Part 5 Nonton Bioskop
Aku sudah berada di mal tepat pukul empat sore lebih tiga puluh menit. Sambil menunggu Bang Ramon sampai dari tempat kerjanya, aku mampir ke sebuah toko emas. Hasil uang sewa kontrakan bulan ini masih kusimpan rapi dan ingin kubelikan cincin saja, hitung-hitung menabung.
Sebuah cincin cantik berhasil melingkar indah di jari manisku. Jari jemariku yang lentik dengan dua deret cincin di kanan dan kiri pun aku potret, lalu aku kirimkan pada Bang Ramon.
Puspa :
Uang kontrakan Puspa belikan cincin ya, Bang?
Send
Pesan itu masih centang abu-abu. Pasti Bang Ramon saat ini sedang dalam perjalanan. Aku memutuskan untuk naik lebih dulu ke bioskop untuk memesan tiket.
“Mbak Puspa.” Aku terdiam di tempat, begitu menyadari suara yang begitu familiar di telinga ini.
“Ayu.” Aku pun berbalik dan menatap Ayu dengan tidak percaya. Dia di sini juga? Dari sekian banyak mal di Jakarta Selatan ini, kenapa harus mal ini yang aku kunjungi sama seperti Ayu?
“Mbak sendirian? Suaminya nggak diajak?” Begitu ia menanyakan suamiku, di situ firasat kewanitaanku meronta. Apakah Ayu calon pelakor? Sepertinya aku harus waspada.
“Eh, ada kok. Nanti juga datang,” jawabku kikuk.
“Ayu, kita makan dulu yuk!” Seorang lelaki yang tadi menjemput Ayu, menghampiri wanita itu sambil tersenyum ramah padanya dan juga padaku. Tampan dan sangat muda. Pasti seumuran dengan Ayu, pikirku.
“Mbak, saya tinggal dulu ya?” Ayu tersenyum, lalu pamit bersama lelaki itu. Aku menghela napas, aku berharap ia tidak menonton film yang sama denganku. Anak muda seperti Ayu pasti senang dengan film romantis, aku yakin ia nonton film itu, dan sialnya lagi, aku pun ingin menonton film yang sama.
“Mbak, jadi pesan tiketnya?” tegur petugas karcis padaku.
“Eh! Jadi, Mbak. Saya ganti film. Nggak jadi film romansa, film itu aja, Makmum 2.” Aku suka horor, sedangkan Bang Ramon tidak terlalu suka, tetapi aku yakin bila Bang Ramon tahu ada Ayu di bioskop ini, maka ia pun pasti lebih memilih film horor agar tidak satu studio.
Setelah menentukan kami akan duduk di mana, aku pun menunggu Bang Ramon sambil bermain ponsel.
Ayang Suami:
Abang sudah di parkiran.
Aku tersenyum membaca pesannya. Masih ada waktu dua puluh menit lagi film akan tayang, syukurlah suamiku tidak terlambat.
Sepuluh menit kemudian, Bang Ramon pun sudah duduk di sampingku sambil memegang pop corn dan teh leci hangat, sedangkan aku lebih memilih pop corn paket hemat yang sudah dengan minuman bersoda hanya tiga puluh lima ribu saja. Wanita itu selalu penuh perhitungan, walau di dompetnya lembaran merah masih berjejer dengan rapi.
“Kenapa film Makmum? Itu horor, Sayang. Katanya mau nonton film romantis?” tanya Bang Ramon padaku dengan wajah nelangsa.
“Bang, tadi Puspa ketemu Ayu di sini sama cowoknya. Mereka pasti ingin menonton film romantis, jadi Puspa gan—”
“Ayu bersama pacarnya? Kamu yakin? Nggak mungkinlah! Eh, maksud Abang ... Kamu tahu dari mana kalau itu pacar Ayu?” Bagi Ramon sedikit gugup, aku tidak merasa heran. Ini pasti karena film pilihanku yang membuatnya seperti ini.
“Ya, namanya juga masih muda. Naik mobil pula. Waktu jemput Ayu, Puspa lihat, Bang. Kayaknya anak orang kaya deh.”
“Mau anak orang kaya, mau anak orang miskin, sama saja! Udahlah, kita di sini mau senang-senang, malah ngobrolin tetangga. Yuk, masuk aja. Studio tiganya sudah dibuka!” Bang Ramon menggandeng tanganku. Kami masuk dan langsung mencari deretan kursi F6 dan F7.
Film pun belum berlangsung, layar bioskop juga masih menampilkan spoiler film-film mancanegara dan juga film lokal yang tidak kalah bagus. Pilihanku pun pasti tepat, ibu-ibu arisan membicarakan film horor yang lagi hits diperankan artis Titi Kamal ini.
Lampu sorot utama padam. Keadaan ruangan gelap. Hanya lampu sorot yang ada di belakang pada bagian paling ujung dan sinar pada layar yang menerangi dalam studio.
Lima belas menit berlalu. Bang Ramon sibuk menutupi wajahnya dengan jaket, sedangkan aku hanya bisa terkekeh geli dengan kelakuan suamiku yang ketakutan. Sepasang kekasih lewat di depan kami, lalu duduk persis di samping Bang Ramon. F5 dan F4.
Film masih berlangsung seru. Kuacungkan dua jempol tanganku untuk akting kece semua artis yang membintangi film itu.
Jreng!
“Huuuaaa!” Bang Ramon pun berteriak kaget dan bersembunyi di balik tubuh penonton sebelah kanannya. Aku menutup wajahku untuk menahan tawa sambil menggelengkan kepala.
“Mas, Mbak Puspa di sebelah kiri. Ini saya, Ayu!” Aku menoleh kaget saat mendengar suara gadis itu lagi dari sebelah kanan suamiku.