Bab 8 - Menggugat.

951 Kata
Ibu ... aku yakin dia adalah dalang dibalik semua ini. Kembali aku mengatur nafas, menetralkan debaran d**a yang mulai tak terkendali. Aku harus bersikap tenang, jangan sampai Naura berpikir macam-macam. Walau bagaimana pun, Naura masih terlalu kecil untuk mengetahui kebusukkan Ayahnya. "Naura sudah berapa kali ketemu, Tante Sekar?" Naura nampak berpikir, lalu tersenyum setelahnya. "Sudah tiga kali, Mah." "Tiga kali?" hampir aja aku teriak mendengar jawaban Naura. "Iya ... Tante Sekar baik deh, Mah. Dia beliin Naura squishy boneka tedy bear," aku Naura dengan begitu polosnya. "Naura tahu tidak Tante Sekar tinggal dimana, atau Naura pernah kerumah Tante Sekar?" tanyaku beruntun. Untungnya Naura paling suka bercerita, dia akan berceloteh apa saja jika sudah diajak bicara. "Belum ... tapi Tante Sekar pernah main kerumah ini. Kalau Mamah lagi kerja," jelas Naura membuat isi kepalaku mendidih seketika. Astaga ... berani sekali dia membawa s****l itu kedalam rumahku. Benar-benar dibodohi habis-habisan aku. "Kok Naura tidak bilang Mamah?" protesku. "Mamah juga kan mau kenal sama, Tante Sekar." sambungku sambil membelai rambut panjangnya. Naura terdiam sesaat, seperti ragu untuk menjawab ucapanku. "Ayah bilang jangan sampai, Mamah tahu ..." ucapnya pelan. "Emang kenapa kalau Mamah tahu?" tanyaku. "Ayah bilang, takut Mamah marah," jawab Naura dengan kepala menunduk. "Tidak kok ... Mamah tidak marah," sahutku cepat. "Mana mungkin Mamah marah, Tante Sekar kan baik." sambungku sambil tersenyum manis. Kepala Naura mendongkak seketika, matanya sangat berbinar mendengar ucapanku. "Beneran, Mah?" "Benarlah," sahutku meyakinkan. "Tante Sekar main kesini ngapain saja, Nau?" tanyaku. "Masakin aku dan Ayah ayam goreng sama capcay," jawab Naura. "Sudah gitu aja?" "Sudah Mah ... Tante Sekar juga menyuapkan Naura, menemani nonton kartun diruang tamu. Sampai Naura tertidur," sahutnya. "Oh ya?" Naura mengangguk cepat. "Wah ... baik sekali dia," ucapku dengan bibir terangkat sebelah. Benar-benar kesal luar biasa aku mendengarnya. "Eh ... tapi pas Naura bangun Ayah dan Tante sudah tidak ada diruang tamu." "Loh kemana?" tanyaku penasaran. "Naura cari-cari ternyata Ayah dan Tante ada didalam kamar." jawabnya polos. "Di dalam kamar?" netra ku membulat. "Kamar siapa, mereka ngapain didalam kamar?" cecarku bertubi-tubi. Membuat Naura terkejut. "Eh ..." aku menutup mulut, lalu memasang senyum manis didepan Naura. "Ehm ... Ayah sama Tante ngapain sayang?" tanyaku lembut. "Tante Sekar tidur dikamar Mamah, Ayah bilang Tante kecapaian. Jadi Ayah temani tidur ya," jawabnya polos. Darahku berdesir seketika, beraniya mereka mengotori tempat tidurku. Penjelasan polos dari bibir mungil anakku benar-benar membuat aku sakit hati. "Bik Irah ..." pikiran langsung tertuju pada asisten rumah tanngaku. Kenapa dia tidak cerita apa-apa sama aku, kalau Mas Ronald pulang kerumah membawa perempuan. "Mm ... Nau, saat Ayah dan Tante kerumah Bik Irah kemana?" Alis Naura menaut, lalu menganggukkan kepala dengan cepat. "Naura tidak melihat Bik Irah saat itu, tidak tahu Bik Irah ada dimana. Mungkin sudah pulang, Mah." jawab Naura. Menyenderkan tubuh disisi ranjang, nafasku mendadak sesak. Kupandangi ranjang besar tempat aku dan Mas Ronald biasa melepas lelah. Tempat dimana semua keluh kesah, serta keringat tercurahkan bersama disini. Tega sekali Mas Ronald menipuku, merusak pernikahan yang sudah sepuluh tahun kita bina. Tak ingatkah dia pengorbananku, serta perjuananganku? Tak mudah menjalani semuanya, aku harus berjuang keras demi keutuhan rumah tangga ini, mengabaikan segala nyinyiran keluarganya terutama Ibunya sendiri. Kejam sekali kamu, Mas .... "Mah ... kok Mamah menangis," aku tergagap melihat Naura yang memperhatikan aku dengan lekat. Dengan cepat, segera aku menghapus air mata yang terjatuh membasahi pipi. Entah kebohongan apa lagi yang Mas Ronald sembunyikan. Dia terlalu apik dan pintar, menyimpan kebusukkan yang selama ini ditutupi. "Tidak apa, Nau ... Mamah kelilipan debu," sahutku sambil mengucak mata. Apa kurangku selama ini Mas.. tega sekali kau menikamku dari belakang. Siapa perempuan busuk itu sesungguhnya, mengapa dia begitu mudah mencuri hatimu. "Nau ... tidur ya, sudah malam. Kepala Mamah sakit. Mamah mau istirahat," ucapku pelan. Naura menatap iba, lalu menempelkan tangannya dikeningku. "Iya ... kening Mamah hangat," ucapnya. "Naura ambilkan obat ya," sambungnya. "Tidak perlu sayang, Mamah hanya perlu tertidur. Mamah lelah sekali," sahutku. Naura menganggukkan kepalanya, mengusap rambutku. Lalu keluar dari kamar. Menarik nafas dalam-dalam, aku beringsut dari ranjang berjalan menuju lemari. Mencari buku nikah dan surat-surat penting lainnya. Esok aku akan mengajukkan gugatan cerai kepengadilan. Agar b******n itu tahu, rasa sakitku tak bisa terobati dengan mudah. Hanya perceraian yang mampu mengikis luka ini, tidak ada bantahan apapun yang mampu mengurungkan niat ini. ***Ofd Suara ketukan pintu terdengar dari luar, setelahnya sosok perempuan berhijab hijau tosca masuk kedalam ruanganku. "Ibu Astrid ...." "Ya ... masuk Han," jawabku setelah menoleh singkat kearah Hana. Lalu kembali menekuri layar. "Bu ... ada yang ingin bertemu," ucapnya setelah berdiri tepat didepan meja kerjaku. "Siapa?" "Katanya suami Ibu Astrid. Pak Ronald namanya," sahut Hana. Jemari yang sedang sibuk menari-nari diatas keyboard berhenti seketika, tak lama wajah Mas Ronald menyembul dibalik pintu. "Mah ..." sapanya tak tahu malu. Aku memalingkan wajah, mengangkat dagu mengisyaratkan agar Hana keluar dari ruanganku. "Ada perlu apa?" tanyaku ketus. "Apa maksud semua ini," Mas Ronald menaruh kasar amplop panjang berwarna putih diatas meja. Aku melirik sekilas, ada logo pengadilan agama tertera diamplop itu. Ini sudah hari ketiga sejak aku menyerahkan berkas. Tepat waktu juga ternyata. "Oh iya ... kau hanya perlu datang dan mengikuti segala prosedurnya," ucapku acuh, tanpa menoleh sedikitpun kearahnya. Aku kembali sibuk dengan kerjaan yang menumpuk didepan layar. Tak aku pedulikan wajah merah redam dari laki-laki yang masih sah menjadi suamiku itu. Brak!! Mas Ronald menggebrak meja dengan kuat, membuat aku terlonjak akibat ulahnya. "Dengar Astrid ..." Mas Ronald meringsekkan tubuh pada meja kerja, tatapannya lurus kearahku. "Sampai matipun, aku tidak akan mau bercerai denganmu!" ucapnya tegas dengan tatapan menyalang kearahku. Mata itu terlihat marah, nafasnya menggebu-gebu dengan telunjuk tangan yang mengarah tepat diwajahku. Aku menarik nafas, menantang sorot mata menyalangnya. Baru kali ini aku melihat wajahnya yang begitu marah dan menakutkan. ***Ofd
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN