Chapter 6

588 Kata
Part 6 Merajuk “Maafkan Abang, Puspa. Abang nggak tahu kalau di samping Abang itu Ayu. Lagian kamu kenapa milih nonton film horor? Sudah tahu Abang takut.” Bang Ramon masih saja membela diri. Padahal aku lihat sendiri dengan jelas suamiku bersembunyi di balik tubuh Ayu. Entah sengaja atau tidak, pokoknya aku tidak terima. Aku masih saja melipat kedua tangan di d**a dengan kesal. Kupalingkan wajah tak ingin menatap Bang Ramon yang duduk persis di depanku. “Puspa, kamu kalau mau marah. Lebih baik kita pulang saja. Daripada pesan makanan, bukan makanannya yang kamu telan, tapi sendoknya.” Aku tahu Bang Ramon sedang mencoba membuat lelucon agar rasa marahku berkurang, tetapi aku terlanjur kesal dengan suamiku. “Aku lapar, Bang,” rengekku. “Ya sudah kalau mau makan, wajah kamu jangan cemberut terus. Lagian, sudah bagus memilih film romantis, malah film horor yang kamu pesan. Ayu itu sukanya film horor.” Kalimat terakhir Bang Ramon membuatku yang menunduk, akhirnya mengangkat wajah. “Dari mana Abang tahu Ayu suka film horor? Heh? Memangnya Abang kenal Ayu?!” “Ck, ya ampun … Wanita ini, jika mood-nya sedang jelek, maka apa pun yang keluar dari bibir ini salah. Ya jelas dia suka horor. Ayu itu masih muda, anak muda jaman sekarang pasti sukanya horor.” Aku menelisik wajah suamiku dengan teliti. Tidak tampak raut gugup atau apa pun yang mencurigakan. Mungkin memang hanya aku yang terlalu berlebihan dengan kejadian hari ini. “Abang dapat bonus berapa?” tanyaku saat kami sedang menikmati makan malam di restoran sushi. “Empat juta, Sayang. Dua juta nanti Abang kasih kamu, dua juta lagi Abang nambahin tabungan untuk beli mobil seken ya?” Aku pun mengangguk. Ingin sekali memang kami berdua ini memiliki mobil, tetapi kami sadar, bahwa belum waktunya karena masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Bang Ramon tidak mau beli mobil secara kredit, ia ingin beli cash, walaupun seken tak mengapa. “Memangnya kenapa, Puspa? Kamu mau belikan emas lagi uangnya?” tanya Bang Ramon padaku. Aku menggeleng pelan. “Bang, tahu tidak? Tadi pagi aku jemur cucian dan melihat jemuran Ayu yang baju dan celana panjangnya sama seperti punyaku. Baik warna, motif, model, dan juga merk,” kataku berbisik dengan penuh semangat. Huk! Huk! Huk! Bang Ramon pun tersedak. Dengan gerak cepat, aku memberikannya air mineral yang ada di depannya. Matanya berair dan aku tahu rasanya pasti sangat sakit. “Kenapa, Bang?” tanyaku dengan polosnya. “Bersin, Dek. Kamu tahu Abang tersedak, masa nanya kenapa? Sakit nih!” Wajahnya pun merah karena merasa tenggorokannya terasa gatal sekaligus sakit. Bang Ramon paling tidak bisa tersedak, karena jika sudah tersedak, maka batuknya tidak akan berhenti bahkan sampai suamiku itu terpipis di celana. Huk! Huk! Huk! “Obat Abang bawa nggak?” tanyaku panik. Bang Ramon menggeleng dengan wajah merah. “Permisi, Mbak, Mas. Maaf, kebetulan saya mau pulang dan lihat suami Mbak sedang batuk-batuk. Mungkin ini bisa meredakan batuknya, Mbak. Obat ini saya konsumsi juga jika saya batuk tidak bisa berhenti. InsyaAllah dosisnya aman dan bisa Mbak beli di apotek.” Kenapa harus Ayu lagi yang muncul? Aku sebenarnya tidak menerima kebaikan gadis itu karena rasa kesal yang masih menggumpal di hati. Namun, melihat suamiku masih terus saja batuk-batuk, aku pun tidak punya pilihan. Baru ingin kuraih obat itu dari tangan Ayu, suamiku sudah lebih dahulu menyambarnya, lalu memasukkannya ke dalam mulut. “Baik, saya duluan ya, Mbak, Mas?” Ayu berlalu begitu saja dari hadapan kami setelah berpamitan. Bang Ramon seketika itu juga berhenti batuk. “Kamu mau cerita apa tadi?” tanya Bang Ramon kembali. Namun, aku sudah tidak berminat meneruskan ceritaku. Bola mataku masih memperhatikan wajah Bang Ramon yang sudah mulai mencair dari ketegangan karena batuk rejan tadi. “Bang, aku merasa semua ini sangat aneh. Mulai dari semua baju, sepatu, sampai aksesoris rambut yang sama denganku. Apa Abang yakin tidak mengenal Ayu sebelumnya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN