Part 4 Bukan Hanya Baju, tetapi Sepatu pun Sama
Seharian ini aku hanya bisa uring-uringan karena jemuran Ayu. Punya satu baju yang sama dengan tetangga saja sudah bikin kita malu tidak terkira, bagaimana kalau satu lemari isinya sama?
Aku tidak mau memasak, tidak beberes rumah, dan tidak bersemangat melakukan apa pun. Channel televisi dari tadi sudah aku gonta-ganti karena tidak ada acara yang menarik bagiku. Padahal biasanya jam sepuluh siang seperti ini, aku akan fokus di depan TV. Saat ini, rasa penasaran siapa Ayu lebih tinggi dari hasrat menonton serial Bollywood kesukaanku.
Ting!
Ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk yang saat aku lihat ternyata dari Bang Ramon.
Ayang Suami :
Masak apa hari ini, Pa?
Puspa :
Tidak masak, Bang. Lagi males. Nanti beli soto ayam saja di warung Bu Lilis.
Send
Ayang Suami: Abang punya kabar baik. Abang dapat bonus hari ini. Nasabah mobil Abang nggak jadi beli kredit, tetapi cash. Jadi bonus Abang cepat cairnya.
Mataku pun berbinar saat menerima pesan balasan dari suamiku. Tidak ada seorang istri pun di muka bumi ini yang tidak ikut senang dan gembira bila suaminya dapat bonus diluar gaji pokok.
Puspa :
Alhamdulillah …
Puspa ditransfer dong ya?
Ayang Suami: Iya, nanti Abang kasih cash aja ya? Kita nonton sore ini dan makan di restoran. Gimana?
Aku melompat kegirangan. Hilang sudah kegundagan hati seharian ini karena suamiku ingin mengajakku menonton dan makan di restoran.
Puspa :
Oke, Sayang. Istrimu ini akan dengan senang hati menerima ajakan dari suami tercinta. Tenang saja, berhubung nanti malam malam jumat, jatah Abang nanti Puspa double-in, mau sambil kayang juga boleh. Hahahaha
Ayang Suami : Oke. Abang kerja lagi. Bye, Istriku.
Screenshot.
Dengan gerakan yang cepat aku meng-screenshoot percakapan kami perihal ajakan makan dan nonton. Aku jadikan status WA dengan catatan ‘Asik … Diajak kencan’.
Pukul satu siang, aku menyantap kembali tahu krispi itu ditemani nasi hangat saja. Rasanya memang luar biasa enak, pantas saja suamiku senang dan Ayu tidak salah memberitahuku. Sepertinya tahu krispi bumbu ini akan menjadi makanan favoritku juga.
Satu piring sudah kuhabiskan, mengingat nanti sore aku makan di luar, maka sayang jika tahu ini bersisa. Suara motor Ayu terdengar masuk ke pekarangan rumah. Aku pun mencuci tangan, lalu bergegas mengintip dari jendela.
Benar sekali, Ayu baru saja pulang dari kampus. Di tangannya tampak sebuah kantung plastik bening yang seperti berisi bungkusan nasi. Tak terlihat gelagat aneh dari Ayu, tetapi aku tetap saja penasaran dengan isi lemarinya. Apakah sama dengan isi lemariku?
Kusempatkan untuk tidur siang sebelum nanti sore janji bertemu dengan Bang Ramon. Angin di luar cukup kencang sehingga tidurku nyenyak tanpa perlu menyalakan AC kamar. Pekerjaan Bang Ramon sebagai kepala sales di salah satu showroom mobil membuat kehidupan ekonomi keluarga kami bisa dibilang cukup baik. Sama sekali aku tak pernah kekurangan uang belanja. Bang Ramon selalu mendahului kepentingan rumah, baru ia sibuk dengan hobinya mengoleksi ikan.
Tok! Tok!
Suara ketukkan membuatku yang baru saja akan lelap, menjadi terbangun kembali. Mataku sangat payah untuk dibuka karena rasa kantuk yang luar biasa.
Tok! Tok!
“Iya, sebentar!” Kataku tak sabar. Jalanku saja masih seempoyongan begitu turun dari tempat tidur.
Tok! Tok!
Aku menggaruk rambutku yang tidak gatal. Ketukan yang berasal dari pintu depan itu benar-benar membuatku semakin sakit kepala.
Siapa, sih, siang-siang begini bertamu? Batinku kesal.
Ceklek
“Mbak, aduh maaf saya mengganggu tidur siangnya ya? Ini cucian Mbak terbang lagi ke teras rumah saya. Anginnya kencang dan panasnya cetar, sehingga cucian kita cepat kering. Ini ada tiga baju yang terbang, makanya saya berinisiatif untuk mengangkat semua cuciannya, Mbak.” Ayu pun menyerahkan setumpuk pakaian yang ada di jemuranku. Aku menerimanya masih dalam keadaan setengah sadar.
“Permisi, Mbak. Saya jalan dulu!”
“Eh, i-iya. Terima kasih ya, Ayu?” kataku menjadi tidak enak hati. Kuberikan senyuman amat manis pada gadis muda tetangga baruku itu. Tidak mungkin gadis seperti Ayu penyuka sesama jenis. Apalagi kuperhatikan pakaiannya siang ini tidak sama denganku. Di situ aku merasa bersyukur. Berarti kami tidak semua sama.
Pandanganku beralih pada kedua kaki Ayu. Oh, tidak! Bajunya memang tidak sama, tetapi sepatu Ayu sama persis dengan sepatuku. Berwarna hitam gambar mickey dengan merk Za*a.
Blam!
Aku menutup pintu dengan cepat. Lalu segera masuk ke dalam kamar. Satu hal yang akan kulakukan saat ini adalah memasukkan ke dalam koper semua pakaianku yang sama dengan Ayu. Bonus dari suamiku nanti akan kupergunakan untuk membeli pakaian baru.
Tin! Tin!
Klakson mobil terdengar nyaring. Aku yang penasaran pun akhirnya mengintip dari jendela. Seorang lelaki muda keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Ayu. Keduanya melempar senyuman akrab, lalu Ayu pun masuk ke dalam mobil itu.
Siapa Ayu sebenarnya?