebih lebar, melongok kearah tanaman hias yang berjejer rapih ditaman kecilku. Koper masih tergeletak rapih disamping pot bunga, sepertinya Mas Ronald tidak ingin pergi dari rumahku. Sudahlah ... aku tak mau peduli, jika besok masih belum diambil juga siap-siap saja kopernya akan aku buang ketempat sampah. ***Ofd. "Mah ..." Naura membuka pintu kamarku, lalu melangkah masuk. "Apa sayang?" tanyaku sambil melambaikan tangan kearahnya. "Ayah kemana ya ... sudah lima hari tidak pulang-pulang." jawabnya dengan wajah lesu. "Ayah ... dia dipindah tugas sama, Kakek keluar kota." sahutku asal. Aku harus hati-hati berbicara dengan gadis kecil berusia delapan tahun ini. Jika terjadi kesalahan, pasti akan banyak pertanyaan yang akan terlontar dari bibir mungilnya. "Lama banget kerjanya ..." Naura berdecak kesal. "Emang ada apa? Naura butuh sesuatu, bilang sama, Mamah saja." "Tidak apa-apa Mah ... kangen saja sama Ayah." jawabnya. "Mm ... Mah." Naura menatap lekat mataku. "Apa sayang?" "Mamah janji jangan bilang ini sama, Ayah ya." pintanya sambil menyodorkan jari kelingkingnya. "Iya janji ..." ucapku tegang sambil menautkan jemarinya dengan kelingkingku. "Bulan kemarin, Naura diajak Ayah untuk melihat Dedek bayi di perut, Tante Sekar. Ayah bilang bulan ini mau mengajak, Naura lagi." celotehnya membuat mataku melebar seketika. "Dedek bayi? Tante Sekar?" tanyaku beruntun. Perasaan tak nyaman menyeruak seketika. "Iya ..." jawabnya polos. Sekar ... apa yang Naura maksud adalah perempuan s****l itu? "Tante Sekar itu siapa sayang?" tanyaku begitu lembut, padahal hatiku sudah panas mendengar Naura menyebut namanya. "Tante Sekar ... Ayah bilang, Tante Sekar Adiknya, Ayah." jelas Naura. Badanku menggigil mendengar penuturan Naura. Bisa-bisanya dia membohongi anaknya sendiri. Ibu hanya punya satu anak perempuan, itu pun Mbak Sunyi. Kakaknya Mas Ronald. Kedua, Adik Mas Ronald semuanya laki-laki. Kebodohan apa lagi yang dia sembunyikan dariku. "Oh begitu ... tapikan Naura tahu sendiri, kalau Adik Ayah itu hanya Om Zeky dan Om Rikhi." ucapku sambil mengatur nafas. "Tidak tahu Mah, Ayah sendiri yang bilang ..." jelas Naura. Aku mengangguk-anggukkan kepala mencermati ucapan, Naura. "Mm ... Naura tahu tidak usia kandungan, Tante Sekar?" Tanyaku pelan, mataku menatap lekat manik Naura. Membuat dia menautkan alis melihat tingkahku. "Kalau itu Naura tidak tahu, Mah." jawab Naura. "Ayah tidak bilang?" tanyaku lagi. "Tidak, Mah ..." jawabnya cepat. "Ayah senang tidak saat melihat Dedek bayi Tante," tanyaku lagi. Ahh ... sepertinya akan banyak pertanyaan lagi yang akan terlontar dari bibirku. "Ayah senang sekali, Mah ... Ayah bahkan mencium rambut, Tante Sekar." jawabnya polos. Aku langsung meneguk saliva mendengar ucapan Naura. Dia bahkan berani mencium perempuan gila itu didepan anakku. Ya Tuhan ... benar-benar bodoh sekali aku. Hubungan mereka sudah sejauh ini dan aku tidak tahu apa-apa? Sejak kapan mereka dekat, menurut Lala Sekar itu baru bekerja ditoko selama tiga bulan. Waktu yang sangat singkat jika ternyata saat ini Sekar sudah berbadan dua. Lagi pula Mas Ronald bukan tipe laki-laki gampangan yang mudah tergoda dengan perempuan. Sebelum pacaran, bahkan aku yang paling gencar mendekatinya. Sikap Mas Ronald yang terkesan cuek dan tak peduli. Sulit sekali rasanya membayangkan, dengan mudahnya Sekar merebut hati Suamiku. Oh ya .... Ibu ... aku yakin dia adalah dalang dibalik semua ini. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN